
Udara subuh yang sejuk datang menyapa jutaan manusia. Jam sudah menunjukan pukul 4 pagi lewat waktu Tokyo, Jepang. Lisa terbangun karena suara alarm.
Lisa membuka matanya perlahan, mengumpulkan energi untuk mengawali hari pertama di negara orang.
Rendy masih tertidur pulas, Lisa mengelus rambut lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Dia tak menyangka rumah tangganya, akan berjalan seindah ini.
Sekalipun menyakitkan di awal tapi, pada akhirnya semua berbuah manis. Lisa teringat ucapan Rendy dulu kalau, kita tak pernah tau kedepannya seperti apa rumah tangga kita.
Lisa bangun perlahan, kakinya melangkah ke arah kamar mandi. Lisa mulai berwudhu, dia ingin segera mencurahkan rasa syukurnya pada Allah di atas hamparan sajadah pagi ini.
Lisa keluar dari kamar mandi, mengambil mukena yang di bawanya dari rumah. Segera melaksanakan kewajiban dirinya sebagai muslim.
Rendy terbangun, dia meraba-raba kasur tak ada Lisa di sampingnya. Matanya terbuka lebar, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Mata indahnya menangkap sosok yang Rendy cari. Istri kecilnya tengah khusu sholat subuh. Terukir senyum di wajah Rendy, Rendy mengakui dirinya bukan imam yang baik, akan tetapi istrinya ini tak pernah lepas dari ibadah.
Lisa baru selesai sholat, saat suaminya itu memandang lekat dirinya. Lisa menoleh ke arah Rendy.
"Sudah bangun, mas. Tadi mau aku bangunin tapi, mas sepertinya lelah sekali," ucap Lisa membuka mukena, menaruhnya kembali ke asal.
"Iya. Mungkin karena perjalanan kemarin sangat melelahkan tapi, sekarang tubuhku sudah bugar kembali," jawab Rendy segera bangkit dari kasur.
Rendy bergegas ke kamar mandi, mengambil wudhu dan mulai mengerjakan sholat. Suasana pagi di Tokyo, terasa berbeda di negara asal mereka.
Rendy merebahkan dirinya kembali di atas kasur, dia ingin bermalas-malasan dulu pagi ini. Tentu saja dengan istri kecilnya.
"Sayang, kemarilah!." Rendy menepuk-nepuk kasur.
"Ada apa, mas?" tanya Lisa.
"Kemarilah, kita malas-malasan dulu sebelum berkeliling."
Lisa menghampiri suaminya, membaringkan badan seperti Rendy. Rendy langsung memeluk istrinya.
Hangatnya tubuh Lisa selalu membuat Rendy nyaman. Lisa mampu membuat Rendy, melupakan sejenak berbagai masalah di kantor. Senyuman manis dari bibir istrinya, bagaikan mutivitamin juga pengecash semangat diri.
"Sayang, kamu masih punya hutang sama aku," ucap Rendy.
"Hutang apa, mas?" Lisa kebingungan.
"Apa kamu sudah lupa, malam sebelum kita berangkat. Kamu pernah berjanji kepadaku."
Lisa mengerutkan keningnya, memaksa otaknya untuk mengingat apa yang dia ucapkan sehari sebelum ke Tokyo.
"Apa kamu sudah ingat?" Rendy tersenyum nakal.
Lisa terlihat diam. Yah, dia ingat sekarang. Dia berjanji untuk menerima hukumannya saat bulan madu. Dia menyesal mengutuk mulut lancangnya ini, bagaimana bisa dia menjanjikan itu pada suaminya.
__ADS_1
Sudah pasti, otak suaminya ini akan merekam dengan jelas ucapan Lisa. Bahkan liatlah sekarang tingkah Rendy, sudah seperti singa yang lapar siap menyantap mangsanya.
"Iya, mas," sahut Lisa pelan.
"Sepertinya, kita belum pernah melakukannya pagi hari. Pasti sangat mengasyikan! goda Rendy.
Apanya yang asyik. Semua orang tau kalau pagi hari waktunya bekerja tapi, suaminya ini malah meminta bekerja di atas ranjang.
"Kamu ingin tau rasanya. Mungkin saja, ada sensasi yang berbeda," lanjut Rendy mengedipkan sebelah mata pada Lisa.
Lisa mengangguk, percuma saja jika dia menolak. Toh Rendy berhak atas Lisa sepenuhnya.
Pagi itu, mereka awali dengan olahraga pagi yang menguras banyak keringat. Mungkin ini bukan malam yang panjang dan bergairah bagi mereka melainkan, pagi yang semangat dan bergejolak.
Rendy begitu menikmati mood boster pagi ini, dia seakan kecanduan kehangatan yang tubuh Lisa suguhkan.
Kalau bukan bunyi perut Lisa yang berdemo dari tadi, mungkin saja Rendy bisa seharian menjamah istrinya.
Setelah pergulatan hebat, mereka segera mandi besar. Sudah waktunya mengisi tenaga setelah menghabiskannya barusan.
"Kamu sudah siap, sayang. Ayo, kita sarapan ke bawah," ajak Rendy.
"Iya, mas," sahut Lisa yang baru selesai memakai jilbab untuk menutupi rambut indahnya.
Mereka segera keluar kamar dan menuju restaurant yang sudah di tersedia di area hotel. Rendy memilih makanan yang tidak terlalu berat untuk sarapan kali ini.
"Ohayo gozaimasu ( Selamat pagi )," jawab Rendy.
"Tanoshinde kudaisi ( Selamat menikmati)," ujar pelayan sambil menata makanan pesanan Rendy.
" Nani ka hitshuyona mono ga areba o denwa kudasai (Jika ada yang tuan butuhkan silahkan panggil kami )," lanjut si pelayan.
" Doomo arigato gozaimasu ( Terimakasih banyak )," jawab Rendy sopan.
Setelah itu, si pelayan pergi meninggalkan Rendy dan Lisa Lisa yang sudah kelaparan, tak ingin tau lagi arti percakapan suami dan pelayan tadi.
"Makan yang banyak, sayang. Hari ini kita akan mengunjungi 3 tempat sekaligus Maafkan aku, kita hanya bisa dua hari saja di sini," ucap Rendy melihat istrinya yang sibuk dengan makanannya.
"Tidak apa, mas. Dua hari sudah cukup bagiku."
"Aku menyesal tapi, pekerjaanku sedang banyak sekali mungkin saja, sekarang Rey sedang stres aku tinggalkan sebentar. Aku berjanji, lain waktu aku akan mengajakmu bulan madu kembali." Rendy mengusap kepala istrinya yang tertutup jilbab.
"Jangan terlalu di pikirkan, mas. Kita bisa pergi kapan-kapan lagi tapi, pekerjaanmu tak bisa di tunda begitu saja" Lisa tersenyum.
"kalau begitu, cepat habiskan makananmu. Kita akan menikmati hari ini berdua."
"Iya, mas."
__ADS_1
Mereka makan dengan tenang, suasana sarapan yang berbeda menambah nikmatnya makanan kali ini.
Selesai makan, Rendy dan Lisa bergegas masuk ke mobil. Hari ini mereka akan menghabiskan hari pertama di Tokyo.
Tujuan pertama mereka adalah menaiki kereta uap romantis sagano, tepatnya di daerah kyoto.
Perjalanan yang lumayan jauh, memakan waktu hampir 5 jam membuat Lisa tertidur di pundak Rendy karena, rasa kantuk yang melanda.
Rendy tak berani membangunkan istrinya selama perjalanan, dia membiarkan bahunya pegal agar Lisa bisa nyaman menyenderkan kepalanya.
Lisa terbangun tepat ketika mobil berhenti di tempat tujuan, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.
"Wah, mas ramai sekali," ucapnya.
"Pastinya, karena ini bertepatan dengan libur sekolah," jawab Rendy.
"Ayo, turun. Kita akan menaiki kereta uap di sini."
"Benarkah, mas?"
"Tentu."
Lisa keluar dengan hati gembira, selama ini dia hanya menaiki kereta listrik saja. Jadi, Lisa sangat bersemangat saat suaminya mengajak naik kereta uap.
Mereka masuk ke dalam wahana, mengantri seperti hal nya pengunjung yang lain. Tak ada yang mengenali mereka di sini jadi, mereka bebas berbaur dengan yang lain.
Setelah mendapatkan tiket, satu persatu pengunjung naik ke atas kereta. Begitupun Rendy dan Lisa, mereka memilih duduk paling depan tepat di belakang masinis.
Kereta berjalan perlahan, satu persatu melewati pepohohonan di sekelilingnya. Lisa tak henti-hentinya berucap syukur, sungguh indah ciptaan Sang Maha Kuasa.
Kereta uap ini menyusuri sungai Huzugawa dengan pelan, membiarkan para wisatan menikmati keindahan alam yang di suguhkan.
Meski durasi jalannya kereta hanya 25 menit saja tapi, mampu membuat kesan manis pada semua orang yang menaikinya.
Tak terkecuali juga, untuk Lisa dan Rendy. Yang dari menit-menit awal keberangkatan kereta, sampai berhenti di stasiun akhir. Tak henti-hentinya mengabadikan momen langka ini.
"Terima kasih, mas. Aku akan mengingat saat-saat seperti ini," ucap Lisa memberanikan nyalinya mencium pipi Rendy.
Rendy yang mendapatkan ciuman singkat itu, hanya tersenyum. Dia bahagia, Lisa sudah terlihat nyaman dan relax bersamanya sekarang. Tidak sekaku dulu saat bertemu.
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
Mohon dukungannya untuk author dengan Like, coment&vote🤗🤗
Maafkan jika ada penulisan bahasa jepang yang salah🙏
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA🤗🤗