Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
109


__ADS_3

Dua hari berlalu, hari ini jadwal Lisa memeriksa kandungannya. Dari semalam ia sudah berpesan pada sang suami, untuk menemaninya ke rumah sakit.


Rendy tentu bersemangat tentang satu ini. Ia bahkan memiliki misi tersembunyi di balik semangatnya.


"Pokoknya, gue mesti nanya ke Dokter hari ini juga," batin Rendy.


Tepat pukul sembilan pagi, Rendy dan Lisa segera berangkat memakai mobil. Sebelumnya Rendy sudah meminta Rey, untuk menghendel kerjaan kantor sampai urusannya selesai.


Dalam perjalanan, Lisa menangkap gelagat yang aneh dari suaminya. Rendy terlihat lebih sumringah dari biasanya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Lisa.


Rendy yang tengah asyik menyetir, menoleh sedikit ke Lisa sambil berkata, " Memang aku kenapa, Sayang?"


"Kamu hari ini terlihat aneh! jangan bilang... kamu mau berencana menanyakan hal yang konyol lagi sama Dokter," tuduh Lisa.


"Tidak!" bantah Rendy tegas.


"Awas, ya. Aku tidak ingin menanggung malu lagi seperti dulu!" tegas Lisa.


"Iya...," lirih Rendy.


Jalanan sedikit macet, jarak dari rumah sampai ke rumah sakit terasa lama. Akhirnya setelah melewati hampir tiga puluh lima menit, mereka tiba di rumah sakit tempat Lisa mengontrol kehamilan.


Rendy dan Lisa bergegas masuk ke dalam. Membawa antrian Dokter semana pasien lain. Di kursi tunggu ada sekitar tiga pasangan termasuk Rendy dan Lisa. Kedua pasangan itu sama-sama tengah asyik mengobrol.


Rendy memperhatikan pasangan di samping kirinya. Istrinya tengah hamil, perutnya sudah sedikit membesar. Suaminya terus mengelus perut sang istri dengan lembut.


Sayup-sayup terdengar sang suami berbisik pelan, akan tetapi pendengaran Rendy yang tajam membuat ia bisa mendengarnya.


"Nanti malam aku nengokin si jagoan ya, Sayang?" bisik laki-laki itu pada istrinya.


Terlihat sang istri menggangguk pelan, pertanda ia menyetujui keinginan suaminya. Rendy hanya terdiam, ia melirik sekilas pada Lisa. Sudah hampir mau tiga bulan ia belum lagi menyentuh istrinya.


Kalau boleh jujur, ia sangatlah tersiksa. Laki-laki normal mana yang sanggup selama itu. Tapi demi istri dan sang calon bayi, ia rela berpuasa.


"Sabar, Tong. Belum saatnya berbuka," batin Rendy.


Semua mengantri dengan tenang. Satu per satu pasangan masuk ke dalam untuk berjumpa Dokter.


Tibalah saatnya giliran Rendy dan Lisa. Mereka berdua masuk ke ruangan yang bercat putih. Aroma jeruk dari pengharum ruangan menyeruak masuk ke dalam lubang hidung.


"Silahkan duduk, Pa, Bu." Dokter Tania tersenyum ramah seperti biasa.


"Bagaimana apa masih mengalami morning sikcs, Bu?" lanjut Dokter tania bertanya pada Lisa.


"Alhamdulilah. Sudah tidak, Bu," jawab Lisa.


"Baiklah. Mari kita periksa," ajak Dokter tania.

__ADS_1


Lisa bangkit dari tempat duduk, lalu berbaring di ranjang pemeriksaan seperti biasa. Dengan cekatan seorang suster meminta izin, untuk mengangkat sedikit pakaian yang dikenakan Lisa.


Perut Lisa di olesi sedikit cream khusus, lalu Dokter Tania mulai menggerakkan alat USG.


"Usianya sudah 9 minggu ya, Bu," ujar Dokter Tania. " ini kantung janinnya."


Lisa hanya mengangguk tanda mengerti. Begitupun dengan Rendy yang ikut andil melihat kegiatan tersebut.


Setelah semua pemeriksaan selesai. Lisa dipersilahkan kembali duduk di samping suaminya. Dokter Tania segera mengambil hasil USG untuk di simpan di buku pemeriksaan.


"Saya akan meresepkan vitaminnya saja ya, Bu. Jangan lupa makan banyak buah dan sayuran agar nutrisi si bayi tercukupi!" pesan Dokter Tania.


Lisa sedikit gelisah. Tiba-tiba ia ingin buang air kecil. Dengan sopan Lisa meminta izin untuk ke toilet dulu. Rendy tersenyum ia merasa inilah saatnya.


"Dok, maaf saya ingin bertanya?" tanya Rendy pada Dokter Tania.


"Iya, silahkan," jawab Dokter Tania.


"Apa di usia kandungan istri saya sekarang Kami bisa melakukan hubungan suami istri lagi?"


Dokter Tania menyunggingkan senyuman. Ia masih ingat saat terakhir kali laki-laki ini berkunjung. Banyak pertanyaan yang ia ajukan saat itu.


"Boleh. Asalkan bermain secara pelan, karena kandungan Istri Pak Rendy masih dikatakan muda," jelas Dokter Tania.


Hati Rendy bersorak. Akhirnya ia akan segera berbuka puasa. Rasa haus yang ia tahan selama ini, akan sirna setelah ini.


"Baik, Dok. Terimakasih," ujar Rendy.


Lisa sudah kembali lagi ke ruangan. Dokter Tania segera menyerahkan vitamin yang harus dikonsumsi Lisa selama sebulan. Tidak lupa Dokter wanita itu juga mengingatkan kembali supaya segera ke rumah sakit, jika terjadi sesuatu dengan kandungan Lisa.


"Kalau begitu kami permisi, Dok," pamit Lisa.


"Baik, Bu. Silahkan datang kembali satu bulan lagi," pesan Dokter Tania.


"Iya, Dok. Assalamulaikum." Rendy dan Lisa menuju pintu untuk keluar ruangan.


"Waalaikumsalam," jawab Dokter dan perawat bersamaan.


"Dok, sepertinya Pak Rendy sangat menyayangi istrinya, ya," celetuk sang perawat.


"Iya," balas Dokter Tania.


"Kayaknya susah kalau mau nikung ke mereka berdua," ujar perawat wanita itu. " keduanya saling menjaga satu sama lain. Saya bisa melihat dari pancaran mata keduanya."


Dokter Tania hanya mengangguk. Ia sering melihat pasangan suami istri datang berkunjung untuk berkonsultasi. Namun, baru Rendylah satu-satunya, suami yang begitu antusias menanyakan semua tentang kehamilan.


"Aku harap bisa memiliki suami seperti dia suatu saat nanti," batin Dokter Tania.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Sementara itu Rendy dan Lisa memutuskan mampir ke kedai mie ayam setelah selesai kunjungan Dokter.


Lisa ingin memakan mie ayam sejak dua hari lalu, akan tetapi karena ia menghargai Rendy yang tengah sibuk menghibur Dira. Lisa memilih menundanya di lain hari.


Setelah sampai di salah satu kedai, Rendy segera memesan dua mangkok mie ayam untuk mereka. Lisa memilih duduk di bangku paling pojok, selain enak untuk mengobrol. Ia pun ingin menyenderkan punggung ditembok kedai.


Kedai ini tidak mewah, namun Lisa sangat senang makan di sini. selain harganya yang murah, mie ayamnya juga tidak kalah lezat dari yang lain.


Selang lima menit pesanan mereka sampai. Lisa yang sudah menginginkannya, segera memakan makanan favorit dirinya.


Rendy tersenyum ia senang nafsu makan Lisa sedikit membaik, meski tak jarang wanita ini masih sering memuntahkan kembali makanannya.


"Sayang," panggil Rendy.


"Iya, Mas," jawab Lisa.


"Nanti malam aku boleh lihat dede bayi, ya?"


"Dede bayi siapa, Mas? memang ada kenalan Mas yang baru lahiran,"


"Tidak!"


"Terus Dede bayi siapa?"


"Kita!"


Uhuk... uhuk...!


Lisa tersedak, Rendy segera memberikannya air minum sedikit demi sedikit sambil berkata, " Kalau makan jangan cepat-cepat. Engga ada yang rebut makanan kamu."


Lisa selesai minum. Ia melirik pada suaminya, lalu berkata, " Aku kesedak bukan karena makan cepat-cepat. Tapi karena ucapan, Mas."


"Memang ada yang salah?"


"Engga sih tapi__,"


Rendy sedikit mendekatkan badannya ke tubuh Lisa. Di dekatnya mulut Rendy ke telinga istrinya sambil berbisik, " Aku sudah lama puasa. Dokter Tania juga membolehkannya. Jadi, tidak salahnya kita mencoba."


Lisa menunduk, ia sangat malu dengan ucapan suaminya. Namun, ia pun berpikir memang sudah kewajibannya sebagai istri.


Lisa menganggukkan kepala tanda ia setuju dengan ucapan suaminya. Rendy tersenyum sambil tangannya mengepal dan berkata, "Yes."


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa dukungannya dengan cara like, coment dan vote😍


Terimakasih yang masih setia dan berkenan membaca karya Author sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2