
Setelah puas berkeliling dengan kereta uap, Rendy mengajak Lisa ke tempat tujuan kedua. Rendy tak ingin membuang waktu dengan percuma.
Distrik Higashimaya, tempat tujuan kedua mereka. Distrik Higashimaya sendiri distrik dimana kita bisa menikmati kota tua di Kyoto.
Disini pengunjung bisa menikmati acara minum teh dan, juga bisa berbusana layaknya seorang Maiko atau samurai untuk sesi foto.
Tentu hal ini, tidak di sia-siakan oleh Lisa dan Rendy. Mereka segera berkeliling seluruh penjuru tempat itu.
Lisa yang sudah berganti pakaian dengan Kimono, yang membalut cantik di tubuhnya. Begitu pun, Rendy yang gagah memakai yukata khusus pria.
Mereka bergandengan tangan, menjelajahi setiap sudut kota tua Kyota. Tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaanya, dengan bersua foto.
"Sayang, kemari. Ayo, kita foto mesra berdua," ajak Rendy.
"Malu, mas. Di sini banyak orang! sahut Lisa memperhatikan keadaan sekitar.
"Memangnya kenapa? Tidak ada yang pedulikan kita, semua sibuk masing-masing."
"Tapi.."
"Ayo, sudah sini." Rendy menarik Lisa ke dalam pelukannya.
Dengan satu jepretan, foto mereka sudah tercetak jelas di layar ponsel milik Rendy.
"Kamu tetap cantik walau di dalam foto, Sayang," puji Rendy melihat hasil fotonya.
"Sudah, mas. Mas selalu aja gombalin aku." Lisa tersipu malu.
"Memangnya tidak boleh? Yang di puji istri sendiri, bukan istri orang ini."
"Bukan begitu. Aku malu." Lisa menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya.
"Sayang, kamu jangan berekspresi seperti itu. Aku bisa menerkammu di sini, kalau kamu terus menggigit bibirmu lagi." Rendy berbisik di telinga Lisa.
"Mas.."
"Makanya, jangan pernah menggigit bibirmu lagi selain di hadapanku. Aku tak bisa menjamin, lelaki lain bisa menahan hasratnya sepertiku." Rendy mencubit pelan hidung Lisa.
Lisa hanya mengangguk tanda mengerti, mereka meneruskan perjalanan mengelilingi kota tua.
Sebelum ke tempat tujuan yang ketiga, mereka menyempatkan makan siang yang sebenarnya sudah hampir kesorean di sekitar sana.
__ADS_1
Rendy bisa menemukan kedai makanan yang halal, berkat petunjuk yang di berikan warga sekitar. Rendy juga menanyakan masjid di sekitar sana untuk, melaksanakan sholat asyar.
Selesai makan dan lanjut ke masjid, Lisa dan Rendy memenuhi panggilan Ilahi. Sejenak melupakan acara bulan madu, mereka tenang dalam heningnya sholat.
Setelah selesai, Rendy dan Lisa melanjutkan perjalannnya ke tempat terakhir. Kali ini mereka menujun ke arah pulang.
Rendy berniat membawa Lisa kembali ke Tokyo untuk, melihat bunga sakura di Taman Ueno.
Hari sudah berganti menjadi malam, Tokyo terlihat lebih hidup di malam hari. Banyak orang yang sengaja keluar rumah, untuk sekedar melepas penat atau menikmati indahnya langit malam di Tokyo.
Mereka baru sampai di Taman Ueno, Rendy perlahan menuntun Lisa ke area tengah taman. Taman ini terkenal keindahannya karena, kita bisa melihat bentangan pohon sakura di sepanjang jalan.
Tepat di bawah pohon sakura, di gelar tiker yang di sediakan untuk para pengunjung duduk, sambil menikmati indahnya bunga sakura bermekaran.
"MasyaAllah ... Mas. Ini indah sekali," puji Lisa begitu matanya di manjakan ratusan pohon bunga sakura.
"Kamu suka?" tanya Rendy.
"Suka sekali, mas."
Rendy menarik tangan Lisa untuk duduk di bawah beralaskan tikar. Suasana Romantis terasa menyelimuti saat itu.
"Iya, mas," sahut Lisa.
"Mungkin, ini akan sedikit merusak suasana romantis bulan madu kita tapi, aku ingin jujur sesuatu padamu." Rendy sedikit ragu.
"Tentang apa, mas?" Lisa menoleh ke arah Rendy, menatap manik-manik mata suaminya.
"Sebenarnya, sebelum aku berencana bulan madu ke sini denganmu. Aku sudah punya rencana ke Tokyo terlebih dahulu bersama Kayla dulu," ucap Rendy berhenti sejenak.
"Hanya saja, sebelum rencana itu terlaksana. Kayla sudah pergi terlebih dahulu. Aku tau ini pasti menyakitimu, aku bukan tak niat menggantikan tujuanku. Hanya saja, aku sudah berjanji pada diriku, akan membawa pasanganku kelak melihat bunga sakura," lanjut Rendy.
Lisa tersenyum, dia sama sekali tak sakit hati. Masalalu Rendy bukanlah wilayah yang harus Lisa campuri tapi, masa depannya bersama Rendy justru hal paling penting saat ini.
"Aku tak masalah, mas. Kemana pun mas ajak, aku akan ikut," jawab Lisa
"Syukurlah, aku takut kamu sakit hati."
"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya apa, sayang?" Rendy penasaran.
__ADS_1
"Bisakah mas, menceritakan tentang mas dengan mba Kayla dulu?"
"Benar kamu ingin mendengarnya?"
"Iya, mas."
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Aku dan Kayla menikah karena, di jodohkan mamah dan papah. Kayla sepertimu, dia anak yatim piatu. Dia sebatang kara, tak punya keluarga lagi. Maka dari itu, mamah memaksaku menikahinya," jelas Rendy.
"Mas, menerimanya begitu saja?" Lisa ingin tau banyak hal tentang suaminya.
"Aku tak ingin mengecewakan orang tuaku jadi, aku menuruti keinginan mereka. Tapi, egoku yang membuat Kayla merasa tersakiti. Aku tak pernah menyentuh masakan buatannya, aku juga tak pernah berbicara kecuali penting dengannya. Kita hidup satu atap juga satu ranjang tapi, kita seperti tak mengenal satu sama lain." Rendy terdiam, memori itu terlintas kembali di pikirannya.
Lisa dengan setia mendengarkan cerita suaminya, dia ingin lebih tau dan dekat dengan Rendy.
"Hingga, dua minggu sebelum kecelakaan naas itu terjadi. Aku menyadari kebodohanku, Kayla tak pernah bersedih di hadapanku, dia juga selalu ceria. Meski, aku tau hatinya hancur karena perlakuanku. Aku mulai menerimanya, mulai tumbuh rasa sayang padanya. Kita bahkan berniat, memiliki anak banyak bersama," ungkap Rendy.
Rendy menghembuskan nafas kasar lalu, melanjutkan ucapannya.
"Tapi, Allah berkata lain. Kayla harus pergi saat aku mulai bisa hidup dengannya. Sejak saat itu, aku selalu menyalahkan diriku atas kematian Kayla. Aku menjadi sosok pendiam kembali, aku enggan berbicara selain dengan keluarga juga sahabatku, Rey."
Lisa mengelus punggung Rendy, Lisa paham bagaimana rasnya kehilangan orang yang di cintai secara mendadak.
"Maka dari itu, aku telah berjanji pada diriku. Aku akan membahagiakanmu semampuku. Saat pertama kali, aku membawamu ke makam Kayla. Saat itu, aku menyadari satu hal. Aku tak bisa terus bergelut dengan masalalu karena, ada orang lain tengah menantiku di masa depan," lanjut Rendy.
Lisa bisa melihat gurat penyesalan di wajah Rendy, yang dia tau suaminya tak pernah main-main dengan ucapannya.
Lisa masih ingat, saat Rendy menginginkan anak kembar. Lisa pikir itu hanya candaan tapi, ternyata Lisa salah.
"Mas, maaafkan aku. Karena, mengingatkanmu pada kejadian pahit itu. Hanya saja, aku ingin mengetahui tentangmu lebih dalam lagi," sesal Lisa.
"Tak masalah, aku dengan senang hati akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku tak ingin, menutupi apapun darimu. Aku mencintaimu, istriku. Nyonya Lisa Wijaya Kusuma."
"Aku juga mencintaimu, Mas."
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
Mohon dukungannya untuk author🤗 jangan lupa like, coment&vote
SELAMAT MEMBACA😍😍😍
__ADS_1