
Mona tak bisa fokus pada pekerjaannya. Ucapan Rey terus terngiang di telinga. Benarkah lelaki itu akan datang ke rumahnya minggu depan?.
Ini seperti mimpi. Mona menepuk-nepuk pipinya. Dia sedang tak bermimpi juga. Pikirannya semrawut memikirkan ucapan Rey.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku bereskan pekerjaanku hari ini." Ucapnya.
Hari sudah berganti sore, semua karyawan berhamburan pulang. begitu pun dengan Mona, dia mengganti pakaiannya lalu segera keluar gedung.
Tapi, ada yang mengusik pikirannya. Tentang ajakan Rey untuk berkencan. Haruskah dia menunggu sesuai perintah Rey atau, dia acuhkan saja.
Mona menghentikan langkahnya. Dia berpikir sejenak, kakinya dia ayunkan ke arah gedung kembali. Mona pergi menuju parkiran bawah.
Rey baru saja selesai dengan pekerjaannya. Dia segera membereskan meja kerja, menyambar kunci mobil dan segera keluar ruangan.
Hatinya tengah senang, malam ini dia akan berkencan dengan wanita pujaan hatinya. Setelah sekian lama sendiri, Rey melabuhkan hatinya pada Mona.
"Dia udah nunggu belum ya." Ucap Rey sambil memasuk Lift.
Sesampainya di parkiran bawah, Rey menangkap punggung wanita yang tentu sudah dia kenal.
Rey bergegas menghampiri Mona, tangannya ingin sekali memeluk tubuh mungil Mona dari belakang. Tapi, Rey tau betul batasan antara wanita dan lelaki sebelum menikah.
"Hmmmm.." Rey berdehem.
Mona yang tengah sibuk dengan ponselnya, segera membalikkan badan. Mona tampak canggung berada dekat dengan Rey.
"Eh, pak Rey sudah datang." Sapa Mona kikuk.
"Aku kira kamu tidak akan menunggu saya." Goda Rey.
"Ya udah. Kalau pak Rey engga suka aku tungguin, aku pulang aja." Mona kesal.
"Eh, kok ngambek sih. saya cuman bercanda. Ayo, masuk ke mobil." Rey mengajak Mona masuk ke dalam mobil.
Mona menurut, dia mengikuti Rey masuk ke dalam mobil. Rey melajukan mobilnya ke jalan raya.
"Kita mau kemana, pak?" Tanya Mona.
"Kita nongkrong dulu saja di cafe sambil menunggu adzan magrib. Baru setelah itu kita nonton." Jawab Rey.
Mona tak menjawab kembali, pandangannya fokus menatap ke arah luar kaca jendel mobil. Sedangkan Rey, masih tetap tenang menyetir.
Tak berapa lama, mobil Rey sudah sampai di salah satu cafe. Mona dan Rey segera turun dari mobil kemudian berlalu masuk ke dalam cafe.
Begitu masuk, mereka di suguhkan lantunan lagu cinta dari band penghibur di cafe. Vokalis bersuara merdu itu mampu menghipnotis hampir semua pengunjang cafe.
"Mau pesan apa, kak?" Tanya pelayan wanita yang baru saja menghampiri Rey dan Mona.
Tatapan karyawan wanita itu tak seperti biasa, dia seakan mencari perhatian Rey yang dari tadi malah fokus pada wajah wanitanya.
Karyawan itu sengaja memakai pakaian dengan leher berbentuk V. Rok pendek yang ketat, rambut di ikat sembarangan. Dia memajukan dadanya seperti sedang menggoda.
Mona yang merasa kesal, tanpa sadar merangkul tangan Rey segera.
"Sayang, kamu mau pesan apa? Aku ikut kamu aja." Ucap Mona manja.
Rey yang hampir di buat gila karena, sikap manja Mona yang mendadak ini hanya diam mematung.
Mona yang merasa tak ada reaksi dari Rey, kemudian mencubit perlahan otot tangan kanan Rey.
"Ih, sayang kok malah diem aja sih. Ayo, pesen sesuatu." Mata Mona sengaja melirik karyawan wanita itu yang masih setia mematung di hadapan mereka.
"Eh, iya maaf. Kita pesen es jeruk aja dua sama spagety nya juga dua ya, mba." Jawab Rey.
"Baik, kak. Mohon tunggu sebentar." Ucap karyawan itu mencatat pesanan mereka lalu pergi begitu saja dengan muka sedikit malu.
__ADS_1
Setelah memastikan karyawan tadi tak ada di hadapannya. Mona dengan cepat melepas rangkulan tangannya dari Rey.
"Kenapa di lepas? Saya senang kamu bermanja seperti tadi." Rey tersenyum nakal.
"Maaf, pak Rey. Habis Mona kesal kayaknya karyawan wanita tdi curi-curi perhatian bapak." Mona cemberut.
"Kamu cemburu?"
"Idih, siapa juga yang cemburu. Inget ya, saya itu cuman kesal bukannya cemburu." Bantah Mona.
"Sama aja, sayang." Rey mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih, pak. Panggil sayang segala."
"Tadi aja kamu panggil saya sayang. Saya biasa aja, masa saya engga boleh." Protes Rey.
"Itu kan beda, pak. Tadi saya cuman mau nunjukin ke karyawan tadi kalau, jangan sembarangan menggoda lelaki. Kan kali aja lelaki itu udah ada yang punya." Jelas Mona.
"Iya. Saya kan punya nya kamu."
"Hadeh. Tambah ngawur aja."
"Mona, bisa engga kamu jangan panggil saya bapak? Saya engga ngerasa nikahin ibu kamu." Ucap Rey.
"Terus, saya harus panggil apa?."
"Ya, seenaknya kamu aja."
"Gimana kalau kakek Rey aja. Hahahaha." Mona tertawa.
"Sembarangan saya masih muda." Protes Rey.
Perbincangan mereka terhenti karena, seorang pelayan lelaki datang membawa pesanan mereka.
Mona segera menyantap spageti yang menurutnya sangat menggoda. Mona tak peduli soal imagenya di depan Rey, dia sudah lapar.
Di sudut cafe suara merdu vokalis band, terus saja mendayu-dayu. Mereka menyanyikan lagu cinta, menambah suasana menjadi romantis.
"Mungkin di antara para pengunjung di sini ada yang mau bernyanyi. Boleh banget, kita tunggu partisipasinya." Tutur sang vokalis.
Mona yang fokus pada makananya, tidak terlalu perduli dengan sekitarnya. Sampai suara seseorang mampu menghentikan acara makannya.
"Teruntuk wanita berbaju merah di pojok sana, saya ingin menyanyikan sebuah lagu. Dengarkan baik- baik, sayang." Rey menunjuk Mona yang keheranan.
Semua pengunjung bersorak sambil menatap iri pada Mona. Mereka sangat ingin berada di posisi Mona, bisa punya kekasih seromantis Rey.
Rey mulai menyanyikan lagu dari Asbak Band yang berjudul "Membuatmu Cinta Padaku".
**Aku Bisa membuatmu cinta kepadaku.
Meski kau tak pernah mencintaiku.
Biar saja waktu yang kan menjawab
Semua padamu.
Lama sudah tlah ku tunggu.
Jawaban untuk hatiku.
Bicaralah tentang kejujuranmu.
Satu makna yang ku tunggu.
Berarti baikkah untukku?
__ADS_1
Biar ku pahami walau harus ku cari.
Aku bisa membuatmu cinta kepadaku.
Meski kau tak pernah mencintaiku.
Biar saja waktu yang kan menjawab.
Semua padamu.
Aku bisa membuatmu cinta kepadaku.
Meski kau tak pernah mencintaiku.
Biar saja waktu yang kan menjawab.
Semua padamu.
Lama sudah telah ku tunggu.
Jawaban untuk hatiku.
Bicaralah tentang kejujuranmu.
Bukan ku memaksakan kamu.
Agar mencintaiku dan jatuh padaku.
Tapi ku coba tuk yakinkan.
Kepada dirimu tulusnya hatiku.
Aku bisa membuatmu cinta kepadaku.
Meski kau tak pernah mencintaiku.
Biar saja waktu yang kan menjawab.
Semua padamu**.
Tepuk tangan meriah dari semua pengunjung cafe begitu Rey selesai menyanyikan lagu. Sementara itu Mona menundukkan kepalanya karena malu.
Bisa-bisanya lelaki itu bernyanyi untuknya di khalayak umum seperti ini. Ingin sekali Mona menyeret Rey ke sungai dan menceburkan diri bersama karena, tak sanggup menahan malu ini.
"Kenapa kamu menyembunyikan wajahmu seperti itu." Tanya Rey seperti tak mengerti.
"Ini karena ulah pak Rey. Coba liat mereka semua menatap kita, pak!" Kesal Mona.
"Biarkan saja, toh mata mereka sendiri ini mau lihat siapapun." Rey duduk kembali di samping Mona.
"Tau ah. Saya malu."
"Jangan malu, saya aja yang bernyanyi tidak malu." Bantah Rey santai.
Mona merasa prustasi jika, sudah berdebat dengan Rey. Mulut lelaki ini memang punya beribu kata untuk di ucapkan.
"Saya tak peduli pendapat orang tentang kita. Saya mencintai kamu jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk malu mengutarakan perasaan saya di hadapan semua orang." Lanjut Rey dengan entengnya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Terimakasih yang masih setia dengan cerita author🤗
Alhamdulilah karya author yang ini sudah lulus kontrak dan insyaAllah, author juga akan menulis novel terbaru lagi.
__ADS_1
Jadi mohon dukungannya ya dengan Like, coment&vote😍😍
SELAMAT MEMBACA🤗🤗🤗