
Kesetiaan adalah bumbu dasar dari sebuah hubungan. Saat itu tak ada, semua akan terasa hambar.
{ Ciety Ameyzha }
Seperti halnya pasangan yang tengah berbulan madu. Egi dan Zahra menghabiskan waktu malam itu. Tubuh mulai lelah. Keduanya pulang membawa cerita. Menyisakan jejak di taman, tempat dua insan tadi mengutarakan perasaan.
Sesampainya di kamar hotel. Zahra meminta izin tidur duluan. Sebab, kantuk melemahkan pengliatan dirinya. Egi mengangguk, mengecup singkat kening istrinya. Lalu mengganti pakaian tidur.
Semesta menuju tengah malam. Namun, Egi masih tak ingin memejamkan mata. Dibukanya laptop. Mencari sport terbaik, untuk besok menjelajah kota seribu masjid ini. Netranya mendapati sesuatu. Ujung bibirnya ia tarik sedikit, melukiskan sebuah senyuman.
Kantuk mulai menyerang. Waktu pun sudah hampir pukul dua malam. Egi merangkak naik ke atas ranjang. Mendekap erat tubuh Zahra di balik selimut.
Malam ini dunia terasa indah. Entah esok atau lusa. Kita tak tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Maka dari itu, biarkanlah takdir yang menjawab.
💞💞💞💞💞💞
Keesokan harinya, setelah berpuas diri bermanja-manja dalam kamar. Pasangan Egi dan Zahra keluar tepat pukul sepuluh pagi.
Sejak mendudukkan diri di kursi restaurant. Mulut Zahra tak berhenti mengomel. Rasa lapar terus menerpa, tetapi suaminya tak sejengkal pun membiarkan ia turun dari kasur.
"Hei, tak baik dilihat orang. Wajahmu ditekuk seperti anak kecil tak diberi jajan!" tegur Egi santai. Tangannya mengiris steak daging. Menyuapkan satu potong ke mulut. "Aku hanya menahanmu sebentar, tapi kamu mendiamkanku sampai sekarang."
"Sebentar dari mana!" ketus Zahra. Mengambil steak di hadapan Egi. Menukar dengan miliknya yang masih utuh. "Paman, tak bisakah kamu romantis sedikit saja? Setidaknya kamu memberikanku steak ini!"
"Itu sudah kamu ambil," jawab Egi santai. "Sudahlah, kamu tidak cocok muram seperti ini. Aku yakin perang dunia ke-4 mungkin akan dimulai, jika kamu tak berhenti mengomel."
"Apa hubungannya?"
"Jelas, berhubungan." Mengiris steak untuk kedua kalinya. "Tapi, bukan perang beradu senjata seperti biasanya."
"Lalu?" Zahra mengerutkan kening.
__ADS_1
"Perang batinku!" tegas Egi.
"Kenapa bisa?" desak Zahra.
"Bisalah! Kamu pikir aku tak kepikiran. Setiap kata yang terlontar dari bibirmu, sensor di otakku menangkapnya. Otomatis, batinku pun ikut berperan dalam proses penyaringan. Aku bisa gila, jika otak dan batinku tak sejalan."
Perdebatan berhenti. Keduanya bersiap menjelajah salah satu sport di kota ini. Berbekal petunjuk dari internet. Egi dan Zahra mengukur jalan dari hotel ke Pelabuhan Bangsal.
Jarak tempuh sekitar dua jam. Mobil telah terparkir, mereka hendak meneruskan perjalanan. Namun, suara azan memanggil, mendayu-dayu dari speaker masjid.
"Ayo, sholat dulu," ajak Egi.
Zahra mengangguk sambil mengekor dari belakang.
Cukup lima belas menit dari waktu 24 jam. Bagi keduanya bermunajat di atas hamparan sajadah. Tak menguras, tetapi sangat berarti.
Dengan menaiki Cidomo( sejenis Andong yang ditarik kuda). Perjalanan sekitar 200 meter, Egi dan Zahra sampai di Pelabuhan Bangsal.
Dua puluh menit berlalu. Akhirnya kaki mereka menginjak di pulai kecil, tetapi asri. Sebuah pemandangan indah menyambut mereka. Mata Zahra terus menyusuri setiap sudut pulai ini.
Pantai *Gili Trawang*an berpasir putih cantik, air lautnya tenang dan jernih. Membuat para wisataan senang melakukan aktivitas Snorkeling dan Diving.
"Honey, kamu mau melakukan Diving?" tanya Egi mengagetkan Zahra.
"Tidak, Mas!" tolak Zahra. Kakinya melangkah mendekati air pantai. Memainkannya seperti halnya anak kecil. "Aku tak bisa menyelam."
"Kalau begitu, kita Snorkeling," usul Egi. Menghampiri Zahra, memercikkan air ke wajahnya. "Kita nikmati keindahan laut."
Zahra menyetujui. Keduanya segera menuju tempat penyewaan alat-alat Snorkeling. Persiapan telah selesai. Sebelumnya kesehatan keduanya di cek terlebih dahulu.
"Aku akan membawamu, untuk mengagumi keindahan alam bawah laut. Ada banyak keagungan Allah di sana," bisik Egi.
__ADS_1
Jantung Zahra berdentam. Adrenalin terpompa deras dan tubuhnya membeku. Ini bukan pertama kalinya, tetapi suara bisikan Egi seperti sebuah sengatan listrik yang membuatnya tak berdaya.
"Aku hampir dibuat gila olehnya setiap hari," batin Zahra.
Mereka mulai melakukan aktivitas menjelejah pantai. Meski, tak sampai ke bawah laut terdalam. Namun, keindahan bisa terlihat. Zahra tertegun, melihat ikan-ikan kecil mengelilinginya. Berenang tanpa rasa takut, seirama bersamanya.
Tak hanya itu Zahra pun beberapa kali dibuat takjub akan pemandangan indah lainnya. Seperti, terumbu karang, ubur-ubur, rumput laut, dan berbagai flora dan fauna bawah laut lainnya.
Dengan tetap bersama Egi. Zahra terus menyapu pemandangan sejauh matanya memandang. Sungguh, ciptaan Allah itu luar biasa. Kita, sudah sepantasnya banyak mengucap syukur. Allah menyajikan semuanya tanpa perlu dibeli.
Lelah menjelajah, keduanya naik ke permukaan. Menepi dan melepas peralatan Snorkeling sebelumnya. Lalu duduk di bibir pantai.
Tangan Egi merangkul pinggang Zahra. Menunggu azan Asyar sebelum menikmati sunset di pinggiran pantai Gilli Terawang.
"Mas, terima kasih," cicit Zahra pelan. Ia menyenderkan kepalanya di bahu lebar Egi. "Aku bahagia. Maaf, soal kejadian tadi pagi."
"Jangan katakan terima kasih. Sudah seharusnya aku membahagiakan istriku." Mengecup singkat kening Zahra. Menatap lurus ke depan. Menikmati tenangnya air laut. "Aku akan berusaha semampuku. Jadi, tetaplah di sampingku sampai akhir hayat."
Setelah itu mereka bergegas menunaikan salat Asyar, kemudian menyantap makan siang yang telah banyak terundur. Seperti yang sudah direncakan. Sebelum Maghrib, keduanya kembali duduk di pinggir pantai.
Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna orange padam. Suasana romantis ini tak disia-siakan Egi. Lelaki itu berjalan mendekati pantai, lalu berteriak, "Zahra, aku mencintaimu selamanya."
Zahra menunduk malu. Semua tatapan pokus padanya. Dengan sekuat tenaga ia menarik Egi, untuk kembali duduk.
"Aku juga mecintaimu selamanya, Paman." Zahra mengurai senyum.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon maaf, jika ada riset penelusaran soal tempat wisata tersebut salah, ataupun tak seperti kenyataannya.
__ADS_1