
Siang itu Farhan berkunjung ke kantor Rendy, untuk membicarakan soal kerja samanya. Farhan melenglang masuk ke dalam kantor, tapi matanya menangkap sesuatu yang indah.
Seseorang yang dulu pernah dia lihat di suatu tempat, farhan bisa mengenali orang itu dari lesung pipinya.
Farhan berjalan menghampiri Lisa, wanita yang pernah dia lihat di caffe dulu.
Ternyata dia berkerja di sini. Batin Farhan.
Lisa yang sedang duduk karena lelah sehabis mengepel ruangan di lantai 5, di kejutkan dengan suara seorang lelaki memanggilnya.
"Hey, nona manis." Sapa Farhan.
Lisa tersenyum ramah, karena Lisa pikir Farhan ini salah satu tamu di sini. Lisa segera berdiri dari tempat duduknya
"Iya tuan." jawab Lisa.
"Apa kamu tau lantai berapa ruangan presedir perusahaan ini?." Tanya Farhan sambil matanya memandangi Lisa.
"Tau tuan, ruangannya ada di lantai paling atas. Lantai 15 tuan."
"Oh ok, emm..ngomong-ngomong siapa namamu nona manis?" Tanya Farhan kembali.
"Saya Lisa tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi tuan?."
"Sebenernya ada, ini sangat penting di banding hanya menanyakan ruangan presedirmu saja." Jawab Farhan.
"Soal apa tuan?."
Lisa penasaran apa yang ingin di tanyakan tamu ini, dia bilang lebih penting dari pertanyaaan tadi.
"Berapa nomer ponselmu?." Tanya Farhan.
"Hah!!"
Lisa kaget, untuk apa nomer ponselnya. Bukankah dia kesini untuk bertemu Rendy. Mengapa harus meminta nomer ponsel Lisa.
"Maaf tuan, untuk apa nomer ponsel saya? dan saya mohon maaf, saya tidak bisa memberikannya ke sembarangan orang."Jawab Lisa.
"Baiklah. Aku tak kan memaksa jika kamu tidak mau, tapi sepertinya kamu tak kan bisa lepas dariku." Ucap Farhan.
"Maksud tuan?."
Belum sempat Farhan menjawab, Dion datang menghampiri mereka. Sebenernya Dion hendak keluar, tapi melihat Lisa sedang berbicara dengan pria asing akhirnya dion memutuskan untuk menghampiri Lisa.
"Ada apa ini Lis?." Tanya Dion.
"Oh ini pak, Tuan ini hanya menanyakan lantai berapa ruangan presedir kita?." Jawab Lisa.
"Tuan mau ke ruangan direktur, kalau gitu mari saya antar." Ucap Dion Ramah.
"Tidak usah, saya bisa sendiri. Mengganggu orang saja." Ucap Farhan kemudian berlalu meninggal Dion dan Lisa.
"Apa dia gangguin kamu Lis?." Tanya Dion
"Engga kok pak." Jawab Lisa berbohong.
__ADS_1
Padahal dia sedikit kesal, karena Farhan tiba-tiba meminta nomer ponselnya.
"Kalau ada apa-apa bilang sama saya. Oh ya Lis, kamu sebenernya pindah rumah dimana sih?. Kok saya tanyakan sama Mona, dia juga engga tau?." Tanya Dion.
Lisa memang mengaku pada Dion, kalau dia pindah rumah. Karena Dion pernah bertanya, kenapa Lisa jarang ada di rumah.
Lisa bingung harus menjawab apa, engga mungkin Lisa jawab yang sebenarnya. Entah sampai kapan Lisa harus terus berbohong, hatinya menolak akan hal itu tapi kenyataannya berbeda.
"Emm..aku...emm." Lisa gugup mulutnya berat untuk berbicara.
Tiba-tiba suara dering ponsel Dion. Dion merogoh ponselnya di dalam saku celana, kemudian mengangkatnya.
"Hallo." Sapa Dion
"........"
"Ok, aku akan segera kesana." Lanjut Dion.
Dion mematikan ponselnya, lalu menaruhnya kembali.
"Maaf Lis, saya buru-buru. Kamu bisa jawab pertanyaanku nanti." ucap Dion yang berlalu pergi.
Lisa menghela nafas, Beruntung kali ini Lisa bisa selamat. Tapi lambat laun Dion akan tau juga, Lisa harus segera jujur.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Sementara itu Farhan baru saja sampai di depan ruangan Rendy, dia langsung masuk tanpa permisi.
"Selamat siang pak presedir Rendy." Sapa Farhan begitu masuk.
Rendy yang mengenali suara siapa ini, langsung menatap tajam Farhan.
"Wih santai bro. Maaf gue lupa." Ucap Farhan yang langsung duduk di sofa tanpa di persilahkan.
Rendy hanya menggelengkan kepalanya, entah terbuat apa orang ini. Sampai urat mula nya mungkin sudah putus.
"Ada apa lo kesini." Ujar Rendy yang segera berdiri menghampiri Farhan, lalu duduk berhadapan.
"Gue mau ngasih tau lo, kalau gue keberatan sama model yang lo pakai buat produk terbaru." Ucap Farhan.
"Memangnya kenapa sama modelnya, bukannya dia propesional?." Tanya Rendy.
"Hey bro, lo kalau cari model sexy an dikit nafa?. Rada bening-bening gitu."
"Di perusahaan gue penampilan engga terlalu, yang penting itu dia propesional dan jujur." Jawab Rendy.
Farhan diam mendengar ucapan Rendy, dia menatap dalam teman sekaligus saingannya dulu semasa kuliah.
"Apa jangan-jangan lo keberatan, karena model yang kita pakai engga bisa lo ajak kencan."Tanya Rendy.
Sudah bukan rahasia umum, kalau Farhan sering mengencani model yang berkerja sama dengannya.
Apalagi model baru, sudah pasti mereka rela mengantri di kencani Farhan demi popularitas semata.
"Tau aja lo." jawab Farhan seenaknya.
__ADS_1
"Lo harusnya lebih propesional, kalau modelnya engga mau bukan berarti lo bisa seenaknya aja ganti dia." Jawab Rendy suaranya agak meninggi.
"Kalem dong bro, ngegas mulu lo, udah kaya motor butut aja.hahahaha." ucap Farhan tertawa kencang.
"Oh ya, gue punya kabar penting. Ini lebih penting di banding urusan model." Lanjut Farhan.
"Apa?."
"Lo kok engga bilang ke gue, kalau nona manis yang kita temui di caffe waktu itu kerja di sini " ucap Farhan.
Rendy mengerutkan keningnya mencoba mencerna ucapan Farhan. Tapi nihil, Rendy sama sekali engga mengerti.
"Nona manis, yang mana maksud lo?." Tanya Farhan.
"Itu loh, cewek berjilbab yang pernah gue tunjuk pas lagi di caffe Y."
Rendy terus berpikir, memaksa otaknya untuk mengingat kejadian di caffe Y. akhirnya Rendy baru sadar, kalau Farhan sedang membicarakan Lisa.
"Lo ketemu dia dimana?." Tanya Rendy.
"Di lantai dasar, gue baru aja masuk terus ngeliat doi sendirian. Ya udah, gue samperin. Tapi sialnya, gue engga dapet nomer hpnya gara-gara ada cowok nyamperin gue sama dia. Rese banget tu orang." Umpat Farhan.
Rendy menebak kalau cowok Rese yang di maksud Farhan itu, mungkin Rey atau mungkin Dion.
"Lo jangan buat masalah di kantor gue." Ucap Rendy.
"Siapa yang mau buat masalah bro. Gue cuman mau minta tolong, lo bisa engga liatin biodatanya nona manis. Gue pengen tau alamat rumahnya, kali aja jodoh."
Rendy mengepalkan tangannya, dia benar-benar muak dengan orang yang di hadapannya sekarang.
Terlebih dia memanggil Lisa dengan sebutan nona manis, tapi lagi-lagi Rendy harus menyembunyikan amarahnya.
"Maaf, gue engga bisa sembarangan ngasih biodata orang. Apalagi dia bekerja di perusahaan gue." jawab Rendy.
"Yaelah Ren, lo kaya sama siapa aja. Gue bukan orang sembarangan kali." ucap Farhan.
"Gue engga bisa, kalau lo engga ada yang mau di omongin lagi mending lo cabut dari kantor gue."
"Ok santai bro, gue bakal cari sendiri. gue permisi." Ucap Farhan berdiri dari tempat duduknya.
"Gue peringatin sama lo, jangan sampai lo sentuh sedikitpun cewek itu. Kalau sampai lo berani, nyawa lo taruhannya." Ancam Rendy.
Farhan menatap lekat temannya ini, dia merasa ada yang Rendy sembunyikan. Tidak mungkin, Rendy sampai bisa semarah ini hanya karena seorang wanita yang notabennya bawahan dia.
"Ok, gue makin ketantang rasanya." jawab Farhan melenggang keluar dari ruangan Rendy.
"Shitt." umpat Rendy.
Rendy memukul sofa yang dia duduki, dia harus waspada dengan Farhan. Kalau tidak, Lisa akan jadi korbannya Farhan selanjutnya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Terus dukung author ya dengan kasih like,coment&vote
__ADS_1
Terimakasih.
Selamat membaca😊