
Sepanjang malam Rey terus terpikiran ucapan Rendy, dia gelisah tak menentu. Pikirannya semrawut.
"Gila, gue nyampe engga tidur gini semalaman." Ujar Rey begitu waktu subuh datang menyapa.
Rey beranjak bangun, ke kamar mandi mengambil air wudhu, memulai harinya dengan sholat subuh terlebih dahulu.
Tak lupa seuntai doa dia panjatkan pada Sang Ilahi. Dia yang sudah biasa hidup sendiri semenjak perceraian kedua orang tuanya, sangat menginginkan bisa membina rumah tangga yang utuh sampai maut memisahkan.
Selesai sholat, Rey berolahraga sebentar. Ini hari Weekend, tak ada kerjaan atau pun janji dengan orang lain. Rey berniat duduk manis di rumahnya yang sepi.
Di rumah ini hanya ada tiga orang, Rey selaku pemilik rumah. Bi Narsih pembantu rumah dan mang Udin selalu tukang kebun sekaligus satpam rumah.
Rey meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku,akhir-akhir ini bos nya itu membuat dia seperti bola. Oper sana oper sini, lelah rasanya.
Setengah jam cukup untuk Rey berolahraga. Setidaknya untuk pagi yang indah ini. Rey bergegas membersihkan diri, perutnya sudah mulai meminta jatah untuk di isi.
Bi Narsih sudah menyiapkan sarapan pagi untuk tuannya. Dia segera menyimpannya di atas meja makan, tak lupa segelas jus alpukat sebagai pelengkap nutrisi pagi ini.
Rey turun ke bawah, menyantap sarapannya dengan tenang. Dia menatap lekat kursi meja yang kosong. Pikirannya menerawang jauh ke masalalu.
Dulu kursi-kursi itu tak pernah kosong, ada kedua orang tuanya yang menempati. Tapi, semua sudah berbeda.
Rey tak bisa melarang keinginan kedua orang tuanya, semua hak mereka. Kebahagian mereka adalah hal paling penting, sekalipun dalam sebuah perceraian anaklah yang selalu menjadi korban.
Rey menghela nafas kasar, tak ada gunanya untuk larut dalam kesedihan. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika kelak menikah nanti Rey ingin hidup bersama pasangannya sampai maut memisahkan.
Sarapan telah usai, Rey hendak beranjak berdiri. Tapi, suara ponsel menghentikan dirinya. Dia melirik ke sumber suara, siapakah orang yang berani mengganggu hari tenangnya ini.
Di raihnya ponsel di atas meja, matanya melotot. Benarkah yang dia lihat ini. Mona menghubunginya duluan. Ini sangat mengherankan.
"Assalamualaikum" Ucap Rey begitu sambungan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam." Suara wanita itu terdengar sangat merdu dan seksi di telinga Rey.
"Ada apa, sayang?" Goda Rey.
"Apaan sih, kak Rey. Masih pagi udah panggil sayang-sayang aja." Protes Mona.
"Terus saya harus panggil kamu apa?"
"Ya, Mona aja."
"Engga enak."
"Emang makanan mesti enak."
"Ya, sudah. Ada apa telepon saya pagi-pagi, bikin orang kangen aja." Rey kembali menggoda wanita di ujung telepon sana.
__ADS_1
"Em...Gini, kak. Emm..Gimana ya?" Mona terdengar ragu...
"Emmm...Emm....Apa sayang? Jangan bangkitkan nafsu saya dengan ngomong emm..emm seperti itu. Kita belum sah." Rey ngelantur.
"Apa hubungannya, Kak?" Mona sedikit memancing Rey.
"Kamu ingin tau. Saya ini lelaki normal, dengan suara kamu seperti itu sensor di otak saya menangkapnya menjadi terdengar seksi. Yang otomatis bisa membangkitkan gairah saya sedangkan, kita ini belum sah. Saya tidak mungkin menerkammu tanpa ikatan pernikahan." Tutur Rey.
"Ih, itu mah kak Rey nya aja yang ngaco. Bisa-bisanya berpikiran seperti itu."
"Hey, ini bukan ngaco sayang. Ini normal namanya hanya saja, saya tidak bisa meluapkannya sekarang karena kita belum terikat pernikahan."
"Sudah jangan bahas itu lagi, kak. Aku bisa gila kalau debat sama kak Rey, engga akan bisa menang. Kak Rey, lagi luang engga?" Mona kembali ke tujuannya.
"Saya, free hari ini. Tidak ada janji dengan siapapun. Kenapa? Kamu ingin kencan dengan saya?" Rey mencoba menebak yang ada di pikiran wanita ini.
"Emm..Itu aku..."
"Saya jemput jam 8 pagi ini, bersiap-siaplah. Jangan pernah menolak karena, saya tau maksudmu menelpon untuk mengajak saya kencan." Rey cepat memotong ucapan Mona.
"Ih kak Rey, aku belum selesei ngomong." Mona terdengah berdecak kesal.
"Kalau nunggu kamu bicara mau sampai kapan? Sampai tuan kraff jadi tidak pelit? Itu engga mungkin terjadi, sayang. Jadi, cepatlah bersiap-siap, dandan yang cantik. Saya tutup teleponnya dulu, Assalamualaikum." Ucap Rey mengakhiri sambungan teleponnya.
Rey berjingkrak senang, akhirnya hari ini wanita itu menghubunginya duluan. Dia harus tampil sekeren mungkin hari ini.
Rey segera ke kamar, memilih pakaian yang cocok dan segera ke bawah untuk menjemput sang pujaan hati.
Selama perjalanan, Rey terus bersenandung ria. Mulutnya tak berhenti bernyanyi karena, suasana hatinya kini sedang senang.
**kau begitu sempurna.
Di mataku kau begitu indah.
Kau membuat diriku akan selalu memujamu.
Di setiap langkahku.
ku kan selalu memikirkan dirimu.
Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu.
Janganlah kau tinggalkan diriku.
Tak kan mampu menghadapi semua.
Hanya bersamamu ku akan bisa.
__ADS_1
Kau adalah darahku.
Kau adalah jantungku.
Kau adalah hidupku.
Lengkapi diriku oh sayangku.
kau begitu...sempurna**.
Sepenggal lagu dari Andra and the backbone terus terdengar Rey nyanyikan.
Sampai tak terasa mobil Rey sudah sampai di depan ruman Mona. Mona terlihat baru saja keluar pagar rumahnya. Mona segera menghampiri lelaki yang sebenarnya ia rindukan.
"Ayo, masuk." Ajak Rey.
Mona menurut, dia segera masuk ke dalam mobil. Mona terlihat cantik hari ini, dress selutut warna hijau muda dengan aksen renda yang dia kenakan. Membuat Mona terlihat mempesona di mata Rey.
Rey tersenyum begitu memandangi penampilan wanita pujaannya. Mona tak biasanya berdandan sampai seperti ini, bahkan wangi parfum Mona serasa menggoda iman Rey.
"Kamu cantik hari ini." Puji Rey begitu menjalankan kembali mobilnya.
"Berarti kemarin-kemarin, aku jelek dong kak Rey?" Jawab Mona.
"Ya, engga gitu juga kali sayang. kamu ini sudah cantik tapi, hari ini lebih cantik lagi Naik 1000% deh cintaku padamu." Goda Rey.
"Banyak bener sampai 1000%?"
"Buat kamu mah harus banyak. Karena semakin tambah cinta makin tambah engga sabar saya halalin kamu."
Mona tersipu malu. Ini alasan Mona tak sanggup menolak Rey karena, lelaki di samping ini selalu bisa membuat hatinya nyaman dan bahagia.
"Kak Rey, kita mau jalan kemana hari ini?" Mona mengalihkan pembicaraan.
"Saya mah ikut aja, yang jelas kemana pun kamu pergi saya akan setia mendampingimu." Rey mengedipkam mata kanannya.
"Mulai dah, gombalnya."
"Setiap lelaki itu terlahir pintar gombal, sayang. Tapi, kalau saya memang di lahirkan khusus untuk menggombali kamu saja."
Mona menggelengkan kepalanya. Dia tidak tau lelaki ini terbuat dari apa, sampai mulutnya punya berbagai cara kata-kata manis seperti itu.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
MOHON DUKUNGANNYA UNTUK AUTHOR DENGAN LIKE, COMENT DAN VOTE🤗🤗🤗
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA😍😍