
🥀 **Ya Allah, Terima kasih. Engkau menyatukan kami dalam mahligai rumah tangga. Aku berharap bisa menjadi istri yang baik, juga ibu yang baik di masa depan nanti🥀
🌺🌺🌺 ZAHRA 🌺🌺🌺**
Enam hari berlalu. Hari ini seorang Zahra tengah duduk di depan cermin. Wajahnya yang ayu, karena sentuhan make up sederhana. Kebaya putih, juga hijab senada membalut tubuhnya yang ramping.
Ia tengah menunggu dengan cemas. Di sampingnya Amalia memegang erat tangan temannya. Ia mengatakan, bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kamu tenang aja! Semua pasti berjalan lancar," hibur Amalia.
Selang beberapa menit, terdengar kata "SAH" dari dalam rumah. Acara ijab qabul sudah selesai, yang berarti Zahra sudah bertitle seorang istri.
Terdengar pintu terbuka, Mona datang menghampiri sambil berkata, "Turunlah, Nak! Datangi suamimu, dia sudah menunggu."
Zahra mengerti, dengan diapit Mona dan Amalia. Langkah demi langkah Zahra turun ke lantai bawah.
Acara ijab qabul memang dilaksanakan di rumah mereka, karena jarak masjid terdekat dengan rumah Zahra cukup memakan waktu.
Perlahan Zahra menuruni satu per satu anak tangga. Semua mata tertuju padanya, gadis manis itu semakin terlihat mempesona.
Egi tidak hentinya memandangi wajah cantik istrinya. Pandangannya tidak lepas sedetik pun. Ia bahkan tidak rela, untuk sekadar menggerakan bulu matanya ke bawah.
"Gila, si Zahra cantik banget," celetuk Riki memecah keheningan.
Riko yang berada disampingnya segera menyikut tangan Riki seraya berkata, "Lu di mana-mana selalu lemes 'kek cewek. Lama-lama, gue minta ke Papa buat jodohin Lu sama si Amalia!"
Seketika Riki bergedik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan kehidupan rumah tangganya.
"Bisa pusing kepala gue tiap dia ngomong dengan logatnya!" keluh Riki.
Dira dan Dika yang berada tepat di depannya segera menoleh ke arah si kembar.
"Jangan berisik, Sayang," tegur Dira lembut.
"Nanti Papa cariin calon istri yang sebaik Mamamu. Yang penting kalian mesti jadi orang hebat dulu! Belajar yang benar, jangan rusuh, contoh Paman Egi. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dia bisa meraih gelar dosen di usianya yang masih muda. Jadi, semangat terus, Kesayangan Papa," ujar Dika.
"Semangat dong, Papa!" jawab si kembar serentak.
Zahra semakin mendekat pada Egi. Satu langkah lagi mereka saling berhadapan.
"Silakan tandatangani buku nikah kalian!" perintah Pak penghulu.
Zahra duduk di samping suaminya, menandatangi buku nikah, lalu kameramen memotret mereka berdua.
Egi semakin mendekat, lalu berbisik, "Saya tidak menyangka, kita akan menjadi seorang suami istri. Takdir Allah itu indah, sesuatu yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin."
__ADS_1
Zahra menunduk malu. Mulai hari ini, ia bukan hanya seorang mahasiswi bagi Egi, melainkan juga seorang istri.
"Aku mencintaimu Zahra, istriku," bisik Egi kembali, kali ini dengan bahasa santai.
Semua orang bahagia. Rendy dan Lisa saling bertatapan, Lisa tersenyum sambil berkata, "Terima kasih, Mas. Semua sandiwara Mas membuahkan kebahagiaan untuk Egi."
Rendy tanpa malu mencium pipi istrinya, membuat sang empunya tersipu malu. Sedangkan, Mona dan Rey sangat lega. Akhirnya sang putri dipinang lelaki terpercaya.
"Bakal sepi di rumah, Sayang. Kita kerja keras lagi, yuk?" ajak Rey dengan senyuman menggoda
"Ingat umur, Kak. Sebentar lagi juga ada cucu." Mona mencubit pelan pinggang suaminya.
"Ampun, Sayang! Kok, galaknya engga ilang-ilang, sih!" ledek Rey.
Tepat di samping si kembar, Adnan menyaksikan sang Paman dan Zahra bersanding. Ia tersenyum kecil, lalu berkata, "Paman, doaku selalu menyertaimu. Terima kasih, karena selama ini Paman selalu mengalah untukku. Kali ini, biarlah aku yang mengalah untuk melihat kebahagiaan Paman."
Hari itu semua orang mengukir kebahagiaan. Bukan hanya Egi dan Zahra, bahkan semesta pun turut bahagia. Langit yang cerah, udara yang sejuk, angin yang berhembus seperti bernyanyi riang.
Setelah acara ijab qabul, lalu di lanjut pesta sederhana saja. malamnya Zahra langsung diboyong ke rumah Lisa. Egi sendiri sejujurnya belum mempersiapkan sebuah rumah untuk mereka. Dengan alasan, ia ingin mencarinya bersama Zahra, agar sesuai dengan keinginan istrinya.
Waktu sholat isya baru saja tiba. Semua keluarga besar Rendy berkumpul dan berjamaah bersama. Kali ini Zahra ikut bersama mereka. Tentu, menambah kebahagiaan di keluarga ini.
Sholat selesai, semua berhamburan menuju ruangan makan seperti biasa. Menu sederhana. Namun, menggugah seleralah yang Lisa hidangkan setiap waktu makan. Tidak heran, semua keluarganya sangat menikmati. Bahkan selalu merindukan masakannya.
"Kakak, Aku dan Zahra pamit ke kamar duluan. Badanku rasanya remuk semua." Egi berdiri diikuti istrinya.
Rendy mengangguk. Sedangkan, Adnan sudah kabur duluan ke kamarnya. Egi menggandeng Zahra naik ke lantai dua. Tiba-tiba Rendy mendekat pada istrinya, lalu berbisik, "Aku jadi teringat saat pertama kali aku memegang tanganmu. Rasanya sangat menyenangkan. Aku jadi ingin merasakan lagi menjadi pengantin baru."
Rendy terus menggoda istrinya, membuat Lisa semakin malu.
"Mas, sudah-sudah. Aku malu mendengarnya," ujar Lisa.
"Kalau begitu, kita ke kamar saja seperti mereka." Rendy menarik tangan Lisa pelan, menggenggamnya seperti yang Egi lakukan. "Kita pacaran lagi yuk, Sayang?"
Sementara itu, di dalam kamar Egi dan Zahra duduk diam di atas ranjang, tanpa berkata sepatah kata pun. Jantung Zahra sudah berdetak tidak karuan, karena ini pertama kalinya ia satu ruangan dengan seorang lelaki.
"Maaf, aku belum bisa membawamu ke rumau kita. Insya Allah, besok kita akan segera mencarinya bersama," ujar Egi memecahkan keheningan di antara mereka.
"Ti--tidak apa-apa, Paman," jawab Zahra terbata-bata.
"Syukurlah! Sudah malam sebaiknya kamu cepat tidur. Bukannya kamu hanya cuti dua hari dari kampus?"
"Iya, Paman."
"Jangan panggil aku Paman. Sekarang aku suamimu."
__ADS_1
"Lalu, aku harus memangggil dengan sebutan apa?"
"Terserah kamu. Aku tidak masalah dipanggil Mas, ataupun Sayang," goda Egi.
Zahra terdiam. Mulutnya sulit berucap. Sulit baginya merubah panggilan untuk Egi, tetapi ia harus tetap melakukannya. Zahra mulai haus, ia berdiri, meminta izin pada Egi untuk pergi ke dapur.
Satu langkah, dua langkah Zahra mendekati pintu, lalu perlahan membukanya. Egi yang merasa Zahra belum merespon ucapannya dengan sigap meraih pinggang Zahra dengan tangan kanannya, selanjutnya ia membalikkan badan istrinya, lalu menempelkannya di dinding.
"Aku belum mendengar kamu memberikan panggilan baru untukku," bisik Egi di telinga Zahra.
Hembusan napas Egi terdengar, membuat Zahra membeku sulit berkata-kata.
"Panggil aku dengan kata "SAYANG"! sambung Egi penuh penakan.
Zahra mengumpulkan keberaniaan, lalu berkata, "Sayang ...!"
Egi tersenyum puas, kemudian mengikis jarak di antara mereka. Memiringkan perlahan kepalanya mengintai bibir ranum milik Zahra, berbarengan dengan tangan kanannya menutup pintu kembali.
Malam itu keduanya melembur. Mencurahkan seluruh rasa sayang dan cinta yang tanpa batas. Berjanji akan saling menjaga, menyayangi, dan terus berpegangan. Meski, badai besar menghadang.
...****************...
TAMAT💕💕💕
Alhamdulillah, akhirnya selesai.
Aku ucapkan terima kasih untuk semuanya. Sudah berkenan membaca cerita recehanku. Menemaniku daei awa sampai akhir🤗
Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada tutur kata, cara penyampaian, komen yang tidak terbalas, ataupun alur yang ku buat tidak sesuai kalian.
Aku pun memohon maaf, karena ada yang mengatakan, bahwa aku memainkan agama. Demi Allah, saya berusaha untuk sebisa mungkin tidak keluar jalur. Di part sebelumnya sudah saya sampaikan, bahwa Egi tidak menikung tunangan orang lain. Kenyataan yang ada, bahwa sebenarnya Zahra adalah calon istrinya.
Memang ada part di mana Ardi tengah melamar Zahra, padahal sesungguhnya itu tidak terjadi. Aku menyisipkannya, untuk mengecoh para pembaca. Meski begitu, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tolong tegur aku, jika aku melakukan kesalahan.
Maafkan aku😥
Jika berkenan, mampirlah ke cerita recehku yang lain. Aku menunggu kalian di sana.
Sekali lagi Terima kasih, dan mohon maaf🙏
Salam sayang Author.
__ADS_1
CIETY AMEYZHA.