
Sampai sudah mereka semua di kediaman Rendy dan Lisa. Egi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah, sangat bersemangat sekali.
"Kak, ini rumah kita?" Tanya Egi begitu masuk ke dalam rumah, matanya tak berhenti menjeljahi setiap sudut rumah.
"Ini rumah kak Rendy, Dek. Rumahnya suami kakak." Jawab Lisa lembut.
Egi menatap lekat pada Rendy. Dia baru melihatnya hari ini tapi, rasanya dia pernah melihat sosok Rendy. Entah dimana, Egi pun tak ingat.
"Rumah ini bukan hanya milik kakak. Tapi, rumah ini sekarang rumah Egi juga." Ucap Rendy.
"Benarkah?? Rumahnya bagus dan besar, kak. Mungkin Egi bisa bermain bola di sini." Mata Egi terus berbinar karena bahagia.
"Hahaha. Egi bisa bermain bola di belakang rumah, ada halaman luas di sana." Rendy sedikit tertawa.
"Oh, ya. Om ini siapa namanya?" Tanya Egi menunjuk pada Rey.
"Hahaha. Rey lo di katain om. Emang muka lo cocok banget dah di sebut om-om." Dika yang sedari tadi ikut menyimak tertawa puas pada temannya itu.
Rey yang mendengar tawa Dika, langsung menimpuknya memakai bantal yang ada di sopa.
"Sialan lo, muka cakep gini di sebut om-om. Gue bogem, baru tau rasa lo." Rey kesel.
"Udah, berisik lo pada. Ada anak di bawah umur di sini. Lo juga Rey, rem tuh mulut jangan ngumpat mulu." Rendy jengah dengan kedua sahabatnya ini, jika bertemu pasti saja seperti kucing dan anjing.
"Egi, kenalin ini namanya kak Rey. Mukanya emang udah tua, jadi cocok di panggil om-om." Ucap Rendy sambil menahan tawa.
"Wah, lo juga sama aja kaya Dokter satu ini." Ujar Rey pada Rendy yang sama saja menghinanya.
"Egi, jangan dengerin kakak iparmu ya. Kak Rey ini, cowok paling tampan sejagat raya. Jadi, engga pantes di panggil om." Jelas Rey pada Egi yang dari tadi menyaksikan tiga serangkai ini berdebat.
"Hahaha. Tampan tapi kok masih jomblo." Dika kembali mengejek.
"Bener dah nih bocah satu, minta di tampol pake sambel mak Ijah ini mah." Geram Rey.
Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya, Entah tiga cowok tampan ini terlihat seperti teletubis yang asyik dengan dunianya.
"Egi, kamu laper engga? Kakak masakin ya?" Ucap Lisa.
"Iya, kak." Jawab Egi.
Lisa bergegas ke dapur untuk memasak di bantu bi Inah. Sedangkan, tiga serangkai dan Egi duduk manis di ruangan tengah menonton TV.
__ADS_1
"Eh, Rey. Lo kapan nih ngelamar cewek lo tuh, siapa namanya? Melisa, Meliya apa Maimunah ya?" Ucap Dika yang mulutnya tak berhenti memakan kacang goreng.
"Sejak kapan cewek gue ganti nama, bro." Jawab Rey berusaha santai.
"Gue mana tau, makanya itu gue nanya. Gue inget hurup awalnya doang M."
"Makanya tuh kuping jangan di tutupin stetoskop mulu, jadi budek kan lo." Ejek Rey.
"Wah, ni orang ngajak ribut. Hey, lo tau engga. Kalau engga ada tuh alat, gue mana bisa dengerin detak jantung pasien. Apalagi dengerin detak jantungnya si dia. Cielah lebay banget gue." Ucap Dika mengatai dirinya sendiri.
"Hahaha. Kelamaan jadi Dokter, lo udah mulai gila sendiri." Rey tertawa.
Rendy tak mau ikut campur dalam kegilaan dua bocah ini, matanya fokus pada laptop yang sedari tadi di tatapnya.
Lisa yang baru selesai memasak, segera menghidangkan makanan di meja. Menatanya sedemikian rapih lalu, pergi memanggil semua orang untuk makan.
"Mas, makanannya udah siap. Ayo, kak Rey, pak Dokter, Egi. Kita makan, keburu dingin nanti engga enak." Ajak Lisa pada semua orang.
Aroma wangi dari masakan Lisa mampu menghipnotis semua orang, Lisa menggiring mereka semua ke meja makan.
"Wah, gila pantesan aja si Rendy kelepek-kelepek sama istrinya. Wong masakannya enak bener, gue mau nambah dah." Tutur Dika begitu satu suapan masuk ke mulutny.
"Awas lo, ngabisin nasi gue. Gue kasih bon pas pulang entar." Ucap Rendy.
"Temen lo juga kali." Bantah Rey yang sibuk dengan makanannya.
Tak ada lagi percakapan di antara mereka, suasana menjadi hening. Semua larut dalam pikiran masing-masing.
Selesai makan Dika dan Rey pamit untuk pulang, sedangkan Lisa sibuk mencuci piring dengan bi Inah.
Rendy membawa Egi ke kamar atas, kamar kedua di rumah ini. Yang memang sudah di persiapakan Rendy untuk Egi, jauh-jauh hari sebelum kedatangan bocah laki-laki itu.
"Nah, ini kamarmu. Kakak tinggal dulu ya, istirahatlah dulu." Ucap Rendy lalu bergegas meninggalkan Egi.
Egi masuk ke dalam kamar, menatap setiap sudut kamar ini. Ini sangat jauh berbeda dengan kamarnya dulu.
Kamarnya luas, bahkan ada balkon sehingga Egi bisa menikmati indahnya langit malam.
"Kenapa, ibu dan ayah belum keliatan juga. Apa ibu dan ayah masih sibuk mencari uang untuk Egi." Ucap Egi begitu duduk di ranjang besar itu.
Setelah beberapa menit, terlihat Lisa masuk ke dalam kamar Egi. Egi menatap lekat pada sosok kakak perempuannya itu.
__ADS_1
Dia ingin bertanya lagi tentang orang tuanya, rasa rindu dalam diri Egi sudah membuncah ruah.
"Kamu belum tidur, Dek." Sapa Lisa menghampiri Egi dan duduk sejajar dengannya.
"Egi belum ngantuk, kak." Jawab Egi tersenyum.
"Kamu kenapa?" Lisa menatap pemilik bola mata itu.
"Kak, apa ibu dan ayah tidak mau bertemu Egi?" Tanya Egi penasaran.
Hati Lisa bergetar, dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Inilah saatnya, sekalipun pada akhirnya Egi akan sedih. Tapi, itu mungkin akan sementara saja sampai Egi mampu menerima kenyataannya.
"Egi, kamu mau janji sama kakak? Apapun yang akan kakak katakan nanti, kamu harus tetap kuat." Ujar Lisa, dia sudah mempersiapkan hatinya untuk ini.
"Iya, kak." Egi tersenyum.
"Egi, sebenarnya ibu dan ayah sudah meninggal. Mereka meninggal saat kecelakaan itu, kamu yang langsung koma tidak bisa mengetahui keadaan ibu dan ayah." Jelas Lisa.
Egi nampak kaget, eksperi wajahnya berubah menjadi sedih.
"Engga mungkin. Kakak pasti bohong sama Egi." Tangis Egi tak bisa tertahan lagi.
"Dek, kakak engga bohong. Mereka sudah tiada. Maaf karena, kakak tak memberitahu saat pertama kamu sadar. Kakak takut, kamu belum sepenuhnya menerima." Lisa memeluk Egi yang terus berteriak histeris.
"Engga...Engga mungkin. Ibu.. Ayah...Kenapa kalian tega meninggalkan Egi. Egi mau ikut ibu dan ayah saja. Hiks..hiks..hiks.." Egi terus menangis, dia tak bisa menerima kenyataan pahit ini.
Lisa yang paham keadaan adiknya, ikut menetaskan air matanya. Dia saja yang sudah cukup dewasa hampir tak sanggup menerima takdir ini, apalagi Egi yang masih bocah.
Lisa terus memeluk adiknya. Dia mencoba menenangkan Egi. Sementara itu Rendy yang sejak tadi berlari ke kamar Egi, karena mendengar suara tangisan.
Hanya bisa mengintip dan mendengarkan dari ambang pintu. Hatinya ikut hancur, dia pun sama seperti Egi. Baru saja kehilangan permata hati.
Semua orang tak bisa menolak dari kematian, lambat laun semua akan merasakannya. Tugas kita hanya mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya, untuk pulang ke kampung yang sebenarnya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon dukungannya untuk author dengan like, coment dan vote🤗
Mampir juga ke TULISAN CINTAKU ya, karya author juga
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA😍😍😍