
~ Maafkan aku yang terlalu lama membuatmu menunggu. Kamu sudah banyak terluka karenaku. Masih adakah setetes harapan untukku agar bisa bersanding denganmu.~
ππππ EGI ππππ
Tubuh Zahra membeku. Mulutnya kelu sulit berucap. Tidak dipungkiri ada getaran bahagia yang kini ia rasakan. Namun, semua sudah terlambat.
Zahra beranjak dari tempat duduk, lalu berkata, "Maaf, Paman. Aku tidak mau mempermainkan perasaan orang lain. Mas Ardi tidak tahu apa-apa tentang masalah kita. Lupakan aku, anggap kita tidak pernah saling mengaitkan rasa satu sama lain."
Zahra berjalan tanpa tujuan. Luapan air mata tak sanggup ia bendung. Netranya basah, penuh cairan bening kesakitan.
"Ya Allah, kenapa harus seperti ini jalan takdir kami? Kenapa di saat sudah ada orang lain, kami baru saling mengutarakan perasaan satu sama lain," gumam Zahra.
Dunia ini terasa sepi. Meski, ia kini berada di keramaian. Jiwanya meronta, meminta pertolongan.
Tanpa Zahra sadari Egi mengikutinya sampai ke parkiran. Dengan satu tarikan tangan Zahra ditarik, lalu berkata, "Maafkan saya yang terlalu lama membuatmu menunggu. Percayalah, saya akan memintamu pada Kak Rey dan Mona. Sekalipun saya harus berlutut, saya akan buktikan, bahwa saya tidak main-main."
Zahra tertegun, pikirannya kacau. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Haruskah ia menghampiri Egi dan hidup bersama cinta dengannya, atau tetap melangkah bersama Ardi, sosok lelaki yang ia pilih. Meski, tanpa ada rasanya cinta.
Egi perlahan melepaskan tangan Zahra. Ia berjalan dua langkah ke depan Zahra. Kini pandangan mereka bertemu. Tatapan penuh haru, luka, bahagia dan kecewa.
"Beri saya satu kesempatan. Saya akan berjuang di detik-detik waktu yang saya miliki. Jika setelah semua yang saya lalukan, kamu tetap tak ingin menerima. Saya akan perlahan membunuh rasa ini, dan membiarkanmu bahagia bersama lelaki pilihanmu," ujar Egi.
Tangis Zahra pecah. Ingin rasanya ia masuk ke dalam pelukan Egi, tetapi ia sadar, bahwa mereka belum terikat pernikahaan yang halal. Egi tersenyum kecil. "Sekarang, tersenyumlah. Saya akan menelpon Kak Lisa, agar Kak Mona segera membawamu pulang. Kamu butuh istirahat."
Egi meraih ponselnya, menghubungi Lisa dan memintanya pergi ke parkiran. Sepuluh menit berlalu, Mona dan Lisa datang menghampiri.
Mona memperhatikan mata anaknya yang sembab. Ia melirik Egi sekilas seakan meminta penjelasan lewat tatapan.
"Maaf, aku akan menjelaskannya nanti pada Kak Rey," cicit Egi.
Lisa yang mengerti segera mengelus pelan punggung Egi sambil berbisik, " Kakak yakin, kamu punya alasan kuat untuk ini."
Mona dan Zahra pamit pulang terlebih dahulu. Sedangkan Egi dan Lisa segera berjalan menuju mobil mereka.
Selama di perjalanan pokus Egi terpecah. Bayang-bayang Zahra yang menangis di hadapannya terus mengusik pikirannya.
__ADS_1
"Andai kamu sudah sah milikku. Mungkin saat kamu menangis, aku dengan sigap akan menarikmu ke dalam pelukanku. Maafkan aku," batin Egi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Di rumahnya Rey tengah terdiam setelah menelpon seseorang. Matanya memandang langit-langit rumah. Memejamkan mata, mencoba meyakinkan hatinya.
"Apa dia sudah sadar," gumam Rey pelan.
Dari luar rumah, Mona dan Zahra masuk ke dalam. Mona merangkul bahu sang anak anak penuh kehangatan. Rey yang melihat itu langsung berdiri, lalu berkata, "Apa yang terjadi?"
Zahra dan Mona terdiam. Beberapa detik kemudian, Zahra pamit pergi ke kamar. Ia hanya ingin tidur, melupakan sejenak kejadian yang membuatnya bimbang.
Rey mendekat pada Mona. Merangkul pelan sambil mengurai senyuman. "Apa yang terjadi pada anak kita, Adindaku?"
"Aku tidak tahu, Kak. Aku hanya melihat Zahra seperti sudah menangis saat aku titip pada Egi. Aku berusaha meminta penjelasan, tetapi dia bilang akan menjelaskannya nanti," ungkap Mona.
Rey menarik istrinya masuk ke dalam pelukan. Rey menatap jauh ke sana, membayangkan apa yang akan ia dengar dari pemuda bertitle dosen itu.
Malam telah berganti. Adnan baru saja pulang setelah melewati malam dan seharian di rumah sakit. Lisa yang melihat anaknya pulang langsung bertanya, "Apa terjadi sesuatu dengan temanmu?"
Lisa mengulum senyum. "Bunda maafkan. Sekarang istirahatlah, jangan lupa sholat isya dan makan malam."
Adnan mengangguk. Perlahan ia berjalan menaiki tangga. Melirik sekilas ke kamar Pamannya yang tertutup rapat, kemudian melanjutkan berjalan dan masuk ke dalam kamarnya yang tepat di sebelah kamar Egi.
Di dalam kamar Egi baru selesai melaksanakan sholat isya dan berdzikir sebentar. Hatinya terus berkata, "Perjuangkan apa yang kamu rasa baik. Mungkin kamu sedikit terlambat, tetapi kita sebagai manusia hanya berusaha semampunya."
Egi beranjak berdiri, membuka sarung, menyimpannya kembali di atas meja kecil bersama sajadah. Ia berjalan ke luar hendak menemui Kakak iparnya.
Egi berada tepat di depan kamar Rendy, mengetuk pintu dua kali, tetapi tidak ada jawaban. Ia segera turun ke bawah. Mungkin Rendy tengah menikmati langit malam di belakang rumah mereka.
Benar saja, lelaki paruh baya itu memang senang menikmati waktu malam di belakang rumahnya di temani secangkir teh hangat.
Egi berjalan menghampiri Rendy, duduk di sampingnya tanpa bersuara. Rendy menyadari kehadiran Egi. Ia menoleh ke arah Egi sambil berkata, "Apa ada yang ingin kamu sampaikan pada Kakak?"
Egi menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan melalui mulut. Kepalanya mendongak ke atas, menatap langit malam yang indah.
__ADS_1
"Aku mencintai Zahra," ungkap Egi tanpa berbelit-belit.
Rendy tidak menjawab. Ia memejamkan mata sebentar, menghirup perlahan udara malam yang sejujurnya sangat menusuk tulang.
"Lalu?"
"Aku ingin memintanya pada Kak Rey."
"Kamu tahu dia sudah mau menikah?"
"Iya."
"Beri Kakak satu alasan untuk niatmu itu!"
"Aku tahu ini sangat terlambat, bahkan mungkin bisa dibilang gila. Namun, aku merasa kesakitan saat dia bersama lelaki lain. Aku merasa hidup tanpa tujuan. Mungkin aku yang terlalu bodoh. Dulu saat dia berjalan padaku, aku malah menyuruhnya berbalik arah. Sekarang, saat ia sudah mulai menjauh, aku mulai merasakan kehampaan, Kak."
Rendy menoleh ke arah Egi. "Kalau begitu, berlarilah ke arahnya sekarang juga. Tariklah dia sekuat tenaga. Namun, jika semua yang kamu lakukan dia masih enggan beranjak. Kamu harus ikhlas menanggung sakit seperti yang ia rasakan dulu."
Egi sejenak berpikir. Seketika ia langsung berdiri sambil berkata, "Terima kasih, Kak."
Secepat kilat ia pergi ke kamar, mengambil kunci mobil dan bergegas pergi menuju tempat tujuannya.
Dengan kecepatan sedikit tinggi Egi menyetir. Pikirannya tertuju pada bayangan wajah Zahra. Ia hanya ingin segera secepatnya sampai ke rumah gadis itu.
Dari arah berlawanan, terlihat sebuah truck berjalan oleng sehingga membuat Egi panik dan membanting stir ke pagar pembatas jalan.
"Tunggu aku, Zahra ...," lirih Egi di sela-sela kepanikannya.
Kening Egi terbentur stir mobil. Perlahan matanya menutup bersamaan dengan hilangnya kesadaraan. Teriakan histeris terdengar dari orang-orang sekitar.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Maafkan aku telat up, aku sedang tidak enak badan. Meski begitu, aku berusaha menulis untuk kalian.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lainπ€