
Seperti yang sudah disusun Rey, Rendy akan bertemu Farhan siang ini. Laki-laki ini tidak pernah ingin meeting di kantor, Farhan selalu meminta kliennya meeting sambil ngopi atau duduk santai di cafe.
satu jam berlalu, Rey sudah memberitahu Bosnya untuk bersiap-siap. Rendy memakai kembali jas hitamya kemudian berjalan ke arah Lisa.
"Baby, aku harus pergi meeting dulu. Tunggulah aku di sini," ucap Rendy.
Cup ..!
Rendy mengecup singkat kening Lisa, ia seakan berat meninggalkan istrinya sendiri.
"Iya, Mas. Hati-hati," pesan Lisa.
"Jika, ada yang kamu inginkan. Kamu bisa menyuruh temanmu ke sini,"
"Baik, Mas,"
Rendy bergegas keluar ruangan, Rey sudah menunggunya di luar. Mereka berjalan beriringan menuju lift.
Selama di perjalanan, Rey dan Rendy berbincang-bincang segala hal.
"Rey, kapan orang tua Lo pulang ke rumah?" tanya Rendy.
"Mungkin lusa! Gue udah bilang ke mereka buat luangin waktu lusa besok." Rey terus fokus pada pandangannya di depan.
"Ren, Lo ngerasa engga sih kalau akhir-akhir ini tingkah laku adik Lo itu berbeda," sambung Rey.
"Berbeda gimana?" Rendy yang tengah memeriksa laporan menghentikan aktivitasnya.
"Ya, dia kayak nyembunyiin sesuatu dari kita. Contohnya kemarin pas ada Dika, ia kaya yang canggung gitu," ucap Rey mengingat kembali saat mereka tengah berkumpul, Dira seperti salah tingkah.
"Gue engga merhatiin,"
"Makanya Lo tuh harus sedikit cari tahu masalah pribadinya. Seminggu lagi kan Dira berangkat, apa Lo engga mau nyaranin ke dia buat pindah kuliah di sini aja," saran Rey.
"Selama ini gue engga pernah ngatur dia, dia bebas memilih apa yang dia suka. Tapi, kayaknya saran Lo bagus juga," jawab Rendy.
Mobil mereka melaju membelah jalanan, hingga tidak berapa lama tibalah mereka di salah satu cafe yang sudah ditentukan.
Rey dan Rendy segera keluar mobil, dan masuk ke dalam cafe. Terlihat laki-laki yang sangat mereka hindari tengah bersandar di kursi sambil memandang ke arah luar dari kaca cafe.
Mereka mendekat ke arah Farhan, tanpa menyapa kedua sahabat itu duduk tepat di hadapan Farhan.
__ADS_1
Farhan yang kaget akan kehadiran dua mahluk ini lalu berkata, " Lo berdua udah kaya mahluk astral, tiba-tiba nongol tanpa permisi."
"Langsung ke intinya saja." Rendy mengambil sebuah dokumen ditangan Rey.
"Ini akhir kerjasama kita," lanjut Rendy seraya menyodorkan dokumen tersebut pada Farhan.
Farhan meraih dokumen dengan tangannya, ia membaca sekilas kemudian berkata, "Gue sih terserah Lo, gue engga maksa Lo perpanjang juga kerjasama antara kita.
Siang itu diiringi musik dari band penghibur di cafe tersebut, mereka memulai meeting yang terasa seperti pertarungan diarea tinju. Mereka saling hantam bukan dengan pukulan, melainkan dengan kata-kata.
"Gue rasa cukup sampai di sini perbincangan kita," ucap Rendy hendak berdiri.
"Tunggu!" cegah Farhan, " gue mau ngomong sesuatu sama Lo."
Rendy urungkan niatnya untuk pergi, menatap dalam pada laki-laki di hadapannya kemudian berkata, " Mau ngomong apa , Lo?"
"Gue cinta sama adik, Lo." kata-kata itu telontar begitu saja dengan lantang dari mulut Farhan.
Rendy dan Rey saling melirik satu sama lain, mereka sudah menduga ada perasaan lebih yang dimiliki Farhan untuk Dira.
"Terus," seru Rendy.
Rendy membelakakan matanya, apa dia tidak salah dengar? seorang laki-laki yang dikenal tidak punya etika ini meminta restunya. Perkataan Farhan bagai bendera perang untuk Rendy.
"Lo pikir gue mau restuin, Lo!" hardik Rendy. " gue masih punya mata dan telinga untuk melihat dan mendengar prilaku Lo selama ini."
Rey yang tidak kalah kaget dengan ucapan Farhan, memandang sinis penuh amarah pada laki-laki ini. Tangannya sudah mengepal, bersiap jika sewaktu-waktu harus mendarat cantik kembali di wajah Farhan.
"Lo terlalu cepat dalam menilai orang. Lo cuman tahu luarnya doang tanpa ingin tahu lebih jauh kedalam kehidupannya!" seru Farhan.
"Gue cukup tahu tentang Lo. Lo pikir gue bakal rela ngeliat Adik gue sendiri jadi boneka mainan Lo," tegas Rendy. " jangan harap ada kata restu keluar dari mulut gue."
Rendy tidak ingin membuang waktunya dengan hal konyol menggelikan ini, ia tidak ingin terlalu jauh berbicara dengan teman sekampusnya dulu.
Rendy beranjak dari tempat duduknya begitupun dengan Rey, akan tetapi sebelum Rey membalikkan badan ia kembali menatap Farhan. Tanpa di duga Rey mencengkram kerah kemeja Farhan seraya berkata, " Jangan coba-coba deketin Dira kalau Lo masih sayang sama wajah Lo ini."
Rey melepaskan cengkramannya kemudian ikut menyusul Rendy. Baru saja sekitar delapan langkah Rendy dan Rey berjalan, dari tempat duduknya Farhan berteriak.
"Gue emang bukan cowok bener dimata Lo berdua tapi, gue punya alasan sendiri untuk itu. Yang jelas gue engga pernah seserius ini sama cewek selain Dira. Lo boleh benci gue, Ren. Gue minta maaf atas semua prilaku gue ke Lo, tapi yang Lo harus inget gue cinta dan serius sama adik Lo!"
Rendy dan Rey menghentikan langkahnya, Rendy terdiam sejenak sebelum akhirnya ia kembali berbalik menghadap Farhan.
__ADS_1
"Lo harus buktiin kata-kata Lo itu. Gue pengen tahu seberapa besar tekad Lo demi dapetin hati Dira juga restu dari gue!" tegas Rendy lalu, kembali berbalik dan meneruskan langkah kakinya untuk pulang.
๐น๐น๐น๐น๐น
Sementara itu di kantor, Lisa merasa sangat haus kerongkongannya kering butuh air untuk menyegarkan.
Ia sudah beberapa kali menghubungi Mona, akan tetapi gadis manis itu tidak mengangkatnya sama sekali. Lisa memutuskan untuk pergi ka pantry di lantai bawah, ia lupa bahwa diruangan suaminya ada ruangan khusus dengan berbagai fasilitas.
Lisa menaiki Lift sendiri, ia turun disambut tatapan penuh kebencian dari para karyawan wanita yang iri padanya. Lisa berjalan menuju pantry, ia masuk seperti biasa. Tidak ada seorang pun di tempat itu, ia segera mengambil air di galon yang tersedia.
"Alhamdulilah, lega rasanya," gumam Lisa begitu air membahasi tenggorokannya.
Lisa berniat segera pergi, ketika Dion sudah ada di dekat pintu. Lisa memaksakan senyum menyambut pertemuan mereka kembali.
"Kamu sedang apa, Lis?" tanya Dion mendekat ke arah wanita yang sudah lama tidak ia temui.
"Lisa cuman haus, Pak," sahut Lisa.
"Memang diruangan presedir tidak ada air minun?" sindir Dion.
"Ada, Pak. Tapi, Lisa lupa karena sudah terbiasa minum di sini," kata Lisa. " Ya sudah, Pak Dion. Lisa pergi dulu."
Lisa melewati Dion, dengan tiba-tiba tangan Lisa diraih Dion begitu saja sambil berkata, " Saya kangen kamu! Saya tidak bisa melupakanmu sedikitpun."
Lisa melepaskan tangannya dari Dion, dia tidak ingin ada orang lain yang melihat, dan salah paham.
"Lisa sudah bicara beberapa kali. Lisa sudah bersuami, Pak! Sebaiknya pak Dion segera mencari kekasih agar bisa membunuh rasa suka Pak Dion pada Lisa," jawab Lisa.
"Saya tidak butuh wanita lain. Saya hanya mau kamu!" tegas Dion.
Lisa tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulut laki-laki ini. Dia berjalan kembali, akan tetapi ucapan Dion lagi-lagi menghentikan langkahnya.
" Saya tidak akan mudah melepaskan sesuatu yang saya inginkan pada orang lain. Kamu akan tahu Siapa sebenarnya saya nanti. Tolong ingat itu!"
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon dukunnya dengan cara like, coment dan vote๐๐
Selamat membaca๐ค.
__ADS_1