Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
135


__ADS_3

Ruangan bercat abu muda itu menjadi saksi tatkla Dika melontarkan niat baiknya pada Rendy. Sedangkan itu Rendy hanya tersenyum manis. Menyambut keseriusan yang terpancar dari mata sahabatnya.


"Datang ke rumah. Minta restu sama Papa, gue cuman Kakanya," jawab Rendy.


Dika menatap lekat pada Rendy. Ia tahu bahwa Rendy bukanlah tipe kaka yang pengatur. Ia membebaskan Dira untuk memilih jalan hidupnya sendiri, terutama pasangan hidupnya juga.


"Ya, gue bakal minang Dira ke Om Adrian. Gue cuman mau Lo orang yang pertama gue kasih tahu," tutur Dika.


"Gue cuman bisa berdoa, semoga Dira bisa bahagia bersama Lo. Selebihnya itu terserah Dira," ucap Rendy.


Dika tersenyum kecil. Hatinya sedikit lega, setidaknya Rendy memberikan lampu hijau untuk dirinya. Hanya tinggal ia datang menemui Pak Adrian.


Setelah puas berbincang, Dika berpamitan pulang. Ia sudah terlalu lama meninggalkan rumah sakit. Masih banyak pekerjaan yang harus ia lewati hari ini.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Hari berganti malam, Pak Adrian tengah menikmati secangkir teh di ruangan tengah bersama Egi. Sedangkan anak gadisnya asyik bermain ponsel di kamar.


Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan keduanya. Mata dua lelaki berbeda generasi itu segera menatap ke arah datangnya suara.


"Assalamualaikum, Om," sapa Dika ramah.


"Waalaikumsalam. Eh, Nak Dika. Silahkan duduk," jawab Pak Adrian.


Dika melangkahkan kakinya ke arah mereka, lalu mendaratkan bokongnya di sofa. Posisinya kini tepat berhadapan dengan Pak Adrian.


"Maaf, Om saya mengganggu dengan tiba-tiba datang malam-malam begini," ujar Dika.


"Engga apa-apa, Nak. Oh, ya kamu mau minum apa?" tawar Pak Adrian.


"Tidak usah repot-repot, Om," tolak Dika.


"Engga, Kok," jawab Pak Adrian. "Bi, bisa buatkan secangkir teh lagi untuk Dika."


Bi Inah yang tepat berada di dapur segera berjalan menuju Tuannya, lalu berkata, "Baik, Tuan."


"Oh, ya ini ada sedikit bingkisan untuk Om dan keluarga." Menyodorkan satu kresek berwarna hitam.


"Loh, kok bawa bingkisan segala, kayak ada acara penting saja." Menerima bingkisan tadi, lalu menyimpannya di atas meja.

__ADS_1


"Begini, Om. Saya ke sini bukan hanya sekedar main saja, akan tetapi saya membawa niat baik untuk om dan sekeluarga," kata Dika ramah namun tegas.


"Ada apa, Nak?" Kening Pak Adrian mengerut. Tatapannya penuh tanda tanya pada anak lelaki dihadapannya. Sedangkan Egi duduk diam menyimak pembicaraan kedua orang dewasa itu.


Selang satu menit, Bi inah datang membawa nampan berisi satu cangkir teh. Bi inah menyimpannya tepat dihadapan Dika sambil berkata, "Silahkan dinikmati, Den."


Dika hanya membalas dengan anggukan dan senyuman manis. Ia menarik napas sebelum memulai perbincangan serius ini.


"Begini, saya berniat melamar Dira, Om," jawab Dika.


Pak Adrian terdiam ia sedikit kaget. Namun, ia juga sedikit bahagia. Lelaki dihadapannya bukan cuman tampan, tapi ia juga baik dan berakhlak mulia. Ia sangat senang, jika Dika memjadi menantunya.


Meski begitu, Pak Adrian tidak bisa menerima lamaran Dika begitu saja, karena bukan ia yang akan menikah, melainkan anak gadisnya.


Tangan Dika mengepal erat, ia mencoba menutupi rasa gugupnya saat ini. Ia akui, jika reaksi Pak Adrian yang hanya diam membuat ia sedikit ragu. Apakah lamarannya akan berbuah manis?


Dari tangga atas, Dira melihat ketegangan di ruangan tengah. Ia yang sudah tahu kedatangan Dika ke rumahnya untuk apa, jadi ia tidak kaget ketika melihat kekasihnya itu ada di sini.


Dira berjalan pelan mendekati mereka bertiga. Pak Adrian masih saja membisu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Om, tidak bisa menerima lamaranmu," kata Pak Adrian.


"Ba..," lirih Dika.


"Semua terserah Dira! Om, tidak ingin menerima lamaranmu, karen Om ingin Dira sendiri yang menjawab lamaranmu, Nak!" sela Pak Adrian.


Dira yang baru saja tiba seketika mematung. Ia menatap satu per satu tiga lelaki beda generasi itu. Semua mata tertuju padanya, mereka menunggu jawaban dari bibir manisnya.


Dira duduk disamping Egi yang masih menatapnya. Bocah lelaki itu seakan mengisyaratkan sesuatu lewat bola mata indahnya.


"Bagaimana, Nak? apa kamu mau menerima lamaran Dika?" tanya Pak Adrian pada Dira.


Dira menunduk, ia memejamkan mata. Hatinya berbisik "Percayalah, mungkin ini yang terbaik untukmu." Dengan menarik napas pelan, Dira berkata, "Aku menerima lamaran Kak Dika, Pa."


Seketika seutas senyum bahagia menghiasi wajah tampan Dika. Ia memang hidup sendirian, karena kedua orang tua angkatnya memilih menetap di Belanda setelah Dika lulus menjadi Dokter. Namun, ke depannya ia akan segera memiliki teman hidup. Setidaknya saat pulang ke rumah, ada tempat bermanja melepas penat.


"Alhamdulilah, terima kasih, Dek!" tutur Dika.


"Kalau begitu, mari kita tentukan tanggal pernikahaan kalian," timpal Pak Adrian.

__ADS_1


"Maaf, soal itu! Apa boleh pernikahaannya dilakukan tiga bulan kemudian, karena Dira ingin menyelesaikan satu semester dulu belajar di kampus baru?" pinta Dira.


Dika dan Pak Adrian saling melempar pandangan. Dika yang tadinya berniat melangsungkan pernikahaan satu bulan lagi. Namun, ia harus tetap menghormati permintaan calon istrinya.


"Baiklah, Papa tidak masalah. Bagaimana dengan, Nak Dika?" tanya Pak Adrian menatap Dika.


"Saya tidak masalah, Om. Saya menghargai permintaan Dira," jawab Dika.


"Syukurlah, lalu bagaimana soal orang tua angkatmu, Nak? apa mereka tidak mengetahui soal ini?" tanya Pak Adrian kembali.


"Mereka sudah tahu, hanya saja saya minta maaf karena datang melamar Dira sendirian. Mereka tidak bisa datang, karena saat ini Papa sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya," beber Dika.


"Baiklah, Om tidak masalah. Yang akan menjalani pernikahaan ini kalian, bukan Om ataupun orang tuamu. Yang terpenting mereka sudah setuju dan mengetahuinya." Tersenyum ramah tanpa beban.


"Insyaallah, Om. Mereka sangat senang saat tahu saya akan melamar Dira. Oh, ya mereka juga menitip salam dan ucapan maaf untuk Om," ucap Dika.


"Sampaikan salam kembali untuk mereka. Oh, ya apa kamu sudah makan malam, Nak?" tanya Pak Adrian.


"Belum sempat, Om. Tadi dari rumah sakit, saya langsung ke sini," jawab Dika.


"Kalau begitu, makanlah dengan kami. Jangan menolak, kamu akan menjadi bagian keluarga kami sebentar lagi!" tegas Pak Adrian.


"Baik, Om." Sedikit mengangguk, lalu matanya melirik sekilas pada Dira yang masih menunduk malu.


"Dia cantik banget, gue jadi engga sabar nunggu tiga bulan kemudian," batin Dika.


"Om, tinggal dulu sebentar, ya!" pamit Pak Adrian.


"Baik, Om," sahut Dika.


Pak Adrian beranjak dari tempat duduk. Hatinya masih tidak percaya akan kejadian lamaran yang berlangsung singkat itu. Ia akam segera kesepian. Setelah Rendy, sekaramg anak gadisnya pun akan segera melepas masa lajangnya.


"Mah, Papa pasti akan kesepian. Anak-anak sudah memiliki jalan hidupnya sendiri. Namun, Papa tetap tidak boleh terlihat bersedih dihadapan mereka berdua," gumam Pak Adrian pelan.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa like, coment dan vote teman๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2