Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 1


__ADS_3

Didalam kamar yang lumayan luas. Seorang lelaki tampan nampak tengah memandang pantulan dirinya di cermin. Ia tersenyum kecil menikmati wajah tampan yang Allah anugrahkan untuknya.


"Perfect," ujarnya.


Setelah puas, ia segera menyambar tas hitam dan kunci mobil. Bergegas turun ke lantai bawah, untuk mengisi perut sebelum meraup rupiah hari ini.


"Selamat pagi, Kak." Menarik kursi, lalu duduk tenang.


Wanita yang sudah berumur sekitar tiga puluh sembilan tahun itu tersenyum, lalu berkata, "Selamat pagi juga, Dek. Wah, kamu tampan sekali hari ini."


Baru saja hendak menjawab, terdengar suara pemuda memanggil Bunda pada wanita tadi.


"Bunda ... apa hanya paman saja yang dipuji tampan?" ketus pemuda itu.


Ia berjalan mendekati mereka. Wajahnya tidak kalah tampan dengan lelaki yang tengah duduk.


"Selamat pagi, Nak. Tentu, kamu juga sangat tampan. Bunda saja sampai terpana melihatmu." Tersenyum manis.


Pemuda tadi duduk disamping lelaki yang baru saja ia sebut paman, lalu berkata, "Paman, apa hari ini paman ada kelas untukku? Aku sangat malas bertemu paman di kampus!"


Lelaki tadi melirik sambil mengerutkan keningnya. Ia seakan bertanya mengapa lewat tatapan matanya.


"Memang kenapa, Nak?" tanya ibunya.


"Aku malas, karena hampir seluruh teman perempuanku bertanya soal paman padaku, Bun. Mereka bahkan sering menitipkan coklat, kue, atau barang kecil untuk paman padaku. Padahal aku tidak kalah tampan dari paman. Mengapa mereka malah menyukai lelaki kulkas ini?" jelasnya.


"Apa kamu takut tersaingi dengan paman?" tanya lelaki itu.


"Hah! Tentu, tidak. Aku hanya risih saja dengan sikap mereka. Aku juga punya fans wanitaku sendiri!" bantahnya.


"Kalau begitu biarkan saja mereka. Toh, paman juga tidak menyuruhmu." Mengambil sepiring nasi goreng yang disuguhkan kakaknya.


"Aih, dasar manusia es. Kalau paman seperti ini terus, kapan paman akan menikah!" sungut pemuda itu.


"Kapan-kapan saja. Aku belum memikirkannya," jawabnya singkat.


Dari kejauhan terdengar langkah kaki mendekat. Seorang lelaki paruh baya duduk diam di hadapan mereka, lalu berkata, "Apa kalian tidak akan akur selamanya? Papa saja pusing melihat kalian yang selalu saja ada bahan keributan."


"Biarkan saja, Mas. Mereka memang berbeda sikap, harap maklum!" sahut wanita yang diketahui sebagai istrinya.


"Kamu selalu bisa jadi penengah, Sayang." Tersenyum manis.

__ADS_1


Mereka adalah Lisa, Rendy, Egi, dan Adnan. Sembilan belas tahun berlalu, waktu telah mengubah kehidupan mereka.


Egi tumbuh menjadi sosok lelaki tampan yang kini berusia dua puluh sembilan tahun. Ia yang memilki kecerdasaan luar biasa, akhirnya bisa menjadi seorang dosen di salah satu universitas terkenal di kotanya.


Ini memang diluar cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter. Namun, ia sangat menikmati perannya sebagai dosen.


Di usianya yang terbilang sudah mapan. Ia belum memikirkan untuk menikah. Sudah banyak cara yang Lisa dan Rendy lakukan agar Egi mau menikah, akan tetapi jawabannuya tetap sama, "Aku ingin pokus pada pekerjaanku."


Tentu ini membuat Lisa sebagai kakak khawatir. Ia takut, jika Egi akan selamanya memilih sendiri. Terlebih sikap Egi yang dingin hampir pada semua orang.


Sedangkan Adnan adalah anak kandung dari Lisa dan Rendy. Bayi kecil yang kelahirannya ditunggu itu, kini telah berubah menjadi sosok pemuda tampan penuh kecerian seperti ibunya.


Usianya kini sembilan belas tahun. Ia sedang menempuh pendidikan di universitas yang sama di mana Pamannya bekerja. Sebenarnya Adnan sangat gembira, karena bisa satu kampus dengan pamannya.


Adnan mewarisi wajah Rendy saat muda dulu. Ia berkulit putih dengan hidung yang ma ncung. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita, akan tetapi pesona pamannya ini selalu membuat ia sedikit iri.


Egi berucap Alhamdulilah ketika makanannya habis tidak tersisa. Menu kesukaannya tidak berubah sejak kecil, yaitu ayam goreng dan sayur capcay.


"Kak, aku pamit kerja dulu." Mengangguk hormat pada Rendy dan Lisa.


"Ya, hati-hati dijalan. Apa kamu akan pulang malam lagi?" tanya Rendy lembut.


"Sepertinya begitu, Kak. Aku ada empat kelas yang harus dihadiri," jawab Egi.


"Iya, Kak Ren." Mengangguk hormat kembali.


"Paman, tunggu! Hari ini aku ikut denganmu. Mobilku masuk bengkel, dia minta jajan," cegah Adnan.


"Mobilmu kenapa lagi, Nak?" tanya Lisa pada anaknya.


"Kamu seperti tidak tahu anak muda saja, Sayang. Mereka suka memodifikasi kendaraannya," sela Rendy.


"100% untuk Papa!" puji Adnan.


"Kamu jangan terlalu boros untuk hal yang tidak terlalu penting, Nak!" ingat Rendy.


"Iya, Pa. Alhamdulilah, pemasukan bengkelku setiap harinya lumayan." Mengambil tisu, lalu mencium tangan kedua orang tuanya. "Aku pamit kuliah dulu."


Lisa mengusap lembut rambut sang anak sambil berkata, "Hati-hati dijalan. Belajar yang benar, agar kelak kamu menjadi orang yang sukses. Ingat selalu sholat tepat waktu di manapun kamu berada."


Adnan mengangguk perlahan tanda mengerti. Ia sangat menyukai usapan lembut Bundanya. Ia juga bersuyukur memiliki keluarga yang lengkap dan harmonis.

__ADS_1


"Paman sudah telat. Kamu jadi ikut tidak?" tanya Egi yang menyaksikan kejadian itu.


"Iya, pamanku yang dinginnya melebihi kutub utara," ledek Adnan.


Lisa dan Rendy hanya menggelengkan kepala. Meski begitu Egi tidak pernah marah atau pun kesal dengan keponakannya. Sejak Adnan bayi, ia sudah menjaga keponakannya itu dengan sepenuh hati. Ia bahkan sering mengajak Adnan kecil bermain setelah ia pulang sekolah.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Sementara itu di lain rumah. Seorang gadis tengah terrburu-buru mengejar waktu. Ia adalah Zahra, anak dari pasangan Rey dan Mona. Usianya beda satu tahun dengan Adnan. Ia baru saja masuk ke universitas yang sama dengan Adnan.


"Mah, pa, Zahra kuliah dulu, ya. Hari ini adalah kelas paman Egi. Kalau telat, bisa-bisa Zahra di jemur di lapangan," keluh Zahra.


"Setidaknya kamu minum susu dulu, Sayang. Belajar dengan perut kosong itu tidak baik," ucap Mona.


"Iya, Sayang benar apa kata Mamamu," timpal Rey.


"Iya, Baginda ratu." Mengambil segelas susu, lalu menghabiskannya seketika. "Nah, Sekarang Zahra berangkat dulu, ya."


Gadis itu berlari setelah menyalami tangan kedua orang tuanya. Ia tidak ingin telat kelas hari ini. Yang jelas ia ingin melihat wajah tampan paman dari temannya itu yang berstaus dosen di kampusnya.


"Zahra ...!" teriak dua pemuda kembar sambil melambaikan tangan mereka.


"Mereka memang paling hebat. Jam segini sudah didepan rumah orang," gumam Zahra.


Zahra bergegas menghampiri si kembar, lalu berkata, "Ayo, berangkat! Aku tidak mau dihukum berjemur di lapangan sama Paman Egi."


"Siap! Ko, Lu yang nyetir, ya." Melempar kunci mobil pada kembarannya.


"Dasar, Kaka engga ada akhlak. Main lempar aja, gimana kalau kena mukaku yang tampan ini!" ketus pemuda itu.


"Sudahlah. Kalian ini kembar, tapi selalu ribut!" Zahra masuk begitu saja ke dalam mobil.


""Baik, Tuan putri." ucap mereka serentak.


Pemuda kembar itu bernama Riko dan Riki. Anak dari Dira dan Dika. Mereka memang kembar identik, hampir sulit untuk dibedakan. Apa lagi mereka sering memakai pakaian yang sama. Ini membuat mereka sering menjaili dosen, jika salah satu dari mereka ingin bolos mata kuliah.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Welcome to season kedua๐Ÿค—

__ADS_1


Aku harap bisa menulis dan menyajikan cerita yang bisa menghibur kalian.


Jangan lupa like, coment dan vote๐Ÿ˜˜


__ADS_2