
Sejak kejadian tadi tanpa sadar tangan Lisa terus menggenggam tangan suaminya. Dia takut Rendy tiba-tiba menghampiri Farhan dan menghajarnya seperti Rey.
Dari arah depan terdengar lantunan lagu tengah di nyanyikan sebuah band. Suara vokalis lelaki itu mampu menyita ratusan mata, mereka terbuai dengan alur lagu yang di nyanyikan.
Setelah satu lagu selesai, Vokalis mempersilahkan jika, ada tamu undangan yang mau menyumbang lagu.
Setelah berapa lama tak ada satupun dari tamu yang maju ke atas, tanpa Lisa sadari Rendy melangkahkan kaki ke arah panggung untuk menyanyikan sebuah lagu.
"Test..Test..Pertama-tama saya ingin menyampaikan kalau, lagu ini saya persembahkan untuk wanita paling cantik malam ini. Istri saya, Lisa Wijaya Kusuma." Rendy menunjuk Lisa dengan tangan kanannya.
Lisa yang baru sadar jika namanya di panggil, Menundukkan kepalanya karena malu. Semua mata tertuju padanya sekarang.
**Tiba saatnya kita saling bicara.
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yang menggebu.
Tentang cinta yang tak terungkap.
Sudah terlalu lama kita terdiam.
Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam.
Memenuhi malam-malam.
Mimpi kita.
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah.
Perasaanmu, rindumu seluruh cintamu.
Dan kini hanya ada aku dan dirimu.
sesaat di keabadian.
Jika sang waktu bisa kita hentikan.
Dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan.
Meleburkan semua batas.
Antara kau dan aku.
Kita.
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah.
Perasaanmu, rindumu seluruh cintamu.
Dan kini hanya ada aku dan dirimu.
Sesaat di keabadian.
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
perasaanmu, rindumu seluruh cintamu.
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah.
__ADS_1
Perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu.
Dan kini hanya ada aku dan dirimu.
Sesaat di keabadian**.
Rendy tersenyum pada Lisa setelah selesai bernyanyi, tepuk tangan meriah dari para tamu, membuat Lisa merah merona.
Tak bisa di pungkiri Lisa bahagia malam ini, dia merasa sangat di cintai. Seakan kesedihan yang dulu hadir dalam hidupnya, lenyap tak tersisa.
"Cie, cie. Yang di nyanyiin. So sweet banget sih." Goda Mona pada Lisa.
"Apaan sih, Mon. Malu tau di liatin banyak orang." Lisa menutup mukanya dengan tangan.
Rendy berjalan ke arah Lisa, meraih tangan yang dari tadi menutup wajah Lisa.
"Kenapa, apa kamu malu?" Tanya Rendy.
"Mas, semua orang menatap kita."
"Biar saja. Biar mereka tau, kalau kamu adalah milik saya."
"Tapi.."
"Suuut... jangan banyak bicara." jari telunjuk tangan kanan Rendy menyentuh bibir Lisa.
Rey dan Mona saling bertatapan, Rendy ini memang tak tau tempat. Padahal ini di keramaian, bisa-bisanya mesra di hadapan semua orang.
"Apa kamu tidak iri?" Bisik Rey di telinga Mona.
Mona hanya melirik sebentar ke arah Rey, lelaki ini sama saja dengan bosnya.Memang mereka ini layaknya upin ipin, si kembar yang tak terpisahkan, hanya saja muka mereka yang berbeda karena, bukan lahir dari orang tua yang sama.
"Mona, aku duluan ya." Pamit Lisa pada sahabatnya.
"Iya, Lis." Jawab Mona.
Rendy dan Lisa berjalan keluar gedung, Farhan yang dari tadi memperhatikan kemesraan mereka mengepalkan tangannya.
Dia sudah bertekad untuk, bisa merebut Lisa dari Rendy bukan karena dia menyukai Lisa. Tapi semata-mata hanya karena rasa iri dan kesal pada Rendy.
Farhan yang sejak kuliah selalu kalah dari Rendy, menimbun dendam yang dalam. Dia tak pernah terima ada yang lebih baik dari dirinya.
Rey menatap Mona, dia ingin segera bisa seluasa Rendy. Bisa bermesraan dengan pasangannya namun, perjalanannya masih panjang.
Mona yang hanya menganggap perhatian Rey hanya sebatas main-main, membuat Rey harus ekstra kerja keras mendapatkan hati pujaannya itu.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Sementara itu di belahan dunia lain tepatnya di negera Belanda. Egi, adik kandung Lisa baru saja sepenuhnya sadar dari tidur panjangnya.
Jari jemarinya mulai bisa di gerakkan, matanya menatap lekat ruangan yang asing baginya.
"Ayah..Ibu..Kakak.." Ucapnya begitu sadar.
Dokter Dika yang selalu setia menemaninya terkejut mendengar, ucapan dari pasien yang dia rawat.
Dokter Dika segera menatap wajah Egi, memastikan pasiennya ini sudah sadar sepenuhnya.
"Egi, apa kamu bisa mendengar saya?" Dokter Dika mulai mengajak egi berkomunikasi.
__ADS_1
Egi menganggukan kepalanya tanda membenarkan pertanyaan Dika.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sepenuhnya pulih. Lisa pasti bahagia mengetahui ini."
"Dimana ibuku, ayahku juga kakakku?" Egi menatap lekat pada Dika.
"Nanti kamu akan tau."
"Bapak, siapa? Dan dimana Egi sekarang?" Egi keheranan karena terbangun di tempat yang asing bersama orang yang tak di kenalnya.
Karena seingat Egi, dia sedang bersama keluarganya untuk pulang ke rumah setelah berjalan-jalan.
"Saya, dokter Dika. Dokter yang merawatmu selama koma. Kamu sedang di salah satu rumah sakit di Belanda." Jelas Dika.
"Koma? Kenapa Egi bisa koma, Dok?"
"Nanti akan saya jelaskan, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Jangan terlalu banyak bergerak." Saran Dika.
"Tapi, dimana keluarga Egi, Dok?"
Dokter Dika berpikir sejenak, bagaimana dia menyampaikan soal kabar kematian ibu dan ayahnya pada Egi.
Terbesit rasa kasihan untuk Egi, di usianya sekarang sudah harus kehilangan orang tuanya untung saja. Egi masih memiliki kakak perempuan yang sangat menyayanginya.
"Mereka ada di indonesia. Mereka tak bisa ikut kamu di sini karena, harus mencari biaya untuk perawatan kamu." Dika berbohong.
Tak tega rasanya, jika harus menyampaikan kebenarannya sekarang. Biarlah Egi tau dari mulut kakaknya sendiri.
Egi nampak sedih, dia merasa menjadi beban untuk orang tuanya. Entah berapa lama dia koma dia pun tak tau.
Egi berharap bisa segera bertemu keluarganya, berkumpul kembali seperti dulu. Dia rindu bercanda dengan kakaknya, dia rindu pelukan hangat ayah juga masakan enak ibunya.
"Dokter, kapan Egi bisa kembali ke tanah air?"
"Secepatnya, kalau kondisimu semakin membaik, kita akan segera pulang. Kamu pasti sudah rindu keluargamu?" Dika terpaksa tersenyum, dia tak ingin terlihat sedih di hadapan pasiennya ini.
"Iya, Dok. Egi kangen semuanya apalagi kak Lisa. Egi kangen bisa bercanda dengan kakak lagi." Ucap Egi.
"Sabarlah, pasti kamu akan bertemu kakakmu. Apa kamu ingin menelpon kakakmu? Nanti saya akan menghubunginya untuk memberi kabar baik ini."
"Iya, Dok. Egi mau menelpon kakak." Wajah Egi nampak bersemangat.
Sekuat tenaga, Dika menahan air matanya agar tak keluar. Dia sangat iri pada Egi, sekalipun tak punya orang tua lagi. Tapi, dia memiliki kakak yang mau berkorban demi dirinya.
Sampai Lisa harus mengorbankan perasaan dan hatinya. Dia memilih menikah dengan lelaki asing untuknya, demi Adik kesayangannya bisa mendapatkan perawatan terbaik.
"Egi, saya iri padamu. Kamu memiliki kakak yang sangat menyayangimu, kamu sangat beruntung. Saat besar nanti, jadilah pelindung kakakmu. Dia sudah banyak berkorban demi kamu." Dokter mengelus kepala Egi.
Egi hanya diam mendengarkan ucapan Dika, dia pun merasa begitu. Beruntungnya Egi memiliki kakak seperti Lisa.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jujur author sampai netesin air mata pas bikin dialog Egi, entah karena author engga pernah ngerasain punya kakak😥
Jangan lupa terus dukung author dengan like, coment&vote😍😍
SELAMAT MEMBACA🤗🤗
__ADS_1