
Sore hari seperti perintah suaminya, Lisa setia menunggu di tempat biasa. Lisa memasang handseat ke telinga, lalu memutar lagu di handponenya.
Di lantai paling atas Rendy hendak keluar untuk pulang, tiba-tiba Rey masuk bermaksud mengajak sahabatnya ini pulang.
"Lo udah siap pulang, Ren?" tanya Rey.
"Hmm..Gue mau pulang bareng Lisa, sekalian makan malam. Lo bisa pulang naik taksi, atau minta mang rudi jemput," ucap Rendy.
"Yaelah Ren, bilang ke dari tadi. Gue kan bisa langsung cabut sendiri, engga usah lama-lama nungguin lo," jawab Rey kesal.
"Ha ha ha ha. Gue lupa, ya udah sono lo pulang. Eh, jangan lupa kunci mobil siniin," ucap Rendy.
Rey memberikan kunci mobil sambil mengumpat sahabat gilanya ini.
"Dasar bos bucin!" ledek Rey pelan tapi masih terdengar.
" Lo tadi bilang apa?" ujar Rendy.
"Kagak, itu gue habis nonton film indosiar, ku menangis yang nyeritain cowok bucin. ha ha ha." Rey pura-pura tertawa agar tak kena marah si bos.
Rendy tak menggubris sahabatnya ini. Rendy selesai membereskan berkasnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Rey.
"Gue juga pengen punya istri. Emaaaaaak anakmu pengen kawiiiiiin. Eh kagak emak bukan kawin, nikah dulu maksudnya," teriak Rey sendiri, kemudian berlalu keluar ruangan Rendy.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Rendy tiba di parkiran mobil yang memang khusus untuknya sendiri. Dia melihat istri kecilnya tengah asyik bernyanyi, sambil bermain handpone.
Rendy mendekati Lisa, terdengar jelas suara Lisa yang merdu sedang menyanyikan sebuah lagu.
**Cinta kita memang tidak semudah.
Yang di bayangkan.
Dulu kita saling menyakiti
Dan hampir menyerah.
Kini kita ada tuk saling menyempurnakan
Ku berdoa untuk bisa hidup.
Dan menua bersamamu**.
Rendy terkesima dengan suara istrinya, indah dan merdu di telinga. Membuat setiap yang mendengar ikut terbuai.
Rendy mendekat lebih ke tubuh Lisa, memeluk istrinya ini dari belakang. Membuat Lisa yang sedang asyik, menghentikan nyanyiannya.
"Sayang, suaramu merdu banget." Suara Rendy berat dan sedikit serak, membuat Lisa merinding tapi bukan takut.
"Eh, mas sudah dateng. Te..terimakasih pujiannya mas." ucap Lisa karena sedekat ini dengan suami, apalagi ini bukan di rumah melainkan kantor.
"Di rumah, nyanyikan lagi untukku ya. Ayo, kita jalan." ucap Rendy melepas pelukannya.
Rendy menggandeng tangan istrinya untuk bisa sejajar dengannya, lalu mereka masuk ke mobil dan segera pergi.
Di perjalanan Lisa diam, dia tak tau harus apa. Lisa tak terbiasa memulai obrolan dengan Rendy, jika bukan sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Kamu mau makan dimana, sayang?." ujar Rendy memecah keheningan.
"Dimana aja mas, aku ikut saja."
"Ayolah, sekarang kamu yang tentukan tempat nya." Ujar Rendy sambil tetap fokus menyetir.
Lisa berpikir sejenak, sebenarnya dia ingin sekali makan di kaki lima. Sudah lama sejak menikah dengan Rendy, Lisa tak pernah berkuliner di pedagang kaki lima.
Lisa ragu apa suaminya ini, yang memang notabennya sudah terbiasa dengan segala kemewahan. Apa akan mau, jika Lisa ajak ke tempat seperti itu.
"Anu..mas, aku sebenernya pengen.." Lisa tidak melanjutkan ucapannya.
"Bicaralah jangan takut."
"Boleh engga, kalau kita makan di pedagang kaki Lima?."
Rendy heran kenapa istrinya malah meminta makan di tempat sesederhana itu. Biasanya, wanita akan sangat ingin makan di tempat yang mewah dan elit.
"Baiklah. Ayo kita makan di sana. Tapi sepertinya sudah masuk sholat magrib. Kita mampir ke masjid dulu ya." Jawab Rendy.
"Baik mas." ucap Lisa yang senang sekali.
Rendy memarkirkan mobilnya di salah satu masjid, mereka masuk bersama untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim.
Sesibuk apapun mereka, sholat adalah prioritas utama. Karena sholat adalah tiangnya agama, jika tiangnya roboh maka bobroklah semuanya.
Setelah selesai dengan sholat, mereka segera pergi mencari tempat makan sesuai keinginan Lisa.
Lisa menunjuk ke sebuah warung makan pecel ayam langganannya.
Rendy segera berhenti tepat di depan tenda pecel ayam itu, mereka keluar dari mobil dan langsung masuk ke tenda.
Suasana sangat ramai pengunjung, sepertinya pecel ayam langganan Lisa sangat terkenal. Lisa mengajak Rendy duduk di belakang paling pojok.
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Wajah yang tak asing bagi Lisa, karena ini tempat favorit keluarganya dulu.
"Eh, neng Lisa kirain siapa." Sapa Bu Fatimah pemilik pecel ayam ini.
"Iya bu." jawab Lisa ramah.
"Wah, ini siapa neng. Ganteng banget, kaya Oppa korea yang suka di liat anak gadis ibu." Tanya bu Fatimah
Rendy tersenyum karena di puji bu Fatimah, Rendy mengira ibu penjual pecel ayam ini sangat update soal oppa korea.
"Hehe. ibu bisa aja. Kenalin bu, ini mas Rendy suami Lisa." jawab Lisa.
"Masya Allah, neng Lisa udah menikah. Selamat ya neng, semoga jadi keluarga yang sakinah,mawadah warohmah." Ucap bu Fatimah.
"Aamiin. Terima kasih bu."
"Jangan Lupa cepet punya anak, mumpung masih muda neng." Goda bu Fatimah
Lisa hanya tersenyum malu-malu, dia dan Rendy belum sampai ke tahap itu. Rendy yang melihat Lisa terlihat malu dengan ucapan bu Fatimah, langsung membuka suaranya
"Lagi proses bu, doain ya semoga langsung kembar." Ucap Rendy sambil tersenyum.
Lisa melirik suaminya, bisa-bisanya Rendy berbicara seperti itu dengan santainya. Tapi Rendy membalas tatapan Lisa, dengan senyuman yang tak bisa di artikan.
__ADS_1
"Aamiin. Ya udah, mau pesan apa neng?." Tanya bu Fatimah.
"Mas, mau makan apa?." ucap Lisa bertanya pada Rendy.
"Apa aja, samain sama kamu." Jawab Rendy.
"Ya udah bu, pesen nasi 2, ayam goreng 2 sama es teh manisnya 2 ya." ucap Lisa pada bu Fatimah.
"Ok neng, di tunggu ya." Ucap bu Fatimah kemudian berlalu meninggalkan mereka.
"Iya bu." Jawab Lisa.
Rendy memegang tangan Lisa di atas meja. Rendy menatap istrinya ini tak henti-hentinya.
Lisa merasa malu di tatap seperti ini oleh suaminya.
"Mas kenapa liatin aku kaya gitu?." Tanya Lisa.
"Emang engga boleh." jawab Rendy.
"Bukan begitu mas."
"Sayang, sepertinya kita harus berbulan madu."
"Bulan madu. Untuk apa mas? Tanya Lisa.
"Ya tentu saja, agar kita bisa merefreskan pikiran kita dulu. Dan paling penting kita..." Rendy sengaja tak meneruskan ucapannya.
"Kita apa mas?." Lisa penasaran.
Rendy mendekat ke badan Lisa, mulutnya menempel di telinga Lisa dan membisikan sesuatu sambil tersenyum nakal.
"Kita bisa membuat anak kembar seperti keinginan aku."
"Hah!!"
Lisa kaget tak percaya dengan ucapan Rendy. Sepertinya suaminya ini, tidak main-main soal ucapannya tadi.
Memiliki anak..
Tentu Lisa mau, bukankah setiap pasangan yang sudah menikah mendambakan seorang anak.
Apalagi Rendy sudah mengutarakan keinginannya, untuk memiliki anak kembar. Tapi akankah semua terjadi dalam kehidupan rumah tangga Lisa.
Entahlah, semua rahasia Allah. Kita manusia hanya bisa berencana dan bermimpi. Jadi tetaplah bermimpi setinggi langit, biarkan Allah yang berkerja.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Terimakasih dukungannya buat author selama ini๐ค
Semoga aku bisa terus berkarya
Jangan Lupa like,coment&vote
SELAMAT MEMBACA๐๐
__ADS_1