
Dion berpamitan pulang setelah hatinya terasa tertampar. Pak Adrian memandang lekat kepergian lelaki muda itu. Ia berharap hati lelaki itu melunak setelah pembicaraan mereka tadi.
"Pa," panggil Rendy.
Pak Adrian menoleh ke arah anaknya, lalu berkata, "Iya, Boy?"
"Sebaiknya Papa pulang. Papa harus istirahat! Terima kasih sudah menemani Lisa selama Rendy tidak ada," ucap Rendy.
"Baiklah! Jangan sungkan, Lisa sudah Papa anggap anak perempuan sendiri. Kalau begitu Papa pamit, ya!" pamit Pak Adrian.
"Iya. Hati-hati di jalan," pesan Rendy.
Pak Adrian mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan ruangan. Rendy bergegas membersihkan diri di kamar mandi, lalu melakukan sholat magrib.
Dalam setiap sholatnya, tidak lupa ada untaiam doa terbaik untuk kesembuhan istrinya. Ia tidak ingin berputus asa dan terus berusaha semampunya.
Selesai sholat, Rendy mendekati Lisa. Dibelainya pipi manis yang sudah terlihat cubby karena usia kehamilan Lisa yang semakin membesar.
"Aku harap kamu segera sadar, Sayang! Aku ingin menemanimu melahirkan nanti," bisik Rendy.
Selang sepuluh menit, matanya mulai mengantuk. Ia mulai memejamkan mata dan bersiap berkelana di alam bawah sadar.
💮💮💮💮💮
Sementara itu, pesta pernikahaan Rey dan Mona semakin ramai. Banyak kerabat, teman dan rekan bisnis dari Rey yang turut hadir memberi ucapan selamat.
Mona terlihat sedikit kelelahan. Seharian ini tenaganya terkuras habis. Ia sangat merindukan kasur sempit. Namun, mampu membuatnya nyaman.
"Sayang, apa kamu lelah?" tanya Rey.
"Iya, Kak," jawab Mona.
"Kok, masih panggil Kakak sih!" ketus Rey.
"Terus aku harus panggil apa? Masa aku panggil Abang atau Kakek?" Mona tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
Rey mencubit pelan hidung istrinya, lalu berkata, "Kamu gemesin banget, sih! Aku jadi engga sabar pengen cepet-cepet ke kamar."
"Aku juga," sela Mona.
"Serius!" seru Rey dengan mata berbinar-binar. Badannya yang lelah langsung terisi batrai kembali.
"Serius banget malah, Kak!" tegas Mona.
"Emang kamu udah siap? nanti jangan nangis kesakitan, ya!" bisik Rey pelan.
__ADS_1
"Siap ngapain, Kak?" tanya Mona. "Orang mau tidur, kok malah siap-siap. Emang kita mau pertandingan bola."
"Tidur!" pekik Rey.
"Iya, emang ke kamar mau ngapain lagi kalau bukan tidur! Kalau mau ngopi, ya di dapur jangan di kamar," jelas Mona.
Rey menepuk keningnya. Ia salah mengartikam soal ucapan istrinya. Ia pikir Mona ingin cepat-cepat ke kamar, karena menantikan malam pertama mereka.
"Gusti, sing sabar, Tong! Mungkin dia butuh bimbingan," batin Rey.
Selang dua menit, Dika, Egi dan Dira naik ke pelaminan. Mereka hendak berpamitan pada kedua mempelai.
"Kak Mona, sekali lagi selamat, ya!" ucap Dira memeluk Mona seperti seorang adik pada Kakaknya.
"Makasih, Dir! Kamu cepet nyusul, ya," jawab Mona.
"Iya, Dir. Kelamaan sendiri nanti Lo jadi perawan tua mau?" timpal Rey.
"Kak Rey!" kesal Dira. Matanya tajam memandang Rey yang puas mengolok-olok dirinya.
"Hahaha. Ampun, Bang jago," jawab Rey.
"Lo bercanda kebangetan, Rey! Kasian Dira tahu," bela Dika.
"Cielah, ada yang belain nih," ledek Rey. " Eh, Dik. Lo juga jangan kelamaan pacaran sama jarum suntik mulu, jadinya kagak nikah-nikah."
"Jangan dong, Dik! Gue baru aja nikah, masa belum kawin udah melayang," protes Rey.
Mona yang jengah dengan suaminya segera mencubit pelan pinggang Rey.
"Apaan sih, Sayang! Sabar napa, tamu undangan masih banyak. Bikin dede bayinya nanti kalau udah malam." Rey sedikit meringis kesakitan.
"Ada bocah cilik, Bambang! Ngomong disaring, napa!" sungut Dika.
"Iya, nih Kak Rey mah ceplas ceplos mulu. Telingaku ternodai," timpal Dira.
Egi yang berada diantara ke empat manusia dewasa ini, hanya bengong menyimak obrolan mereka. Ia anak yang tidak ingin tahu dan tidak mau ambil pusing. Toh, suatu saat ia pun akan tubuh dewasa seperti mereka. Mungkin nanti ia juga akan melakukan kekonyolan yang sama.
Setelah acara berpamitan selesai. Dira, Dika dan Egi bergegas keluar gedung. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka. Tidak terkecuali untuk Egi, bocah lelaki yang sedari pagi ikut hadir di pernikahaan Rey dan Mona. Ia bahkan langsung memejamkan mata begitu duduk di kursi mobil. Rasa lelah bercampur kantuk, membuat bocah itu memilih menikmati perjalanan kali ini dengan tertidur.
Dika dan Dira yang duduk di bangku depan, hanya menggelengkan kepala melihat Egi sudah terlelap ke alam mimpi. Anak lelaki yang bagi Dika seperti jelmaan dirinya sewaktu kecil itu, terlihat sangat kelelahan.
"Dia pasti capek," kata Dira.
"Iya, kasian. Biarkan saja dia tidur, nanti kalau sudah sampai kita bangunkan." Dika pokus pada arah jalan.
__ADS_1
Suasana malam terasa ramai. Mungkin karena malam minggu, banyak sekali orang keluar untuk menghabiskan malam. Sepanjang jalan, banyak cafe atau tempat tongkorangan yang penuh sesak oleh para pemuda pemudi.
Mereka duduk santai, tertawa bersama menikmati kebersamaan. Setelah enam hari melewati hari penuh kemumetan dengan perkejaan dan sebagainya. Bisa jadi, malam ini adalah malam mereka meluapkan rasa jenuh dan lelah.
Mobil Dika berhenti karena macet. Tepat di samping mobilnya terlihat sepasang manusia berbeda jenis tengah duduk tenang di atas kendaraan beroda dua. Mereka terlihat mesra, sesekali tangan lelaki itu mengelus lembut tangan wanitanya yang setia memeluk dari belakang.
Dika melirik sekilas pada Dira yang juga ikut melihat pemandangan itu. Ia tersenyum kecil memandangi pemilik wajah imut nan manis ini.
"Dir," ujar Dika.
"Iya, Kak." Mempokuskan kembali pandangannya ke arah depan.
"Kamu tidak ingin seperti mereka?" tanya Dika.
"maksudnya?" tanya Dira balik.
"Lihatlah! Mereka sangat bahagia, meski hanya mengendarai motor biasa. Bahkan si wanita terlihat sangat senang," tunjuk Dika pada objeknya tadi.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Dira kembali.
Sejujurnya hati Dira sedikit iri. Tidak bisa dipungkiri usianya sudah bertambah dewasa. Ia pun ingin merasakan bagaimana indahnya memadu kasih, akan tetapi bukan melalui pacaran. Melainkan ia ingin berbagi kasih dengan pasangan halalnya.
"Apa kamu tidak ingin seperti mereka, Dek? tanya Dika.
"Ya, pasti mau dong, Kak!" jawab Dira.
"Kalau mau, kenapa kamu masih saja mengulur waktu untukku? aku sangat menantikan dirimu, Dek!" beber Dika.
Dira memutar kepalanya menghadap ke arah Dokter tampan ini. Sorot matanya memancarkan kebimbangan. Ia ragu untuk memulai. Namun, ia pun ingin merasakan juga.
"Maaf, Dek bukan maksudku memaksamu," sesal Dika.
"Engga apa-apa kok, Kak! Aku mengerti, hanya saja aku sedikit takut untuk memulai suatu hubungan. Aku merasa kalau aku ini engga pantes bersanding sama Kak Dika yang hebat " tutur Dira.
Dika menatap lembut mata gadis di hadapannya. Tanpa sadar ia menarik tubuh Dira masuk ke dalam pelukannya, lalu berkata, "Aku bukan orang hebat, Dek! Justru kamulah wanita yang sangat berharga, sehingga membuatku ingin memiliki dan menjagamu sampai akhir hayatku. Hiduplah bersamaku, aku ingin menulis berbagai cerita denganmu."
...****************...
BERSAMBUNG~~
Jangan lupa like, coment dan vote.
Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca. Maaf, karena saya tidak bisa membalas satu per satu komen kalian.
Saya harap bisa memberikan ending cerita yang menyenangkan🤗
__ADS_1
Terima kasih juga untuk doa bagi Ananda putra kami. Alhamdulilah sudah sedikit membaik. Namun, saya tetap masih pokus pada penyembuhannya. Meski begitu, saya akan tetap memulai menulis kembali.