
Ruangan bercat berwarna putih berukuran 4x5 persegi itu, menjadi saksi saat Dokter Tania menjelaskan secara mendalam perihal kehamilan pada Rendy.
"Kita ulas pertama, apa itu kehamilan," ujar Dokter Tania. " kehamilan adalah proses dari pembuahan sampai kelahiran. Proses ini dimulai dari sel telur yang dibuahi oleh sel ******, lalu tertanam dilapisan rahim, dan kemudian menjadi janin."
"Apakah kehamilan harus berlangsung selama itu? maksud saya sampai sembilan bulan lamanya," ujar Rendy.
Lisa duduk diam mendengarkan percakapan Dokter dan suaminya, jujur ia sendiri belum tahu betul tentang kehamilan. Beruntung, ia memiliki suami yang tingkat penasarannya diatas normal, sehingga menuntun mereka pada pembahasan bermanfaat ini.
"Ya. Normal kehamilan itu berlangsung selama 40 minggu, dan dibagi 3 trimester." ucap Dokter Tania.
"Maksud dari 3 trimester seperti apa, ya, Dok? apa itu seperti kita bisa menentukan usia kehamilan ke berapa untuk melahirkan?" ulangi Rendy kembali.
Doter Tania mengurai senyum lalu berkata, " Bukan, Pak. Trimester itu hanya istilah dalam kehamilan. Secara teknis trimester pertama 1-13 minggu. Trimester kedua dimulai pada minggu ke-14 dan berakhir diusia kandungan 27minggu. Sedangkan, trimester ketiga dimulai dari usia 28 minggu sampai minggu ke-40 atau waktu kelahiran."
Rendy terdiam mendengar penjelasan Dokter Tania, ia sedikit mengerti seputar kehamilan. Hanya saja ia belum menemukan cara agar istrinya tidak melewati masa kehamilan selama itu.
"Dok, apa tidak bisa mempersingkat usia kehamilan agar tidak selama itu?"
"Tidak bisa, Pak. 40 minggu itu sudah hal wajar bagi ibu hamil, akan tetapi ada beberapa kemungkinan si ibu hamil melahirkan prematur," jawab Dokter Tania dengan sabar.
"Melahirkan prematur! Apa itu, Dok?"
"Melahirkan prematur itu adalah melahirkan sebelum waktunya. Jadi, kelahiran itu terjadi sebelum minggu ke-37, atau kurang dari 30 minggu usia kehamilan. Ini sangat berisiko untuk sang bayi, karena jika sang bayi lahir kurang dari usia semestinya dilahirkan, maka organ-organ dalam tubuh masih kurang matang berkembang dengan baik," jelas Dokter Tania.
Rendy melirik pada Lisa, ia kini mengerti alasan istrinya tertawa, karena Rendy kekeh menginginkan kehamilan istrinya dipersingkat. Dia menggengam tangan Lisa di balik meja, berjanji dalam hatinya untuk senantiasa setia menemani sang istri melewati perjalanan panjang kehamilan.
"Jadi apa sampai sini sudah bisa dimengerti, Pak?" tanya Dokter Tania yang melihat Rendy menatap lekat wajah sang istri.
Rendy memfokuskan pandangannya lagi kedepan lalu berkata, " Iya, saya sudah cukup paham penjelasan Dokter."
Dokter Tania melihat kearah Lisa yang sejak tadi hanya menjadi pendengar diantara percakapan mereka. Dokter Tania berkata, " Apa ibu mengalamai morning sicks yang parah di trimester pertama ini?
"Iya, Dok. Hampir setiap pagi saya selalu memuntahkan makanan yang saya makan," jawab Lisa.
__ADS_1
"Itu hal wajar, ya, Bu. Dinikmati saja, seiring bertambahnya usia kehamilan masalah morning sicks ini akan hilang dengan sendiri. Selama masalah ini tidak terlalu mengganggu aktivitas, tidak perlu khawatir," jelas Dokter Tania.
Perkataan Dokter Tania mengingatkannya akan sesuatu, dia ingin menanyakan kebenaran dan apa penyebabnya.
"Dok, apa kehamilan ini bisa menyebabkan seorang istri tidak ingin berdekatan dengan suami? maksud saya, kadang si istri mengatakan bau saat dekat dengan suaminy?" tanya Rendy penasaran.
Lisa tercengang, pertanyaan konyol apalagi sekarang yang keluar dari mulut suaminya. Lisa mencubit kembali sedikit pinggang suaminya, akan tetapi Rendy tidak bergeming sedikitpun.
Entah keberapa kalinya, Dokter Tania menunjukan senyum tapi, mimik mukanya menahan tawa.
"Memang ada beberapa Ibu hamil melewati masa-masa seperti itu. Misal, biasanya si Ibu suka memakan masakan pedas, begitu hamil ia jadi membenci rasa pedas. Ada juga yang tadinya tidak suka kopi, begitu hamil setetes kopi malah sangat menggoda bagi sang Ibu. Begitupun itu berlaku untuk pertanyaan, Pak Rendy barusan." jawab Dokter Tania.
Rendy melirik kembali pada Lisa, kini tatapannya sedikit berbeda. Seakan ia memberi pertanyaan lewat isyarat pada istrinya, apa Lisa menjadi membenci dirinya setelah hamil.
Konsultasi kehamilan itu berlangsung sedikit lama, Dokter Tania dengan ramah dan telaten menjawab setiap pertanyaan Rendy dan Lisa.
Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan Dokter. Lisa bahagia karena mendapatkan ilmu baru untuk wawasannya, sedangkan Rendy berbeda. Ia merasa kesal atas kesimpulan yang ia buat sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu.
Lisa melihat perubahan wajah sang suami yang kusut dan lesu dari pertama keluar rumah sakit sampai kedalam mobil.
"Memang apa yang terjadi!" ketus Rendy.
"Kenapa Mas seperti marah padaku? apa penjelasan Dokter tadi belum cukup!" lontar Lisa.
"Tidak juga. Aku hanya kesal," sahut Rendy dengan muka ditekut.
"Apa yang membuat Mas kesal?"
"Apa kamu tidak mengerti penjelasan Dokter Tania yang terakhir soal mengapa kamu sering tidak ingin berdekatan denganku?" Rendy bertanya balik pada istrinya.
Lisa terdiam sejenak, memutar otaknya untuk mengingat apa yang Dokter Tania ucapan atas pertanyaan suaminya itu.
"Ah, aku ingat. Lalu apa masalahnya?"
__ADS_1
"Hei, kamu tidak mengerti. Itu artinya kamu membenciku selama kehamilan ini!" seru Rendy.
"Hahahaha. Astagfirullah, Mas. Kamu kesal karena itu, kamu bahkan menyimpulkan aku akan membencimu selama kehamilanku," ujar Lisa sembari tertawa.
"Bukannya seperti itu. Bahkan saat aku minta cium, kamu tidak mau! Bukan itu artinya kamu membenciku," keluh Rendy.
Lisa merangkul tangan Rendy, menyandarkan kepalanya dibahu suaminya lalu berkata, " Mas, aku tidak pernah membencimu. Maaf, jika kemarin-kemarin aku tidak ingin kamu mendekatiku. Percayalah, semata-mata itu hanya karena hormon kehamilanku saja. Namun, itu tidak berarti aku akan terus membencimu selama kehamilanku."
Rendy terdiam, ia mengutuk dirinya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan sendiri. Rendy merasa bersalah karena sempat merasa kesal pada Lisa.
Tangan Rendy bergerak, membelai lembut kepala Lisa yang tertutup kerudung. Ia berharap tidak lagi melakukan kesalahan, meski itu hal kecil sekalipun.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya takut kamu membenciku, aku benar-benar takut! Kamu tahu kamu seperti itu saja membuatku takut, apalagi sampai kamu pergi dariku. Mungkin Duniaku akan gelap layaknya malam, roboh seperti rumah tanpa tiang," ujar Rendy lembut.
Lisa masih betah menyenderkan kepalanya, bahu Rendy sangat empuk dan kuat. Otot-otot ditangannya seakan berbicara jika, lelaki ini kuat dalam hal perkelahian.
Akan tetapi, tidak banyak yang tahu. Rendy sangat lemah, jika sudah berhadapan dengan masalah orang yang dicintainya. Lisa beruntung dipertemukan dengan suami seperti Rendy.
Awalnya memang sulit, tapi begitu Rendy terlanjut mencintai seseorang. Ia telah mengabdikan dirinya untuk kebahagian orang itu, tanpa memperdulikan kebahagian dirinya sendiri.
"Mas, aku mencintaimu selamanya. Baik sekarang, ataupun sampai maut memisahkan," ucap Lisa pelan.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Hai, Readers!!
Bagi kalian yang belum diberi karunia momongan, Author berdoa yang terbaik untuk kalian. Jangan menyerah, terus berdoa dan tak lupa berusaha.
Allah tidak mungkin menguji seseorang melewati batas kemampuannya. Semangat💪💪
Peluk hangat dari Author😍😍
__ADS_1
Selamat membaca🤗🤗