
Semenjak obrolan di mobil 2 minggu yang lalu, Rendy sedikit berbeda. Dia mulai hangat pada Lisa. Terkadang saat bekerja, Rendy sempatkan mengirim pesan untuk sekedar bertanya Lisa sudah makan siang apa belum.
Perlakuan Rendy membuat Lisa sedikit kebingungan, dia tak mau mengingkari janjinya pada almarhum Kayla.
Akan tetapi tak bisa Lisa pungkiri, ada rasa bahagia di hati Lisa. Entah ini benar atau tidak, Lisa tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
🥀🥀🥀🥀🥀
Siang itu semua karyawan di kantor sedang sibuk dengan tugasnya sendiri, Lisa juga sibuk membersihkan kaca yang paling pojok.
Mona yang hari ini cuti karena sakit, membuat pekerjaan Lisa bertambah banyak. Lisa yang asyik dengan pekerjaannya itu, di buat kaget oleh suara seseorang yang tak asing lagi.
"Lisa," sapa Rey.
Lisa menoleh ke arah Rey, lalu menganggukkan kepalanya tanda hormat.
"Iya pak Rey, ada yang bisa saya bantu," tanya Lisa.
"Kok pak lagi sih, katanya janji mau panggil kak Rey," protes Rey.
"Maaf Pak, tapi ini masih jam kerja."
"Engga ada orang inih, engga usah terlalu formal. Kalau depan orang baru," ucap Rey.
"Apa muka saya terlalu tua ya, sampai kamu panggil saya pak. Padahal saya ini masih muda, Udah gitu ganteng lagi. Sebelas dua belas lah sama justin biebier hehe." ucap Rey cengengesan memuji dirinya sendiri.
Lisa yang mendengarnya ikut tertawa pelan.
"Nah gitu dong, kan keliatan cantik kalau senyum," ujar Rey.
"Eh__astagfirullah, saya sampai lupa. Rendy nyuruh saya buatkan kopi, tapi saya engga ngeliat siapa-siapa di sini selain kamu. Jadi bisa engga kamu bikinin kopi, lalu antar ke ruangan Rendy di lantai paling atas?" tanya Rey.
Lisa terdiam, kenapa harus dia?
Masuk ke ruangan Rendy, ah ini sangat tidak bagus untuk kesehatan jantung Lisa.
"Baik, Pak," jawab Lisa.
"Ok, kalau gitu saya tinggal dulu ya. Jangan kangen loh, saya takut di bikin peyek sama Rendy hahaha." ujar Rey berlalu meninggalkan Lisa.
Lisa menggelengkan kepalanya, heran ada saja tingkah lucu Rey jika ketemu Lisa.
Lisa bergegas pergi ke pantry, meracik kopi untuk bos sekaligus suaminya itu. Jantung Lisa berdebar tak karuan, padahal Lisa sudah sering bertemu bahkan tidur satu kamar dengan Rendy.
Tapi kenapa, saat harus pergi ke ruangannya Lisa merasa gugup sekali. Untuk pertama kalinya, kaki Lisa melangkah ke ruangan paling atas.
__ADS_1
Ruangan yang tak sembarang orang memasukinya, hanya orang penting dan tertentu saja yang bisa masuk.
Saat Lisa masuk ke dalam lift, dan memencet tombol nomer 15 semua orang di dalam lift menatap Lisa. Seakan mereka ingin menerkam, pasalnya mereka jarang sekali melihat pegawai kebersihan yang masuk ke ruangan direkturnya itu.
hanya bu Amel saja yang biasa masuk ke ruangan direktur, Karena bu Amel memang kepala pegawai kebersihan di sini. Tentu Rendy sering memintanya untuk sekedar membuatkan kopi.
Tapi kali ini berbeda, bu Amel sedang cuti melahirkan. Jadi Rendy menyuruh Rey untuk membuatkan kopi. Eh, malah Rey menyerahkan tugasnya pada Lisa.
Dari belakang Lisa mendengar orang-orang sedang membicarakannya, tapi bagi Lisa itu sudah biasa. Dia tak mau mencari masalah pada siapapun, toh tidak ada untungnya. Biarkan saja orang menilai Lisa semaunya
Bukankah orang hanya menilai kita sejauh mata memandang saja?. Buat apa di bikin pusing, itulah pikiran Lisa.
"Lihatlah, penampilannya acak-acakkan banget, " ujar wanita berbaju merah dengan rok ketat selutut.
"Heem, apa dia engga punya kaca di rumahnya. Lagian kenapa juga dia ke ruangan pak Rendy, mau cari muka dia rupanya," timpal wanita di sampingnya bertambah sinis.
"Yaelah, mana mau pak Rendy sama cewek buluk gitu. Paling habis dari ruang pak Rendy, dia nangis bombay karena di cuekin hahaha."
Terdengar suara gelak tawa dari keduanya, Lisa mencengkram erat nampan yang dia bawa. Lisa tak boleh terbawa emosi.
Kedua wanita itu turun di lantai 10, mereka keluar sambil menatap sinis pada Lisa. Kini hanya tinggal Lisa sendiri, Lift berjalan begitu cepat bagi Lisa.
Tring..
Sampailah Lisa di ruangan yang di tujunya, Dia melangkahkan kakinya ke arah ruangan bercat putih itu. Lisa menghela nafas terlebih dahulu sebelum mengetok pintu.
"Bismillah," ucapnya lalu mengetuk pintu pelan.
"Masuk." Terdengar suara Rendy mempersilahkan masuk.
Lisa sedikit ragu melangkahkan kakinya, tapi dia tetap masuk ke ruangan Rendy. Terlihat sang suami sedang duduk di bangku kebesarannya, dengan pulpen dan beberapa lembar kertas di meja.
Lisa mengamati seluruh ruangan Rendy, sangat bagus dengan cat bernuansa biru laut. Seakan kita sedang berada di pantai, meninggalkan kesan segar di dalamnya.
Tak mau suaminya menunggu lama, Lisa mendekat pada meja Rendy.
"Permisi Tuan, saya kesini mengantarkan kopi pesanan Tuan," ujar Lisa dengan menunduk.
Rendy yang mendengar suara wanita yang tak asing di telinganya ini. Mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya, jika yang mengantarkan kopi adalah istrinya sendiri.
Rendy menyimpan pulpen di tangannya di atas meja. memfokuskan pandangannya pada Lisa, melihat penampilan berbeda dari istrinya ini.
Lisa memakai baju khusus pelayan kebersihan dengan celana katun hitam longgar, tak lupa jilbab berwarna coklat muda.
"Taruh di meja!"perintah Rendy.
__ADS_1
Lisa menurut, dia menyimpan secangkir kopi ke hadapan suaminya. Lalu memegang erat nampan, dengan tetap menundukkan kepalanya.
"Kalau tidak ada yang Tuan butuhkan lagi, saya permisi." Lisa mengagukan kepalanya lalu membalikkan badan, namun baru saja Lisa akan melangkan kakinya. Rendy membuka suaranya lagi.
"Nanti pulang, tunggu saya di parkiran bawah,"
Lisa tertegun mendengar ucapan suaminya, apa telinganya tidak tuli?.
"Saya selesai jam 5 sore lewat, tunggu saya di sana. Kita pulang bersama," ujar Rendy.
Lisa membalikkan badan kembali menghadap Rendy, karena tak sopan jika harus berbicara dengan membelakangi lawan bicaranya.
"Tidak usah Tuan, saya bisa naik angkot," balas Lisa.
Rendy tak terima dengan jawaban Lisa, dia berdiri dan mendekat pada istrinya. Kini mereka saling berhadapan,hampir tak ada jarak di antara mereka.
Rendy semakin mendekat pada tubuh Lisa. Dia mendekatkan mulutnya di telinga Lisa, lalu berbisik, "Saya tidak suka di bantah, apa kamu tau resikonya jika berani membantah pada saya? "
Lisa tak berani menjawab, tubuhnya seakan membeku. Lisa bisa mendengar hembusan nafas Rendy di telinga, ada getaran yang dia rasakan. Jantungnya bekerja begitu cepat.
Lisa menggelengkan kepalanya, tanda tak tau.
"Kalau begitu apa kamu mau menurut dengan saya?" tanya Rendy kembali.
Lisa mengganguk kembali seakan terhipnotis dengan ucapan suaminya. Lidahnya terasa kelu, dia tak mampu berkata.
"Good girls. Sekarang kembalilah berkerja!" perintah Rendy menjauhkan badannya pada Lisa. Rendy sangat senang dengan raut wajah gugup Lisa saat ini, sangat lucu menurutnya.
Lisa melangkah keluar dengan perasaan campur aduk, perlakuan Rendy barusan membuatnya tak karuan.
Lisa tak mengerti dengan perubahan cepat sikap Rendy, apalagi ini pertama kalinya bagi Lisa berinterkasi sangat dekat dengan suaminya.
Lisa menggelangkan kepala lalu memukul-mukul pipinya seakan tak percaya.
Benarkah itu Rendy suaminya?
Apa ini mimpi?
"Aku harap ini bukan mimpi," batin Lisa.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
MOHON DUKUNGAN BAGI AUTHOR YA
__ADS_1
LIKE,COMENT&VOTE .
SELAMAT MEMBACA.