Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
100


__ADS_3

Mobil membawa Rendy dan Lisa pulang ke rumah, dengan sekuat tenaga Rendy menggendong Lisa yang masih saja tertidur lelap.


Rendy berjalan perlahan, menapaki satu per satu anak tangga. sampai di kamar, ia rebahkan perlahan tubuh Lisa di atas kasur. Memandanginya dengan senyum manis.


Rendy perlahan membuka jilbab yang dikenakan istrinya. Beruntungnya, Lisa memakai jilbab yang langsung pakai, jadi Rendy tidak mengalami kesulitan sama sekali.


Di usapnya pipi lembut merah merona, lalu turun ke bawah tepatnya di perut Lisa. tangannya mengelus lembut perut sang istri beralaskan kain baju yang menutupinya.


"Nak, terimakasih sudah hadir di perut Mamamu. Jangan buat Mama kesakitan, ya. Kamu sayang Mama, kan seperti Papa sayang Mama. Tumbuhlah yang baik, dan sehat di dalam sana. Papa menantikan hari di mana kamu terlahir ke dunia," ujar Rendy pelan.


Lisa sedikit menggeliat, mengubah posisinya menjadi menyamping ke kanan. Dengan sigap Rendy merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Mencium sekilas kening Lisa lalu berkata, " Kamu adalah duniaku. Jika harus memilih antara kamu dengan apapun, aku lebih memilihmu. Selamat tidur, Bidadariku."


Rendy beranjak berdiri dari tepi ranjang, membuka jasnya yang sedari pagi melekat di tubuh. Ia hendak membersihkan diri ketika suara ponsel menghentikan langkahnya.


Rendy merogoh benda canggih itu di saku jasnya, melihat siapa yang menghubungi ia semalam ini.


"Farhan," gumam Rendy.


Rendy hendak menolak panggilan, tapi ia urungkan. Mungkin saja laki-laki ini memiliki kepentingan pribadi padanya.


"Hallo." Rendy segera menyapa begitu panggilan mulai tersambung.


"Lo bisa temuin Gue engga di cafe dekat jalan XX? gue ada perlu sama, Lo." Farhan tanpa membuang waktu langsung meminta Rendy bertemu.


"Ada perlu apa? Kita udah engga ada kerjasama apapun!" jawab Rendy.


"Gue bukan mau ngomongin soal kerjaan, tapi soal Adik Lo," bantah Farhan.


Rendy mengerutkan kening, apa terjadi sesuatu dengan Adiknya. Bukankah Dira sedang ada di Belanda saat ini.


"Kenapa Adik gue" tanya Rendy.


"Pokoknya Lo datang dulu, baru gue omongin." Farhan langsung menutup teleponnya tanpa mengucap salam.


"Maunya apa sih ni orang?" pikir Rendy.

__ADS_1


Rendy yang dilanda rasa penasaran tanpa berpikir panjang, segera menyambar kunci mobil dimeja. Ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan laki-laki yang dulu adalah teman kuliahnya.


Mobil Rendy melaju membelah jalanan, malam hari kehidupan semakin ramai. Orang-orang nampak mengisi waktu mereka dengan menikmati langit di malam hari.


Tibalah Rendy di sebuah cafe yang diminta Farhan, matanya menyusuri setiap sudut mencari keberadaan laki-laki itu.


Lambaian tangan seseorang mengakhiri penyelusuran matanya, ia segera menghampiri orang itu dengan cepat.


Setiap mata wanita yang berada di cafe memperhatikan Rendy tanpa berkedip, mereka bagai tersihir atas ketampanan yang Allah anugrahkan untuk Rendy.


Rendy menarik kursi dihadapan Farhan, membiarkan bokongnya mendarat sempurna di benda mati berkaki empat itu.


"Gue seneng Lo mau datang," ucap Farhan begitu melihat Rendy duduk.


"Permisi, bisa buatkan lagi satu cangkir kopi untuk teman saya?" lanjut Farhan memanggil pelayan wanita yang didekat meja mereka.


"Baik, Mas. Mohon tunggu sebentar." pelayan itu berlalu setelah mengiyakan pesanan Farhan.


"Langsung aja ke intinya. Lo mau apa sama Adik gue?" tanya Rendy dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Farhan melipatt kedua tangannya di dada, menatap lekat pada laki-laki di hadapannya lalu berkata, " Gue mau melamar Dira."


"Atas dasar apa Lo mau ngelamar Adik gue?" tanya Rendy.


"Cinta!" tegas Farhan.


Rendy tersenyum mengejek, ia bahkan tidak percaya ada rasa cinta yang tulus dari seorang penjahat wanita.


Rendy ikut melipat kedua tangannya di dada, punggungnya bersandar di kursi lalu berkata,


"Cinta! Cinta seperti apa yang Lo punya? bukankah selama ini Lo cuman jadiin para gadis seperti boneka mainan, yang kapanpun Lo bosen Lo bisa buang layaknya sampah."


"Itu dulu, sekarang beda," bantah Farhan.


"Engga ada bedanya bagi gue! Lo boleh jadiin cewek lain boneka Lo, tapi jangan harap Lo bisa bikin Adik gue sama kaya mereka!" hardik Rendy sembari memukul sedikit meja.

__ADS_1


"Gue mungkin diem dulu, tapi sekarang gue engga bisa cuman jadi penonton. Gue harap Lo jauhin Adik gue, sebelum gue hancurin Lo berkeping-keping!" lanjut Rendy, ada sedikit ancaman disetiap kata-katanya.


Perkataan mereka terhenti ketika pelayan wanita membawa secangkir kopi untuk Rendy. Pelayan itu meletakan kopi tepat di depan Rendy lalu berkata, " Silahkan dinikmati, Mas."


Tidak ada jawaban apapun baik dari Rendy, atau Farhan. Mereka tengah saling beradu tatapan. Pelayan yang menyadari akan hal yang tidak beras, ia segera berbalik meninggalkan mereka berdua.


"Serem amat. Dua pangeran lagi perang dunia ke-3," batin pelayan wanita itu.


Farhan segera mengakhiri perkelahian mata bersama Rendy, ia menyeruput sedikit kopi yang terasa berbeda dari biasanya.


"Gue paham gimana perasaan Lo, tapi setiap manusia bisa berubah. Begitupun dengan gue, engga selamanya gue cuman main-main dengan namanya cinta," lontar Farhan setelah seteguk kopi lolos dari tenggorokannya.


"Gue cuman minta Lo percaya sama gue sekali ini aja. Gue cuman butuh kesempatan sekali doang buat ngebuktiin kalau gue serius sama Adik Lo," lanjut Farhan.


Rendy mengalihkan pandangannya pada kopi di meja, ia segera meraih cangkir kopi, lalu meminumnya perlahan.


Kopi ini tidak sama rasanya dengan buatan Lisa, dia mendadak rindu meminum kopi buatan istrinya. Kopi yang dibuat dengan penuh cinta, mampu menghasilkan rasa yang luar biasa.


"Dua minggu lagi Dira berulang tahun ke-21, gue berencana melamarnya di hari pertamabahan usianya. Di hari itu juga, bukankah waktunya Dira pulang kembali ke tanah air," kata Farhan.


Rendy sedikit tertegun, apa benar Farhan mencintai Dira? dia bahkan sampai tahu tanggal lahir, dan kapan waktunya Dira pulang.


"Dari mana Lo tahu semua informasi tentang Adik gue?" tanya Rendy.


"Hal sekecil itu mudah buat gue dapetin, bahkan gue bisa lakuin lebih dari sekadar menggali informasi. Tapi, gue menghargai Dia. Ya, dia gadis manis yang berhasil menyelamatkan Gue dari dunia yang kelam," balas Farhan.


Rendy beranjak dari tempat duduknya, ia tidak ingin terlalu meninggalkan sang istri yang tengah terlelap tidur.


Rendy merasa percakapannya malam ini sudah cukup. Dia tidak ingin berlama-lama satu ruangan, dan berbagi udara dengan Farhan.


"Gue tunggu keseriusan Lo di hari lahirnya Dira. Gue engga bisa ngelarang kalau Dira sendiri yang milih Lo, tapi ingat satu hal! Jangan pernah mendekati Dira lagi, jika pada akhirnya ia menolak lamaran Lo!" ucap Rendy lalu berjalan meninggalkan Farhan sendiri yang masih terdiam.


...****************...


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


Terimakasih sudah mau menemani Author sampai detik ini. Engga terasa novel ini sudah mencapai 100Bab, semoga kalian tidak bosan dengan cerita yang Author sajikan😍😍


Haturnuhun Baraya🤗🤗🤗🤗


__ADS_2