Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
52


__ADS_3

Sementara itu, Rendy dan Lisa tengah sarapan berdua. Hari ini bi Inah yang memasak karena, Lisa tak enak badan.


"Sayang, apa Dika sudah menelponmu lagi?" tanya Rendy.


"Belum, mas. Mungkin Egi belum bisa di izinkan pulang," jawab Lisa.


"Iya, mungkin. Oh, ya sayang. Kapan kamu akan mengundurkan diri."


"InsyaAllah hari ini, mas. Aku akan ke kantor untuk mengundurkan diri. Sekalipun mereka sudah tau siapa aku tapi, aku ingin keluar dengan baik-baik."


"Ya, aku mendukungmu." Rendy tersenyum.


Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba ponsel Rendy berdering. Rendy meraih ponselnya, keningnya berkerut untuk apa Dira menelpon. Apa dia menagih janji Rendy dulu.


"Assalamualaikum," ucap Rendy begitu telpon tersambung.


"Kak..ma..ma..mama," ujar Dira terbata-bata.


Rendy kaget mendengar adiknya seperti ketakutan, dia segera menghentikan aktivitas makannya.


"Dira, bicara yang jelas. Ada apa dengan mamah?" Rendy kebingungan.


"Anu ... mamah, kak." Dira menangis di ujung sana.


Rendy yang mendengarnya sedikit panik. Ada apa yang sebenernya terjadi.


"Kamu tenang dulu, Dira. Coba ceritakan ke kakak pelan-pelan."


Dira terdengar membuang nafas, lalu berkata kembali.


"Mamah masuk rumah sakit, kak ...," lirh Dira.


"Apa!! Sejak kapan? Sekarang kamu berada di rumah sakit mana, kakak akan segera menyusul." Rendy panik, dia takut terjadi apa-apa pada wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya itu.


"Di rumah sakit X, kak," jawab Dira.


"Oke. Kamu tenang dulu, kakak akan segera berangkat. Ya sudah, kakak tutup telponnya. Assalamulaikum." Rendy menutup sambungan telpon.


Lisa yang sejak tadi menyimak percakapan suaminya ini, mencoba menenangkan meski hatinya ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, Mamah masuk rumah sakit. Aku akan ke sana, kamu mau ikut atau pergi ke kantor untuk mengundurkan diri?" Rendy mencoba tenang.


"Ya Allah. Mamah sakit apa, mas? Aku ikut mas saja, soal pengunduran diri biar nanti saja di urusnya." Lisa masih terus mengelus punggung suaminya.


"Baiklah. Ayo, kita berangkat. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan mamahku." Rendy segera bangkit, menyambar kunci mobil kemudian berlalu ke arah pintu luar.


Lisa yang mengerti suasana hati suaminya, segera mengikuti dari belakang. Dia ingin berada di samping Rendy, di saat seperti ini.


Rendy menyetir mobil dengan hati tak karuan, pikirannya melayang memikirkan bagaimana kondisi ayahnya.

__ADS_1


Di tengah kekacauan, dia ingat akan janji meeting hari ini. Dengan cekatan Rendy mengambil ponsel lalu menelpon Rey.


Tak lupa dia pasangkan handsfree handseat ke telinga, agar memudahkannya menelpon sambil menyetir.


"Assalamualaikum, Ren." Suara Rey terdengar ke telinga Rendy.


"Waalaikumsalam, Rey. Gue minta tolong untuk hari ini, cancel semua jadwal gue," ucap Rendy.


"Kok mendadak gini sih, Ren. Ada apa memang?"


"Mamah masuk rumah sakit. Gue lagi menuju ke sana. Pokoknya gue minta cancel semua! tegas Rendy.


"Apa!! Tante Ratna masuk rumah sakit. Oke, Ren. Gue ngerti, gue akan atur ulang jadwal lo. lo yang sabar, gue nanti nyusul kalau kerjaan gue di sini udah beres."


"Oke." Rendy terburu-buru menutup telpon tanap mengucap salam.


Lisa hanya diam, dia tak tau harus berbuat apa. Yang dia lalukakan hanya memastikan dirinya ada di setiap momen kehidupan Rendy.


Setengah jam berlalu, Rendy tiba di rumah sakit. Dia segera memarkirkan mobilnya kemudian keluar dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


Lisa hampir tak bisa menyimbangi langkah kaki suaminya yang terlalu cepat.


"Permisi. Bisa kasih tau kamar nomer berapa pasien atas nama nyonya Ratna Adrian Wijaya?" tanya Rendy ramah.


Pegawai wanita itu menatap Rendy, dia tak percaya bisa melihat sedekat ini pengusaha tampan itu.


"Ah, maaf tuan. Sebentar saya cek!" ucapnya yang baru sadar dari lamunan.


Lisa baru sampai di meja resepsionis, ketika Rendy bertanya pada pegawai rumah sakit itu.


"Nyonya Ratna Wijaya Kusuma, berada di kamar rawat Vip, tuan. Tepatnya di lantai delapan," lanjut pegawai itu.


"Baik. Terimakasih." Rendy segera pergi tak lupa sekarang dia menggandeng tangan istrinya.


Karena kecemasannya, Rendy sampai lupa kalau dia datang tak sendiri melainkan, bersama bidadarinya.


"Sama-sama, tuan," jawab pegawai itu menatap kepergian mereka berdua.


Teman sesama propersinya datang menghampiri pegawai wanita yang baru saja berbicara dengan Rendy.


"Lo kenapa, Mel?" tanya nya.


"Gue habis liat bintang," jawab pegawai itu.


"Ngaco, lo. Mana ada bintang di siang hari, terus di rumah sakit lagi."


"Beneran, Tika. Ini malah lebih dari bintang, pesonanya bersinar terang. Aduh bang, adek mana tahan."


"Mulai dah, engga warasnya ni anak." Teman pegawai itu berlalu meninggalkan orang yang menurutnya sedang tak waras.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Sementara itu, Rendy dan Lisa baru sampai di lantai delapan rumah sakit. Dari kejauhan sudah terlihat pak Adrian dan Dira tengah duduk cemas di luar ruangan.


"Gimana keadaan mamah, pah?" tanya Rendy cemas.


Sedangkan Lisa, langsung merangkul Dira yang sudah banjir dengan air mata.


"Sabar, Dira. Mamah pasti sembuh." Lisa mencoba menenangkan adik iparnya ini.


Pak Adrian menoleh ke arah Rendy. Di tatapnya anak lelaki satu-satunya ini.


"Dokter bilang, mamahmu mengidap kanker rahim stadium akhir. Sekarang mamahmu dalam keadaan tak sadarkan diri," ucap pak Adrian Lesu.


"Kanker rahim!! Sejak kapan mamah mengidap penyakit itu, selama ini yang rendy tau mamah terlihat baik-baik saja." Rendy tak percaya.


"Papah juga baru tau sekarang. Ternyata, selama ini mamahmu merahasikannya dari kita semua. Mamahmu tak ingin orang yang di cintainya khawatir." Jelas pak Adrian.


"Ini tidak mungkin, pah. Mamah tidak pernah merahasiakan apapun padaku, bahkan mamah sering bercerita apapun jika ada apa-apa. Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Tubuh Rendy terasa lesu, kemudian duduk tekurai lemas di kursi.


Terdengar suara pintu terbuka, keluar seorang dokter lelaki muda dengan setelan jas putihnya. Rendy segera bangkit menghampiri dokter itu.


"Dok, bagaimana keadaan mamah saya?" tanyanya.


Dokter itu menghela nafas, dia tak tega menyampaikan berita buruk ini. Tapi, apapun keadaan pasien keluarganya harus tetap tau.


"Sebelumnya saya minta maaf. Kanker yang di derita nyonya Ratna ini sudah menjalar hampir ke seluruh tubuhnya. Beliau masih tak sadarkan diri, kecil kemungkinan beliau bisa bangun kembali. Sebaiknya kita banyak berdoa, semoga Allah memberi keajaiban untuk beliau," jelas Dokter itu.


Mendengar penjelasan dari dokter, hati ,Rendy serasa tertusuk duri. Sakit sekali menerima kenyataan yang dia alami saat ini.


Lisa yang hanya seorang menantu pun, merasakan hal yang sama. Bu Ratna yang sudah di anggapnya ibu kandungnya, sekarang tengah berjuang melawan penyakit ganas itu sendiri.


Bulir air mata lolos begitu saja dari pipi Lisa, dia sudah tak sanggup menahannya lagi. Terlebih dia menyaksikan sendiri, betapa sedihnya saat ini lelaki yang di cintainya.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Author mau kasih tau karya baru author, mungkin berkenan mampir dan insyaalloh up tiap hari.



Cerita ini mengangkat tema seorang penulis sekaligus mahasiswi, yang jatuh hati pada pandangan pertama pada senseinya.


Author mengangkat latar belakang jepang di novel kali ini. Kalau berkenan silahkan mampir yaπŸ€—πŸ™


Jangan Lupa dukung author dengan like,coment&vote😍😍😍


SELAMAT MEMBACAπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2