Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
79


__ADS_3

Rey memacu kendaarannya dengan cepat, mulutnya sudah gatal ingin mencerca pertanyaan pada Dika.


Sesampainya di villa, Mona langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat begitu pun, Dira, Lisa, Egi dan Rendy.


Di samping villa ada taman kecil penuh bunga, Rey dan Dika duduk diam tak saling berbicara. Dika menghela nafas kasar lalu berkata, " Gue tahu Lo pasti kaget banget, Rey! Tapi, itulah kenyataannya. Cinta engga bisa memillih pada siapa, bahkan kita tidak tahu sejak kapan datangnya cinta."


Rey masih memandang langit cerah, dia bukan kaget tapi, lebih tepatnya tak percaya dengan ucapan Dika.


"Dik, Lo udah tahu tentang Farhan sama dira?" tanya Rey.


"Hmm ... Gue bahkan liat sendiri perlakuan Farhan ke Dira!" sahut Dika sembari mengetuk-ngetuk jarinya ke tembok.


Rey melirik sekilas lelaki di sampingnya, kemudian fokus kembali pada objek pandangannya.


"Gue tahu! Pagi tadi saat gue udah keluar kamar dan pergi ke dapur, gue lihat Lo keluar villa. Gue kira Lo mau pergi joging jadi, gue coba nyusul Lo. Tapi, hal yang engga gue nyangka terpampang jelas di mata gue." beber Rey.


"Lo juga liat!" Dika mempertegas suaranya.


"Ya, awalnya gue pengen nyamperin Farhan dan nonjok dia. Tapi, gue lihat Lo lagi diam mematung memperhatikan mereka juga. Gue liat tangan Lo mengepal, menahan sesesuatu yang mendidih di otak Lo!"


"Jadi, sebenarnya Lo udah tahu gimana perasaan gue?"


"Gue awalnya cuman mengira-ngira saja, setidaknya pikiran gue berkata seperti itu. Cuman gue nolak buat percaya karena gue belum denger langsung dari mulut Lo sendiri. " tutur Rey.


Dika terdiam mendengar penjelasan Rey, kini hatinya sedikit lega tak menyimpannya sendiri lagi. Dika hanya tinggal mempersiapkan mental untuk mengungkapnya pada Dira.


"Saran gue, Lo bersaing sehat sama Farhan. Gue tahu dia bejat tapi, seperti yang Lo kata cinta engga memilih siapa pun, bisa saja hati Dira terpaut dengan Farhan." Rey menepuk pelan pundak sahabatnya kemudian berlalu meninggalkan Dika yang masih mencerna ucapan Rey.


🌹🌹🌹🌹🌹


Malam harinya, mereka bertujuh pamit pulang pada Mang Amir dan istri. Sudah saatnya mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing.


Liburan singkat ini menaruh arti penuh terutama untuk Dika dan Dira. Dira yang mulai sedikit memikirkan tentang Kakak tuanya, sedangkan Dika yang telah bertekad mengungkapkan perasaannya.


Di dalam mobil Lisa bergelayut manja di tangan suaminya, Rendy tidak mengerti kenapa wanita ini bisa berubah drastis menjadi sangat cengeng dan manja. Meski, Rendy sendiri sangat senang tentang hal itu.


Seperti halnya setelah mereka pulang arung jeram, Lisa sama sekali tak mengizinkan Rendy keluar kamar sekalipun. Lisa membuat lelaki itu menghabiskan sisa waktunya di villa untuk memijat kepala dan perut istrinya yang sakit.


"Mas, aku kok pengen makan bebek panggang. Tapi, harus Mas yang memanggangnya." permintaan itu Lolos begitu saja dari bibir mungil Lisa.

__ADS_1


"Kenapa harus aku, Sayang? kita, kan bisa menyuruh Mang Rudy atau bi Inah yang memanggang, atau lebih praktis lagi kita membelinya saja," saran Rendy.


"Engga mau! Aku maunya bebek panggang buatan, Mas!" rengek Lisa.


"Baiklah, aku mengalah. Aku akan memanggangnya nanti setelah kita sampai di rumah, Ok!"


"Janji ya, Mas!" lagi-lagi Lisa mengeluarkan suara manjanya.


"Iya, Sayang,"


Lisa kemudian menyenderkan kepalanya lalu, memejamkan matanya untuk tidur menyusul Dira dan Egi yang sudah terlelap lebih dahulu.


Rendy menatap heran pada istrinya, apa yang sebenarnya terjadi pada Lisa. Kenapa dia tiba-tiba meminta sesuatu yang aneh, bahkan kali ini dia meminta Rendy memanggang bebek.


Rendy menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya berkata, " Gue mana bisa manggang bebek, liatnya aja udah trauma duluan."


Rendy memiliki trauma sendiri akan bintang berkaki dua itu, dulu saat ayahnya membawa ia pulang kampung ke tempat nenek dan kakeknya. Ada kejadian tak menyenangkan yang di alami Rendy.


Di kampung kakeknya masih sangat segar, penduduknya kebanyakna petani, atau pun peternak bebek dan ayam. Suatu hari Rendy kecil ikut kakeknya memberi makan bebek kesayangan sang kakek, Rendy kecil begitu senang melakukannya.


Entah kenapa bebek yang di beri makan Rendy tiba-tiba mematuk kaki kecil anak itu lalu, seketika mengejarnya membuat Rendy lari kocar kacir saking takutnya. Hingga sang kakek datang memasukan bebek nakal itu ke dalam kandang.


Rendy melajukan mobilnya sambil memikirkan cara bagaimana dia menepati janji pada istrinya. Sampai di rumah sudah pasti Lisa akan menagih janjinya.


"Ah, gue pusing." lelaki itu berdecak pelan, ia menyerah tak menemukan cara untuk berinteraski dengan binatang itu lagi.


Tepat pukul delapan malam, mereka tiba di rumah. Rey, Dika dan Mona sudah pamit duluan untuk pulang, mobil mereka berpisah sejak masuk ke dalam tol.


Rendy membangunkan Dira dan Egi, menyuruh mereka untuk tidak berisik mengganggu tidur tenang istrinya.


"Masuk dan istirahatlah! Biar kakak yang menggendong Kak Lisa!" perintah Rey pada kedua adiknya.


Dira mengajak Egi masuk ke dalam menuruti perkataan Kakaknya, sejujurnya dia juga sudah sangat lelah hari ini. Dira rindu akan kasurnya yang empuk dan besar.


"Aku rindu kamu." Dira berbicara pada kasurnya seakan mereka pasangan kekasih yang sudah lama berpisah.


Rendy menggendong istrinya masuk ke dalam rumah, Bi Inah yang melihat Tuan dan Nyonyanya datang segera menghampiri.


"Nyonya kenapa, Tuan? ucap Bi Inah khawatir.

__ADS_1


"Dia hanya tertidur, Bi," sahut Rendy, "kalau begitu, saya masuk kamar dulu."


"Baik, Tuan. Silahkan istirahat!" Bi Inah membiarkan Rendy berlalu menaiki tangga menuju lantai dua.


Sesampainya di kamar, Rendy merebahkan Lisa dengan pelan. Wanita ini sedikit ringan, mungkin karena akhir-akhir ini dia tidak berselera makan.


Lisa sama sekali tak terusik sedikitpun, ia masih saja tenang dalam tidurnya. Saat Rendy hendak beranjak meninggalkan istrinya, terdengar Lisa mengigau.


"Bebek panggang! Aku menginginkanmu," racau Lisa.


Rendy tersenyum mendengar ucapan istrinya, sepertinya Lisa sangat menginginkan makanan itu sampai-sampai terbawa ke alam mimpi.


Rendy mengecup singkat bibir manis Lisa yang sudah menjadi candu, kemudian ia berlalu keluar kembali ingin menemui Bi Inah.


Rendy mendapati wanita paruh baya yang sudah mengabdikan dirinya dari pernikahaan pertamanya dulu. Bisa di bilang Bi Inah adalah saksi hidup perjalanan pernikahaannya, baik dengan Kyala dan Lisa sekarang.


"Bi," sapa Rendy


Bi Inah segera menoleh ke arah Tuannya lalu berkata, "Iya, Tuan. Ada yang bisa Bibi bantu?"


"Besok, tolong belikan daging bebek di pasar. Nyonya ingin makan bebek panggang!" perintah Rendy.


"Baik, Tuan. Bibi akan membuatkannya besok,"


"Tidak, Bi! Maksud saya, nyonya ingin bebek panggang buatan saya sendiri." Rendy beranjak pergi meninggalkan Bi Inah yang keheranan.


"Apa Tuan tidak akan trauma begitu memanggang daging bebek," gumam Bi Inah. " Bukannya Tuan sangat menghindari daging binatang itu."


Bi Inah tentu tahu kebiasaan tuannya, selama ia bekerja di sini tak sekalipun ia memasak menu yang berkaitan dengan bebek. Sebelumnya Bu Ratna sudah memberitahu Bi Inah perihal trauma yang di alami anaknya.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Terimakasih teman-teman atas semua dukungan untuk Author.


Author sangat senang bisa menyajikan cerita untuk kalian, pokoknya aku pada kalian semua yang selalu setia membaca😘😘😘😘


Selamat membaca🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2