
Sementara itu, Dira baru saja sampai di halaman rumah. Ia melirik sekilas pada sebuah mobil yang tidak asing di matanya.
"Kak Dika!" batin Dira.
Dira melangkah masuk ke dalam rumah, lalu berkata, "Assalamualaikum. Dira pulang, Pa."
"Waalaikumsalam." Ketiga lelaki itu menjawab serentak. Mereka seperti tiga generasi. Ada Pak Adrian, Dika, dan Egi. Mereka tengah asyik bercengkrama membicarakan banyak hal.
"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Pak Adrian.
Dira menghampiri Pak Adrian. Meraih tangannya, lalu menciumnya.
"Sudah, Pa! Ada apa ini? tumben Kak Dika ke rumah?" jawab Dira.
"Ah, ini. Tadi Papa minta tolong Dika," ungkap Pak Adrian.
"Tolong apa, Pa?"
"Magh Papa kambuh tadi. Obat pun habis jadi, Papa minta tolong Dika, untuk datang ke rumah," beber Pak Adrian.
"Iya, tadi Gue ke sini cuman buat itu kok, Dek" timpal Dika.
Dira melangkah mendekat pada Papanya. Duduk tepat di samping Beliau, lalu berkata, "Papa, kan, bisa minta tolong aku beli obat di apotik."
Pak Adrian mengulas senyum. Dielusnya rambut Dira penuh kelembutan. Ia beruntung memiliki anak perempuan yang penurut.
"Papa hanya tidak ingin mengganggumu," cicit Pak Adrian.
"Aku sangat senang diganggu Papa," balas Dira.
Dika, dan Egi saling melempar pandangan. Mereka merasakan hangatnya cinta antara anak, dan Ayah.
"Oh, ya, Om sebaiknya Dika pulang. Ini sudah mau magrib," kata Dika.
"Kamu sebaiknya sholat magrib di sini, sekalian makan malam. Lagian lima menit lagi, sudah masuk waktu magrib!" ingat Pak Adrian.
Pak Adrian beranjak dari kursi, lalu berkata, "Kalau begitu, Om ke kamar dulu. Om mau bersiap, untuk melaksanakan sholat berjamaah."
__ADS_1
Dika mengangguk pelan, sedangkan Egi juga beranjak mengikuti Pak Adrian. Egi sudah menganggap Pak Adrian seperti Bapanya. Ia sangat senang, karena Pak Adrian pun menganggapnya seperti anak kandung.
Kini hanya tinggal Dira, dan Dika. Mereka masih saling berdiam diri. Membungkam mulut dengan pikiran masing-masing.
Dira teringat akan perkataan Kakak iparnya. Ia harus bisa sedikit berusaha menerima kehadiran Dika. Atau Dira harus tegas, untuk mengatakan pada Dika bahwa dirinya tidak bisa menerima Dika sepenuhnya.
"Kak Dika, mau sholat berjamaah di sini?" Dira memberanikan diri mencairkan suasana yang kaku diantara mereka.
"Kalau Lo engga keberatan, Dek," jawab Dika.
"Kenapa aku harus keberatan? lagian benar kata Papa, ini sudah mau masuk waktu sholat magrib," ucap Dira.
"Apa Lo bisa tunjukin mushola di rumah ini? gue sering ke sini tapi, cuman ke kamar Rendy doang. Jadi, gue engga tahu seluk beluk rumah ini!" pinta Dika. Matanya sekali-kali mencuri pandang ke arah gadis cantik di hadapannya.
Baru tadi siang, Dika menemui pujaan hatinya. Entah mengapa rasanya tetap rindu akan wajah cantik itu. Sepuas apa pun Dika memandang, ia tetap merasa rindu. Rasanya rindu itu berkecambuk dalam ruang hati. Tidak bisa ia tahan meski sekejap mata.
Dira berdiri, lalu berkata, "Ayo, aku tunjukan tempatnya."
Gadis itu melangkah terlebih dulu, kemudian disusul Dika dibelakangnya. Tangan mungil Dira mengayun indah, membuat hasrat gila Dika ingin menggengamnya. Tangan itu serasa melambai, menunggu Dika untuk meraihnya. Perasaan aneh berkecambuk dalam pikiran Dika, ia merasa berbeda saat ini.
Usia Dika tidaklah muda lagi, ia sudah berkepala tiga. Kedua temannya sudah mendapatkan jodoh, sedangkan ia masih diambang ketidakpastian.
Namun, Dika tidak ingin seperti itu. Ia menginginkan pernikahan yang sebenarnya. Pernikahaan yang dilandasi cinta kedua mempelai.
"Rasanya gue bisa gila, kalau terus memikirkan ini. Biarlah takdir Allah yang menentukan segalanya. Kalau Dira jodoh Gue, pasti kita bersama," batin Dika.
Sampailah mereka di satu ruangan yang tidak terlalu lebar namun, tidak juga sempit. Cukup untuk sholat berjamaah seluruh anggota rumah ini.
"Ini, Kak musholanya," ucap Dira.
"Ah, iya. Makasih, ya, Dek," sahut Dika.
"Sama-sama, Kak. Kalau begitu, Aku pamit ke kamar dulu. Aku ingin membersihkan badan," pamit Dira.
"Ok, Dek!"
Dira kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia ingin segera mandi saat ini. Keringat yang bersarang di tubuh Dira membuat ia risih, dan sedikit kegerahan.
__ADS_1
Dika masih memandang punggung Dira yang hampir tidak terlihat. Gadis itu sudah mulai bisa menerima kehadirannya setelah kepergian Farhan. Dika merasa ingin egois kali ini, ia bahkan sudah tidak punya pesaing lagi.
Namun, Dika segera menepis segala rasa obsesi yang terlalu berlebihan. Bagaimanapun, Dira adalah seorang gadis yang baru ditinggal kekasihnya. Tentu, akan butuh lama baginya melupakan Farhan.
Dika langsung menghentikan semua pikirannya tentang gadis itu. Langkahnya pelan masuk ke dalam ruangan yang di khususkan, untuk sholat.
Dika melihat tempar air wudhu, ia bergegas membasuh bagian-bagian badannya, untuk menghadap Sang Pemilik Kehidupan.
Suara Adzan berkumandang, memanggil setiap umatNYa. Lantunan merdu mampu menggerakkan setiap jiwa yang terpanggil. Mereka melangkah pergi ke tempat beribadah, untuk sejenak bersimpuh di atas sajadah.
Saat sholat adalah waktu yang tepat bagi umat muslim memanjatkan doa. Kesempatan ini tidak pernah dilewatkan oleh Dika. Setelah selesai sholat berjamaah dengan semua anggota rumah ini.
Dika masih asyik bercengkrama dengan Sang Kuasa melalui doa. Ia berharap bisa diberi kemudahaan dalam menghadapi kehidupan. Tidak lupa ia juga mendoakan Dira agar segera sembuh dari luka yang dirasakannya.
Ada tetesan air mata di sela doanya kali ini. Dika merasa lemah dihadapannya Sang Ilahi. Ia hanya pasrah menikmati takdir yang Allah berikan padanya.
Permainan takdir memang tidak ada yang tahu. Takdir bagaikan sebuah misteri yang sulit ditebak. Terkadang kita menginginkan rencana A, akan tetapi Allah sudah mentakdirkan kita hanya bisa mendapatkan rencana B.
Semua sudah digariskan, sebelum kita dilahirkan. Takdir baik, ataupun buruk semua yang telah tercipta, untuk kita pasti akan terjadi. Namun, kapan, di mana, dan bagaimana takdir itu berlangsung kita tidak bisa menebaknya.
Dika beranjak dari duduk tenangnya, lalu melepas sarung, dan menyimpannya kembali. Ia hendak melangkah, akan tetapi mata indahnya menangkap sesosok gadis tengah berlinang air mata tepat di belakang dirinya.
Dira begitu khusu memanjatkan doa. Dika sendiri tidak tahu apa yang Dira ucapkan. Ia hanya melihat linangan air mata itu menetes melewati pipinya.
"Dir." Dika menyapa Dira saat melihat gadis itu selesai berdoa, dan tengah mengusap pelan cairan bening di pelupuk matanya.
Dira mengulas senyum kecil, lalu berkata, " Iya, Kak."
"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Dika dengan hati-hati.
"Insyaallah, Aku baik-baik aja," sahut Dira.
Dika melihat gadis itu beranjak dari tempatnya, lalu melepas mukena, untuk meletakakan kembali ke dalam lemari kecil.
Dira hendak pergi namun, Dika tiba-tiba menahannya dengan perkataan yang membuat Dira tertegun.
"Dek, Gue tahu ini sulit buat, Lo! Tapi, Gue cuman mau bilang kalau Gue tetap bakal nunggu Lo. Sekalipun nanti pada akhirnya Lo tetap enggan nerima gue. Gue pastiin saat itu juga, Gue engga akan lagi ganggu kehidupan Lo."
__ADS_1
...****************...
Bersambung~~~