
Lisa berjalan dengan lesu, ucapan Dion terus berputar di otaknya. Ia takut akan terjadi sesuatu dalam rumah tangganya.
Rendy baru saja kembali dari meeting ketika melihat sang istri berjalan lalu, di susul Dion dari belakang. Kening Rendy berkerut mencoba memberi respon positif di pikirannya, Lisa tidak mungkin mengkhianatinya. Terlebih lagi ia sedang berbadan dua.
Rendy segera menyusul sang istri, sedangkan Rey pergi menemui kekasihnya. Lisa hendak masuk ke dalam lift ketika sang suami memanggilnya.
"Sayang," panggil Rendy
Rendy berjalan mendekati Lisa yang sudah berbalik badan menghadapnya. Rendy berkata, " Dari mana kamu, Baby?"
"Itu, Mas. Aku habis minum di pantry ...," lirih Lisa.
"Kenapa harus repot-repot ke lantai bawah, Sayang. Bukannya di ruanganku sudah ada fasilitas lengkap,"
"Maaf, Mas. Aku lupa," cicit Lisa.
Rendy tersenyum, ia berusaha untuk tetap berpikir baik dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Apa kamu lapar? ini sudah jam makan siang?" tanya Rendy.
"Iya, Mas. Aku ingin makan rujak buah sepertinya enak,"
"Boleh, cantik! Tapi," ujar Rendy. " kamu harus makan nasi dan temannya dulu, agar Junior bisa tumbuh sehat."
Lisa merespon perintah suaminya dengan senyuman manis.
"Kamu mau makan di luar atau di ruanganku saja?" sambung Rendy.
"Di ruangan, Mas saja. Aku sedang tidak mood untuk keluar," sahut Lisa.
"Baiklah, biar nanti Rey yang membelikan,"
"Aku mau rujak mangga muda, Mas,"
"Iya, Sayang. Aku akan suruh Rey membelinya di--,"
"Jangan, Mas," ujar Lisa. " aku maunya mangga muda yang dipetik langsung dari pohon, dan harus Mas yang memetiknya."
Rendy terperanjat, apa kupingnya salah mendengar. Kemarin istrinya meminta ia memanggang daging bebek, lalu sekarang ia meminta Rendy memetik mangga dari pohonnya.
Apa wanita hamil sering menginginkan hal yang aneh-aneh. Kenapa harus bersusah payah memanjat pohon mangga jika, ada yang lebih mudah dengan membelinya di pedagang buah.
"Sabar, Ren. Ingat brother ini demi si Baby," batin Rendy.
"Tapi, Sayang. Kenapa harus aku yang memetik? kenapa kita tidak membeli atau menyuruh orang memanjat pohon dan memetikannya untukmu," rayu Rendy.
"Jadi, Mas engga mau ...." Lisa cemberut dengan mimik muka yang akan segera menangis.
"Siapa bilang engga mau, Sayang?"
"Terus kenapa, Mas berkata seperti itu." masih dengan wajah menahan air mata, Lisa masuk kedalam lift.
Rendy ikut masuk menyusul sang istri lalu berkata, " Baiklah, aku mengalah. Tapi, dimana kita bisa memetik buah mangga. Kita saja tidak punya pohonnya."
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Pokoknya aku mau makan buah mangga muda dari pohonnya!" tegas Lisa.
Rendy menghela nafas kasar, ternyata benar yang dikatakan Papahnya. Dia harus lebih bersabar dengan wanita hamil, Rendy mengerti sekarang.
Mereka tiba diruangan Rendy, Lisa masih tidak mau berbicara seberapa lembut pun sang suami merayu.
Rendy menyerah, dirogohnya ponsel dari dalam saku kemudian menghubungi Rey.
"Hallo." suara Rey terdengar di ujung gagang telepon.
"Rey, Lo cariin gue tempat yang ada pohon mangga sekarang," perintah Rendy.
"Pohon mangga buat apa, Ren? Lo mau alih profesi jadi tukang jualan buah mangga sekarang!" ledek Rey.
"Udah jangan banyak tanya Lo cari aja tempatnya terus anterin gue kesana!"
"Iya, ya." Rey memutuskan sambungan telepon.
Rendy mendekati Lisa yang masih saja duduk terdiam. Ia duduk tepat di samping istrinya seraya berkata, " Sayang, jangan marah terus. Nanti Baby kita sedih liat Bundanya marah."
Tangis Lisa pecah dipelukan sang suami, ia tidak mengerti mengapa sekarang menjadi sangat cengeng. Apa ini efek kehamilan? Lisa belum mencari tahu.
🌹🌹🌹🌹
Sementara itu, Rey yang tengah asyik melepas rindu pada sang kekasih merasa sedikit kesal mendapat tugas mendadak.
"Si Bos ngapain coba suruh nyari pohon mangga segala," gumam Rey.
Mona yang memperhatikan kekasihnya berbicara sendiri kemudia berkata, " Ada apa, Kak Rey? kok kaya kesel gitu?"
"Kok bawa singa jantan segala, Kak?"
"Hahahaha. Maksud aku, Rendy," ucap Rey sambil tertawa.
"Astagfirullah, aku kira Kak Rey mau pergi lihat singa jantan," sungut Mona. " udah sana, nanti gaji Kak Rey dipotong lagi, bisa diundur terus acara lamarannya."
"Ya, engga atuh Adinda. Aku pasti datang melamarmu lusa nanti. Tolong sampaikan niat baikku pada ibumu, ya," pesan Rendy.
"Iya, Kak." gadis manis itu tersenyum kecil.
"Ya, sudah. Aku harus kerja kembali. Jangan rindu berat, kamu engga akan kuat,"
"Iya, bawel. Udah sana!" usir Mona.
Rey tertawa pelan sebelum pergi meninggalkan Mona sendirian. Otaknya kini bekerja lebih keras, harus kemana dia mencari pohon mangga.
"Dasar si Bos, selain bucin dia juga udah mulai minta yang aneh-aneh. batin Rey.
Setengah jam berlalu, Rey yang baru mendapat info dari pembantunya bahwa tetangga mereka memiliki pohon mangga, segera meluncur ke ruangan Rendy.
"Ren," sapa Rey begitu masuk ke ruangan Rendy.
"Lo udah dapet belum pohon mangganya?" tanya Rendy spontan.
__ADS_1
"Udah! Kata pembantu gue, tetangga sebelah gue punya pohon mangga," beber Rey.
"Ayo, kita ke sana!" ajak Rey.
"Tunggu! Lo ngebet amet sama tuh pohon, ada apaan sih?"
Rendya yang sedang duduk bersama istrinya di sofa segera bangkit dan mendekat pada Rey.
"Istri gue ngidam pengen mangga tapi, harus yang baru metik dan parahnya lagi, gue di suruh metik sendiri," bisik Rey.
"Bhahahaha." Rey tidak kuat menahan tawanya ketika mendengar permintaan konyol istri sahabatnya.
Rendy menyenggol tangan Rey dengan sikutnya seraya berkata, "Diem Lo! Bantuin gue, lo tahu kan gue mana bisa manjat. Bisa-bisa gue kencing di celana."
Rey menahan tawanya, ia masih ingat saat kecil dulu di belakang rumah Rey ada kebun kecil yang penuh berbagai pohon termasuk pohon mangga.
Rey menantang Rendy untuk memanjat pohon mangga, siapa yang menang dia akan mendapatkan uang saku yang kalah.
Rendy yang memang penakut akan ketinggian, menekadkan dirinya untuk memanjat pohon. Dia tidak ingin kalah dari sahabatnya, namun apa yang terjadi baru saja sampai setengah tinggi pohon, Rendy sudah ketakutan dan tak terasa celananya basah oleh air ompol.
"Gue engga mau ikutan kalau urusannya sama ibu hamil, mereka itu ngeri-ngeri sedep. Bisa tiba-tiba nangis sendiri, ataupun ngambek tanpa sebab," sahut Rey.
"Gue kasih Lo bonus satu juta kalau mau bantuin gue?" tawar Rendy.
"Ogah,"
"dua juta,"
"Emoh,"
"tiga juta,"
"Emm ... masih kurang," jawab Rey.
"Ok! Gue kasih Lo bonus Lima juta, kalau Lo berhasil bantuin gue,"
Rey berpikir sejenak menimbang tawaran Rendy. Kapan lagi bisa dapat uang lima juta cuman buat manjat pohon mangga.
"Deal!" Rey menjabat tangan Rendy sambil tersenyum kemenangan.
...****************...
BERSAMBUNG~~
Jangan lupa dukungannya ya, Say😉
Like
Coment
Vote
Rate 5
__ADS_1
Selamat membaca😍😍