
Jika kamu melepas sesuatu karena Allah. Percayalah saat itu Allah tengah mempersiapkan sebuah kejutan manis di hidupmu. Berusahalah semampunya, biarkan Allah yang menentukan hasil dari kerja kerasmu
🌹🌹🌹🌹CietyAmeyzha🌹🌹🌹🌹
Suara Adzan menggema di seluruh penjuru kota. Waktu salat maghrib telah tiba. Egi baru saja merebahkan punggung sebentar di atas ranjang empuk miliknya.
Dengan cepat ia bergegas ke kamar mandi. Mengambil air wudhu, lalu pergi ke mushola rumah.
Di sana sudah terlihat Adnan, Lisa, Mang Asep, dan Bi Inah. Egi sempat bertanya pada Lisa di mana Kakak iparnya itu. Lisa menjawab lembut. "Kakakmu masih sakit. Nanti setelah sholat isya, temui Kakakmu di kamar."
Egi mengangguk, lalu segera mengambil alih posisi imam yang biasanya dipimpin Rendy. Dengan suara lantang ia mengumandangkan takbir. Memulai sholat berjamaah penuh kekhusyuan.
Langit yang cerah telah berubah gelap. Hanya bintang dan cahaya sinar rembulan yang menerangi. Jutaaan muslim tengah bersimpuh di hadapan sang Ilahi Rabbi dalam satu waktu. Di berbagai kota, bahkan di setiap belahan dunia.
Sholat selesai. Setiap orang mulai kembali ke kamar. Hanya tinggal Egi yang masih setia melantunkan ayat suci Al-quran penuh khidmat. Suaranya merdu dan teratur, membuat siapa saja akan betah berlama-lama mendengarkan.
Adnan kembali menghampiri Egi. Duduk disampingnya sambil menunduk menikmati lantunan ayat suci.
Egi melirik sekilas. Memperhatikan raut wajah keponakannya seperti tengah memendam sesuatu. Egi mengakhiri tilawahnya dengan membaca Sdaqallahhul 'Adzim.
Egi menutup Al-quran, lalu berkata, "Bicaralah! Paman tahu kamu memendam sesuatu."
"Aku ingin mengembalikan nama baik Rina!"
Egi menyimpan Al-quran kembali. Membuka sarung yang ia pakai untuk sholat. Kini lelaki itu hanya memakai baju oblong dengan celana training.
"Apa kamu mulai menyukai gadis itu?"
"Tidak! Aku hanya membenci lelaki brengsek seperti Dirga."
Egi mengerutkan kening mendengar nama yang sedikit asing. Ia bertanya pada Adnan siapa Dirga? lalu apa hubungannya Dirga dengan kasus Rina.
"Dia seniorku di kampus. Teman satu kampungnya Rina. Lelaki brengsek yang sudah menjual Rina pada temannya."
"Menjual?" Nada bicara Egi sedikit kaget. "Bukannya dia melakukan atas dasar suka sama suka?"
Adnan menggelengkan kepala, lalu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu, Egi menyimak dengan seksama. Ia harus tahu masalah apa yang tengah melanda mahasiswinya. Meski, sekarang sudah berstatus mantan mahasiswi.
"Apa paman bisa membantuku?"
Egi berpikir sejenak. Mencoba mencerna secara perlahan penjelasan Adnan.
"Biar lelaki itu mendapatkan hukuman yang setimpal," sambung Adnan.
"Baiklah. Paman akan usahakan."
__ADS_1
Adnan beranjak dari tempat duduk. Melangkah tiga langkah, lalu berhenti.
"Apa Paman sudah tahu soal perjodohan Zahra?"
Egi menganggguk. Mana mungkin dia tidak tahu. Kakak wanitanya sendiri yang sengaja membahasnya dengan dia.
"Cepatlah bertindak, atau aku akan maju kembali."
"Kenapa? bukankah kamu menyukainya?"
Adnan terdiam sebentar. Hatinya mulai bergetar tatkala mengingat kembali perasaannya pada Zahra. Sejujurnya, ia masih menyimpan rasa. Namun, ia tidak bisa memaksa.
"Aku lelah, Paman. Tolong bilang pada Bunda, kalau aku akan makan malam nanti saja sendiri."
Adnan mengayunkan langkah keluar mushola. Meninggalkan Egi yang masih setia memperhatikannya.
Waktu terus berjalan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Usai makan malam dan sholat isya. Egi menepati janjinya pada Lisa. Ia membawa dirinya menemui Rendy.
Sesampainya di kamar utama. Egi mengetuk pintu dua kali. Setelah mendapatkan izin, ia segera membuka pintu dan masuk.
Rendy mengurai senyum. Wajahnya sedikit pucat. Egi duduk tepat di samping Kakak iparnya. Mulai menanyakan kabar kesehatan Rendy saat ini.
"Kakak hanya kecapean," jawab Rendy.
Rendy bangun, lalu menyenderkan punggung di ujung ranjang. Ia mulai berbicara soal permintaannya pada Egi.
"Kakak tahu kamu bisa. Setidaknya bantu Kakak sampai Adnan dewasa."
"Tapi, aku mencintai profesiku."
"Kakak sudah menduga, pasti kamu akan menolak."
Terlihat raut wajah Rendy berubah sedikit kecewa dan sedih. Ia tidak bisa memaksa Adik iparnya. Bagaimanapun Egi memiliki kehidupan tersendiri.
"Baiklah! Aku akan melakukannya."
Satu ucapan dari Egi bisa mengobati kesedihan dalam hati Rendy. Ia menepuh bahu Egi sambil berkata, "Terima kasih, Egi. Dua hari lagi Kakak ada pertemuan penting di luar kota. Kamu ke sana menggantikan Kakak bersama Om Rey."
Egi mengangguk. Ia menyetujui, dan akan segera mengurus surat cuti sementara di kampus tempatnya bekerja. Ada sedikit rasa tidak rela. Namun, ia yakin ini tidak akan lama.
Malam itu, Rendy dan Egi menghabiskan waktu dengan saling mengobrol. Lisa yang hendak masuk kamar langsung mengurungkan niatnya, karena tidak ingin mengganggu keduanya.
🏵🏵🏵🏵🏵🏵
Dua hari berlalu, Egi menepati janjinya pada Rendy. Hari ini ia akan berangkat ke kota "Y" dengan Rey. Semua persiapan sudah selesai.
__ADS_1
Setelah sarapan dan mengemas barang. Egi turun membawa koper kecil berisi beberapa potong baju dan kebutuhannya. Cukup lama ia ke sana, sekitar semingguan. Tentu, Egi harus menyiapkan matang-matang.
Lisa dan Rendy mengantarkan Egi sampai ke mobil. Rey sudah siap menunggunya di dalam mobil. Egi berjalan diiringi Kakaknya. Lisa menatap Egi lembut. "Hati-hati, Dek. Jangan lupa sholat dan jaga kesehatanmu."
Egi mengangguk pelan. Pamit, lalu mencium satu per satu punggung tangan kedua Kakaknya.
"Egi pamit. Assalamualaikum," pamit Egi.
"Waalaikumsalam." Jawab Lisa dan Rendy serentak.
Egi bergegas masuk ke dalam mobil, kemudian Rey segera menjalankan kendaraanya. Mobil membawa Egi dan Rey pergi ke satu kota. Tempat di mana Rendy tengah membangun anak perusahaan baru.
Sementara itu, di waktu yang sama. Namun, beda tempat. Mona dan Zahra baru saja selesai sarapan. Rey sudah pamit lebih dahulu, karena harus keluar kota.
Zahra hendak berdiri. Namun, Mona mencegahnya. Ia mengatakan, bahwa keluarga Ardi akan datang dua hari lagi untuk memastikan keputusan Zahra tentang pinangannya.
Zahra tersentak. Ia lupa memiliki janji pada lelaki itu. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sebentar lagi ia akan memutuskan langkah awal untuk masa depannya.
Mona menghampiri Zahra. Memeluk hangat tubuh yang dulu mungil dan kecil. "Apa pun keputusanmu, kami akan menerimanya. Kamu boleh menolak pinangan Ardi. Mama akan tetap mendukung setiap keputusan yang kamu buat."
Mata Zahra terpejam. Menikmati hangatnya dekapan sang Mama. Rasanya seluruh tubuh Zahra tersengat listrik. Ia bergetar mendengar ucapan Ibunya.
"Terima kasih, karena Mama selalu menghormati apa pun keputusan Zahra. Insya Allah, aku akan segera memberikan jawabanku pada Mas Ardi lusa."
"Syukurlah. Mama akan terus berada di sampingmu. Baik saat kamu bahagia, ataupun terluka. Datanglah pada Mama, kasih sayang Mama tidak terbatas waktu. Meski, kamu sudah berstatus seorang istri nanti." Mona semakin erat memeluk buah hatinya.
...****************...
BERSAMBUNG~~
ASSALAMUALAIKUM.
Apa kabar, Teman. Terima kasih, karena sudah membaca sampai sejauh ini🤗
Kali ini aku datang membawa sebuah berita. Dikarenakan, Egi ini sedang tahap ke konflik besar, lalu tahap penyelesaan, kemudian ending.
Aku ingin memperkenalkan cerita yang akan menjadi pengganti Egi nantinya. Aku tidak tahu kalian suka atau tidak. Insya Allah, besok sudah aku up di Noveltoon.
Seperti biasa, aku hanya bisa menyajikan cerita sederhana. Kalian boleh memilih untuk membaca, atau tidak. Yang jelas aku menyayangi kalian🤗
Salam hangat dari Author.
CietyAmeyzha.
__ADS_1