
Hari ini kantor serasa sangat sepi untuk Rendy pasalnya Lisa sudah tak bekerja lagi di sini. Dia hanya bisa melihat istrinya itu di rumah saja, akan tetapi ini pun keinginan Rendy juga.
"Si Rey kemana ya?"gumam Rendy.
Baru saja Rendy berucap, lelaki kocak yang dia maksud masuk begitu saja tanpa permisi ke ruangannya.
"Hei Bos lo udah makan siang belum?" lelaki kocak itu bertanya sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
"Lo bisa kagak sih masuk tuh salam dulu," ketus Rendy.
"Sorry deh, Ren," kilah Rey.
"Lo kemana ja dari tadi baru nongol?" ketus Rendy.
"Kenapa? kangen lo!" ledek Rey.
"Sembarangan kalau ngomong. Gue mau minta saran nih," ujar Rendy.
"Saran apa dulu? kalau saran gimana caranya tetep ganteng gue tau. Hahahaha," canda Rey.
"Kalau soal itu mah gue jagonya lo malah kalah dari gue. Buktinya lo masih ngelajang aja," ledek Rendy.
"Apa hubungannya Bro?" lelaki berumur tiga puluh tahun ini nampak kebingungan.
"Ya, lo pikir aja. kalau lo emang ganteng mungkin sekarang cewek-cewek udah antri di pelaminan pengen di nikahin sama lo," urai Rendy.
"Sialan, lo." lelaki muda itu melempar Rendy dengan pulpen yang setia menemaninya kemana pun. "Udahlah, gue cape kalau adu mulut sama lo. Lo mau minta saran apa sama gue?" sambung Rey.
"Lusa itu hari anniversary pernikahan gue sama Lisa, tapi gue masih bingung mau kasih kado apa?" tutur Rendy.
"Yaelah, Bro. Lo kaya gitu aja kagak tau, kurang piknik sih lo," ejek Rey.
"Ni bocah punya mulut pedes bener kaya sambal mak Ijah," geram Rendy.
"Hahaha. Mulut boleh pedes, tapi wajah tetap ganteng," kilah Rey.
Rendy hampir dibuat gila oleh sahabatnya satu ini, entah apa yang diidamkan ibunya Rey dulu saat mengandung sahabat laknatnya ini.
"Gini aja, Ren. Lo bawa aja tuh si Lisa liburan lagi," usul Rey.
Rendy menimbang-nimbang ide asisten sekaligus sahabatnya dia tidak ingin melakukan kesalahan dalam memilih keputusan.
"Bener juga tuh," balas Rendy.
"Tapi kali-kali ajak gue sama Mona dong," pinta Rey.
"Yaelah, si bambang. Gue mau berduan aja lo malah pengen ikut, Liburan aja sendiri sono," seru Rendy.
"Lo mikir kali, Ren. Gue sama doi kan belum kawih eh, nikah maksud gue mana boleh berduan entar yang ketiganya setan," gerutu Rey.
__ADS_1
"Hahahaha. Setan juga takut kali sama lo, kan lo rajanya setan," ledek Rendy.
"Buset ni anak. Kalau ngomong engga pake disaring dulu," kesal Rey.
"Makanya nikah sono. Udah tinggal ijab qabul aja susah banget," ejek Rendy.
"Lo kagak tau ya, baru aja kemarin gue di terima Mona. Gue engga sehebat lo yang nikah udah kaya kebelet kencing aja," bantah Rey.
Rendy tidak menjawab lagi perkataan Rey. Dia lelah rasanya meladeni semua kekonyolan lelaki yang sudah bersamanya dari kecil. Rey yang merasa perbincangan mereka sudah selesai dengan tenang keluar ruangan bosnya.
"Si bos gayanya aja nikah udah dua kali, tapi soal romantisan kalah sama gue," gumam Rey.
Rey melangkah pergi ke ruangannya dia ingin mengirim pesan pada kekasihnya. Hari ini Rey belum melihat Mona sekalipun itu membuat hatinya di landa rindu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara itu di toko bunga Lisa tengah merapihkan setiap bunga. Hari ini pelanggannya lumayan banyak, Lisa dan Dira hampir kewalahan.
"Kak, aku mau beli makan siang dulu ya," ucap Dira.
"Ya, Dir. Sekalian beliin kakak rujak buah yang pedes ya. Kepala kakak sakit banget pengen makan yang seger-seger," keluh Lisa.
Dira mengerutkan kening tidak biasanya kakak iparnya ini minta di belikan rujak. Apa jangan-jangan Lisa sedang hamil. "Ini akan jadi kabar bahagia," tutur Dira.
"Kabar bahagia apa, Dir?" pangkas Lisa.
"Oh, kakak kira kabar bahagia apaan." wanita yang sudah ingin memiliki anak itu kembali fokus pada kegiatannya.
"Ya sudah, Kak. Aku pamit keluar dulu ya," pamit Dira.
"Iya, jangan lupa pesanan kakak," pesan Lisa.
"Siap kakak iparku," jawab Dira.
Dira segera keluar toko untuk pergi mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya yang keroncongan. Dira berjalan sedikit ke arah kanan berharap ada kedai makanan yang menarik hatinya.
Baru saja Dira akan melangkah kembali suara yang dia sangat dia kenal berteriak, " Hei, bocah ingusan." panggil Farhan.
Dira malas sekali meladeni lelaki tua ini baginya. Dia terus berjalan tanpa memperdulikan Farhan yang terus memanggil. Hingga tangan Dira di tarik seseorang yang membuatnya jatuh di pelukan orang itu.
"Lo tuli ya? gue panggil dari tadi diem aja!" bentak Farhan.
"Ada apa lagi sih, Kakak tua?" ketus Dira.
"Lo mau kemana?" tanya Farhan.
"Kemana aja itu urusan aku bukan urusan kakak," geram Dira.
"Yah ni bocah, gue tanya baik-baik malah jawab kaya gitu." lelaki itu memandang Dira dari atas sampai bawah lalu berkata, " Lo udah makan belum?" tanya Farhan.
__ADS_1
"Kalau udah mau apa? kalau belum mau apa juga?" seru Dira.
"Kalau udah gue mau ajak lo jalan, kalau belum gue mau ajak lo makan," tegas Farhan.
"Ih engga enak banget itu mah intinya sama aja ngajak-ngajak juga," sindir Dira.
"Lah, emang niat gue mau ajak lo," terang Farhan.
"Aku sibuk! Engga ada waktu buat jalan sama kakak tua," tolak Dira.
"Gue engga terima penolakan," tegas Farhan.
"Bodo amet! Udah ah, aku mau jalan lagi kakak pergi sendiri aja sana," usir Dira.
Tanpa di duga Farhan menarik tangan Dira, lalu membawanya ke dalam mobil dan menutup pintu sekencangnya seraya berkata, "Lo harus mau, atau gue cium lo di depan sana," tunjuk Farhan.
Dira bergedik ngeri kenapa ada lelaki sepemaksa ini. Bagaimana bisa dia mau mencium Dira di jalanan tempat orang berlalu lalang. Mungkin lelaki ini frustasi ditinggal pacarnya atau memang dia stres karena ditolak gebetan.
"Duduk tenang disana!" perintah Farhan.
Farhan segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya membelah keramaian jalanan di siang hari yang panas.
Lisa yang masih di toko tengah cemas karena adik iparnya itu tak kunjung pulang. Ia sudah mengirim pesan pada ponsel Dira, akan tetapi Dira lupa membawa barang pipih itu.
"Apa aku telpon mas Rendy aja ya," gumam Lisa.
Lisa takut terjadi sesuatu pada adik iparnya itu, tidak mungkin hanya membeli makanan saja sampai selama ini. Akhirnya Lisa memberanikan diri menelepon suaminya untuk mengabarkan soal hilangnya Dira.
"Assalamulaikum, mas." begitu sambungan telepon terhubung Lisa segera mengucap salam.
"Waalaikumsalam Ada apa, Sayang?" tanya Rendy.
"Itu, Mas. Dira pergi,"
"Pergi kemana?" potong Rendy.
"Aku engga tau, Mas. Tadi Dira cuman pamit beli makanan tapi sampai sekarang belum juga pulang," beber Lisa.
"Ok, kamu tenang ya. Nanti aku suruh Rey lacak keberadaan Dira," jawab Rendy.
"Iya, mas," sahut Lisa.
"Baiklah. Aku tutup teleponnya ya sayang assalamulaikum." suaminya langsung mengakhiri pembicaraan telepon Lisa.
"Waalaikumsalam," jawab Lisa.
...****************...
BERSAMBUNG~~.
__ADS_1