Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
134


__ADS_3

Pandangan mata kedua lelaki itu bertemu. Hanya saja salah satu dari mereka menyembunyikan wajahnya dibalik masker.


Rendy berjalan cepat menghampiri lelaki yang duduk di samping istrinya. Pikirannya mencoba menerka-nerka siapakah gerangan lelaki ini?


"Anda siapa?" tanya Rendy dengan intonasi sedikit meninggi.


Perlahan lelaki itu membuka maskernya, lalu berkata, "Ini saya!"


Mata Rendy membulat. Darahnya mulai memanas, level amarah langsung meningkat tajam. Dengan satu gerakan, ia membawa tubuh lelaki yang ternyata adalah Dion membentur tembok.


Rendy mencengkram kuat kerah kemeja Dion sambil berkata, "Mau apa lagi anda? apa anda tidak puas setelah melihat kondisi istri saya sekarang!"


"Saya justru khawatir," bantah Dion.


"Cih, omong kosong apa lagi yang anda katakan!" sungut Rendy.


"Saya benar-benar tidak tahu, jika wanita sialan itu telah membuat Lisa celaka," ucap Dion.


Rendy menatap penuh amarah pada Dion. Ia bahkan sangat muak hanya melihat wajah lelaki satu ini.


Rendy melepas begitu saja cengkraman tangannya, lalu berkata, "PERGI!"


Dion masih terdiam mematung. Mungkin saat ini Rendy tidak mungkin bisa menerima penjelasannya. Namun, setidaknya ia sudah mengatakan yang sebenarnya.


"Izinkan saya sebentar lagi saja berada di sini," pinta Dion.


"Enak sekali Anda berucap!" hardik Rendy, "saya yakin, jika istri saya sadar saat ini. Ia juga tidak ingin melihat wajah anda!"


"Saya tahu, saya salah! Saya menyadari akan hal itu, selama ini saya terlalu egois pada Lisa. Saya bahkan tidak ingin melepas dirinya untuk anda. Namun, saya paham sekarang," akui Dion.


Atmosfer di ruangan itu kian panas. Sejuknya AC tidak mampu melawan gelora amarah yang bergejolak dari tubuh Rendy.


Tidak berapa lama terdengar suara pintu terbuka, Pak Adrian mematung di ambang pintu melihat ada dua orang yang berada di ruangan menantunya.


Pak Adrian menatap punggung Dion. Ia sama sekali tidak mengenali pemiliknya. Namun, ia menebak bahwa orang itu adalah teman, atau kenalanan dari Rendy dan Lisa.

__ADS_1


Pak Adrian melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan sambil berkata, "Kamu sudah pulang, Nak?"


Rendy yang mendengar pertanyaan itu segera melirik ke arah pintu. Matanya yang sejak tadi memancarkan kemarahaan, seketika mereda.


"Iya, Pa," sahut Rendy.


"Ternyata ada tamu." Pak Adrian mendekat ke arah Dion. "Ayo, Nak silahkan duduk dulu."


Dion yang memang sudah hapal siapa gerangan seseorang dibelakangnya segera membalikkan badan, lalu berkata, "Selamat sore, Pak! Maaf, saya masuk tanpa permisi."


Pak Adrian mengulas senyum. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi antara lelaki ini dengan anaknya barusan. Namun, ia hanya ingin membuat suasana sedikit mencair.


"Tidak apa-apa, Nak! Tapi, sepertinya wajahmu tidak asing. Apa kamu bekerja di perusahaan anak saya?" tanya Pak Adrian.


"Iya, Pak cuman sekarang sudah resign," jawab Dion ramah.


"Oh... ya sudah, ayo duduk!" ajak Pak Adrian.


Dion mengekor dibelakang Pak Adrian. Mereka duduk di sofa yang memang tersedia di ruangan VIP. Sedangkan Rendy hanya menyaksikan itu dengan kedua bola matanya.


"Siapa namamu, Nak?" tanya Pak Adrian begitu sudaj duduk tenang di sofa.


"Dion, Pak," jawab Dion.


"Apa kamu teman Rendy atau menantuku Lisa?'


"Saya atasan sekaligus temannya Lisa dulu, Pak! Saya baru tahu kalau Lisa sedang koma tadi pagi. Saya menyesal sekali tidak mengetahuinya cepat," beber Dion.


Pak Adrian menepuk bahu Dion pelan, lalu berkata, "Tidak apa-apa, Nak. Ini semua sudah takdir menantu saya."


Rendy berjalan mendekat pada kedua lelaki itu, lalu duduk tepat disamping Papanya. Ia berusaha mengatur emosi agar tidak kembali mengusai diri.


"Kamu tahu, Nak! Kita ini hanya manusia biasa, semua yang telah tercatat menjadi takdir kita pasti akan terjadi. Baik itu kejadian menyakitkan, ataupun kebahagiaan," ucap Pak Adrian.


Lelaki paruh baya itu menatap lekat pada ranjang rumah sakit. Pikirannya berkelana ke arah masa lalu. Masa di mana saat istrinya pernah tertidur juga di sana, sebelum akhirnya pergi untuk selamanya.

__ADS_1


"Nak, saya tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan menantu saya. Namun, saya ingin mengatakan sesuatu padamu," lanjut Pak Adrian.


Dion menoleh ke samping, ditatapnya wajah mantan bos besarnya dulu. Dion berkata, "Mengatakan apa, Pak?"


"Tidak ada pertemanan yang murni antara lelaki dan wanita, karena pasti ada salah satu diantaranya yang memendam perasaan," jelas Pak Adrian.


Dion tersentak mendengar ucapan Pak Adrian. Begitupun dengan Rendy yang sama terkejutnya.


"Maksudnya, Pak?" tanya Dion.


Pak Adrian menghela napas, lalu berkata, "Saya tahu, kamu mencintai menantuku. Saya juga tahu kamu sangat menginginkannya, akan tetapi ingatlah satu hal, Nak! Cinta itu bukan soal memiliki. Namun, cinta itu tentang bagaimana kita bisa memberi kebahagiaan untuk orang lain."


Hati Dion seakan tertampar keras. Ia merasa bodoh, karena baru menyadari akan hal itu. Selama ini yang ia tahu bahwa cinta itu harus saling membalas satu sama lain. Maka dari itu, ia berusaha sekuatnya untuk membuat Lisa membalas perasaannya.


Dion menatap penuh penyesalan pada Lisa yang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia berharap ada kesempatan kedua, untuk bisa memperbaiki semua kesalahannya selama ini.


"Nak, orang yang benar-benar mencintai tidak akan membuat orang yang dicintainya merasa risih akan kehadirannya. Bahkan, jika memang kita betul-betul mencintainya, akan tetapi ia tidak takdir untuk kita. Alangkah baiknya kita melepas dan membiarkan orang itu bahagia bersama pilihannya. Saya tahu itu sangat sulit dan menyakitkan. Namun, hanya dengan cara itulah kita membuktikan bahwa cinta kita tulus tanpa ada ego yang mengikuti "


Rendy melirik sekilas pada Dion. Ia tahu bahwa saat ini, lelaki itu tengah mengutuk dirinya. Rendy bersyukur memiliki Papa yang mempunyai rasa sabar tingkat dewa. Sehingga Papanya mampu mengelola rasa amarah yang sudah pasti hadir saat ini.


Sementara itu, Dion yang mendapat perkataan tersebut semakin tidak berkutik. Penyesalannya kian mendalam. Yang tersisa kini hanyalah sebuah harapan, agar mata Lisa segera terbuka dan ia bisa mengucapkan kata maaf secara langsung.


"Maaf," cicit Dion.


Matanya sedikit memerah, menahan linangan air mata yang tidak lama lagi akan segera memberontak keluar.


"Maafkan saya, Pak! Saya mungkin tidak tahu sejak kapan Pak Adrian mengetahui ini. Namun, saya sangat menyesal saat ini. Saya ingin menebus semua keegoan saya pada menantu bapa," sesal Dion.


Pak Adrian menoleh ke arah Dion. Matanya menatap bola mata yang memancarkan kejujuran.


"Saya hanya menebak-nebak tadi! Saya melihat rasa cinta itu tumbuh di matamu, Nak! Namun, sebaiknya lepaskanlah menantu saya dari jeratan hatimu. Ikhlaskan dia agar bahagia bersama suaminya."


...****************...


BERSAMBUNG~~~~

__ADS_1


__ADS_2