Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 14


__ADS_3

Terima kasih karena selalu bekerja keras bersama denganku.


🌾🌾🌾 EGI 🌾🌾🌾


Setelah melaksankan salat dan mencurahkan perasaan rindu. Egi dan Zahra keluar kamar. Hari ini mereka akan kembali ke rumah. Tak lupa Egi ucapkan terima kasih pada mertuanya, karena telah bersedia dititipi Zahra.


Tepat pukul 8 pagi, Egi memboyong istrinya pulang. Hari ini tak ada jadwal mengajar ataupun rencana kencan. Mereka hanya ingin menikmati detikan waktu yang sempat terlewat.


Saat di perjalanan mata Zahra mendapati sosok keponakan yang tengah beradu mulut dengan seorang gadis. Dengan cepat ia meminta Egi untuk berhenti. Mobil Egi menepi, ia keluar dan menghampiri Adnan yang terlihat kewalahan. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara ketus Adnan.


"Hei, jadi cewek anggun dikit. Udah salah malah nyolot!" sungut Adnan.


"Hello ... tuh mulut minta disumpel tisu sepack, ya." Gadis berambut panjang yang diikat ke atas dengan penampilan seperti laki-laki mendengus kesal. "Jangan kira karena lo ganteng, terus gue mau gitu aja minta maaf."


"Tuh, kamu sendiri yang bilang kalau aku ganteng."


"Aku, kamu." Gadis itu tertawa mengejek. "Udah kayak anak mami aja!"


Adnan tersulut emosi, ia tatap lekat-lekat gadis itu. "Jangan pancing emosiku! Kecuali kamu engga sayang wajah cantikmu itu."


"Mau ngapain? Gue engga takut!"


Tangan Adnan mengepal. Andai tak ingat lawannya adalah seorang gadis, sudah pasti ia akan merelakan tangannya melayang ke depan.


"Engga berani kan, lo? Dasar anak cowok lemah!"


Egi datang. Ia menarik tangan Adnan yang hendak melayang ke depan. "Ingat, dia wanita. Lelaki sejati tidak pernah menyakiti mahluk berhati lembut seperti mereka sekesal apa pun."


Adnan terperanjat mendengar itu. Ia menoleh ke samping. "Paman, sejak kapan di sini?"


"Paman sedang perjalanan pulang dan tak sengaja melihatmu bertengkar dengan seorang gadis," terang Egi.


"Gadis! Dia mana bisa di sebut gadis!" tunjuk Adnan pada gadis di hadapannya.


"Wah, mulut kau ini benar-benar butuh dijait," tukas gadis itu.


"Paman tua, bilang sama anak mami ini. Kalau nyetir itu hati-hati!" tambah gadis itu pada Egi.


Adnan tertawa kencang, sedangkan Egi berusaha tenang mendengar panggilan baru untuknya dari seorang yang tak ia kenal.

__ADS_1


"Paman tua katanya," ulang Adnan sembari tertawa.


Seketika Adnan mendapatkan tatapan tajam dari Egi yang mampu membungkam mulutnya.


"Siapa namamu? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Egi pada gadis itu.


"Alina, itu namaku," jawab gadis itu. "Tanya sendiri sama lelaki lemah ini."


"Jaga mulutmu!" hardik Adnan. "Kamu belum tau orang seperti apa aku!"


"Halah, paling juga lo anak mami yang doyannya ngumpet di ketek. Kalau ada apa-apa, ngerengek," ejek Alina.


Egi mulai pusing. Kedua anak muda ini terus saja beradu argumen. Ia bahkan tak memiliki cara untuk memisahkan mereka.


"Stop!" teriak Egi. "Paman tidak tau kejadiannya seperti apa.Tapi, kalau kalian tak ada yang mau mengalah. Maka, paman akan menikahkan kalian berdua."


"Adnan, beritahu bundamu --kalau-- kamu sudah punya calon istri," lanjut Egi pada Adnan.


"Dan kamu, gadis keras kepala. Beritahu alamat rumahmu dan katakan pada orang tuamu, bahwa akan ada seorang lelaki yang akan datang melamar," sambung Egi pada Alina.


Setelah mengatakan itu Egi berlalu menyisakan Adnan dan Alina yang masih tak percaya dengan yang mereka dengar.


"Paman, aku engga mau punya bini galak kayak dia," ujar Adnan.


"terlambat! Paman tua itu udah mau punya anak," sela Adnan sembari masuk ke mobil.


"Yang benar? Aku pikir dia masih lajang." Mengikuti Adnan dan berdiri di samping mobil.


"Kenapa? Kamu mau daftar jadi istri keduanya?" Adnan tersenyum mengejek. "Jangan harap, istrinya galak kayak singa. Wanita memang mahluk paling sulit."


Adnan menutup kaca jendela, lalu menjalankan mobil kembali. Sementara itu Alina yang semakin kesal terus mengomel tak jelas. Sesekali terdengar umpatan dari bibir gadis itu.


"Gue berdoa, semoga bukan lelaki itu jodoh gue. Kalau iya, bisa darah tinggi." Alina berjalan menghampiri motor besarnya, memakai helm dan segera menancap gas seperti seorang pembalap.


Sementara itu Egi yang baru saja masuk kembali ke mobil langsung dihujani beberapa pertanyaan dari Zahra. Istrinya ingin tahu apa yang terjadi.


"Keponakanmu akan segera menikah," jawab Egi singkat. Tak peduli dengan respon sang istri yang langsung menjerit.


Keduanya segera melanjutkan perjalanan kembali. Selama perjalanan ia terus membayangkan bagaimana nasib keponakannya, jika benar gadis itu adalah istrinya.

__ADS_1


"Aku yakin, Adnan tak bisa berkutik sama sekali," batin Egi.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Waktu berjalan semakin cepat. Hari ini usia kandungan Zahra telah memasuki 29 minggu. Hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum sang bayi keluar. Zahra berencana mengajak Egi berbelanja perlengkapan bayi.


Sejak pagi Egi sudah antutias. Ia bahkan berdendang ria tak seperti biasanya. Calon papa muda itu tengah berbahagia. Bagaimana tidak? Sudah dari usia kandungan istrinya 20 minggu Egi menyiapkan kamar bayi di sebelah kamar utama. Ia bahkan rela merogoh kocek lumayan dengan menghadirkan arsitek handal untuk mendekor kamar calon anaknya.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Egi, mengecup singkat perut Zahra yang terbalut gamis. "Apa kabar, Nak? Sebentar lagi kita akan bertemu. Ayah menantikan momen itu."


"Mas, dia meninjuku," keluh Zahra.


"Wah, berarti dia sudah tau suara ayah tampannya."


"Aku memang calon ayah muda yang tampan dan perhatian," puji Egi untuk dirinya sendiri.


"Sudah siang, Mas. Ayo, kita berangkat." Zahra merangkul tangan suaminya.


"Baiklah."


Keduanya melangkah keluar. Bayangan baju bayi yang lucu terus melintas di pikiran Zahra. Ia tak sabar segera memborong semuanya. Hanya perlu 10 menit untuk sampai di salah satu tempat perbelanjaan.


Egi dan Zahra keluar setelah memarkirkan mobil. Dengan mesra Egi menggandeng tangan istrinya. Perut Zahra yang mulai buncit menjadi perbincangan para wanita muda yang melihat. Egi tak tahan, ia berhenti tepat di ketiga gadis muda yang sejak tadi membicarakan Zahra.


"Kalian tidak berhak menghakimi seseorang. Dia memang hamil di usia muda. Tapi, apa itu menjadi masalah untuk kalian? Bukankah sesama wanita harus bisa saling menghormati?"


Para gadis itu seketika diam. Sementara itu Egi semakin menggenggam erat tangan istrinya. Melenglang masuk menuju toko perlengkapan bayi.


Zahra mengurai senyuman. "Terima kasih, Mas untuk semuanya."


"Jangan pernah malu, meski kamu hamil di usia muda. Asalkan itu bukan dari perbuatan terlarang. Tenanglah ... aku akan menemanimu melewati semuanya. Aku berdoa, semoga Allah mengganti setiap kesakitanmu selama proses kehamilan sampai melahirkan menjadi pahala yang berlimpah."


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa like, komen dan vote.


Alhamdulillah, tinggal satu part lagiπŸ€—

__ADS_1


Untuk cerita Adnan dan Alina akan beda judul.


Duo 'A' ini tidak melulu soal percintaan akan disertai perjuangan para tokoh utamaπŸ€—


__ADS_2