Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
105


__ADS_3

Seperti halnya perang yang harus menggunakan senjata. Doa di ibaratkan sebagai senjata seorang muslim. Ia bagai panah yang meluncur ke udara menembus dinding langit.


Doa tulus seorang suami, di sela-sela kesakitan yang di derita Lisa. Membuahkan hasil manis yang mampu meruntuhkan segala rasa cemas Rendy.


Seketika kata Alhamdulilah, terucap jelas dari bibir manis seorang laki-laki bertubuh tegap. Ia patut bersyukur, Allah masih menjaga istri dan anaknya. Sekaligus memberinya kesempatan untuk menjaga apa yang sudah dititipkan pada dirinya.


"Untuk sekarang, biarkan pasien istirahat dulu! Saya sudah memberinya obat perada rasa sakit," ungkap Dokter wanita itu.


"Baiklah. Terimakasih Dokter Gita," sela Dika.


Rendy hanya mengangguk. Ia seret tubuhnya masuk ke dalam ruangan bersama Dika. Nampak Lisa tengah tidur dengan selang infus menancap di tangan kanannya.


Rendy duduk di kursi tepat di samping istrinya. Wajah itu cantik, bahkan sangat cantik. Wajah yang selalu menunduk malu, tatkala Rendy menggodanya.


"Sayang, Maafkan aku. Aku hampir membuat anak kita pergi. Maafkan aku, seandainya aku tidak mengajakmu ke panti asuhan hari ini. Kamu tidak akan mengalami semua ini," ujar Rendy.


Rendy menggenggam erat tangan milik istrinya, lalu menciumnya sekilas. Rendy berkata, " Tidurlah! Semua sudah berakhir, kamu pasti lelah hari ini."


Dika menepuk bahu sahabatnya, lalu berkata, "Gue keluar dulu. Masih ada banyak pasien yang harus gue tangani."


Rendy memberi jawaban dengan anggukan. Tenaganya sudah habis untuk sekadar mengeluarkan kata-kata.


"Gue hubungi Om Adrian dulu. Beliau dan Egi haru tahu kondisi Lisa." Dika mengambil ponsel untuk menghubungi Orang tua Rendy.


Dika berjalan keluar dari ruangan dengan Rendy yang masih setia menggenggam erat tangan istrinya. Perlahan rasa kantuk mulai menyerang dirinya. Tidak terasa ia tertidur dengan kepala bertelengkup di ranjang rumah sakit.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Sementara itu, Rey yang baru saja pulang mengantar Mona. Sempat kaget ketika Dika memberinya kabar buruk tentang Lisa.


Rey yang tadinya berniat pulang, untuk sekadar bermanja-manja dengan kasur empuk miliknya, memilih berbelok ke arah rumah sakit. Dia dan Rendy bukan hanya sahabat, tapi sudah seperti saudara kandung.


Rey akan bersedih, jika sesuatu terjadi pada Rendy dan orang di sekitarnya. Ia baru sampai di pelataran rumah sakit, dengan langkap cepat Rey langsung menuju lift.


Sebelumnya Dika sudah memberitahu, kamar berapa istri sahabatnya itu dirawat. Langkah kaki Rey terhenti, tatkala suara tamparan terdengar jelas di telinganya.


"Apa kamu tidak menggubris nasihat Papa, Boy!" teriak Pak Adrian. " kenapa kamu bisa seceroboh ini?"


Rendy hanya menunduk. Dia mengakui belum sepenuhnya menjaga istrinya.

__ADS_1


"Kamu patut bersyukur... tidak terjadi apa-apa dengan Lisa dan calon anaknya," lanjut Pak Adrian.


Untung pertama kali dalam hidupnya. Rey menyaksikan Pak Adrian menampar Rendy. Ini mungkin sedikit terlihat kasar, akan tetapi Rey paham akan posisi Lisa yang sudah dianggap anak oleh Pak Adrian. Ini hanyalah bentuk rasa sayang ayah, untuk mengingatkan anaknya tentang pentingnya seorang istri bagi suami.


"Maaf," cicit Rendy.


Pak Adrian menatap lekat anak laki-lakinya. Tak berapa lama, ia merangkul Rendy dengan penuh kasih sayang.


"Nak, maafkan Papa karena telah menamparmu," sesal Pak Adrian." Papa hanya takut terjadi sesuatu dengan Lisa, yang akan membuatmu menyesal kembali seperti dulu."


Tangis Rendy pecah dipelukan sang Papa. Ia bagai anak kecil yang tengah mengadu, karena dijaili anak lainnya. Rendy berkata, " Maaf, maaf! Seandainya Rendy tahu akan mengalami kejadian seperti ini, Rendy tidak akan mengajak Lisa ke panti asuhan."


Kedekatan orang tua dan anak ini, sanggup menggetarkan hati Rey yang tidak sengaja menyaksikannya. Ia iri, sungguh hatinya sangat iri saat ini.


Seandainya Rey diposisi sahabatnya kali ini. Akankah Papanya berlari dan memeluknya seperti itu? bisakah Rey menangis mengadu dipelukan Papanya seperti yang dilakukan Rendy saat ini.


Rey melangkah perlahan mendekati dua orang manusia yang tengah berpelukan.


"Ren," panggil Rey.


Rendy melepaskan pelukannya, ia menengok ke arah Rey. Hatinya bertanya mengapa laki-laki kocak ini ada di sini? bukankah Dika hanya memberitahu Papanya saja.


Rendy mengerti. Ia beruntung memiliki Rey dan Dika. Dua laki-laki itu selalu setia bersamanya. Bahkan mereka saling bahu membahu untuk menghibur Rendy ketika Kayla pergi selama-lamanya.


"Gimana keadaan Lisa, Ren? apa dia baik-baik aja? apa tjdak terjadi sesuatu pada anak yang dikandungnya?" brondong Rey.


Pak Adrian sedikit menyunggingkan senyuman. Ia baru tahu, jika Rey secemas itu pada istri sahabatnya. Pak Adrian membayangakan, wanita beruntung mana yang akan menjadi pendamping laki-laki ini.


"Alhamdulilah. Dokter bilang semua baik-baik saja," jawab Rendy.


"Alhamdulilah... Gue udah cemas dari tadi,"


"Apalagi gue, Rey. Gue yang ngalamin kejadian ini langsung, serasa remuk semua tulang gue,"


"Yah, gue paham," ucap Rey. " Gue boleh jenguk Lisa?"


Rendy mengangguk pertanda mengizinkan laki-laki itu masuk. Akhirnya Rey, Rendy, Pak Adrian dan Egi masuk ke dalam ruangan.


Lisa masih belum tersadar. Obat bius yang di suntikan oleh dokter, membuatnya terlelap tidur. Dokter sengaja melakukan itu, bertujuan agar Lisa bisa mengistirahatkan badannya demi proses pemulihan.

__ADS_1


"Dia belum bangun?" tanya Pak Adrian.


"Belum, Pa," sahut Rendy. " Dokter bilang, biarkan Lisa istirahat dulu."


Egi duduk di samping kakaknya. Wanita tangguh yang telah banyak berkorban demi dirinya.


"Kak, Egi takut! ujar Egi, " takut, jika Kak Lisa juga akan meninggalkan Egi sendirian di dunia ini."


Dengan lembut anak itu mengelus tangan Kakak perempuannya. Ia sudah kehilangan kedua orang tuanya, ia berharap Allah membiarkan dia menikmati sisa umur bersama Lisa.


"Kak, Jangan pernah tinggalkan Egi. Berjanjilah, Kak Lisa akan terus sehat dan tersenyum untuk menemani Egi," lanjut Egi.


Rendy mendekati Egi, mengelus pucuk kepala anak yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung sendiri. Rendy berkata, " Egi, Kak Lisa baik-baik saja. Dia hanya sedang tidur."


Egi mendongkakkan kepala ke atas, menatap dalam Kakak iparnya. Laki-laki yang baik dan tidak pernah memperlakukan dirinya dengan kasar.


"Sebaiknya kita keluar. Biarkan Lisa beristirahat," ucap Pak Adrian. " Egi, ayo ikut Papa mencari makan. Kamu belum makan malam, nanti bisa sakit seperti Kakakmu."


Egi menurut, Ia bangkit dari tempat tidur.


"Boy, kamu juga harus makan. Papa akan membawakan makan malam untukmu," ucap Pak Adrian.


"Rendy tidak lapar, Pa," sahut Rendy.


Pak Adrian melangkah ke arah anaknya, lalu berkata, " Kamu tidak akan tahu bagaimana caranya menjaga seseorang, jika kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri."


...****************...


BERSAMBUNG~~~


NOTE: Ini bukan kejadian yang kemarin Author bocorkan. Kejadian menyakitkan sebenarnya tengah menanti Lisa di depan sana๐Ÿ˜Š


Yang penasaran, tetap stay di sini, ya


Jangan lupa dukungan untuk Author


Like, coment dan vote๐Ÿ˜


Selamat membaca๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2