
Langit sore cerah berawan. Bergembira menyambut datangnya waktu malam. Dua insan terlihat saling berdiam diri dalam sebuah mobil.
Egi pokus pada jalanan. Sedangkan, Zahra sibuk memainkan ponsel kesayangan. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
Semenjak perjalanan ini dimulai. Tidak ada satu pun dari mereka bersuara. Zahra yang biasanya banyak bicara saat bersama tiga serangkai. Kali ini, ia memilih mengunci mulut rapat-rapat.
Sejujurnya, ini bukanlah karakter dari Zahra. Hanya saja, ia seperti tidak berkutik saat bersama lelaki yang menjadi dosennya di kampus.
Karakter Egi yang dingin dan sedikit acuh. Membuat gadis ini seakan tidak punya harapan untuk mengikis es dari diri lelaki tampan ini.
"Ni, mulut pegel diem mulu. Pengen ngomong, tapi engga tahu mau ngomong apa. Udah berasa lagi di kutub utara. Suasananya adem banget," batin Zahra.
Egi masih setia dengan stirnya. Ia sempat melirik sekilas pada Zahra. Memastikan gadis ini ada atau tiada. Gadis yang biasanya rusuh, mendadak menjadi putri yang pendiam.
"Aaaaa ... Aku lupa!" teriak Zahra.
Teriakan Zahra yang kencang, membuat Egi menginjak rem mendadak.
"Kamu kenapa berteriak segala? kalau kita kecelakaan, karena saya kaget denger teriakan kamu bagaimana! seru Egi.
"Maaf, Paman. Zahra juga kaget," cicit Zahra.
"Kaget kenapa?" Sedikit menoleh ke arah Zahra.
"Mama tadi minta dibawakan baju ganti. Tapi--,"
"Tapi, kamu tidak membawanya," potong Egi.
Zahra mengangguk pelan sambil sedikit tersenyum kecil.
"Kita ke rumahmu sekarang!" Menarik kuas mobil, lalu memutar balik menuju rumah Zahra.
"Paman, tidak keberatan 'kan?" tanya Zahra pelan.
"Tidak!" jawab Egi singkat.
"Paman, Aku boleh nanya engga?" Mengigit bibir bawahnya pelan.
"Tanya apa?" jawab Egi.
"Begini, paman ada masalah apa sama aku 'kok kayaknya jutek banget! Padahal aku ini baik hati, rajin menabung dan yang penting aku ini gadis hemat plus ngirit," tutur Zahra.
__ADS_1
Egi tidak bergeming. Ia masih saja berdiam diri. Zahra mulai tidak sabar, lalu berkata, "Paman, aku bosen. Dari tadi paman cuman diam aja kayak batu!"
Egi melirik sekilas pada Zahra. Melihat ekspresi kesal dari wajah gadis disampingnya.
"Saya tidak suka banyak berbicara dengan orang lain!" tegas Egi.
"Aku 'kan temannya Adnan, bukan orang lain!" bantah Zahra.
"Tapi, kamu tetaplah orang lain. Kamu tidak ada ikatan keluarga dengan saya!" jelas Egi.
Diam. Zahra langsung menutup mulutnya. Ia bukan sakit hati. Melainkan, ia lebih tepatnya kecewa. Kenapa harus ada ikatan keluarga baru bisa berinteraksi lebih hangat.
Mobil terus membawa mereka mendekat menuju rumah Zahra. Jalanan kali ini tidak terlalu macet. Jadi, mereka tidak harus lelah karena perjalanan.
Egi sama sekali tidak merasa salah. Bukankah yang ia katakan benar? kenyataan itulah yang terjadi. Meski, Zahra adalah anak dari teman Kakanya. Namun, Zahra tetaplah tidak ada ikatan yang kuat dengannya.
Selang sepuluh menit, tibalah mereka di halaman rumah keluarga Rey. Zahra langsung keluar tanpa berkata. Hatinya masih sedikit kesal. Sedangkan, Egi masih setia menunggunya di dalam mobil.
Tidak berapa lama, gadis itu kembali dengan menenteng sebuah bingkisan. Seperti halnya tadi. Zahra langsung masuk ke mobil. Namun, ia memilih duduk di bangku belakang.
Egi melihat ekspresi yang tidak biasa dari gadis ini. Egi berkata. "Duduklah di depan. Saya bukan supirmu!"
Zahra pura-pura tidak mendengar. Ia malah memainkan ponsel miliknya. Egi menghela napas, berusaha tidak berkata kasar pada seorang gadis.
Zahra tetap diam. Ia berpikir bahwa Egi tidak akan mungkin melakukan hal segila itu. Namun, ternyata ia salah.
Egi meluncur seakan seorang pembalap. Ia tidak menghiraukan Zahra yang berteriak memintanya berhenti.
"Paman ... aku kalah! Aku akan duduk di depan bersamamu!" teriak Zahra.
Seketika Egi menginjak rem. Membuat badan Zahra maju ke depan. Beruntung saja ia memakai sabuk pengaman.
Setelah merasa aman. Zahra segera berpindah tempat. Wajahnya masih menyisahkan sedikit ketakutan.
Egi dengan tenang kembali menjalankan kendaraannya. Ia tidak melihat ke arah Zahra sama sekali.
Mobil terus melaju. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka sampai Egi tiba-tiba mengatakan sesuatu, yang membuat Zahra tidak percaya.
"Kamu ingin tahu kenapa saya jutek denganmu? sejujurnya, saya bukanlah lelaki yang mudah berbaur dengan makhluk Allah bernama wanita. Saya tidak tahu cara memulai berinteraksi dengan mereka. Saya juga tidak memahami bagaimana sifat mereka yang sering berubah-ubah. Namun, bukan berarti saya membenci kaum wanita. Masalahnya ada pada diri saya sendiri," jelas Egi.
Zahra terdiam sampai mobil membawa keduanya sampai ke tempat tujuan. Ia pikir, Egi benar-benar tidak ingin berinteraksi dengannya, karena dia bukanlah keluarga Egi.
__ADS_1
Keduanya keluar dari mobil. Egi membawa barang belanjaan dari bagasi. Ia segera menghampiri Zahra, lalu berkata, "Jadi, saya bukan hanya jutek padamu saja. Kamu jangan bersedih, mungkin kamu bisa membuat saya mendekat padamu."
Egi melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zahra yang masih mematung. Gadis itu tidak menyangka, bahwa dosen yang terkenal cerdas itu mengatakan hal demikian.
Dari kejauhan Adnan yang baru saja turun dari taksi melihat interaksi antara pamannya dan Zahra.
Matanya menatap tajam. Hatinya mendidih bagai air yang sedang di masak. Pandangannya lurus ke depan.
Adnan berjalan mendekat ke arah Zahra. Dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sehingga membuat Zahra masih saja tidak bergeming.
Adnan melewati Zahra begitu saja. Ia seakan tidak ingin membuka mulut, untuk sekedar menyapa gadis manis itu.
Tiba-tiba suara Riki menyeret Zahra kembali ke dunia nyata.
"Zahra!" teriak Riki.
Zahra mengerjap. Ia bingung kenapa Riki yang bersamanya. Bukankah tadi ia sedang bersama Egi.
"Loh 'kok kamu 'sih, Rik!" gerutu Zahra.
"Lah, emang siapa lagi," jawab Riki.
"Paman Egi ke mana? perasaan tadi aku lagi sama paman." Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut.
"Paman, udah ke Arab!" Melangkah maju masuk ke dalam rumah.
"Kok ke Arab 'sih, Ki!" Menyusul Riki masuk ke dalam rumah.
"Terus kamu ngapain melamun sendiri di dekat mobil. Paman udah masuk dari tadi, kamu aja yang diam kayak patung! ketus Riki.
"Iya, ya. Aku ngapain!" Bertanya pada dirinya sendiri.
Riki dan Zahra segera bergabung dengan yang lain. Terlihat Egi tengah membantu sang Kakak menyiapkan berbagai menu untuk nanti malam.
Zahra melihat ke arah Egi. Hatinya masih saja menolak percaya dengan ucapan Egi. Lelaki itu terlihat tertawa. Jika, sedang bersama Kakaknya. Ia bahkan sedikit bercanda dengan Mama Adnan, Mama Riki&Riko, juga dengan Mamanya.
Kenapa lelaki itu bisa mengatakan tidak bisa berbaur dengan mahluk bernama wanita. Bukankah sekarang lelaki itu sedang berbaur dengan para wanita?
Zahra menghela napas, lalu berkata, "Aku tidak tahu banyak tentangmu, Paman. Namun, bisakah kamu membukakan pintu menuju hatimu yang terdalam."
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~~