Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
137


__ADS_3

Tepat di malam jumat seorang bayi laki-laki lahir melalui proses penuh haru. Ia lahir dari seorang ibu yang terbaring koma. Kelahirannya telah ditunggu oleh setiap keluarga terutama sang Papa yang tengah gunda gulanda.


Pintu yang sejak tadi tertutup, perlahan terbuka memperlihatkan seorang perawat sambil menggendong seorang bayi. Sontak pemandangan itu membuat semua orang berucap syukur.


"Anakku ...," lirih Rendy.


Rendy bergegas menghampiri perawat. Matanya menatap bahagia wajah sang anak yang telah selamat lahir ke dunia.


"Anak Pak Rendy seorang pemuda tampan," ucap perawat wanita itu.


"Ya, dia memang tampan." Tangannya menyentuh pelan kulit sang anak yang masih merah.


"Mari, ikut saya. Pak Rendy harus segera mengadzani babynya!" ajak sang perawat.


"Iya, suster," jawab Rendy.


Rendy menoleh ke arah keluarga. Mereka semua mengangguk pertanda mengisyaratkan agar Rendy ikut bersama perawat.


"Mari, Pak!" lanjut sang perawat.


Rendy dan perawat wanita segera melangkah pergi meninggalkan semuanya. Mereka di sana masih menunggu dokter, untuk memastikan kondisi Lisa.


Selang lima menit Dokter keluar bersama perawat lainnya sambil mendorong Lisa yang terbaring. Dokter mengisyaratkan para perawat untuk membawa Lisa ke ruangannya kembali.


"Apa Pak Rendy sedang pergi?" tanya Dokter.


"Iya, Dok. Rendy ke ruangan bayi, untuk mengadzani anaknya," ucap Dika.


"Saya ingin mengabarkan berita pada Pak Rendy," ujar Dokter.


Pak Adrian yang sejak tadi duduk seketika beranjak, kemudian menghampiri Dokter sambil berkata, "Berita apa, Dok?"


Dokter itu tersenyum manis.


"Alhamdulilah, istrinya sudah sadar," ungkapnya.


"Alhamdulilah!" ucap mereka semua serentak.


Pak Adrian langsung memeluk sang Dokter, lalu berkata, "Terima kasih, Dok! Saya tahu semua atas izin Allah, akan tetapi ini semua tidak mungkin terjadi. Jika Dokter tidak berusaha keras merawat menantu perempuan saya."


"Sama-sama, Pak. Saya hanya perantara, semua karena keajaiban Yang Maha Kuasa. Yang terpenting ini juga karena kegigihan Bu Lisa, untuk terus bertahan." Menepuk-nepuk punggung Pak Adrian.

__ADS_1


Pak Adrian melepas pelukannya. Ia ingin segera mengabari kabar baik ini pada anak lelakinya. Ia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya Rendy, jika mengetahui keadaan Lisa.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Masih banyak pasien yang menunggu," pamit sang Dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih atas kerja kerasnya," jawab Dika.


Dokter itu adalah rekan kerja Dika. Lisa memang dirawat di rumah sakit tempat Dika berkerja. Ini semua Rendy putuskan agar Dika bisa mengawasi perkembangan istrinya.


Dokter itu berlalu sampai kehadirannya menghilang bak ditelan bumi.


"Kak, apa benar kalau Kak Lisa sudah sadar?" tanya Egi pada Dira.


"Iya, " jawab Dira.


"Ayo, Kak. Egi pengen ketemu Kak Lisa sekarang. Egi pengen peluk!" rajuk Egi.


"Iya, sebentar, Sayang," sahut Dira.


"Om, sebaiknya kita langsung ke ruangan Lisa aja!" usul Rey.


"Iya, Om. Biar saya yang nyusul Rendy ke ruangan bayi," timpal Dika.


"Baiklah! Nak Dika, tolong sampaikan kabar bahagia ini pada Rendy, ya! Dia pasti bersyukur sekali atas keajaiban ini," ucap Pak Adrian.


Mereka semua berlalu meninggalkan Dika sendirian. Hati setiap orang tengah bahagia. Pasalnya sebentar lagi mereka akan segera bisa berkomunikasi kembali bersama Lisa.


Sementara itu setelah berdiam sejenak Dika segera menyusul Rendy ke ruangan bayi. Ia sudah tidak sabar memberi tahu kabar bahagia ini.


"Mungkin gini, ya rasanya bahagia itu. Denger orang yang kita sayangi sudah sadar aja, berasa dunia milik sendiri." gumam Dika.


Di sebuah ruangan yang sangat khas harum wangi bayi. Rendy baru saja selesai mengumandangkan adzan di telinga anaknya. Ia masih setia menggendong bayi lelaki itu.


"Nak, andai Ibumu sadar. Sudah pasti dia sangat bahagia melihatmu. Kita berdoa yang terbaik untuk Ibumu, ya, Sayang!" gumam Rendy.


Perawat yang masih setia bersamanya hanya tersenyum sambil mengaminkan ucapan Rendy. Perawat itu juga berharap demikian, ia merasa kasian karena sang bayi belum bisa meminum air susu ibunya saat begitu lahir ke dunia.


Rendy meletakkan kembali anaknya di box. Kemudian sang perawat mengambilnya, lalu memasukkannya ke inkubulator.


"Anak Pak Rendy lahir belum cukup umur, jadi baby harus di berikan perawatan ekstra," kata perawat.


"Baik. Lakukanlah yang terbaik, Suster." Menatap bahagia pada anaknya.

__ADS_1


Dika ada di luar menyaksikan sahabatnya berinteraksi dengan sang anak dari balik kaca. Ia tersenyum bahagia. Air mata turut hadir sedikit di pelupuk matanya. Ia bukan terluka. Namun, ia justru menangis terharu dan bahagia.


"Gue juga pengen kaya gitu. Gendong anak hasil buah cinta gue sama Dira nanti. Semoga Allah melancarkan pernikahaan kami nanti," batin Dika.


Rendy menyadari kehadiran Dika. Ia segera keluar dari ruangan tersebut, karena memang tidak ada yang boleh masuk selain yang berkepentingan.


"Kok Lo malah di sini, Dik? operasinya udah selesai?" tanya Rendy begitu keluar dari ruangan.


"Udah, Ren," jawab Dika.


"Gimana keadaan Lisa, Dik? apa istri gue baik-baik aja, maksudnya kondisinya engga memburuk 'kan?" Raut wajah Rendy berubah menjadi cemas.


Dika mengulas senyum, lalu berkata, "Lisa ...."


"Lisa kenapa, Dik?" potong Rendy.


"Lisa sadar, Ren," ungkap Dika.


Rendy terdiam mematung. Benarkah yang ia dengar ini? istri kecilnya sadar, kekasih halalnya telah kembali. Rasa bahagia menyelimuti jiwanya. Ia bahkan langsung berlari meninggalkan Dika sendirian.


Rendy terus berlari, hatinya sudah tidak sabar melihat senyuman sang istri. Akhirnya inilah jawaban atas semua lantunan doanya pada Allah.


Sesampainya di dekat ruangan Lisa. Terdengar suara orang bercakap dari dalam. Dari balik pintu sayup-sayup terdengar percakapan mereka.


"Apa mas Rendy masih lama, Pa ...?" lirih Lisa.


"Tidak, Nak. Dika sedang menyusulnya ke ruangan bayi," jawab Pak Adrian.


"Bayi? Ah, iya bagaimana anak Lisa, Pa? apa dia baik-baik saja? Lisa ingin melihat bagaimana wajahnya," cakap Lisa.


"Papa belum sempat melihat wajah cucu Papa, karena perawat langsung membawanya ke ruangan bayi. Nanti pasti dia juga ke sini, karena kamu harus memberikan Asi padanya," jawab Pak Adrian.


Belum sempat Lisa berucap, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Rendy terdiam di ambang pintu. Mata mereka bertemu saling memancarkan kerinduan yang tiada takarannya.


Jantung Lisa berdebar kencang, ini seperti apa yang ia rasakan saat pertama bertatap mata dengan suaminya. Hatinya bergejolak ingin turun, lalu berhamburan lari masuk ke dalam pelukan hangat milik Rendy.


Rendy bergegas berjalan cepat. Tatapan matanya tetap pokus pada wanita dihadapannya. Dengan satu tarikan ia membawa Lisa dalam dekapannya, lalu berkata, "Syukurlah, aku sangat senang kamu kembali, Sayang. Jujur aku sangat takut. Aku takut kehilangan istriku kembali seperti waktu itu. Terima kasih, karena kamu sudah berjuang untuk melahirkan anak kita. Terima kasih juga, karena kamu bertahan untuk kembali bersamaku."


...****************...


BERSAMBUNG~~~~

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan vote😍


__ADS_2