
Waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Bagi pasangan Dira dan Dika, waktu terasa sangat menyenangkan. Mereka saling mengisi kekosongan satu sama lain. Sedangkan bagi Rendy waktu terasa lambat dan menyedihkan. Ia masih setia menunggu sang istri terbangun.
Siang itu terik matahari serasa membakar diri. Rendy berjalan lesu setelah keluar dari ruangan dokter. Pikirannya kacau penuh kebimbangan. Usia kandungan istrinya semakin membesar. Usianya kini sudah menginginjak hampir 33minggu.
Rendy masih teringat ucapan dokter lelaki itu "Kami meminta persetujuan anda sebagai suaminya, untuk melakukan operasi sesar pada Ibu Lisa. Kita tidak bisa membiarkan terlalu lama janin itu di dalam perut istri anda, cukup ia bertahan sampai saat ini. Mungkin operasi ini bisa membuat kondisi Ibu Lisa memburuk. Namun, kita harus menyelamatkan satu nyawa diantara mereka. Saya tidak tahu sampai kapan janin itu bertahan dengan hanya mengandalkan alat bantu selama ini."
Rendy melangkahkan kaki menuju ruangan di mana sang istri masih terlelap tidur. Wajahnya masih cantik, meski perutnya sekarang sudah membuncit.
Rendy berjalab menghampiri Lisa. Ia duduk tepat disampingnya, lalu berkata, "Sayang, maafkan aku. Aku melakukan ini demi keselamatan anak kita. Namun, aku berharap kamu juga harus bertahan setelah operasi ini berlangsung. Berjanjilah padaku, Sayang!"
Suasana hening, operasi yang akan dijadwalkan nanti malam akan tetap berlangsung. Ia bahkan belum mengabari keluarganya tentang ini. Hatinya masih bergelut dengan perasaan yang tak bisa ia artikan. Sudah benarkah keputusan yang ia ambil ini?
Ia beranjak dari tempat duduk, kemudian berjalan menghampiri jendela. Disibakkannya gorden berwarna putih itu. Dari sini terlihat jelas pemandangan kota saat ini.
Perlahan ia membuka jendela. Matanya terpejam menikmati semilir angin yang berebut masuk ke dalam ruangan. Sejenak ia melepas rasa lelah hati, pikiran dan jiwanya.
Dalam hati seuntai doa terus terucap. Berharap semua berjalan sesuai harapannya. Namun, lagi-lagi ia harus sadar akan penentu takdir kehidupan.
Banyak cerita yang telah ia lalui bersama Lisa. Bagaimana dulu ia sangat enggan berbicara dengan istri kecilnya, akan tetapi waktu merubah segalanya. Ia perlahan tunduk dan menetap di hati gadis yang ia temui tengah menangis di rumah sakit.
"Ya Allah, semua yang terjadi adalah atas izinmu. Jika engkau berkenan, izinkanlah aku melihat senyuman istriku satu kali lagi saja. Aku pasrah. Namun, bukan berarti aku menyerah!" ucap Rendy pelan.
Kita memang seharusnya pasrah akan takdir yang terjadi, akan tetapi kita juga dianjurkan berusaha semampunya untuk yang terbaik. Saat ini Rendy tengah berada di posisi yang sangat tidak menyenangkan. Bahtera rumah tangga keduanya penuh lika liku. Meski begitu ia tetap mengendalikan perahu rumah tangganya agar tidak oleng dan menabrak karang.
💮💮💮💮💮
__ADS_1
Waktu operasi pun tiba. Saat ini di satu ruangan yang sangat asing bagi Rendy. Ia hanya bisa melihat sang istri didorong masuk ke ruangan itu.
Rey, Dika, Pak Adrian, Egi, Mona dan Dira turut hadir untuk memberi suport lelaki yang hatinya tengah gundah gulana. Dokter yang memimpan jalannya operasi baru saja tiba. Dokter itu menghampiri Rendy, lalu berkata, "Berdoalah yang terbaik untuk keselamatan Ibu Lisa. Semoga beliau kuat, lalu cepat sadar untuk melihat bayi mungilnya. Saya tahu ini sulit untuk Anda, akan tetapi inilah yang terbaik yang kami usulkan."
Rendy mengangguk pelan. Ia percaya akan takdir yang sedang berjalan saat ini. Dokter itu tersenyum sambil berkata, "Tersenyumlah, bayi anda akan segera lahir. Dia tidak ingin disambut oleh wajah Papanya yang muram."
Setelah mengucapkan itu, Dokter lelaki tersebut bergegas masuk bersama kelima temannya. Mereka akan memulai proses operasi yang sebelumnya sudah disetujui Rendy.
Rey dan Dika berjalan menghampiri Rendy, sahabat karibnya. Mereka menepuk masing-masing bahu Rendy. Inilah saatnya mereka menguatkan lelaki yang telah lama menjadi sahabat karib mereka.
"Gue yakin Lisa pasti bakal baik-baik aja," ucap Rey.
"Ya, dia itu wanita kuat!" timpal Dika.
Sementara itu, Egi yang sejak tadi berurai air mata masih enggan melepaskan genggaman tangannya pada Pak Adrian. Bocah lelaki itu seakan mengerti bagaimana kondisi Kaka perempuannya saat ini.
"Nak, kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Kakamu saat ini. Yakinlah, Allah pasti memberikan keajaiban diakhir nanti." Mengusap lembut rambut cepak milik Egi.
"Egi, semua pasti baik-baik aja. Kamu harus kuat, biar Kak Lisa juga kuat. Masa anak cowok nangis, nanti engga ada anak gadis yang mau lagi," ledek Dira sambil tersenyum.
"Itu bener, Egi. Ayo, katanya mau jadi dokter. Masa baru liat orang di operasi saja sudah nangis. Semangat, demi kakakmu! Tunjukkan kalau kamu kuat!" timpal Mona.
Egi sedikit mengulas senyum. Ia bahagia bisa bertemu orang-orang baik di keluarga Kaka iparnya. Egi berkata, "Ya, Egi harus kuat!"
Semua orang tengah tegang. Pertaruhan nyawa telah berlangsung. Lisa disana berjuang sendiri demi kelahiran anaknya. Ia mungkin juga berharap bisa terbangun kembali, lalu berkumpul bersama orang yang ia cintai.
__ADS_1
Detik waktu terus bergulir. Dokter dan perawar berusaha semampunya. Mereka melakukan yang terbaik untuk Lisa dan bayinya.
Perut Lisa telah dibelah sedikit. Proses pengambilan bayi akan segera dilakukan. Dokter melakukannya dengan hati-hati, kemudian suara tangis bayi laki-laki bergema ke seluruh ruangan tersebut.
Bayi yang lahir diusia 32 minggu itu memang masih muda. Namun, Dokter telah memutuskan ini yang terbaik. Tiba-tiba detak jantung Lisa melemah. Perawat dan Dokter panik, mereka segera membereskan operasi yang masih berlangsung.
"Bu Lisa bertahanlah! Bayi anda sangat tampan mirip Papanya. Saya tahu anda juga ingin melihatnya, maka dari itu bertahanlah!" ucap Dokter lelaki itu pelan.
Bayi itu terus menangis begitu perawat membersihkan, lalu membungkusnya dengan bedongan. Matanya sangat indah persis milik ibunya. Perawat wanita itu saja sampai terpana dibuatnya.
"Kamu sangat tampan, Nak! Berdoalah agar Ibumu cepat sadar," gumam perawat itu.
"Bawa bayinya ke ruangan khusus bayi, lalu masukkan ke inkubulator. Dia butuh perawatan ekstra!" perintah Dokter.
Perawat wanita tersebut menggangguk, kemudian menggendong bayi mungil itu keluar. Sementara dokter dan perawat lainnya masih berada di ruangan tersebut.
Saat dokter hendak keluar, tiba-tiba jari jemari Lisa bergerak perlahan. Dokter yang melihatnya langsung menghampiri Lisa kembali seraya berkata, "Bu Lisa bukalah mata anda perlahan. Lihatlah, bayi anda sudah lahir sekarang. Dia menunggu ibunya untuk disusui."
Atas izin Allah, perlahan tapi pasti mata Lisa terbuka sedikit demi sedikit. Ia menatap Dokter lelaki itu yang kini tersenyum menyaksikan bola mata indah itu terbuka.
"Jangan berbicara dulu. Saya tahu anda sangat lelah setelah perjuangan keras ini. Saya bersyukur anda sudah sadar. Suami dan bayi anda sudah menanti kehadiran anda kembali." kata Dokter.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
__ADS_1
Saya mohon maaf, jika ada adegan yang salah dalam prosedur operasi ini. Saya harap semua menikmati cerita ini sampai akhir🤗