
Angin malam berhembus membawa kabar bahagia. Semesta tenang seakan mengerti akan adanya dua insan tengah bertemu setelah sekian lama dipisahkan jiwa.
"Mas ... Aku merindukanmu," balas Lisa pelan.
Pak Adrian tersenyum, kemudian beranjak dari tempat tidur. Kakinya berangsur jalan meninggalkan pasangan yang tengah mencurahkan kerinduan.
"Aku lebih merindukanmu." Memeluk erat.
Perlahan Rendy melepaskan pelukannya. Dipandangi wajah cantik berseri seperti bayi yang baru lahir. Ia teringat akan anak lelakinya, Rendy berkata. "Anak kita seorang pemuda tampan, Sayang."
"Benarkah? apa dia sehat, Mas?" Matanya berbinar mendengar hal itu.
"Tentu! Dia sehat, karena lahir dari seorang ibu yang kuat!" puji Rendy.
"Lalu, kapan baby kita bisa aku susui, Mas?" tanya Lisa kembali.
Rendy mengusap perlahan rambut Lisa sambil berkata, "In Syaa Allah, setelah enam jam Baby kita akan segera di pangkuanmu. Kamu senang?"
Lisa membalas dengan senyuman. Rendy mencium kening istrinya. Dipeluknya kembali tubuh yang sekarang bisa beraktivitas seperti biasa.
"Nah, sekarang sebaiknya kamu istirahat! Aku akan menemanimu di sini. Tidurlah yang nyenyak, jangan lupa mimpikan suamimu." Membantu merebahkan badan istrinya, lalu menyelimuti sampai ke dada.
"Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu sepenuh jiwaku," sambung Rendy.
"Selamat malam, Suamiku." Tersenyum malu.
Rendy memegang erat tangan Lisa. Mengantarkannya ke alam mimpi. Tetap terjaga sampai mata indah istrinya itu tertutup sementara.
"Aku berharap setelah ini kebahagiaan akan terus menyelimuti keluarga kecil kita. Aku bersyukur atas kehadiran dirimu dan juga buah cinta kita. Semoga Allah memberikan kita umur yang panjang agar bisa mendidik bersama anak kita berdua," kata Rendy.
Malam semakin larut, matanya mulai berat. Rasa lelah, sedih, gundah dan bahagia bercampur menjadi satu di lembaran ceritanya hari ini.
Rendy mulai memejamkan mata. Berusaha melepas semua penat yang ada dalam jiwa. Menyusul sang istri yang terlebih dahulu memasuki dunia mimpi. Merangkai cerita di alam bawah sadar masing-masing.
💮💮💮💮💮💮
Dua minggu berlalu, kini Lisa dan baby-nya sudah pulang ke rumah. Semua menyambut dengan suka cita. Bi Iyah dan Mang Asep berlomba-lomba untuk menjaga tuan muda kecilnya.
Rumah ini terasa semakin hangat. Tangisan bayi selalu terdengar menggema. Kesibukan Lisa bertambah dengan hadirnya si Baby Boy. Anak yang mereka namai Muhammad Adnan Fauzi.
Seperti halnya doa, nama adalah sebuah doa dari orang tua untuk anaknya. Lisa dan Rendy berharap anak lelakinya tumbuh menjadi sesosok lelaki yang baik agama, budi pekerti dan sopan santun.
__ADS_1
Lisa berusaha semampunya memberikan yang terbaik untuk Baby Adnan. Meski Rendy menyewa seorang suster untuk membantunya. Namun, Lisa tetap berusaha untuk melakukannya sendiri.
Meskipun begitu Lisa terkadang membiarkan Baby Adnan bersama suster saat dia harus mandi dan makan. Suster yang mereka pekerjaan sangat kompeten dan profesional. Usianya terbilang masih muda, akan tetapi pengalamannya luar biasa. Lisa belajar banyak hal dari pengasuh bayinya.
Hari ini Lisa dan Rendy menitipkan Baby Adnan pada Suster. Sebelumnya Lisa telah memompa asinya untuk persediaan hari ini. Mereka tidak mungkin membawa Baby Adnan yang masih bayi merah ke acara pernikahaan Dira dan Dika.
"Sus, titip Baby Adnan, ya!" ucap Lisa.
"Baik, Bu," sahut Suster.
"Sayang, Ibu pergi dulu sebentar, ya, Nak. Adnan engga boleh rewel sama Suster, ya. Ibu sayang Baby Adnan." Mencium pipi mungil milik anaknya.
"Sayang, apa kamu sudah selesai?" Menghampiri mereka.
"Iya, Mas. Ini aku lagi pamit sama Baby Adnan dulu," jawab Lisa.
"Mana gantengnya Papa." Mencubit pelan pipi anaknya.
"Mas, jangan cubit-cubit kasian, tau!" tegur Lisa.
"Kan, cuman pelan, Sayang!" bantah Rendy.
"Coba Mas kalau di cubit mau apa engga?" tanya Lisa.
Lisa seketika langsung mencubit pinggang suaminya sambil berkata, "Dasar mesum!"
Rendy hanya meringis sambil tertawa. Sedangkan Suster sedikit tersenyum kecil melihat tingkah kedua majikannya yang seperti pasangan baru menikah.
"Ya udah, kita berangkat sekarang aja, ya. Nanti keburu engga ngeliat ijab qabulnya lagi! ajak Rendy.
"Iya, Mas," jawab Lisa.
"Sus, saya pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa tolong segera telepon saya!" pamit Lisa.
"Baik, Bu." Mengangguk pelan.
"Papa sama Mami pacaran dulu, ya, Boy. Yang anteng, ya, kesayangan Papa! Kata Rendy pada Baby Adnan.
Lisa menggelengkan kepalanya. Lelaki ini kembali kumat penyakit tidak malunya. Mereka berdua segera berangkat menuju gedung pernikahaan Dira dan Dika.
Selama di perjalanan Lisa banyak berbicara. Sepertinya kebiasaan dirinya yang sering mengajak mengobrol Baby Adnan telah melekat. Terbukti dari pertama mereka masuk mobil sampai mobil itu sampai ke depan gedung. Lisa tidak pernah berhenti mengoceh. Ada saja yang ia bahas.
__ADS_1
Rendy menggandeng tangan Lisa sambil berkata, "Apa kita harus mengadakan pesta pernikahaan juga? sepertinya aku melewatkan momen itu."
"Tidak usah, Mas! Tanpa pesta pun aku sudah bahagia," balas Lisa.
"Aku terharu, Sayang. Kamu memang wanita hebat dan baik hati," puji Rendy.
"Mulai! Pasti ada maunya," tebak Lisa.
"Tentu, dong!" Tertawa pelan. "Aku merindukan kamu, tapi mesti sabar menanti selesai masa nifasmu."
Lisa kembali mencubit pinggang suaminya. Sedangkan reaksi Rendy hanya tersenyum sedikit kesakitan. Meski pelan terbukti cubitan itu mampu membuatnya merasa sakit.
Mereka berjalan beriringan. Gamis dan kemeja dengan warna dan corak yang sama membuat mereka terlihat seperti satu pasangan yang baru saja menikah.
Setibanya di dalam gedung, ternyata proses ijab qabul sudah selesai. Kini kedua mempelai sudah duduk manis di pelaminan. Rendy sedikit menyesal karena terlambat. Namun, ia tidak bisa menyalahkan siapa pun karena pasalnya ia tadi menunggu Lisa memompa asi untuk Baby Arkan terlebih dahulu.
Mereka berjalan mendekati pelaminan. Ada binar air mata bahagia dari wajah Dira. Ia menatap lekat sang Kaka, lalu berkata, "Kak, Aku sudah menikah."
Rendy mengusap perlahan air mata itu. Rendy berkata. "Jangan menangis, Dek! Ini hari bahagiamu. Kaka yakin mama juga tidak ingin kamu menangis seperti ini. Selamat untuk pernikahaanmu, maafkan Kaka datang terlambat."
Dira tidak menjawab. Ia langsung memeluk Rendy erat. Semua yang ada di sana menyaksikan dengan terharu. Mona dan Lisa sampai meneteskan air mata bahagia.
Rendy melepaskan perlahan pelukan Dira. Matanya beralih pada Dika. Ia tersenyum sambil berkata, "Jaga Adek gue, Dik. Gue tahu Lo bisa bahagiaan dia. Gue berharap kebahagiaan selalu bersama kalian berdua."
"Tentu, Ren. Dia istri gue sekarang, jadi Gue harus bisa bahagiain dia." Menggenggam erat tangan Dira.
"Cielah, Dokter jones sok puitis," ledek Rey.
Mereka tertawa bersama. Akhirnya ketiga serangkai itu menemukan cintanya masing-masing. Mereka sahabat yang selalu setia saat suka dan duka.
Sementara itu dari kejauhan terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat ke arah mereka yang tengah berpose bersama. Orang itu tersenyum, lalu berkata, "Lisa!"
Sontak mereka semua menoleh ke asal suara. Mata semua menatap tidak percaya aka kehadiran sosok yang kini dihadapan mereka semua.
...****************...
Bersambung~~~~
Jangan lupa like, coment dan vote, Teman🤗
Maafkan Aku yang jarang membalas komentar kalian. Tapi Aku sangat senang karena kalian semua seperti keluarga kedua untukmu.
__ADS_1
Peluk hangat dari Author😘