Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
73


__ADS_3

Sementara itu di dalam mobil satu lagi, Dira tengah berkonser ria sendiri, sedangkan Rey dan Mona menjadi penonton yang sebenernya terpaksa juga. Tidak mungkin bagi Rey menurunkan bocah ingusan kesayangannya itu di tengah jalan sendirian.


**Aku baik-baik saja.


Menikmati hidup yang aku punya.


Hidupku sangat sempurana.


I'm single and very happy.


Mengejar mimpi-mimpi indah.


Bebas lakukan yang aku suka.


Berteman dengan siapa saja.


I'm single and very happya**.


Petikan lirik lagu dari penyanyi Opie Andaresta Dira lantunkan dengan suara nyaringnya, membuat siapa pun yang mendengarnya akan otomatis menutup kuping.


"Hey, Bocah. Diem napa!" hardik Rey. " kuping gue sakit nih sama suara Lo yang kaya toa."


Dira mengerucutkan bibir manisnya seraya berkata, " Suruh siapa aku ikut di sini, aku bosen tau. Ayo, dong kak kita nyanyi."


Mona tertawa terbahak-bahak melihat Dira merajuk pada Rey, mereka seperti pasangan kucing dan anjing saja.


"Eh, Dira. Kamu engga berangkat ke luar negri lagi? bukannya kamu lagi kuliah, kan?" tanya Mona.


"Dua minggu lagi aku berangkat, Kak. Padahal masih pengen di sini tapi, aku harus tetep lanjut kuliah demi gapai cita-citaku," tutur Dira.


"Emang kamu pengen jadi apa?" ucap Mona.


"Aku sih pengen jadi desainer terkenal, Kak. Nah, entar kakak kalau mau bikin baju pengantin ke aku aja, ya," jawab Dira.


"Yaelah, kelamaaan kali Dir. Gue keburu bangkotan dong nunggu lo lulus, terus baru bisa bikinin baju pengantin buat Mona," protes Rey.


"PD banget, ya kali kalau kak Mona nikahnya sama Kak Rey!" ledek Dira. " kalau sama orang lain gimana."


"Yeh ni bocah, lo nyumpahin gue kagak jadi kawin sama Mona. Gue jitak hidung pesek, Lo!" geram Rey.


"Jangan dong, Kak. Pesek-pesek gini juga cantik," puji Dira.


"Cantik,kalau liatnya pake sedotan. Hahahaha," ejek Rey.


Dira memukul bahu Rey dari belakang. Dia kesal kalau sudah bersama lelaki kocak ini tapi, dia juga senang karena Rey selalu menjaganya seperti seorang adik.


"Kak Mona kapan nikah sama Kak Rey?" tanya Dira.

__ADS_1


Mona melirik Rey sebentar, dia juga belum tahu kapan pastinya mereka menikah. Rey belum meminangnya secara langsung pada orang tuanya.


"Lo kepo banget deh!" ketus Rey. " dengerin ya, gue sama Mona engga bakal lama lagi juga nikah. Gue tinggal nunggu nyokap, bokap ada waktu buat ke rumah Mona doang."


Mona sedikit membentuk senyuman di bibirnya, dia sekarang tahu alasan Rey belum datang meminang.


"Emang Tante Mirna sama Om Gunawan udah tahu soal Kak Rey sama Mona?" ucap Dika.


"Udah! Gue ngasih tahu mereka jauh-jauh hari jadi, gue tinggal tunggu tanggal yang pas doang buat meminang Mona," beber Rey.


"Cielah, sebentar lagi bakal ada pengantin baru dong," goda Dira.


Mona malu-malu kucing begitu Dira menggodanya, tidak bisa ia pungkiri hatinya memang sedang berbunga-bunga mendengar perkataan kekasihnya.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih, tibalah mereka di sebuah Villa yang megah dan luas. Semua orang keluar dari mobil masing-masing, senyum bahagia terpancar dari mereka.


"Wow, so beautiful!" Dira memuji keindahan yang ada di sekitar villa.


Dari dalam villa, seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka. Ia tersenyum ramah lalu mendekati Rendy, pemilik villa ini.


"Baru sampai, Den?" sapa lelaki paruh baya itu.


"Iya, Mang," jawab Rendy. " kamarnya sudah di siapin semua, kan?"


"Sudah, Den. Mari saya antar," tawar lelaki paruh baya itu.


"Oh, ya. Mang Amir mungkin saya dan keluarga hanya dua hari saja di sini," ucap Rendy.


Semuanya masuk ke dalam villa, suasana di sana sangat menenangkan. Begitu masuk Mang Amir membawa mereka ke deretan kamar yang sudah di bersihkan sebelumnya.


"Semunnya ada tiga kamar, Den," tutur Mang Amir.


"Makasih, Mang," jawab Rendy.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Den," pamit Mang Amir.


"Silahkan, Mang," jawab Rendy.


Suasana dalam villa tidak kalah indah dan mewah, ada air mancur di samping villa. Gaya yang di usung villa ini pun terbilang sangat unik dan modern.


"Kamar pertama buat Gue sama Mona, kamar kedua Dira sama cewek lo Rey! Terus," tunjuk Rendy, " kamar terakhir buat Lo, Dika sama Egi."


"Yah, gue sekamar bareng Dokter jones ini!" Rey menunjuk Dika dengan jari telunjuk tangan kanannya.


"Mulutnya nih orang, pengen gue jejelin obat bius biar ngorok kaya putri tidur!" kesal Dika.


"Hahahaha. Tapi, Dik. Gue engga kenapa-napa sih sekamar sama Lo, asalkan ...." lelaki kocak itu menggantungkan ucapannya membuat mereka penasaran.

__ADS_1


"Asalkan apa?" sahut Dika.


"Asalkan Lo jangan ngorok yang kenceng aja, berisik gue!" ledek Rey.


"Penghinaan nih namanya, mana ada ceritanya gue ngorok kenceng," protes Dika.


"Lah, Lo kagak inget. Waktu lo numpang tidur di rumah gue, semalaman gue kagak bisa tidur dengerin lo ngorok. Mana kenceng lagi, hahahaha," ungkap Rendy.


"Aib gue itu, Bambang!" gerutu Dika.


"Hahahaha. Gue engga bisa bayangin yang jadi istri Lo entar, pasti doi bergadang tiap malam karena dengerin Lo ngorok," ledek Rey.


Dika tidak menggubris lagi perkataan lelaki yang telah menjadi sahabatnya dari dulu, ia segera masuk ke dalam kamar.


"Ngenes banget ya, gue.Orang pada gandeng tangan pasangannya, gue mau gandeng tangan siapa coba?" gumam Dika.


Dika melangkah masuk ke dalam kamar lalu, merebahkan badannya yang terasa kaku. Dua jam sebelum berangkat ke sini, Dika baru saja selesai melaksanakan operasi salah satu pasiennya.


Pikirannya melayang terbang tanpa tujuan, momen saat bisa melihat wajah Dira dari jarak yang dekat terus terbayang.


Wajah cantik dan imutnya itu yang mampu meluluhkan Dokter tampan ini. Dika yang memang sangat fokus dan terobsesi dengan pekerjaannya, merasa teralihkan dunianya saat bersama Dira.


Anak kecil yang dulunya sering Dika ajak main, ternyata memiliki tempat terindah di hati Dokter satu ini.


Hanya karena tidak ingin merusak persahabatan dirinya dan Rendy, Dika lebih memilih mengagumi Dira dalam diam. Di setiap sholatnya tak sekalipun terlewat Dika panjatkan doa terbaik untuk gadis itu, gadis yang mungkin hanya menganggapnya seorang kakak.


"Gue yakin kalau Dira jodoh gue, dia engga akan pergi jauh dari gue," batin Dika.


Selang berapa menit, Rey dan Egi menyusul masuk.ke dalam kamar. Egi merebahkan badannya di samping mantan dokternya ini.


"Pak Dokter lagi melamun, ya?" tegur Egi.


Dika terperanjat dengan kehadiran Egi secara mendadak lalu berkata, " Engga kok, Egi. Saya hanya lelah, baru selesai operasi langsung berangkat."


"Egi juga pengen bisa jadi Dokter yang sehebat, Pak Dokter Dika" lontar Egi.


Dika tersenyum pada Egi, dia merasa bercermin saat menatap Egi. Dulu dia pun sama, selalu mengutarakan keingannya pada orang lain.


"Kamu pasti bisa!" seru Dika.


...****************...


BERSAMBUNG~~


Mohon dukungannya buat karya author satu lagi yang judulnya "TULISAN CINTAKU"


kalau berkenan silahkan mampir ya kak🤗

__ADS_1


Tinggalkan Like, coment dan vote😊


Selamat membaca🤗


__ADS_2