
Seperti perjanjiannya dengan Rendy, Rey mengambilkan mangga muda pesanan Lisa langsung dari pohonnya.
Rendy memberikan mangga muda yang sudah dipotong-potong terlebih dahulu, sekaligus dengan sambal rujak di meja.
"Makanlah, Sayang. Aku sudah bersusah payah mengambilnya," ujar Rendy berbohong.
"Benarkan, ini Mas yang ngambil sendiri?" tanya Lisa menatap sang suami.
"Iya, Sayang." Rendy mengambil satu potong mangga lalu, mencocolkannya pada sambal.
"Aaaa ...!" lanjut Rendy sembari tangannya menyuapkan potongan mangga muda ke mulut istrinya.
Lisa melahapnya tanpa ngilu sedikitpun, untuknya rasa mangga ini terasa sangat manis. Terlebih campuran sambal yang pedas tapi, sedikit manis membuat selera makannya meningkat.
"Awas ya, kalau Mas bohong!" ujar Lisa. " Mas engga boleh kelonan selama sebulan kalau bohongin aku."
Di belakang, Rey terlihat menahan tawanya. Hari ini ia serasa menonton film dengan judul suami takut istri.
"Bisa karatan tuh barang si Bos, kalau engga di asah sebulan," batin Rey.
"Jangan gitu dong, Sayang. Mas bisa gila kalau engga kelonan sehari aja sama kamu," sahut Rendy.
Lisa memakan habis satu mangga muda, moodnya tiba-tiba membaik begitu selesai makan.
"Makasih ya, Mas." wanita itu tanpa sungkan mencium pipi kiri Rendy.
"Sama-sama, Sayang," balas Rendy seraya mencium sekilas bibir istrinya sebagai timbal balik.
Rey memonyongkan bibir, kenapa dia selalu menjadi orang yang menyaksikan kemesraan dua insan ini.
"Ren, gue ke ruangan dulu. Berasa jadi obat nyamuk gue di sini!" pamit Rey.
"Hahaha. Lagian Lo masih di sini aja, bukan pergi dari tadi," sahut Rendy.
"Yeh, ni anak. Udah dibantuin malah ngusir!" ketus Rey.
"Thanks ya, Bro!"
"Jangan lupa bonusnya buat gue," ujar Rey.
Lisa yang mendengar percakapan mereka berdua ikut berbicara.
"Bonus apa, Mas?" tanya Lisa.
"Mm ... Itu bonus ... bonus pertengahan bulan," ujar Rendy gugup takut ketahuan berbohong.
"Memang ada ya? setahu aku bonus itu cuman ada akhir tahun sama bonus tunjungan hari raya,"
"Ada lah, Sayang. Tapi, cuman buat Rey doang. Kan, kamu tahu dia kerja udah lama sama aku," ucap Rendy.
Lisa hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mungkin Rendy sangat menyayangi Rey sampai dia juga memberikan fasilitas lebih dari karyawan lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hari sudah berganti malam, Rendy dan Lisa segera pulang. Begitupun para karyawan mereka, akan tetapi berbeda dengan Mona.
Dia masih menunggu Rey menjemput untuk pulang bersama. Malam ini setelah Mona selesai lembur sampai magrib, mereka berencana kencan berdua.
Mona tidak ingat kapan terakhir mereka kencan karena, ia paham posisi Rey sebagai asisten pribadi bosnya pasti sangat sibuk.
__ADS_1
Mobil berwarna hitam berhenti tepat di halte bus tempat Mona menunggu. Rey membuka setengah kaca mobil depan lalu berkata, " Ayo, Sayang!"
Mona yang mendengar ajakan Rey segera masuk ke dalam mobil. Mona berkata, " Kenapa lama, Kak Rey. Aku sampai karatan tahu di sini."
"Hahahaha. Maafkan Kakandamu, Sayang. Maklumlah, tadi tugas negaraku banyak banget."
"Memang Babang tampan itu engga bisa nyetir sendiri ya, Kak." Mona memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Hei, masih aja kamu sebut Rendy Babang tampan. Mulutmu minta ditampol bibirku, ya!" seru Rey.
"Hehehe. Maaf, aku udah kebiasaan panggil Pak Rendy itu Babang tampan,"
"Masa Rendy doang yang dibilang tampan, memang aku engga?"
"Iya, deh. Bebebku mah paling tampan sebikini bottom,"
"Lah, Kok sebikini bottom. Memang aku spongebob apa!" ketus Rey.
"Aduh, pusing dah kalau udah debat sama Kak Rey. Bisa-bisa aku gila, baru pacaran aja kaya gini apalagi kalau udah nikah. Aduh, Mak tolongin Mona dong,"
"Hahaha. Kalau udah nikah beda lagi, debatnya bukan dimulut,"
"Terus?"
"Dikasur," bisik Rey.
"Ih, Kak Rey mesum. Jauh-jauh sana dari Mona!" seru Mona.
"sekarang aja jauh-jauh, nanti mah nambah-nambah," ledek Rey.
Mona memukul tangan Rey yang sedang menyetir, hingga Rey mengadu kesakitan.
"Ini baru tangan. Besok-besok ngomong mesum lagi, aset Kak Rey aku potong!" ancam Mona.
"Ampun deh. Serem juga ancemannya, engga ada yang lain apa?"
"Engga ada!" seru Mona.
Rey tersenyum senang, ia tidak menyangka akan mengenal wanita disampingnya. Mungkin kalau bukan karena takdir, Rey tidak bisa bersama Mona saat ini.
Mobil Rey masuk ke sebuah cafe, mereka turun bersamaan lalu masuk ke dalam cafe. Rey sengaja memilih meja yang berhadapan dengan band pengiring, ia ingin menikmati lagu bersama kekasihnya.
Setelah memesan, mereka tinggal menunggu pelayan datang mengantarkan pesenan mereka. Malam itu cafe sangat ramai, kebanyakan muda-mudi yang tengah menikmati waktu malam. Baik itu dengan pasangan, teman atau keluarga mereka.
Rey menatap ke depan, ke arah band penghibur cafe ini. Rey yang sudah menjadi langganan di sini, mengenal baik seluruh anggota band.
Seorang lelaki yang di yakini sebagai vokalis band menunjuk Rey yang tengah duduk santai.
"Buat yang sedang duduk bersama kekasihnya di meja paling depan, harap naik ke panggung," panggil vokalis lelaki itu.
Mona melirik ke arah Rey, kekasihnya itu tersenyum lalu beranjak pergi menuju panggung.
"Kenalin, Gaes. Cowok tampan dihadapan kalian ini, mau nyampein sesuatu sama seseorang yang spesial," ujar lelaki itu.
Rey mengambil alih mix dari vokalis lalu berkata, "Sebelumnya saya ucapkan terimakasih buat Doni, vokalis band disini. Saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk wanita berbaju merah di depan, yang hadir di antara kalian malam ini.
Rey menunjuk Mona yang tersipu malu, ia tidak menyangka akan ada seperti ini.
"Untuk kamu. Ya, kamu. Lagu ini ku persembahan hanya untukmu," ujar Rey.
__ADS_1
**Dengarkanlah wanita pujaanku.
Malam ini akan ku sampaikan.
Hasrat suci kepadamu dewiku.
Dengarkanlah kesungguhan ini.
Aku ingin mempersuntingmu.
Tuk yang pertama dan terakhir.
Jangan kau tolak dan buat ku hancur.
Ku tak kan mengulang tuk meminta.
Satu keyakinan hatiku ini.
Akulah yang terbaik untukmu**.
Sepenggal lagu dari Yopie&Nuno yang berjudul Janji Suci, Rey lantunkan dengan penuh penghayatan.
Tepuk tangan meriah menggema dari semua pengunjung cafe, Mona menundukkan kepalany karena malu menjadi pusat perhatian semua orang.
"Untukmu, seperti halnya lirik lagu tadi. Malam ini aku ingin mempersuntingmu jika, kamu menerimanya. Kemarilah! Datang padaku," ucap Rey dengan tatapan penuh harap pada Mona.
Terdengar semua orang menyuruh Mona naik ke atas panggung, Mona hanya diam. Dia harus menentukan pilihannya malam ini antara jalan ke arah Rey, atau tetap di sini.
Pada akhirnya Mona memilih bangkit dari duduknya lalu, berjalan menuju Rey. Rey tersenyum begitu Mona ada di hadapannya.
"Mona, kekasihku. Malam ini disaksikan puluhan mata, aku ingin melamarmu. Maukah kamu menerima lamaranku?" Rey membuka kotak kecil berisikan cincin emas indah.
Mona menatap dalam Rey, ia sudah lama memimpikan momen seperti ini. Hatinya sudah mantap atas keputusannya kali ini.
"Aku bersedia, Kak Rey," ucap Mona.
Rey tersenyum senang, ia segera memakaikan cincin di jari manis kekasihnya.
"Bentar lagi aku belah duren dong!" bisik Rey di telinga Mona pelan hampir tidak ada yang mendengar selain Mona.
...****************...
BERSAMBUNG`~~
Tolong dukung Author dengan cara
Like
Coment
Vote
Rate 5
Author pengen curhat dikit nih, boleh ya? kalau kagak boleh, Author maksalah😝
Sudah hampir semingguan ini viewnya Author turun drastis, Author masih semangat sih buat kalian yang masih setia membaca.
Tapi, terkadang down juga😁 cuman tetap harus bersyukur sekalipun dapat like sedikit yang penting kita ngehalu bersama🙈
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA😍😍😍