
Siapapun pasanganmu, dialah orang yang akan bersamamu mengarungi perjalanan hidup. Maka dari itu, jaga dia seperti kau menjaga sebuah berlian berharga.
๐๐๐ Ciety Ameyzha๐๐๐
Udara segar di pagi hari menyejukan jiwa. Setiap orang bersemangat memulai cerita di hari ini. Berharap, mereka bisa melukiskan sebuah kebahagiaan yang bisa dikenang di lain waktu.
Hari ini Egi dan Zahra telah berangkat menuju bandara. Sebelumnya mereka telah berpamitan pada Rendy, Lisa, dan Adnan. Soal rumah, Egi akan mencarinya setelah mereka menikmati waktu bersama di kota Lombok.
Dengan menggunakan pesawat pada umumnya. Egi dan Zahra memulai perjalanan romantis mereka. Jarak tempuh yang lumayan menyita waktu sekitar 1 jam 50 menit, dari bandara soekarno hatta sampai ke bandar udara internasional Zainuddin Abdul majid, Lombok.
Selama di pesawat, Egi tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Zahra. Dia bahkan setia menunggu sang istri yang tertidur di pundaknya.
"Apa dia lelah?" tanya Egi pada dirinya sendiri.
"Apa dia sebahagia itu bisa menikah denganku?" sambung Egi.
Egi menoleh ke arah kaca pesawat. Mereka tengah berada di atas ketinggian. Andai kecelakaan terjadi, mungkin inilah akhir perjalanan hidupnya bersama Zahra.
Seketika Egi segera menyingkirkan pikiran negatif. Saat ini dia hanya ingin pokus pada rumah tangga yang baru dimulai. Kini, dia tak sendiri. Ada seorang wanita yang butuh bimbingannya, seorang istri yang berhak dia jaga.
"Sanggupkah aku mempertahankan senyuman di wajahnya?" batin Egi.
Perjalanan berakhir, pesawat telah berhasil mendarat sempurna di landasan. Pramugari mulai meminta satu per satu penumpang turun. Begitu pun dengan Egi dan Zahra.
"Apa ini pulau Lombok, Mas?" tanya Zahra begitu menginjakkan kaki di area landasan.
"Ya, memang kamu pikir, ini di mana?" tanya Egi balik.
"Kenapa, Mas seperti orang kesal?" Zahra mensejajarkan langkahnya dengan Egi. "Apa salahku?"
Egi menyunggingkan senyuman, dia tengah berpura-pura dalam mode kesal pada istrinya saat ini.
"Pundakku sangat sakit, sepanjang perjalanan kamu tidur."
"Maaf, Mas."
"Aku tidak perlu kata maafmu." Nada suara Egi mulai meninggi, tapi masih dalam batas wajar.
Mereka segera mengambil koper, setelah melewati berbagai pemeriksaan. Zahra masih tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah suaminya baik-baik saja saat berangkat tadi? Apa di pesawat, lelaki ini berkenalan dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya, sehingga menimbulkan perubahan pada sikapnya? Tidak mungkin dia kesal, karena Zahra meminjam pundaknya.
"Ayolah, apa salahku, Mas?" rajuk Zahra mengekor di belakang.
__ADS_1
Egi terus menahan tawa, dia memang paling pandai bersandiwara. Bahkan dialah orang yang paling bisa menyembunyikan sesuatu dari orang terdekatnya.
"Aku sudah bilang, aku kesal!"
"Hanya karena aku meminjam pundakmu, Mas?"
Suara Zahra mulai melemah, dia tak bisa seperti ini. Rasanya sakit, sungguh sakit.
"Ya, seperti itu." Egi mencari taksi untuk menuju hotel yang telah dia pesan sebelumnya.
"Maaf, Mas. Aku berjanji tak akan meminjam pundakmu lagi."
"Lalu pundak siapa yang akan kamu pinjam? Aku tak menerima kata maafmu begitu saja. Seharusnya kamu berusaha." Egi melirik sekilas pada Zahra.
Sejujurnya dia tak tahan melihat isrtinya bermuram durja, tetapi ide jahilnya datang begitu saja.
Taksi datang, mereka masuk. Tak lupa sang supir memasukkan koper dalam bagasi. Setelah itu, taksi mulai berjalan. Si supir bertanya ke mana tujuan Egi. Dengan tegas Egi mengatakan salah satu nama hotel di kota tersebut.
"Baik, Mas." Supir kembali melajukan kendaraan.
Taksi yang ditumpangi Egi dan Zahra malaju sedang, meramaikan suasana Lombok yang baru mereka singgahi. Mata Zahra sendu, jiwanya tak bergairah. Dia tak mengira, baru beberapa menit tiba di sini. Dirinya harus menghadapi kekesalan Egi.
Usia Zahra yang masih muda. Tentu, dia belum bisa menstabilkan emosi dalam jiwa. Bahkan yang berusia matang sekalipun, belum tentu bisa melakukannya. Terkadang umur bukanlah patokan seseorang, untuk dikatakan dewasa. Maka dari itu, kedewasaan hanya bagi mereka yang sanggup bertindak cerdas dan sesuai keadaan yang tengah dihadapi.
Taksi berhenti tepat di tempat tujuan. Setelah menyelesaikan pembayaran, Egi segera menarik koper tanpa melirik pada Zahra. Jelas ini membuat hati Zahra semakin kesal. Andai dia bisa, dia akan segera berlari kembali ke arah bandara, lalu pulang meninggalkan suaminya yang kejam.
"Ini kuncinya, Mas." Seorang resepsionis memberikan kunci pada Egi, begitu dirinya selesai mengecek pesanan kamar Egi lewat online. "Selamat beristirahat."
Egi tersenyum, tetapi tidak dengan Zahra. Resepsionis tadi menggelengkan kepala. Dia tampak heran, mengapa orang ramah bisa berjodoh dengan wanita judes seperti Zahra.
"Mas-nya ganteng banget, tapi istrinya asem kayak belimbing," umpat resepsionis tadi setelah memastikan punggung Egi dan Zahra tak terlihat.
Egi dan Zahra masuk lift, tangan kekar milik Egi memencet tombol nomer tiga menuju kamar 120. Zahra masih terdiam, menunduk tak mau bertemu pandangan. Sedangkan, Egi terus menahan tawa dalam hati.
Lift terbuka, mereka keluar bersama. Suasana hening, serasa canggung. Tak ada keromantisan yang Zahra mimpikan.
"Kalau tahu akan seperti ini, aku malas ikut bersamanya," gerutu Zahra tepat di belakang Egi.
Egi menoleh, menatap Zahra lekat. "Apa kamu menyesal?"
"Iya, Paman."
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu memanggilku dengan sebutan paman lagi!"
"Aku sedang tidak mood memanggil dengan kata Sayang." Zahra memonyongkan bibirnya.
"Berhenti melakukan itu pada bibirmu, atau aku akan menciummu di lorong hotel ini."
"Dasar paman Es!" kesal Zahra berjalan terlebih dahulu.
Egi mengurai senyum manis. Istrinya tampak lebih cantik 200% dari biasanya, jika tengah kesal dan marah.
"Aku jadi ingin terus melihatnya seperti itu," gumam Egi.
Egi segera menyusul Zahra. Kini, kedunya telah sampai di depan kamar yang dituju. Perlahan Egi memasukkan kunci, lalu pintu terbuka lebar. Mata Zahra langsung tertuju pada pemandangan di dalam. Zahra menyeret langkahnya masuk, menyusuri setiap sudut ruangan kamar dengan matanya.
Egi masuk sambil menarik koper, lalu menutup dan mengunci pintu kembali. Zahra mematung, ada banyak mawar merah menghiasi kamar. Bahkan hamparan bunga cantik berwarna merah itu berserakan di atas kasur, tak sampai di situ ketakjuban Zahra.
Dari sela-sela gorden sekilas pemandangan indah mengintip. Zahra memberanikan diri menghampiri, tangannya membuka sedikit demi sedikit gorden tersebut. Sebuah pemandangan menakjubkan, mampu memanjakan matanya. Sebuah pantai yang langsung bisa dia lihat dari kaca kamar, membuat suasana semakin indah.
"Kamu menyukainya?" Egi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zahra. "Maaf, aku tak bermaksud marah padamu. Aku hanya sedang bercanda."
Zahra terpaku, setiap kata yang terlontar dari Egi terasa merdu di telinganya. Hembusan napas Egi pun terdengar jelas, membuat Zahra merinding.
"Jadi, tadi Ma--."
"Aku hanya bercanda, Honey. Mana mungkin aku bisa marah pada wanita cantik sepertimu."
Zahra berbalik menghadap suaminya, matanya memancarkan rasa penyesalan. Dia telah berburuk sangka. Meski, begitu rasa kesal masih ada.
Zahra mencubit pelan pinggang Egi, lalu berkata, "Awas, kalau Mas berani mengerjaiku lagi. Aku hampir gila dibuatnya."
Egi tertawa, dia tak terlihat kesakitan atas cubitan Zahra di punggungnya. "Aku mencintamu, Zahra istriku."
Dengan kedua tangan Egi menutup kembali gorden yang sempat terbuka. Mereka meluapkan perasaan cinta lewat bahasa tubuh.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon maaf, jika aku salah menyebutkan nama bandara๐
Jangan lupa like, coment dan vote.
__ADS_1