Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
71


__ADS_3

Malam itu udara dingin menusuk kulit, Rendy masih anteng berjibaku dengan segala urusannya. Tumpukan dokumen penting tertata rapih di meja kerja, ia harus segera menyelesaikannya sebelum rencana liburan kedua bersama istrinya.


"Mas, belum tidur?" tanya Lisa.


"Sebentar lagi, sayang," sahut Rendy. " masih banyak yang harus aku selesaikan."


Lisa menghampiri suaminya, di tatapnya wajah lelaki yang berkerja keras untuk menafkahi kebutuhan hidupnya.


"Nanti mas sakit kalau tidur larut malam." wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Rendy, kini dia sudah tak secanggung saat pertama menikah dulu.


"Habis ini aku langsung tidur," balas Rendy.


Rendy senang dengan semua perlakuan manis istri kecilnya, rasa cintanya semakin hari semakin bertambah apa lagi jika, allah segera memberikan momongan. Tentu kebahagian ini akan semakin lengkap rasanya.


"O, ya, Sayang. Lusa itu hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Kamu mau apa dariku?" tanya Rendy.


Lisa nampak berpikir, dia tidak membutuhkan apa pun selain suaminya. Lisa sudah mendapatkan semua kebahagian yang allah berikan, dari kesembuhan adiknya, suami yang mencintainya juga pernikahaan yang bahagia.


"Aku engga butuh apa-apa, Mas. Cukup kita bisa bersama aja, itu udah jadi kado paling indah," jawab Lisa.


"Wah,sepertinya istri kecilku sudah pintar merangkai kata," ledek Rendy.


Lisa tersipu malu, memang benar akhir-akhir ini dia mulai tidak canggung lagi dengan suaminya. Dia sudah bisa tertawa meski pelan di hadapan suaminya, dia tidak secanggung dulu.


"Kalau kita liburan lagi kamu mau tidak?" tanya Rendy.


"Berdua aja, Mas," sela Lisa.


"Iya, sayang. Tapi, kalau kamu mau rame-rame juga boleh," usul Rendy.


"Benaran, Mas!" seru Lisa.


"Iya," balas Rendy.


"Kalau gitu aku boleh ajak Dira, Egi sama Mona ya, Mas," pinta Lisa.


"Cuman mereka aja?" tanya Rendy.


"Ya, kan. Teman aku cuman mereka," ujar Lisa. " tapi, kalau Mas mau bawa temen juga boleh."


Rendy berpikir siapa yang harus dia ajak. Dia tidak mau lelaki sendiri di antara para wanita, itu menakutkan.


"Gimana kalau ajak Rey sama dokter Dika?" usul Rendy.

__ADS_1


"Terserah, Mas saja," imbuh Lisa.


"Ya sudah, nanti biar aku suruh Rey siapin segalanya," ucap Rendy. " sebaiknya sekarang kamu tidur duluan, ini sudah malam."


"Iya, Mas. Mas jangan tidur terlalu malam, ya," pesan Lisa.


"Iya, bawelku." lelaki itu memutar badannya ke arah Lisa lalu mencium singkat bibir istrinya.


"Mas ...." lirih Lisa.


"Sudah tidur sana, kalau kamu di sini terus aku engga bisa konsen," goda Rendy.


Lisa menurut saja dia sedang tidak enak badan jika, harus melayani hasrat suaminya malam ini.


"Dia memang penurut," batin Rendy.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara itu, Rey tengah uring-uringan di kamarnya sendiri. Pasalnya Mona sama sekali tidak bisa dihubungi, sedangkan chat Rey hanya di baca saja.


"Gue samperin kagak, ya?" gumam Rey. " tapi, kalau di samperin udah malam juga, engga di samperin gue kepikiran terus."


Pada akhirnya Rey malah tertidur pulas dengan tangan masih menggengam ponsel. Dia sangat lelah hari ini mengurusi bocah ingusan, adiknya Rendy.


Malam sudah berganti pagi, Rey yang terus kepikiran kekasihnya ingin segera sampai kantor dan menemuinya.


Setibanya di kantor, Rey mengikuti Rendy dulu untuk menjelaskan jadwal bosnya hari itu. Hatinya sudah mulai gelisah sebenarnya, dia sudah ingin bertatap muka dan bertanya langsung pada sang pujaan hati.


Begitu selesai Rey keluar ruangan Rendy tanpa permisi, sahabatnya memperhatikan gerak gerik Rey yang tak biasa.


"Dia lagi PMS kali, ya," gumam Rendy.


Rendy tidak mau ambil pusing, baginya Rey adalah lelaki yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri. Bahkan Rey lebih cekatan daripada dirinya.


Rey masuk ke dalam lift untuk turun ke bawah berharap bisa bertemu dengan Mona di sana. Begitu pintu Lift terbuka, Rey dengan cepat keluar dan mengedarkan pandangannya untuk menemukan sosok yang ia cari.


Matany menangkap objek incarannya, Rey bergegas menghampiri Mona yang sedang mengelap kaca di bagian belakang kantor dekat dengan pantry.


"Sayang," sapa Rey.


Mona pura-pura tidak mendengar, dia masih saja sibuk dengan kegiatannya seolah-olah tidak mengetahui kehadiran kekasihnya.


"Jangan gitu dong, Sayang," pinta Rey. "Kalau aku salah, aku minta maaf deh."

__ADS_1


Mona celingukan ke kanan dan ke kiri, dia benar-benar mengacuhkan Rey.


"Kayaknya ada yang ngajak ngomong aku tapi, siapa ya?" sindir Mona.


"Sayang, liat ke sini dong. Aku tersiksa kalau begini." keluh Rey. " kamu tuh udah seperti ponsel, kalau aku lupa membawanya aku tersiksa engga bisa ngapa-ngapain."


Mona masih saja mengacuhkan Rey, dia masih kesal dengan kejadian kemarin.


"Ya udah, kalau kamu udah engga mau ngomong sama aku. Aku cari temen cewek lain ah, yang bisa di ajak ngobrol," sindir Rey.


Mona sekejap langsung membalikkan badannya ke arah Rey, enak saja lelaki ini berniat seperti itu.


"Kak Rey engga peka tahu!" ketus Mona. "kemarin aja aku panggil engga nyahut, sekarang giliran butuh panggil aku."


Rey mengerutkan keningnya, memaksa otaknya untuk mengingat kejadian apa saja yang dia lewati kemarin. Seingat Rey, dia malah tidak bertemu sekalipun dengan Mona.


"Kemarin kapan Sayang?" tanya Rey.


"Yang waktu di lift. Aku udah panggil tiga kali tapi, kak Rey engga nengok sekalipun!" kesal Mona.


"Oh." Rey kini ingat apa yang ia lewati kemarin. " Maaf ya, Sayang. Kemarin aku buru-buru banget. Jadi, ini alasanmu engga angkat telepon aku semalam?"


Mona menganggukkan kepalanya tanda membenarkan pertanyaan Rey lalu berkata, " Habis aku masih kesel!" geram Mona.


"Jangan cemberut dong, adindaku. Kakanda jadi sedih nih, entar cantiknya ilang loh," goda Rey.


"Ih, apaan sih sok puitis banget, Kak Rey," tutur Mona.


"Ya udah, kakanda kerja lagi ya. Kamu jangan cemberut lagi, kalau masih kaya gitu aku cium sampai tujuh hari tujuh malam nih," goda Rey.


"Masyaallah, inget belum ke penghulu kita" jawab Mona.


"Hahahah. Ya udah, nanti kalau udah ke penghulu siapin tenaga kamu. Selama tujuh hari tujuh malam aku kurung kamu di kamar," celetuk Rey.


"Ya Allah, yang ada aku mati kelaparan, Kak Rey." protes Mona. " Kak Rey, mau nyentuh aku apa ngebunuh secara pelan-pelan sih! ketus Mona.


Rey tertawa puas, dia bahagia kalau sudah mengerjai calon istrinya ini. Semoga jalan mereka ke pelaminan segera terlaksana, Rey tengah mempersiapkan mental untuk segera meminang wanita cerewet ini.


"Jangan lupa, kalau nanti jadi istriku harus mau kapan saja," bisik Rey.


Mona geram mendengar Rey menggodanya terus. Dia hendak memukul tangan Rey, akan tetapi Rey sudah kabur terlebih dahulu.


"Lelaki itu, benarkah dia yang akan menjadi suamiku kelak," gumam Mona.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG~~~


__ADS_2