Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
48


__ADS_3

Pagi ini Rendy dan Lisa sudah berada di pesawat pribadi, untuk, pulang kembali ke tanah air. Mereka pulang dengan hati gembira.


Rey sudah siap sedia menjemput Bos dan istrinya. Dia menunggu di luar mobil. Dari kejauhan Rey melihat pasangan suami istri itu saling bergandengan tangan.


Si bos mentang-mentang baru pulang honey moon, mepet terus kaya metromini. Batin Rendy.


"Selamat datang kembali, tuan Rendy Wijaya kusuma dan nyonya Lisa Wijaya Kusuma." Goda Rey saat bos sekaligus sahabatnya itu sudah di dekat mobil.


"Gue engga punya recehan, Rey. Jadi, kagak bisa bayar pujian lo." Kesal Rendy. Sedangkan, Lisa hanya tersenyum melihat mereka berdua.


"Saya engga butuh recehan, tuan. Cukup transferan bonus masuk rekening saya aja, sudah lebih dari cukup." Rey tertawa.


"Inget aja lo sama bonus mah. Entar gue transfer." Rendy membukakan pintu mobil untuk Lisa, lalu mereka masuk bersamaan.


Rey hanya tersenyum. Bos nya ini memang pengertian. Tau aja kalau Rey lagi ngumpulin pundi-pundi uang, biar segera meminang sang pujaan hati.


Rey masuk ke dalam mobil, dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Gimana perusahaan dua hari gue tinggalin?" Tanya Rendy begitu sudah di dalam mobil.


"Mumet gue. Tega bener lo, ninggalin gue kerjaan setumpuk gitu. Gue hampir gila rasanya." Kesal Rey.


"Setaralah, sama bonus yang lo terima nanti."


"Kalau engga setara mah, gue mau mogok kerjalah."


"Lo mau ngapain mogok kerja?"


"Gue mau ke jepang juga."


"Mau pindah kerja ke sana, lo."


"Kagak, gue mau jadi buruh tukang petik bunga sakura. Hahahaha." Rey tertawa puas.


"Sialan, lo. Gue kira mau ngapain."


20 menit berlalu akhirnya mereka sampai di depan rumah Rendy. Lisa segera keluar mobil dan masuk rumah. Sedangkan Rendy masih berbicara dengan sahabatnya di teras.


"Rey, tolong lo perhatiin gerak-gerik si Dion itu. Gue ngerasa dia masih belum nyerah sama Lisa." Perintah Rendy.


"Gue juga berpikir kaya gitu. Gue pernah mergokin dia lagi ngobrol sama Mona. Kayaknya, dia masih penasaran sama pernikahan lo sama Lisa." Jawab Rey


"Awas aja, gue engga bakal biarin dia masuk ke rumah tangga gue. Untung aja, bini gue bisa jaga diri."


"Lo harus percaya sama Lisa, Ren. Dia itu cewek baik-baik, liat aja gimana dia ngejaga dirinya dari lelaki lain."

__ADS_1


"Tumben, ngomong bener lo."


"Emang biasanya gue gimana."


"Ya, seperti yang Dira bilang. Biasanya lo sedikit gesrek. Hahahaha." Rendy puas menertawakan sahabatnya.


"Sialan, lo. Eh, Ren gue pengen cerita sama lo. Tapi, kayaknya bukan sekarang soalnya, gue mesti cabut ke kantor lagi. Lo istirahat dulu aja hari ini."


"Perasaan di sini gue bosnya tapi, kenapa lo yang nyuruh-nyuruh gue."


"Hehehehe. Kali-kali napa, Ren. Gue pengen ngerasain jadi bos." Rey cengengesan.


"Udah, cepet sono balik ke kantor. Awas, jangan pacaran mulu lo di kantor. Gue potong tuh gaji." Ancam Rendy.


"Lo kalau ngancem pakai potong gaji mulu."


"Daripada, punya lo yang gue potong. Mau, lo?"


"Kagaklah, Ren. Kalau punya gue di potong, gue kagak bisa nikmatin surga dunia dong. Jahara, lo."


"Ya, udah sono cepet balik kantor."


"Ya, pak bos."


Rey berlalu bersama mobilnya menuju kantor kembali. Rendy segera menyusul istrinya masuk ke dalam rumah.


"Iya, bi. Lisa, mana bi?"


"Nyonya, sudah masuk kamar duluan, tuan. Katanya, ingin segera istirahat. Nyonya juga memberikan saya dan mang Rudi oleh-oleh. Terimakasih, tuan."


"Sama-sama, bi. Ya sudah, saya ke atas dulu mau istirahat juga."


"Silahkan, tuan."


Rendy menaiki anak tangga satu persatu, sesampainya di dalam kamar. Terlihat istrinya tengah tertidur pulas.


Rendy mendekat ke arah Lisa. Di belainya rambut yang panjang terurai. Rambut yang hanya dia saja yang melihat.


"Rey bener. Aku beruntung memiliki kamu. Kamu wanita baik, kamu mampu menjaga dirimu sendiri. Terimakasih, sayang." Rendy mengecup pucuk kepala Lisa lalu, ikut berbaring di samping istrinya itu.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Di kantor, Dion tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia masih tak percaya setelah pengakuan atasannya itu.


"Kepala gue sakit banget." Ucap Dion

__ADS_1


Hati Dion yang sudah sepenuhnya mencintai Lisa, tak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Dia masih tetap dalam pendiriannya untuk, setia menunggu Lisa.


Sementara itu, Mona sibuk mengumpulkan sampah dari satu ruangan ke ruangan lain. Pekerjaannya bertambah sejak Lisa mendadak cuti karena, harus berbulan madu.


"Iri banget deh. Gimana ya, rasanya bulan madu sama suami. Apalagi perginya ke negera sakura. uuuh... engga bisa ngebayangin bahagianya aku." Ucap Mona.


Teman sesama propesinya, memperhatikan Mona yang tengah berbicara sendiri.


"Mon, kamu sehat kan?" Tanya wanita yang memakai seragam yang sama dengan Mona.


Mona yang sedang asyik berkhayal, di buat kaget dengan ucapan temannya itu.


"Apaan sih, ngagetin aja."


"Lagian, kamu dari tadi senyum-senyum sendiri gitu. Aku jadi takut, kamu kesambet setan dimana?"


"Enak aja, siapa juga yang kesambet setan. Aku tuh lagi bayangin, gimana rasanya bulan madu ke negara jepang."


"Haduh, Mon. kalau ngayal jangan ketinggian, pegawai kebersihan kaya kita gini mah, ada yang mau juga alhamdulilah."


"Ngayal bentar, boleh kali."


"Boleh aja sih tapi, balik lagi ke kenyataan. Istilahnya nih, yang kaya jodohnya sama yang kaya. Ya, yang pas-pas an kaya kita mah, jangan ngayal bisa dapetin yang di atas. Kesampaian kagak, gila mah iya." Ucap wanita itu.


"Tapi, buktinya tuh Lisa bisa dapetin babang tampan. Mas kita engga sih?"


"Ya itu mah, namanya dia beruntung. Gue juga kagak nyangka kalau temen kamu itu, ternyata istri bos kita. Kalau tau gitu, aku minta traktir tiap hari sama dia. Pastikan, duitnya banyak."


"Dasar matre kamu." Mona mengerucutkan bibirnya.


"Bukan aku matre, Mon. Kan itung-itung dia bagi-bagi rezeki gitu. Bilangin dong sama Lisa, kapan-kapan teraktir temen kerjanya."


"Ya, nanti coba aku bilangin." Jawab Mona yang langsung ke belakang berniat membuang sampah.


Baru saja sampai di tempat pembuangan sampah, Mona mendengar seseorang tengah berbicara dengan ponselnya.


"Ya, kalau bisa lo cari tau yang sebenernya. Mereka menikah sungguhan atau cuman pura-pura. Gue ngandelin lo, tenang soal bayaran gue kasih tips kalau lo berhasil." Ucap lelaki itu.


Mona tak berani mendekat, dia mengenali betul siapa pemilik suara ini. Mona hampir tak percaya, mengapa lelaki itu berani berbuat sejauh ini. Sampai harus menyuruh orang mencari tau kebenarannya.


Mona harus segera memberikan info ini. Dia tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


...****************...


BERSAMBUNG~

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk author dengan Like, coment&voteπŸ€—πŸ€—


SELAMAT MEMBACA😍😍😍


__ADS_2