
Dua minggu berlalu. Kehidupan terus berputar. Dunia tidak peduli. Meski, dirimu menangis. Semua harus tetap berjalan ke depan sesuai kehendak sang pencipta alam.
Tidak ada yang berubah dari Egi. Ia masih tetap seperti biasa. Mengajar, mengajar dan mengajar. Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka masing-masing memiliki perannya sendiri.
Siang ini, Egi baru saja mengisi kelas. Ia nampak kelelahan. Wajahnya sedikit pucat. Namun, ia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.
Saat hendak keluar kelas. Egi melihat Zahra tengah berbicara bersama teman lelakinya. Gadis itu sedikit ceria. Ia tidak nampak bersedih sejak terakhir mereka berbicara.
Egi yang mendadak penasaran akan pembicaraan mereka bersembunyi di balik pintu. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya menjadi kepo seperti ini
"Kita ke ruangan biasa," ucap Zahra.
"Tapi, sebentar aja, ya. Gue buru-buru 'nih." Haikal melirik sekilas pada arloji di tangannya.
"Iya. Cuman sebentar doang. Yang penting udah bisa masuk aja," tutur Zahra.
Haikal dan Zahra berjalan menuju tempat yang mereka sepakati. Tentu ini membuat rasa penasaran Egi semakin dalam. Hendak berbuat apakah mereka?
"Astagfirullah 'kok jadi kepo gini, tapi curiga juga. Ngapain mereka berduaan di ruangan?" gumam Egi.
Dengan berbekal rasa penasaran Egi mengikuti dari belakang kedua mahasiswa dan mahasiswi itu. Se-sekali hatinya bertanya apa yang hendak mereka kerjaan berdua.
Sampailah Egi di sebuah ruangan yang memang kosong. Ia hendak masuk untuk memastikan. Namun, terdengar sayup-sayup percakapan keduanya.
"Kal, bisa 'kan masukinnya." Suara Zahra terdengar merdu.
"Iya, bentar. Gue duduk di bawah dulu. Gue coba masukin," ucap Haikal.
"Jangan lama-lama," pinta Zahra.
"Soal ginian mah gue jagonya. Sebentar juga langsung bisa. Sekali tekan, langsung tokcer," tutur Haikal.
Egi semakin dibuat penasaran. Apa yang sebenarnya kedua sejoli ini lakukan di ruangan tertutup, lalu hanya berdua saja. Apa mereka sudah tidak punya urat malu?
Tangan Egi mengepal erat. Napasnya memburu seiring emosinya mulai hadir. Ia tidak ingin keduanya berbuat hal yang tidak seharusnya.
Dengan kuat Egi membuka pintu, sambil berkata, "Apa yang kalian lakukan di ruangan seperti ini?"
Betapa terkejutnya Egi melihat pemandangan yang ia lihat saat ini. Ini tidak seperti bayangannya. Matanya membulat tatkala melihat ketiga keponakannya, Zahra dan Haikal, juga dua orang mahasiswi sedang berkumpul di atas meja.
__ADS_1
Haikal terlihat sedang duduk di kursi dengan tangan di atas laptop, sedangkan Zahra berdiri bersama kedua mahasiswa lainnya. Adnan dan si kembar duduk sama seperti Haikal.
Ketujuh muridnya itu menatap Egi. Ia heran mengapa bisa dosen kutub utara ini berada di sini. Apa Egi tengah membuntuti mereka? atas dasar apa?
Semua penghuni kampus tahu, bahwa Egi adalah dosen yang paling tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain. Namun, kenapa sekarang ia terlihat seperti memandam amarah.
"Paman," panggil Adnan.
Mata Zahra dan Egi bertemu sesaat. Gadis itu tersentak melihat lelaki kutub utara ini tiba-tiba berada di sini.
Egi mulai menyadari situasi saat ini. Ia berusaha tetap terlihat tenang agar wibawanya sebagai dosen tidak turun di mata mahasiswanya.
"Apa paman perlu sesuatu? timpal Riko.
"Tidak! Paman sedang lewat sini, tidak sengaja mendengar ada suara orang dari dalam. Jadi, Paman hanya ingin memastikan saja," bohong Egi.
Zahra masih saja terdiam. Ia memikirkan hal yang lain selain alasan yang Egi katakan. Mata dosennya ini mengatakan hal yang berbeda.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Egi.
"Oh, ini kami meminta Haikal untuk memasukkan data ke dalam laptop? dari tadi kami sudah coba, tapi tidak bisa. Ternyata ada sedikit gangguan. Kebetulan Haikal ini ahlinya," ungkap Riko.
Egi mengayunkan kaki keluar ruangan. Sebenarnya ia sedikit malu. Namun, ia berusaha menutupinya.
"Astagfirullah, apa yang aku pikirkan tadi? aku sempat suudzhon pada mahasiswaku," gumam Egi.
Egi pergi membawa rasanya malunya. Mungkin saja saat ini para mahasiwanya itu tengah membicarakan kebodohannya tadi.
"Sepertinya aku butuh refreshing. Melepas sedikit bebanku. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak pikiran," lanjut Egi.
Egi berjalan menuju koridor kampus yang mengarah pada ruangan dosen. Dari belakang terdengar Zahra memanggilnya. Pikiran gadis itu menolak dengan alasan Egi tadi.
Egi berhenti. Terdengar langkah Zahra semakin mendekat.
"Paman, kenapa Paman mengikutiku tadi?" tanya Zahra langsung.
Egi berbalik menghadap Zahra. Mata mereka kembali bertemu. Mata yang sejuk milik Zahra menenangkan hatinya.
"Apa maksudmu? Saya tidak mengikutimu!" bantah Egi.
__ADS_1
"Aku tahu Paman berbohong," cakap Zahra.
Egi tidak menjawab. Ia memilih kembali berbalik, dan hendak melangkahkan kakinya.
"Paman, aku tidak tahu apa yang Paman rasakan saat ini. Aku sudah bilang, aku tidak akan berharap pada Paman, akan tetapi mengapa aku merasa Paman malah membuka lebar jalan menuju hati Paman," keluh Zahra.
Egi menghela napas kasar. Ia sekejap memejamkan matanya. Mengatur napas perlahan.
"Oke! Saya akan katakan padamu yang sebenarnya. Tadi tidak sengaja saya melihatmu bersama satu lelaki. Entah mengapa saya merasa kalian akan berbuat sesuatu dari kesimpulan pembicaraan kalian. Saya minta maaf, atas hal itu. Saya salah mengira," ungkap Egi.
Kembali Egi mengayunkan langkahnya.
"Kenapa? kenapa Paman berbalik menjadi peduli padaku? bukankah Paman membenci orang yang ikut campur urusan orang lain! Katakan kenapa Paman! Desak Zahra.
Kesabaran Egi mencapai batasnya. Ia tidak tahu lagi harus berkata seperti apa.
"Saya peduli padamu, karena Adnan menyukaimu. Saya tidak ingin wanita yang dicintai Adnan berbuat hal yang tidak seharusnya. Bukankah kamu bilang akan memantaskan dirimu!" jawab Egi.
Kali ini Egi benar-benar mengayunkan langkahnya meninggalkan Zahra yang masih terdiam. Hati wanita ini kembali terkoyak. Padahal ia sudah berjanji tidak akan berharap kembali.
Tiba-tiba Adnan berlari menuju Egi. Ia menepuk bahu Egi sambil berkata, "Apa Paman tidak punya sedikit perasaan pun pada Zahra?"
Egi kembali menghentikan langkahnya. Ia sempat kaget mendengar suara keponakannya.
"Aku tidak tahu apa masalah Paman, akan tetapi bisakah Paman menghargai sedikit saja perasaan Zahra. Aku memang mencintai. Namun, aku tahu hatinya bukan untukku," lanjut Adnan.
Egi berbalik kembali. Ia menatap mata Adnan yang mengisyaratkan sedikit kemarahan.
"Paman tidak ingin memberikan harapan palsu pada Zahra. Ia lebih baik terluka sekarang, dari pada nanti. Paman tidak ingin melibatkan orang lain atas keterpurukan hidup Paman. Kamu mungkin mengenal Paman. Namun, kamu tidak tahu apa yang telah Paman lewati selama ini," jawab Egi lembut.
Di tangga dekat koridor kampus. Ternyata Rina berada di sana. Ia menyimak dari pertama Zahra dan Egi berbicara. Matanya menatap lekat pada ketiga manusia ciptaan Allah itu.
"Apakah Pak Egi menyembunyikan rahasia sama sepertiku," gumam Rina.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa like, coment dan vote🤗
__ADS_1