Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
70


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, tapi Rendy belum juga datang menjemput. Lisa sudah berusaha menghubungi, akan tetapi nomer ponsel suaminya sedang tidak aktif.


Lisa bingung apa harus menunggu disini, atau pulang sendiri dengan taksi. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja karena hari juga sudah mendekati waktu magrib.


Selesai menutup dan mengunci toko, Lisa segera melangkahkan kakinya ke pinggir jalan untuk menunggu taksi.


Hampir sepuluh menit menunggu tak ada satu pun taksi yang kosong, semua yang lewat berisi penumpang. Lisa merogoh tasnya mengambil ponsel, akan tetapi benda pipih itu mati kehabisan batre.


"Yah, padahal aku berniat menelpon Mang Asep saja," ujar Lisa. " udah mau magrib juga ini."


Selang beberapa menit sebuah mobil berwarna hitam menghampirinya. Lisa menebak-nebak siapakah orang di dalam mobil tersebut. Alangkah kaget Lisa begitu Dion turun dari mobil yang terparkir jelas di depan matanya.


Dion melangkah mendekati Lisa yang tengah berdiri, ia memperlihatkan senyum ramahnya seperti biasa.


"Assalamualaikum, Lisa." lelaki itu menyapa Lisa begitu berdiri tepat di hadapan Lisa.


"Waalaikumsalam, Pak Dion," jawab Lisa tersenyum.


"Apa kabar?" sapa Dion.


"Alhamdulilah baik, Pak. Gimana kabar Pak Dion juga? tanya Lisa.


"Alhamdulilah, saya juga baik." lelaki itu tidak berhenti terus menatap Lisa. " Apa kamu mau pulang?" lanjut Dion.


"Iya, Pak," sahut Lisa.


"Ayo, saya antar," tawar Dion.


"Tidak usah, Pak. Aku nunggu taksi aja," tolak Lisa.


Lisa sedikit risih dengan kehadiran Dion, karena tatapan Dion yang seakan tidak lepas darinya. Lisa berharap ada taksi lewat yang kosong, dia ingin segera keluar dari situasi ini.


"Lis, sekarang kamu berbeda," ujar Dion. " saya dulu dengan bebas bisa bersama bahkan mengobrol santai denganmu, tapi sekarang diantara kita seakan memiliki benteng yang tingi."


Lisa menghela nafas lalu berkata, "Dulu mungkin saya bisa santai berbicara dengan Pak Dion, karena status saya masih belum terikat pernikahan dengan siapa pun," sahut Lisa.

__ADS_1


"Ya, saya akui. Saya memang telat, kenapa saya tidak duluan melamarmu waktu itu. Mungkin sekarang kamu sudah menjadi istri sah saya bukan Pak Rendy," akunya.


Lisa sendiri tidak menyangka, jika takdir allah menuntunnya untuk bersama suaminya. Rendy yang memang berbeda jauh dengannya, bukan hanya dari segi umur namun juga status sosial mereka yang bagaikan majikan dan pembantu.


Siapa yang tahu akan jalan hidup seseorang, bahkan kita sendiripun tidak akan tahu apa yang terjadi di hari esok. Begitulah takdir Ilahi penuh misteri dan pastinya yang terbaik.


"Semua sudah menjadi garisan takdir, Pak. Kita tidak bisa melawan takdir sekalipun itu menyakitkan," cicit Lisa.


Dion nampak terdiam mendengar ucapan Lisa, rasa cintanya tak bisa hilang begitu saja. Sosok Lisa yang bukan hanya cantik, tapi juga sangat ramah dan baik membuat Dion terpikat begitu dalam.


Dari kejauhan sebuah mobil sport berwarna silver melaju menuju ke arah mereka. Pengemudi mobil itu menatap tajam pada kedua manusia yang sedang asyik berbicara. Rahangnya mengeras, hatinya berkecambuk, hari ini sudah dua kali dia merasa sangat emosi.


Rendy, pemilik mobil itu segera keluar begitu memberhentikan mobilnya tidak jauh dari mobil Dion. Dia berjalan cepat ingin segera menarik wanita kesayangannya jauh dari lelaki itu.


Dengan sekali tarikan tubuh Lisa sudah berada di sampingnya. Lisa kaget karena secara tiba-tiba tangannya di tarik.


"Mas." panggil Lisa.


Dion menatap ke arah lelaki yang menjadi bosnya di kantor, dia kaget melihat kehadiran Rendy yang mendadak ditengah-tengah pembicaraan mereka.


Dion sedikit mengepalkan tangannya, dia merasa tidak rela melihat Rendy menyebut Lisa istrinya, meskipun pada kenyataannya memang seperti itu.


"Maaf Pak, saya tidak bermaksud menemui istri anda. Saya hanya lewat lalu melihat istri anda tengah berdiri di pinggir jalan," beber Dion.


Rendy menatap penuh pada Dion, dia sama sekali tidak mempercayai sedikit pun ucapan lelaki yang berusaha masuk ke dalam rumah tangganya ini.


"Kalau begitu, silahkan anda pergi dan lanjutkan kembali perjalanan anda. Lisa sudah saya jemput!" tegas Rendy.


"Baiklah, Pak. Saya permisi kalau begitu," ucap Dion. " oh ya, Pak. saya harap Lisa selalu bahagia dengan anda, jika tidak jangan salahkan saya mengambil Lisa dari anda."


Dion membalikkan badannya lalu masuk mobil dan segera pergi. Hati Rendy sangat marah dengan ucapan Dion barusan. Apa Dion meragukan kebahagian yang Rendy berikan untuk Lisa? ini sudah keterlaluan untuk Rendy.


Lisa menundukan kepalanya, dia tahu suaminya saat ini tidak sedang baik-baik saja. Dia ingin menjelaskannya pada Rendy tentang kejadian barusan.


"Mas, sebe ....,"

__ADS_1


"Ayo, pulang!" potong Rendy terdengar marah.


"Iya, Mas ...," lirih Lisa.


Mereka berdua segera menuju mobil dan segera masuk. Rendy yang masih di kuasi amarah langsung menancap gas begitu saja.


Hari ini Rendy benar-benar marah, soal Dira yang makan bersama orang yang dia sangat benci. Lalu sekarang istrinya juga membuat dia marah, karena ketahuan mengobrol diam-diam dengan lelaki yang jelas-jelas mengibarkan bendera perang pada Rendy.


Selama perjalanan Lisa tidak berani mengatakan apa-apa, dia hanya bisa diam. Lisa takut melihat Rendy yang saat ini, bahkan muka Rendy terlihat tak bersahabat.


Setibanya di halaman rumah, Rendy keluar begitu saja tanpa mengajak istrinya. Dia sedang tidak ingin berbicara atau pun berinteraksi dengan siapapun.


Lisa segera mengikuti suaminya keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Satu per satu Lisa menaiki anak tangga, langkah kakinya tidak cukup mengimbangi cepatnya jalan Rendy.


Sampai di dalam kamar, Rendy diam begitu saja memandang ke arah luar dari jendela. Pikirannya kacau apalagi setelah mendengar ucapan Dion tadi.


"Mas." wanita itu memberanikan diri memeluk punggung suaminya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud yang lain. Saat itu aku memang sedang menunggu taksi, karena aku pikir Mas tidak menjemputku," ucap Lisa.


Amarah Rendy sedikit mereda dengan pelukan hangat istrinya, entah kenapa dia selalu tidak bisa menolak kehangatan yang Lisa berikan.


"Maaf, aku bukan marah padamu. Hanya saja aku tidak suka lelaki itu mendekatimu terus, padahal jelas dia sudah tau kalau kamu istriku!" kesal Rendy.


Lisa tersenyum seraya berkata, " Mas, aku berjanji kalau aku akan menjaga diriku dari lelaki di luar sana."


Rendy melepas pelukan istrinya, lalu berbalik menghadap Lisa. Dia bersyukur memiliki istri yang bisa menjaga kehormatannya dirinya.


"Aku percaya padamu. Aku harap kamu terus jujur seperti ini, sayang." lelaki itu memeluk Lisa dengan erat.


"Aku mencintaimu," ucap Rendy. " jangan tinggalkan aku."


Lisa tersenyum, dia bersyukur memiliki suami yang sangat mencintainya. Lisa berkata, " Aku juga mencintai, Mas."


...****************...


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


Selamat membaca🤗🤗


__ADS_2