
Semesta terasa sejuk. Semilir angin menetramkan jiwa. Bintang gelisah menunggu sang bulan menjawab. Akankah ia pulang dengan bahagia saat fajar nanti.
Egi masih setia memperhatikan langit malam. Ada kesejukan yang ia dapatkan.
"Apa saya adalah cinta pertamamu?" tanya Egi balik.
Zahra mengangguk pelan.
"Cinta pertama memang menyenangkan. Pengalaman pertama saat jantung kita berdebar kencang," cakap Egi.
Egi kembali terdiam. Sedangkan, Zahra tengah gundah gulanda dibuatnya. Gadis itu menantikan jawaban atas keberaniannya.
Egi menoleh ke arah Zahra. Mata indah milik Zahra memang mempesona. Bentuknya yang bulat dengan bulu mata yang lentik menjadi daya tarik tersendiri.
Egi akui, gadis di hadapannya sangat mempesona. Iman siapa yang tidak akan goyah, jika di sajikan hidangan senikmat ini. Namun, Egi bukanlah lelaki brengsek. Ia paham akan batasan dirinya. Terlebih agamanya melarang akan hal itu.
"Kamu masih sangat muda. Saya akui, kamu cantik. Lelaki mana yang tidak tergoda, akan tetapi itu tidak berlaku untuk saya," tutur Egi lembut.
"Kenapa?" tanya Zahra.
"Ada satu alasan yang membuat saya tidak bisa membalas kebaikan hatimu. Saya yakin ada lelaki yang lebih pantas dari saya yang sedang Allah persiapkan untukmu di masa depan nanti." Egi berdiri, lalu menyeret kakinya hendak masuk ke dalam rumah.
"Paman," panggil Zahra.
Egi menghentikan langkah.
"Aku tidak akan memaksamu mencintaiku. Aku juga berjanji, akan berhenti berharap padamu. Jika semua itu sudah aku lakukan. Namun, ternyata paman adalah lelaki yang tengah Allah persiapkan untukku. Apa yang akan paman lakukan?" tanya Zahra.
Egi kembali berbalik menghadap Zahra. Terlihat cairan bening memenuhi sudut netra Zahra.
"Saya tidak bisa menolak, jika sudah seperti itu. Kalau kita berjodoh, Allah pasti akan menyatukan kamu dan saya dalam ikatan yang suci," jawab Egi.
Zahra terdiam. Ia tidak kuat lagi menahan air matanya. Pipinya mulai basah.
"Aku berharap seperti itu. Selama aku menunggu, aku akan memantaskan diriku. Andai pun kita tidak berjodoh. Aku sedikit lega. Setidaknya aku pernah berjuang untuk perasaanku," cakap Zahra.
Egi mematung. Perkataan Zahra membuat dadanya sesak. Ada dorongan yang kuat untuk merangkul tubuh mungil Zahra. Namun, Egi singkirkan secepat kilat.
"Seharusnya memang aku tidak seperti ini. Aku adalah wanita, yang sudah sepantasnya menunggu. Sedangkan, Paman adalah lelaki yang sudah seharusnya berjuang. Bukan terbalik seperti ini. Meski begitu, aku tidak masalah. Aku akan berjuang meminta pada sang pemilik jiwa Paman yang sebenarnya. Aku tidak akan meminta pada Paman, melainkan langsung pada Allah sang pemilik hati, jiwa dan raga Paman," sambung Zahra.
Egi semakin sesak. Mulutnya sulit berucap. Zahra melangkah masuk melewatinya begitu saja.
"Kenapa rasanya sangat sesak?" batin Egi.
__ADS_1
Sementara itu, di ruangan tengah Adnan dan si kembar masih saja asyik bermain PS. Mereka merasa sangat bebas, karena Bunda Adnan sedang tidak ada di rumah.
"Nan," panggil Riki.
"Apa!" sahut Adnan.
"Lo beneran suka sama Zahra?" tanya Riki
Adnan seperti tidak mendengar. Tangannya pokus memegang stik PS. Entah mengapa setiap di tanya tentang gadis itu. Adnan merasa terus bersalah.
"Hei, Cunan jawab atuh!" sungut Riko yang sejak tadi menyimak.
"Iya, gue emang suka sama Zahra. Kenapa? kalian cemburu!" jawab Adnan.
Dua R serentak melepas stik PS. Mereka lebih tertarik mengintrogasi Adnan.
Riko menempelkan telapak tangan kanannya di kening Adnan. Ia ingin memastikan bahwa saat ini sepupunya itu tidak sakit. Adnan sama sekali tidak bergeming. Ia tidak peduli tentang tanggapan sepupu kembar tersebut.
Riki merapat ke dekat Adnan, lalu berkata, "Nan, Lo tahu 'kan kalau Zahra itu naksir berat sama Paman Egi? masa keponakan mau saingan sama pamannya sendiri."
"Tidak ada yang melarang ini selama itu bersaing dengan sehat," celetuk Adnan.
"Aih, ni Bocah. Bisa-bisa Lo sama Paman Egi perang dunia ke-50," sela Riko.
"Banyak amet ke-50! keempat aja belum!" tegur Riki.
Riko tertawa tatkala kripik singkong itu berada tepat di hadapannya. Setidaknya ia tidak harus bersusah payah mengambilnya.
"Lumayan." Riko membuka snack, lalu memakannya.
Duo "R" kembali beradu mulut. Mereka saling melempar pendapat satu sama lain. Sedangkan, Adnan masih engga melepas stik PS-nya.
Tiba-tiba Zahra melewati mereka naik ke lantai dua. Tidak lama kemudian Egi pun menyusul sama persis melewati mereka.
Adnan memperhatikan keduanya. Ia merasa bahwa pamannya dan Zahra baru saja masuk bersama. Pikiran Adnan di penuhi banyak pertanyaan. Sejak kapan mereka sedekat itu? bukankah pamannya tidak suka berdekatan dengan wanita.
"Aih, gue pusing," batin Adnan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Malam terus berangsur menjadi pagi. Suara Adzan terdengar saling bersautan dari satu surau ke surau lain. Mengajak setiap muslim untuk sejenak menghadap Sang Ilahi Rabbi.
Egi menggeliat. Perlahan matanya membuka. Ia memaksa tubuhnya untuk bangun, lalu meregangkan otot-ototnya yang kaku.
__ADS_1
Waktu subuh telah tiba. Egi segera keluar kamar untuk menuju mushola rumah. Ia menduga penghuni rumah masih terlelap tidur.
Egi pergi ke lantai bawah. Ia mendapati ketiga ponakannya tidur di atas matras yang ada di ruangan tamu.
Egi mulai membangunkan satu per satu. Ia berkewajiban mendidik mereka ke hal yang baik. Perlahan ketiganya membuka mata.
"Bangunlah! Waktu subuh sudah tiba," kata Adnan.
Semua beranjak pergi menuju mushola. Sedangkan, Egi pergi ke lantai dua berniat untuk membangunkan Zahra.
"Gadis ini! Bagaimana dia bisa menjadi seorang istri, kalau jam segini saja belum bangun," batin Egi.
Egi mengetuk perlahan pintu kamar Zahra sambil se-sekali memanggil nama gadis itu. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Egi mencoba memutar knop pintu. Ternyata gadis itu juga ceroboh. Ia sama sekali tidak mengunci pintu kamarnya.
"Maaf, aku lancang masuk." Egi perlahan masuk dan membiarkan pintu terbuka lebar.
Ia nampak terkejut. Zahra tertidur hanya menggunakan tangtop dan celana pendek tanpa ditutupi selimut.
Sontak Egi membalikkan badan. Ia kembali keluar tidak lupa menutup pintu kembali, lalu pergi menuju dapur. Ia hendak meminta Bi Iyam saja, untuk membangunkan gadis ceroboh itu.
Setelah meminta Bi Iyam untuk menolongnya. Egi segera pergi ke mushola. Bayang-bayang tubuh Zahra yang indah terus berputar di pikirannya. Bagaimanapun ia adalah seorang lelaki normal yang memiliki nafsu.
Selang lima menit, Zahra telah bergabung dengan yang lainnya untuk sholat subuh berjamaah. Ia tidak tahu sama sekali bahwa Egi masuk ke dalam kamarnya tadi.
Sholat usai. Semua penghuni bubar. Tinggallah Egi dan Zahra yang masih bersimpuh di atas hamparan sajadah.
Egi beranjak dari tempat duduknya. Sekilas ia melirik pada Zahra yang masih asyik berdzikir.
"Kamu memang cantik. Namun, kamu juga gadis ceroboh. Tutup rapat pintu saat tidur, dan jangan pernah berpakaian seperti tadi saat di rumah orang lain. Kamu tidak tahu apa yang bisa terjadi." Egi Mengayunkan langkah untuk keluar mushola. Meninggalkan Zahra yang terdiam dengan berbagai pertanyaan.
"Apa Paman tadi masuk ke kamarku?" batin Zahra.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
SELAMAT WEEKEND UNTUK SEMUANYA🤗
Yang masih menemukan kesalahan dalam tulisanku, berarti aku belum sepenuhnya merevisi.
Kadang aku pun salah dalam menulis nama orang🙏
__ADS_1