
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Rendy telah menyuruh Rey untuk mempersiapkan segala keperluan liburan kali ini. Sudah di putuskan bahwa liburan hanya dua hari saja yaitu sabtu dan minggu, yang memang hari libur sekolah dan kerja.
"Rey, semua udah lo siapin, kan?" tanya Rendy.
"Tenang, Bro. Udah gue beresin serapih mungkin kaya baju baru di setrika," canda Rey.
"Oke, gue percaya sama Lo," sahut Rendy. " kalau soal Dika gimana?"
"Dia mah mau aja, Ren. Daripada pusing liatin alat rumah sakit mulu kali. Hahahaha," canda Rey.
"Jadi, nanti Lo berangkat bareng cewek Lo sama Dika. Nah gue bareng Lisa, Egi sama Dira!" perintah Rendy.
"Yah, kasian si Dika dong, Ren," sahut Rey.
"Emang dia kenapa?" ucap Rendy.
" Dia bakal jadi obat nyamuk diantara gue sama Mona. Wkwkwkwk," ledek Rey.
"Awas aja Lo, mesra-mesraan belum muhrim. Gue ulek jadi perkedel, Lo!" ancam Rendy.
"Hahahaha. Kalau cium pipi doang boleh kali, Ren?" celetuk Rendy.
"Kagak boleh! Dosa woy!" hardik Rendy.
"Iya, tenang aja. Gue juga tahu kok," sungut Rey.
"Ya udah, gue mau pulang sekalian jemput istri gue. Lo pulang naik taksi atau metromini sana," ledek Rendy.
"Ih, jahara Lu sama sahabat sendiri," protes Rey.
Rendy tidak menggubris perkataan Rey, dia menyambar kunci mobil dan segera keluar ruangan untuk pulang.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hari sabtu yang cerah, langit biru menghiasi kota ini dengan awan putih tampak indah memanjakan mata.
Lisa, Egi, Dira dan Rendy baru saja selesai sarapan pagi. Mereka menunggu rombongan Rey, Mona dan Dika sampai ke rumah.
"Sayang, engga usah bawa barang banyak, ya," pinta Rendy.
"Iya, mas," sahut Lisa.
"Kak, berangkatnya jam berapa? mereka kok belum nongol terus!" protes Dira.
"Sebentar lagi juga mereka datang," jawab Rendy.
"Kak Lisa, bisa bantu Egi berkemas baju engga?" pinta Egi.
Lisa yang baru saja selesai membersihkan piring kotor langsung menjawab, " Iya, Dek."
Lisa dan Egi naik ke atas untuk mengemas pakaian, sedangkan Rendy dan Dira duduk tenang di ruang tengah. Dira mengingat sesuatu yang dulu sempat akan ia kabarkan pada kakaknya.
"Kak," panggil Dira.
"Apa, Dir?" sahut Rendy.
__ADS_1
"Kayanya kakak ipar hamil deh!" tutur Dira.
Rendy menajamkan telinganya, memandang Dira tajam. Apa bocah ini tidak sedang mengerjainya sekarang.
"Hamil!" seru Rendy.
"Iya, kak," cakap Dira.
"Kamu tahu darimana?" desak Rendy.
"Waktu aku pergi makan sama kakak tua itu, sebenernya kak Lisa minta aku belikan rujak buah soalnya kata kakak ipar, kepalanya sakit terus dan pengen makan yang seger-seger," ungkap Dira. " bukannya itu ciri-ciri ngidam ya, kak?"
Rendy tidak tahu menahu soal kehamilan, apalgi perihal ngidam. Tapi, jika benar istrinya hamil dia akan sangat bahagia.
"Kamu lagi engga ngerjain kakak, kan?" kata Rendy.
"Engga, kak. Aku serius kali ini," jelas Dira. " kalau Kakak engga percaya, tanya langsung aja sama kakak ipar."
"Oke, biar nanti kakak tanya Lisa aja," balas Rendy.
Tak berapa lama Lisa dan Egi sudah kembali ke ruangan tamu dengan membawa satu tas sedang milik Egi. Dari luar terdengar Deru mesin mobil, sudah dipastikan itu Mona, Rey dan Dika.
"Kayaknya itu mereka, ayo kita keluar!" ajak Rendy.
Lisa, Dira, Egi dan Rendy bergegas keluar rumah. Terlihat Dika yang memasang wajah kesal berdiri di luar mobil, sedangkan Mona dan Rey masih belum turun.
"Kenapa lo, Bro?" tanya Rendy.
"Noh, tanya temen lo. Kesel gue, masa gue jadi obat nyamuk sih, Ren!" ketus Dika.
"Ya, lagian. Gue kan udah suruh lo bawa mobil sendiri tapi, lo nya kagak mau," cibir Rendy.
"Suntuklah gue di mobil sendirian terus takut juga entar di perjalanan ada yang ikut. Mending yang ngikutnya cewek cantik, kalau yang ikut kuntilanak. Ngeri gue bayanginnya," sahut Dika.
Semua kembali tertawa, memang benar kalau tiga serangkai ini sudah bersama, sudah dipastikan kekonyolan akan terjadi.
"Udah, ribut mulu lo berdua. Jadi, lo mau ikut siapa, Dik?" tanya Rendy.
"Kalau boleh gue ikut lo aja deh, Ren," tawar Dika.
"Kita udah penuh tau, Pak Dokter jones," ejek Dira.
"Ini lagi bocah ingusan ngapain ngatain gue Dokter jones segala!" seru Dika. " mau gue suntik pake obat tidur lo!"
"Idih, anceman serem amet," cibir Dira.
"Jangan deket-deket dia, Dir," timpal Rey. " Ngeri, mainannya suntikan sama gunting operasi. Hahahaha."
"Sialan, Lo!" ketus Dika.
Pagi ini perut mereka semua sudah di kocok dengan kekonyolan Dika, Rey dan Dira, meskipun begitu mereka tetap saling menjaga dan menghormati satu sama lain.
"Ayo, kita berangkat," ajak Rendy.
Pada akhinya Diralah yang mengalah satu mobil bersama Mona dan Rey, sedangkan Dika bersama Lisa, Rendy dan Egi.
__ADS_1
Tujuan liburan mereka kali ini adalah ke salah satu villa milik keluarga Rendy, tepatnya di kawasan puncak.
Selama perjalanan Lisa dan Egi menikmati pemandangan dari kaca jendela mobil, sedangkan Rendy dan Dika mengobrol santai di bangku depan.
"Dik, kapan lo mau nikah?" tanya Rendy.
"Boro-boro nikah, Ren. Pacar juga gue mah engga punya," aku Dika.
"Ckckckck. Lo jangan fokus kerjaan mulu, keburu tua tuh umur," ledek Rendy.
"Gue sih maunya cepet-cepet, Ren. Tapi, calon istri aja belum keliatan batang hidungnya," keluh Dika.
"Kan pasien lo banyak. Masa dari ribuan pasien cewek, engga ada yang lo suka," protes Rendy.
"Bukan masalah banyaknya, Ren. Kan hati engga bisa di paksakan, gue sih sebenernya udah ada inceran. Cuman gue engga yakin dia bakal mau sama gue apa engga," ungkap Dika.
Rendy melirik Dika sekilas, sahabatnya ini agak berbeda dengan Rey. Rey sudah pasti orangnya terang-terangan, beda dengan Dika yang kadang tidak ingin semua tahu tentangnya.
"Emang siapa cewek inceran Lo?" tanya Rendy.
Dika menatap Rendy tajam, dia ingin berkata jujur kali ini. Sudah saatnya Rendy tahu tentang perasaannya. Perasaan yang sebenarnya sudah lama ia pendam sejak dulu, akan tetapi ia tak berani mengungkapnya.
"Ren, gue pengen jujur sama lo. Gue harap lo bijak dalam menanggapi pengakuan gue ini," ucap Dika.
Rendy melirik sekilas ke arah Dika lalu berkata, "Ya, gue harus tahu apa yang mau lo akui."
Dika terdengar menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlalahan.
"Ren, gue suka sama Dira," ungkap Dika.
"Apa!" kaget Rendy. " lo lagi engga bercanda, kan?"
"Engga, gue serius. Bahkan gue udah lama suka sama adik lo," aku Dika. " Gue harap lo engga benci sama gue setelah ini."
Rendy hampir tak percaya dengan pengakuan Dokter tampan ini. Mengapa dari jutaan wanita di dunia ini Dika malah mencintai Dira.
"Cinta memang buta," gumam Rendy.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon maafkan author karena tidak bisa membalas satu per satu komentar kalian🙏Maklum author ini mamak beranak dua, yang satu malah masih balita jadi, kadang pegang hp pas jam-jam tertentu😂
Terus dukung author ya dengan cara
Like~~
Coment~~
Vote~~
Rate 5~~~
Haturnuhun🤗
__ADS_1