
Gadis cantik itu masih menatap kosong pada pintu. Tempat di mana seseorang pergi, lalu menghilang dari penglihatannya.
"Kak, apa aku terlalu jahat pada Kak Dika?" tanya Dira dengan pikiran kacau.
Hatinya mungkin tengah sakit, karena kehilangan seseorang. Akan tetapi ia juga harus membuka mata lebar-lebar, melihat dan menerima kenyataan yang ada.
Farhan sudah tenang di sana. Di alam lain yang suatu hari Dira pun akan menyusulnya. Entah kapan? hanya Sang pemilik kehidupan yang mengetahuinya.
Lisa menatap lekat pada Sang Adik ipar. Selama ini ia merasa menjadi wanita menderita, saat Rendy belum membuka hatinya untuk dia.
Mungkin ini pun yang dirasakan Dika saat ini. Bertahan dengan sejuta harapan. Yang entah akan berbuah manis, atau malah terus memupuk kekecewaan.
"Tanyakan itu pada hatimu, Dir. Posisikan dirimu seperti Dika. Mencintai tanpa balasan itu memang menyakitkan. Namun, kita pun tidak bisa memaksa seseorang untuk memiliki rasa yang sama dengan kita," jelas Lisa.
Dira terdiam sejenak. Berusaha mencerna pelan-pelan perkataan Kakak iparnya. Ia tidak berniat membuat hati Dika menjadi menyakitkan. Namun, keadaanlah yang memaksa dirinya bersikap sedikit acuh.
Dira tidak tahu seberapa besar cinta Dika untuknya. Akan tetapi, dari perhatian-perhatian kecil yang Dokter itu berikan. Otak Dira menyimpulkan, bahwa Dika memiliki perasaan yang tulus dan dalam padanya.
Cinta memang tidak bisa hadir begitu saja, akan tetapi cinta juga hadir karena terbiasa. Layaknya Dira yang terbiasa menerima kehadiran sosok Dika. Tidak menutup kemungkinan benih cinta itu akan hadir bersemi, mekar seiringnya waktu.
"Kamu tahu! Seseorang yang mencintaimu dengan tulus, tidak pernah meminta imbalan apa pun darimu. Mereka dengan sukarela menjaga, menemani dan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Alasannya hanya satu," sambung Lisa yang masih setia menatap Dira. Menangkap rasa bersalah dari binar mata gadis cantik ini.
"Apa itu, Kak?" tanya Dira.
Ia ingin tahu apa yang membuat Dika masih setia disampingnya. Melukiskan cinta padahal tangannya tengah terluka.
"Karena ia selalu ingin membuatmu bahagia, dan tersenyum ceria. Ia mungkin tidak bisa menggapai hatimu, akan tetapi setidaknya ia bisa memberi warna sedikit di lembaran kertas hidupmu. Kakak tau persis perasaan Dika. Mencintai seseorang yang sudah terlukis nama orang lain di hatinya. Memang tidaklah muda. Butuh perjuangan, dan kesabaran yang ekstra lebih," beber Lisa.
Cairan bening itu sedikit menggendangi mata Lisa. Ia seakan menceritakan perjalanan cintanya saat ini. Jalan yang berliku-liku banyak rintangan, dan hambatan. Ia lewati penuh derai air mata. Seuntai doa tak luput lepas dari bibir manisnya.
Kini semua kesakitan itu berbuah manis. Ia bukan hanya memiliki raga suaminya. Tapi seluruh jiwa dan cintanya ia genggam dalam tangan. Namun, ia tetap berusaha mencintai sesuatu tidak lebih dari cintanya pada Rabb-NYA.
__ADS_1
Sesuatu yang terlalu kita genggam erat, justru akan menimbulkan kesakitan di kemudian hari. Kita hanya dititipi, tidak lebih dari itu. Layaknya sebuah barang titipan, suatu saat sang pemiliknya akan datang untuk mengambil.
Saat itulah hati kita di uji. Sanggupkah kita merelakan barang itu kembali? atau kita akan terus terpuruk meratapi barang, yang sejatinya memang bukan milik kita lagi.
"Kak, seandainya aku menerima Kak Dika hanya karena merasa kasihan? apa itu sama saja membunuh jiwa Kak Dika secara perlahan?" tanya Dira kembali.
Lisa tidak langsung menjawab. Ia membayangkan jika, keadaan itu ada di dirinya. Merasa terbang, padahal tengah dipersiapkan untuk dijatuhkan. Di sayang, padahal sebenarnya sedang dilukai tanpa kekerasan.
"Ya. Secara tidak langsung kamu bukan hanya membunuh jiwanya. Perlahan cinta dan kepercayaan yang ia tumpuk untukmu juga ikut memudar. Setiap orang berhak bahagia, begitu pun dengan Dika. Jika kamu tidak bisa menerima kehadirannya. Alangkah baiknya untuk tidak memberi sebuah harapan palsu," jawab Lisa.
Dira melanjutkan dirinya bergelayut dengan pikirannya. Membiarkan otak kecil ini memikirkan matang-matang nasihat kakak iparnya. Lisa mungkin benar, menerima seseorang karena rasa kasihan itu bukan jalan yang baik.
Dira tidak tahu sampai kapan Dika akan menunggunya. Merelakan seseorang untuk pergi itu sangat sulit. Seperti itulah yang kini Dira rasakan.
🏵🏵🏵🏵🏵🏵
Di lain tempat, Rendy dan Rey baru sampai di kota Y. Sejenak singgah di hotel, untuk sekadar menaruh barang, dan melepas lelah.
Rendy tengah asyik memejamkan mata. Menikmati udara sejuk masuk lewat celah-celah kaca. Hamparan pemandangan alam mempesona menyejukkan mata. Dapat langsung ia lihat, begitu tirai kaca dibuka.
"Ya, gue tahu," sahutnya.
"Lo kurang konsen kayaknya hari ini," tebak Rey. Membaringkan badan di ranjang. " Lo masih kepikiran soal ucapan Dion?"
Matanya membulat, tatkala nama perusuh itu disebut. Mendengarnya saja sudah membuat Rendy muak. Apalagi harus bertemu, mungkin Rendy bisa melenyapkannya.
Laki-laki itu diam. Tidak berniat menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia memilih menikmati keadaan, dibandingkan membahas hal yang membuat moodnya turun.
Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam di dinding telah menunjukkan pukul dua siang. Inilah waktunya. Ya, waktu bertemu seseorang yang menjadi investor terbesar di perusahaan. Namun, entah ada angin apa? orang itu memutuskan semua kerja sama dengan Rendy. Ini jelas membuat kapal perusahaan Rendy sedikit oleng.
Di temani Rey, sahabat sekaligus asisten. Mereka berdua menuju tempat yang sudah dijanjikan.
__ADS_1
Sesampainya di sana, seorang pelayan menghampiri mereka. Membawa daftar menu, lalu dengan sopan mencatat pesanan kedua laki-laki tampan ini.
"Oh, ya, Ren. Kita engga akan lebih dari lima hari, kan di sini!" ucap Rey.
"Ya, tergantung," sahut Rendy. Mengambil ponsel di saku jas, lalu mengirimkan pesan untuk istrinya. " Kenapa?"
"Lo pikir aja. Seminggu lagi gue mau nikah. Masa calon pengantin pria masih keluyuran. Seengganya dipingit dulu, kek!" sungut Rey kesal.
"Lo udah kaya cewek aja dipinggit segala. Gue nikah dulu, engga ada acara pingit-pingitan segala!"
"Ya, bedalah. Gue nikah karena cinta, sementara Lo dulu nikah karena terpaksa. Hahaha!" ledek Rey.
"Sialan Lo!" seru Rendy. Tangannya menyiku sedikit badan sahabatnya, sehingga Rey yang tengah minum langsung tersedak.
"Yang bener dong, Bro! Kalau gue mati karena keselek. Gagal, dah ngerasain kawin!" protes Rey.
"Hahaha, itu mah takdir namanya!" ejek Rendy.
Keduanya larut dalam percakapan yang menurut mereka menyenangkan. Hingga suara tapak kaki berhenti tepat di hadapan meja mereka, lalu suara seseorang mengusik pendengaran keduanya.
"Selamat siang. Maaf, membuat anda berdua menunggu," sapa orang itu.
Rendy dan Rey menoleh ke arah suara yang tidak asing. Suara yang membuat mereka sedikit terperanjat mendengarnya.
"Anda!" jawa keduanya bersamaan.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Apa kabar kalian hari ini? Aku berharap Allah selalu melindung kalian di mana pun. Aku berdoa yang terbaik, untuk kalian yang selalu setia membaca karyaku🤗😍
__ADS_1
Selamat membaca😊