Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 12


__ADS_3

Malam akan terasa panjang saat belahan hatimu tak berada di samping. Saat dekat terasa menyebalkan. Begitu jauh, tak kuasa menahan rindu.


🌼🌼🌼 Ciety_Ameyzha🌼🌼🌼


Zahra selesai berganti pakaian. Kini Egi dan Zahra segera meluncur ke kampus. Sepuluh menit di mobil, tak terasa. Sejak duduk di bangku, mulut Zahra tak berhenti berucap. Ia seperti seorang anak kecil yang tengah bercerita.


Mobil baru saja parkir. Zahra membuka sabuk pengaman, meraih tangan Egi dan mencium telapak tangannya dengan lembut.


"Jangan kelelahan, ya. Kamu bisa hubungi aku kapanpun." Satu kecupan mendarat di kening Zahra. "Aku mencintaimu."


Zahra tersenyum, mengacungkan satu jempol. "Siap, Pak Dosen."


Setelah mengatakan itu Zahra bergegas keluar tanpa berniat menoleh ke belakang. Andai ia menoleh, sudah pasti wajah Egi yang fresh di pagi hari akan terus berlompatan di mata.


"Dia dingin, tapi ngagenin. Tiap bicara, serasa lagi sidang. Bawaanya formal mulu," ujar Zahra terus melangkah.


Hari ini Egi hanya ada satu kelas pagi. Setelah itu, ia harus bersiap terbang ke kota lain. Jika ditanya lelah, tentu. Namun, ia tak boleh mengeluh. Kata itu tak ada dalam kamus hidupnya.


Seperti hari sebelumnya, Egi dan Zahra memerankan peran masing-masing sebagai dosen dan mahasiswi. Tak ada kemesraan ataupun kompensasi di antara keduanya. Bagi Egi, ia tak memandang siapapun saat di kampus. Sekalipun Zahra --istrinya sendiri-- ia tetap menerapkan peraturan yang telah berlaku.


Begitu pun Zahra. Ia tak pernah bergantung pada suaminya selama di kampus. Tugas pun ia kerjakan sendiri tanpa merengek meminta bantuan. Menurutnya, kehidupan pribadi tak bisa dicampur adukkan dengan perihal pembelajaran. Posisi Egi mungkin suami di kehidupannya. Namun, ia tak lupa, bahwa Egi pun adalah dosen tempat ia menimba ilmu.


Hari mulai siang, Zahra tampak duduk termenung sendiri di pojok kantin. Amalia dan Adnan, entah ke mana mereka? Zahra pun tak mengetahuinya. Sempat tadi pagi, ia bertemu dua R di kelas. Mereka terus mengoceh seputar sepupu baru. Bahkan, keduanya terus beradu mulut meminta Zahra untuk menggunakan nama usulan dari keduanya.


"Kalau dia cowok, namanya harus Alex," ujar Riki.


"Engga keren, Bambang. Nih, gue kasih yang keren. Yaitu, Haikal aji mumpung," tukas Riko.


"Wah, parah memang anak satu ini. Masa sepupu sendiri dinamain aji mumpung," sungut Riki.


"Biar beda dengan yang lain."


"Ya kagak gitu juga, Maemunah. Astaghfirullah, banyak-banyak istigfar." Riki mengusap dadanya tiga kali.

__ADS_1


Kepala Zahra mulai pening, keduanya tak mau mengalah. Hingga ia memutuskan keluar dari kelas dan memilih menyendiri di kantin.


"Bisa stres bu hamil, kalau dengerin mereka berdua," gumam Zahra.


Selang lima menit, satu chat masuk ke gawai miliknya. Zahra membuka dan membacanya pelan. Selanjutnya ia berdiri, menyeret langkahnya menuju parkiran. Sesuai yang sudah direncanakan, siang ini Egi pergi ke luar kota.


Mata Zahra menangkap sosok tinggi dan tegap. Ia menghampiri sambil berkata, "Mas, berangkat sekarang?"


Egi mengangguk. "Iya. Kamu mau ikut mengantarkan aku ke bandara?"


"Mau, Mas." Masuk ke mobil, duduk di depan.


Egi menyusul dan duduk di depan kemudi. Dengan pelan tangannya mulai mengoperasikan kendaraan beroda empat itu, meninggalkan parkiran kampus. dua puluh menit di dalam mobil, Zahra diam membisu. Hatinya masih tak rela. Namun, ia berusaha keras melenyapkan perasaan itu.


"Sayang, setelah aku pulang. Kamu mau minta apa?" Egi memecahkan keheningan di antara mereka.


"Yang penting Mas pulang dengan selamat aja, itu udah cukup."


"Aku tau kamu kesal, Sayang." Menghela napas sebentar, lalu berujar kembali. "Mohon maafkan suamimu."


Bahu Zahra bergetar hebat, antara menahan tangis sedih dan terharu. Sosok Egi yang selalu memahaminya setiap waktu, berusaha mempersembahkan yang terbaik. Lihatlah saat ini! Tampak gurat kekhawatiran di raut wajahnya.


Sampailah mereka di parkiran bandara. Sebelumnya Egi telah menghubungi Mang Asep agar datang ke bandara dan membawa mobilnya pulang bersama Zahra. Ia menuntun istrinya masuk area bandara, tak lupa satu tangannya menyeret koper kecil yang telah ia siapkan tadi pagi.


"Keberangkatanku lima belas menit lagi." Melepaskan koper, memegang kedua pipi Zahra. Ditatapnya lekat-lekat. "Jangan menangis, aku akan sedih. Dua hari lagi kita akan bertemu."


Satu kecupan mesra ia daratkan di kening Zahra. Pertanda rasa sayang dan cintanya teramat dalam pada wanita itu. Tak lupa ia mengelus perut Zahra yang terbalut gamis berwarna merah. "Nak, jaga ibumu selama Ayah pergi, ya. Ingat, jangan menyusahkan. Ayah menyayangimu."


Tetes demi tetes air mata mulai keluar. Zahra tak sanggup lagi menahannya. Mengapa ia begitu secengeng ini? Egi hanya pergi sebentar, bukan untuk selamanya.


Tak berapa lama terdengar suara seorang wanita memperingatkan, bahwa pesawat yang akan Egi tumpangi akan segera mendarat. Dengan berat hati kedua insan itu berpisah di bandara. Saling melambaikan tangan seolah mereka tak akan bertemu kembali.


Zahra masih diam mematung, menatap lurus ke depan. Di mana arah suaminya pergi, kemudian menghilang dari pandangan mata. Tanpa di duga Mang Asep datang menjemput. Zahra menurut, tak lupa ia memberikan kunci mobil yang sempat suaminya titipkan.

__ADS_1


Zahra dan Mang Asep keluar bandara, masuk ke mobil dan mulai melakukan perjalanan ke rumah Rey dan Mona. Zahra mengunci mulutnya serapat mungkin. Kepergian Egi menyisakan rindu. Padahal keduanya baru berpisah beberapa menit yang lalu.


Perjalanan Zahra selesai. Kini, ia telah berada di tengah-tengah keluarganya. Sejak tadi Mona terus mengajak anaknya itu berbicara, akan tetapi Zahra menanggapinya dengan sebuah senyuman semata.


Malam pun tiba, setelah salat Maghrib dan juga Isya. Zahra dan Mona menikmati makan malam. Mona berusaha menyiapkan menu sehat untuk anaknya yang tengah hamil.


"Makanlah, Nak," titah Mona. "Suamimu pasti marah, kalau istrinya tak makan."


"Apa Papa juga berangkat ke luar kota seperti Mas Egi, Mah?" Memaksakan melahap satu sendok nasi beserta lauk.


"Iya."


Tak ada percakapan lagi setelah itu. Dengan dalih lelah, Zahra meminta izin untuk tidur duluan. Ia merebahkan diri di kasur, tempat yang dulu sering ia gunakan untuk menangis.


"Aku engga boleh cengeng." Mengusap jejak air mata di pipi. "Hanya dua hari, engga masalah."


Senyuman manis mengembang, menghiasi wajah cantik Zahra. Ia mengecek ponsel, melihat chat berharap suaminya mengirim ucapan selamat malam. Mungkin benar, suami istri itu memiliki ikatan batin yang kuat. Beberapa detik kemudian, sebuah chat masuk. Mata Zahra berbinar-binar saat membacanya. Seoalah ribuan mawar merah tengah bermerkaran di dalam hati.


{ Selamat malam, Istriku. Selamat beristirahat. Jangan lupa sholat dan minum vitamin. Peluk dan cium dari suamimu.}


Satu pesan Egi mampu membuat mood Zahra membaik. Setelah membalas pesan, selanjutnya Zahra menarik selimut. Lampu kamar mati dan hanya ada penerangan dari lampu tidur kecil.


"Paman, aku merindukanmu. Selamat malam." Perlahan mata Zahra menutup. Ia bersiap memasuki dunia mimpi.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Mampir sini, ya.



__ADS_1


__ADS_2