
Hari baru, hari di mana kita melukis cerita yang lain dari kemarin. Mewarnai lembaran kertas putih sebelum akhirnya terciptanya sebuah lukisan.
Egi dan Adnan baru sampai di parkiran kampus. Seperti hari sebelumnya, setiap hari para fans Egi berkumpul di suatu titik demi melihat wajah fresh sang dosen.
Egi keluar tanpa melihat mereka. Tatapannya dingin. Namun, tetap berwibawa. Sorakan dari pojok kanan dekat parkiran tak mengusik sedikit pun telinganya.
Berbeda dengan Adnan yang merasa risih. Ia bahkan menggelengkan kepala tatkala segerombolan wanita itu meneriaki nama pamannya.
"Pak Egi ... I love u." Mereka berteriak bersama.
Egi dan Adnan berjalan beriringan menuju gedung kampus. Dua pria berbeda generasi menebarkan pesonanya hampir ke penjuru ruangan.
Bagaikan angin segar. Egi berlalu melewati para wanita yang tengah kepanasan. Mereka berusaha untuk menggapai sang dosen yang sikapnya begitu acuh. Namun, tetap menarik.
"Paman," panggil Adnan.
Egi hanya berdehem untuk menandakan ia mendengar panggilan sang keponakan.
"Cobalah sedikit tersenyum pada mereka? Aku saja kasian melihatnya." Menoleh ke belakang.
"Biarkan saja. Kalau paman terlalu welcome, mereka akan semakin merajalela. Paman hanya ingin menjalani profesi paman dengan tenang," jawab Egi.
"Paman, aku lebih kasihan padamu!" cicit Adnan.
Egi seketika berhenti sejak. Melirik Adnan, lalu berkata, "Apaa yang membuatmu kasihan pada pamanmu?"
"Lihatlah! Usia paman sudah tidak muda lagi. Tapi paman tidak pernah merasakan jatuh cinta," jelas Adnan.
Egi melanjutkan kembali perjalanannya.
"Kamu itu terlalu kecil. Apa kamu pikir kamu mengetahui semua tentang pamanmu ini?" tanya Egi.
"Memang apa yang tidak aku ketahui soal paman? Tentang warna favorit celana dalam paman saja, aku tahu!" sungut Adnan.
"Dasar bocah! Kalau bicara dijaga!" tegur Egi.
Adnan tertawa puas.
"Jadi apa yang tidak aku ketahui soal paman?" tanya Adnan kembali.
Tidak terasa mereka telah sampai di ruangan dosen. Hanya karena percakapan menarik ini. Adnan tidak menyadari, jika ia lupa akan kelasnya dengan dosen killer lainnya.
__ADS_1
"Tidak semua orang tahu tentang masa lalu seseorang. Sekali pun itu keluarga sendiri. Mungkin ada banyak alasan untuk itu, akan tetapi yang perlu kamu ingat. Terkadang seseorang lebih memilih menyimpan sendiri masa lalunya, dari pada berbagi dengan yang lain. Bisa saja ia lakukan demi menjaga hatinya. Karena semakin banyak orang tau, maka semakin besar peluang suatu saat terangkat di masa depan," jelas Egi.
Adnan mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Apa kamu akan tetap di sini bersama paman? bukankah kamu bilang ada kelas lain, selain kelas paman?" lanjut Egi.
"Astagfirullah. Hari ini kelasnya Pak Botak!" teriak Adnan.
"Pelankan suaramu! Apa kamu mau dihukum oleh Pak Dirga, hanya karena mulutmu itu!" tegur Egi.
"Aih, maaf, Paman," cicit Adnan.
"Sudah, sana ke kelas!" usir Egi.
"Kejam banget, ponakan sendiri diusir!" ketus Adnan.
Pemuda itu segera berlari kocar kacir ke arah kelas. Ia tidak ingin hari ini harus dihukum seperti dulu. Pak Dirga memang terkenal kejam. Namun, ia tidak sedingin Egi.
"Apes, punya dosen paman sendiri. Tapi sama ponakan, engga ada toleransinya. Udah kaya mesin giling aja, apa pun di lindes," batin Adnan.
Sementara itu, Egi masuk ke dalam ruangan khusus dosen. Ia disambut hangat oleh teman seprofesinya.
"Selamat pagi, Pak Egi." Wanita cantik menyapanya.
Egi meletakkan tasnya, lalu segera mengecek lembaran kertas hasil dari pada muridnya. Sedangkan wanita yang bernama Nindy masih saja setia dihadapannya.
"Pak Egi hari ini sibuk tidak?" tanya Nindy.
"Tidak juga," jawab Egi.
"Apa Pak Egi mau makan siang dengan saya?" ajak Nindy.
"Tidak juga." Mata Egi masih pokus menatap lembaran kertas.
Nindy menghela napas kasar. Baginya penolakan Egi ini sudah tidak bisa terhitung oleh jari. Beribu cara sudah ia tempuh, demi ingin merasakan makan siang berdua saja dengan Egi. Namun, hasilnya tetap nihil.
"Saya sedang sibuk. Kalau Bu Nindy tidak keberatan. Bisakah Ibu tidak mengganggu saya dulu!" sambung Egi.
"Ah ... baiklah. Maaf, karena sudah mengganggu." Berjalan menjauh dengan hati yang sedikit kesal.
Meski begitu, ia tidak pernah sedikit pun menyerah tentang Egi. Justru Nindy merasa tertantang dengan dingin dan cueknya sikap Egi.
__ADS_1
๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Waktu berlalu begitu cepat, tepat pukul sepuluh pagi. Egi berjalan mendekati sebuah ruangan kelas. Hampir setiap kelasnya, hampir seluruh penghuninya adalah para gadis.
Mereka sengaja berlomba-lomba duduk di depan, hanya untuk bisa menikmati pemandangan langka ini. Bahkan ada beberapa dari mereka yang berdandan cantik, demi memikit hati sang dosen.
Egi melangkah masuk ke dalam kelas yang mendadak hening begitu kehadirannya. Setiap mata menatapnya seakan lapar.
Egi yang cuek dan tidak peduli itu segera membuka kelasnya hari ini. Ia tidak segan-segan memberi hukuman bagi siapa pun yang telat datang ke kelasnya.
"Baiklah. Mari kita mulai kelas hari ini," kata Egi.
Dianataea mereka ada yang menjawab. Namun, ada juga yang masih terpana akan ketampanan sang Dosen.
Egi memulai pelajaran hari ini. Ia sibuk menulis di papan tulis. Tidak di duga Zahra baru saja sampai di depan kelas. Seperti biasa ia berjalan mengendap-endap seperti pencuri.
Jari manis tangan kananya menyentuh bibir merah muda itu. Ia mengisyaratkan teman kelasnya agar tidak berisik akan kedatangannya.
Zahra sampai di salah satu bangku. Ia hendak duduk. Namun, suara keras milik Egi menghentikannya.
"Kamu yang baru saja masuk ke dalam kelas saya. Harap keluar sekarang juga!" Masih setia menulis di papan tulis.
Sontak perkataan itu membuat Zahra panik. Ia sudah berusaha berjalan sepelan mungkin. Tapi kenapa mahluk es ini masih saja mengetahuinya.
Egi membalikkan badan, lalu menatap Zahra dengan tatapan tanpa arti. Egi berkata, "Silakan keluar! Saya tidak memberi toleransi bagi siapa pun yang telat saat kelas saya berlangsung."
"Maaf, Pak. Saya telat 'kan hanya dua menit saja, bukan setengah jam," jawab Zahra.
Egi melangkah mendekati Zahra. Matanya tetap pokus pada wajah gadis yang tentu ia mengenalnya dengan baik.
Gadis yang selalu berisik setiap kali datang berkunjung ke rumahnya. Terkadang Egi merasa sedikit terganggu saat gadis ini, dan kedua temannya yang kembar datang ke rumah.
Pasalnya mereka selalu saja membuat kegaduhan dengan tingkah laku konyol mereka. Mereka terkadang sering menginap, karena Lisa sering memperbolehkannya. Apa lagi Zahra ini adalah anak dari sahabatnya. Lisa sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Egi semakin mendekat, jarak antara Egi dan Zahra hanya sekitar satu meter. Egi berkata, "Saya tidak peduli berapa menit kamu telat. Yang saya tahu, saat pelajaran dimulai saya tidak ingin menerima siswa yang tidak displin akan waktu."
...****************...
BERSAMBUNG
Maaf, banyak yang bertanya kenapa Adnan hanya anak tunggal. Author minta maaf, karena semakin banyak tokoh. Akan semakin sulit bagiku untuk memberi meraka adegan.๐ค
__ADS_1
Meski begitu, aku sangat berterima kasih. Karena kalian masih setia membaca sampai saat ini. Aku harap kalian menikmati cerita yang aku sajikan ini๐