Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
84


__ADS_3

Seminggu berlalu, Lisa sudah mulai terbiasa dengan morning sicknes yang di deritanya. Ia tetap makan dan minum, meski pada akhirnya semua itu tetap keluar kembali lewat mulut.


Pagi ini Rendy telah selesai mandi, sejak istrinya hamil dan tidak boleh terlalu kelelahan Rendy menyiapkan kebutuhannya sendiri. Lisa sudah berusaha melarangnya, akan tetapi jawaban Rendy tetap sama, "Kamu harus banyak istirahat."


Lisa masuk ke dalam kamar ketika suaminya sedang memasang dasi, ia dengan cekatan membantu sang suami sambil kedua kakinya berjinjit.


"Mas, aku bosen. Boleh engga kalau ke toko?" rengek Lisa.


"Engga boleh! aku engga mau kamu kelelahan, " ujar Rendy. "kalau kamu bosen, sebaiknya kamu ikut denganku ke kantor."


"Ke kantor!" seru Lisa, tangannya selesai menyimpulkan dasi di kerah baju kemeja Rendy.


"Iya. Di sana kamu bisa temenin aku kerja." tangan kanan Rendy meraih pelan pinggang ramping istrinya.


"Andai kamu tidak sedang hamil muda, aku sudah melahapmu dari tadi. Kenapa kamu semakin menggoda saat berbadan dua?" Lanjut Rendy dengan suara berat.


Tanpa banyak bicara, Rendy menyerang bibir Lisa dengan ganas. Ia ingin melepas hasratnya, meski hanya sebatas berciuman.


Tanpa diminta Lisa langsung menyambut bibir lembut suaminya, mereka menikmati setiap pergerakan dua bibir yang saling berpautan.


Setelah puas, Rendy segera menghentikan aktivitas panasnya pagi itu. Dia takut terlalu jauh melakukannya, meski sebenarnya sah-sah saja untuk dia sendiri.


Perlahan Rendy membungkukkan badannya tepat di perut Lisa. Dengan tangan kanan, Rendy mengusap lembut perut Lisa dari luar baju, ia bahagia akan hadirnya Rendy junior di perut istrinya.


"Junior, apa kamu ingin ikut Papah hari ini ke kantor?" tanya Rendy pada benih janin yang belum bisa mendengar.


Lisa menahan tawa melihat tingkah konyol sang suami lalu berkata, "Semoga dia tumbuh dengan cepat dan sehat."


Rendy kembali menegapkan badan, di kecupnya kening Lisa kemudian berkata, " Ayo! Kita akan terlambat kalau berduaan terus di kamar."


"Iya, Mas," jawab Lisa.


Hari ini seperti permintaan suaminya Lisa ikut ke kantor. Setelah sarapan Rey sudah siap menunggu mereka di luar. Rey membukakan pintu untuk istri bosnya yang tengah hamil.


"Jangan kebut-kebutan, Rey," ucap Rendy begitu duduk manis di bangku belakang bersama istrinya.


"Tenang, Bos." Rey segera melajukan mobil untuk ikut meramaikan jalanan pagi ini.


Selama perjalanan tangan Rendy tak lepas menggengam tangan mungil Lisa, Rey saja yang melihatnya dibuat iri.


"Aduh si Bos, tuh tangan tolong dikondisikanlah. Kasian nih yang belum halal belum bisa ngerasain," batin Rey.

__ADS_1


Mobil mereka tiba di pintu utama kantor, Rendy keluar terlebih dahulu kemudian, dengan romantisnya ia membukakan pintu mobil untuk Lisa.


Tangan Lisa segera di raihnya agar bersatu kembali dengan tangannya, semua mata tertuju pada mereka. Banyak suara sumbang mengiringi perjalanan mereka menuju lift.


"Lihatlah si OB itu sepertinya mulai sombong. Mentang-mentang sekarang sudah jadi istri Bos"


"Aduh, so sweet banget mereka,"


"Aku mah, Pak Rey nya aja deh engga apa-apa,"


"Gue harap mereka cepat cerai, engga pantes si Lisa bersanding dengan Bos,"


Segelintir pujian dan hinaan terdengar jelas di telinga Lisa, akan tetapi ia berusaha menulikan telinga untuk hal tidak berfaedah seperti itu.


Mereka menaiki lift khusus presedir, Rendy seperti enggan sedetikpun tangan mereka berpisah.


"Mas, apa tidak masalah seperti ini?" wanita itu melirik ke genggaman tangan mereka.


"Kenapa? Kamu malu?" tanya Rendy.


"Tidak, Mas! Justru pertanyaan itu untuk, Mas. Apa Mas tidak malu bergandengan tangan dengan mantan OB perusahan Mas?"


Rey masih setia mengekor dibalik layar kemesraan suami istri ini. Dirogohnya ponsel yang berdiam manja di saku celana, ia ingin mengirimkan pesan cinta untuk kekasihnya.


~Calon istri bawelku~


Sayang, malam ini kita jalan yuk?


Rey segera menekan tombol enter, agar pesan itu terkirim secepat kekuatan Jet sampai di ponsel Mona.


Sesampainya di ruangan, Rendy menuntun Lisa untuk duduk manis di sofa lalu berkata, " Duduklah di sini! Jika butuh sesuatu kamu bisa bicara padaku."


"Iya, Mas." wanita itu memberikan senyuman semanis madu pada suaminya.


Rendy berjalan ke arah meja, dibukanya jas hitam yang sejak tadi melekat di tubuh tegapnya.


"Rey, hari ini ada meeting penting engga?" ujar Rendy sambil mendaratkan bokongnya di kursi.


"Ada, Bos. Hari ini Lo bakal ketemu si Farhan buat membahas penyelesaian untuk projek kerjasama kita dengan mereka," beber Rey.


Rendy berdecak kesal, ia sangat malas kalau harus bertemu dan berurusan dengan mahluk satu itu.

__ADS_1


"Ok! Jam berapa?" tanya Rendy.


"Satu jam lagi kita mulai meeting," jawab Rendy. " Kenapa? Lo males ketemu manusia itu?"


Rey bisa langsung menebak isi hati Rendy. Ia sendiri sebenarnya sangat tidak ingin bertatap muka dengan Farhan, akan tetapi kerjasama antara merekalah yang menjadi alasan Rey tetap memaksakan moodnya.


"Lo tahu kan, dia orangnya kaya gimana. Setelah kejadian Dira kemarin, gue semakin engga respect sama anak itu!" suara Rendy terdengar meninggi.


"Gue paham perasaan Lo," ujar Rey. " kalau gitu, gue mau ke ruangan gue dulu. Nanti satu jam kemudian gue ingetin Lo lagi."


Rendy tidak menjawab, ia hanya mengibaskan tangan kanannya mempersilahkan Rey keluar.


Rey mengerti isyarat dari sahabatnya, ia segera berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.


Rendy mengambil setumpuk dokumen di sisi kiri atas meja, sepertinya ini akan sangat melelahkan. Untung saja, ada wanita cantik yang tengah sibuk dengan ponselnya menemani Rendy saat ini jadi, hari ini akan terasa berbeda.


Lisa asyik menonton drama korea dihandphonenya, hingga tidak menyadari sedari tadi sang suami memperhatikan dirinya.


Tanpa di duga sebuah pesan masuk ke ponsel milik Lisa, sebuah nama terlihat jelas di layar handphonenya. Seseorang yang dulu sangat akrab dengannya, akan tetapi karena menurut Lisa orang itu sedikit berambisius padanya Lisa memilih untuk menjaga jarak.


~Pak Dion~


Lis, saya melihatmu barusan masuk ke kantor. Apa benar itu kamu? saya sangat senang bisa melihat wajahmu, meski hanya dari kejauhan.


Isi pesan yang Dion kirimkan membuat Lisa sedikit risih, dengan banyak pertimbangan Lisa akhirnya memblokir nomer Dion dari ponselnya.


Lisa menggigit bibir bawahnya, ia rasa sudah mengambil keputusan yang terbaik. Lisa tidak ingin ada orang lain yang masuk menghancurkan rumah tangga yang susah payah ia pertahankan.


"Nak, bekerjasamalah dengan Ibu untuk melewati masa-masa kehamilan ini. Kamu harus berjanji tumbuh dengan baik, dan Ibu juga berjanji akan menjagamu sekalipun nyawa ibu taruhannya." batin Lisa.


...****************...


BERSAMBUNG~~


Mohon dukungannya untuk Author dengan like, coment, vote dan rate 5🙏


Ada yang kangen dengan pasangan Mona-Rey😂


Next akan ada Bab khusus untuk hubungan mereka berdua, pasangan paling kocak diantara yang lainnya🙈


Selamat membaca😘😘

__ADS_1


__ADS_2