
Selesai berdoa, hati Lisa tentram. Dia menyimpan kembali Mukena dan sejadah pada tempatnya semula.
"Alhamdulillah, semoga Allah mendengar doaku," ucap Lisa bergegas keluar.
Rendy yang sejak tadi berada di ambang pintu, segera pergi begitu melihat Lisa akan keluar. Lisa kembali menuju ruangan mertuanya, dia tak ingin suaminya menunggu terlalu lama.
Terlihat dua lelaki tadi masih duduk diam, seperti saat Lisa pergi. Dira dan pak Adrian baru saja keluar dari ruangan.
Terlihat gurat kesedihan dari mereka berdua. Bagi pak Adrian, istrinya adalah tempat berbagi keluh kesah.
Berpuluh-puluh tahun membina rumah tangga, bu Ratna tak pernah sekalipun membangkang pada suaminya. Itu yang membuat pak Adrian, sangat menyayangi wanita yang sudah memberinya sepasang anak.
"Boy, pergilah ke kantor. Biar papah dan Dira di sini." Ujar pak Adrian pada Rendy.
"Tidak, pah. Aku tak ingin kemana-mana hari ini." Rendy tetap pada pendiriannya.
"Boy, percayalah pada papah, jika terjadi sesuatu pada mamahmu. Papah akan segera memberitahumu. Bukankah hari ini kamu ada pertemuan penting?
"Iya, pah,"
"Kamu harus tetap profesional, Boy. Di sini ada papah dan Dira yang menunggu," ucap pak Adrian.
"Baiklah, pah. Rendy akan ke kantor . Tolong kabari jika mamah siuman." Rendy mengalah.
"Pasti, Boy,"
Rendy menatap istrinya, dia tak ingin jauh dari Lisa hari ini sedetikpun. Dia merasa sedikit tenang jika, istrinya itu tetap di sampingnya.
"Sayang. Ayo, ke kantor. Bukankah kamu juga harus memberi surat pengunduran diri?" tanya Rendy.
"Iya, Mas. Dira, kakak pergi dulu. Kamu harus tetap kuat ya, mamah pasti akan sadar." Lisa tersenyum pada adik iparnya.
"Iya, kak Lisa." Dira menjawab dengan pelan, dia merasa tak punya tenaga hari ini. Semua sudah terkuras habis.
"Om, Rey juga pamit ke kantor lagi," Pamit Rey pada pak Adrian.
"Iya, Rey," jawab pak Adrian.
Rendy, Lisa dan Rey bergegas pergi meninggalkan ruangan, hati mereka sebenarnya berat. Akan tetapi, ada kewajiban lain yang harus mereka penuhi hari ini.
Mereka memasuki mobil bersamaan, tak ada canda tawa dua sahabat seperti biasa, juga tak ada kemesraan pasangan suami istri.
Semua terdiam membisu. Mengunci mulutnya masing-masing, bergelut dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Setelah sampai depan kantor, mereka turun bersamaan. Karyawan menatap Lisa yang juga ikut turun bersama dua pangeran tampan itu.
Ada yang merasa iri, ada yang berkata sangat serasi, ada juga yang mencela Lisa tak pantas untuk Rendy.
Lisa sudah terbiasa dengan semuanya, dia berusaha menulikan telinga agar tak mendengar pandangan orang tentangnya.
"Mas, saya izin ke bagian kebersihan dulu. Saya ingin pamit pada teman saya,"ucap Lisa begitu sampai di depan Lift khusus presedir.
"Baiklah, jika sudah selesai. Langsung ke ruanganku." Rendy berlalu masuk lift bersama Rey.
Lisa tersenyum kemudian pergi menuju pantry. Dia ingin bertemu Mona, tapi yang dia temui hanya Dion yang sedang membuat kopi.
"Lisa," sapa Dion.
__ADS_1
"Eh, pak Dion. Maaf, aku mau cari Mona, Pak. Apa pak Dion melihat Mona?" Lisa bertanya.
"Tidak, saya baru saja sampai sini,"
"Oh, kalau gitu. Lisa mau cari dulu, mungkin Mona ada di tempat lain." Lisa segera membalikkan badannya untuk keluar.
Namun, Dion dengan sigap meraih tangan kanan Lisa.
"Lis, kenapa terburu-buru. Saya baru bertemu kamu lagi setelah beberapa hari ini," ucap Dion
Lisa kaget, dia segera melepaskan tangannya dari Dion.
"Maaf, pak. Tolong jangan seperti ini." Lisa berbalik kembali pada Dion.
"Kenapa? Apa karena kamu istri pak Rendy?"
"Bukan hanya itu saja, pak. Kita ini bukan muhrim, tidak baik jika pak Dion sembarangan menyentuh saya. Terlebih saya sudah bersuami," Lisa sedikit tegas.
"Ya, saya tau kamu memang sudah bersuami. Tapi, bisakah kamu tak menjaga jarak terlalu jauh dengan saya?"
"Maaf, pak. Saya harus menjaga diri, karena saya seorang wanita yang sudah menikah." Lisa tersenyum.
Lisa teringat akan sesuatu, dia merogoh sakunya. Mengambil sebuah surat yang sudah dia siapkan terlebih dahulu.
"Oh ya, pak. Saya ingin memberikan ini pada pak Dion. Saya akan berhenti bekerja mulai hari ini." Lisa menyodorkan surat pada Dion.
"Kenapa harus berhenti, Lis?" Dion penasaran.
"Suami saya menyuruh saya berhenti, pak. Saya sebagai istri, harus menurut selama itu dalam kebaikan,"
"Baiklah, saya akan menerimanya." Dion mengambil surat pengunduran diri Lisa.
"Terima kasih, pak Atas semua kebaikan pak Dion selama ini. Lisa mohon maaf jika pernah melukai hati, pak Dion. Kalau begitu Lisa permisi," Pamit Lisa berlalu meninggalkan Dion yang masih terdiam.
Dion menatap punggung Lisa, dia ingin sekali berlari mencegahnya. Tapi, apalah daya dia tak bisa.
"Lisa, saya tak bisa melupakanmu. Saya harap suatu saat akan ada tempat di hatimu untuk saya," ujar Dion.
Lisa terus berjalan meninggalkan Dion, dia harus tegas. Dia tak boleh membiarkan Dion masuk ke dalam rumah tangganya.
Dari kejauhan Mona tampak sibuk dengan pekerjaannya, Lisa segera menghampiri sahabatnya itu.
"Mona," sapa Lisa.
Mona menoleh ke arah suara yang sudah di rindukannya ini.
"Lisaaaaa!! Aku kangen banget sama kamu," ucap Mona heboh.
"Suut ... Mona kebiasaan deh kalau udah teriak-teriak!"
"Hehehe. Maaf, habis aku seneng sekali ngeliat kamu. Eh, gimana honey moonnya. Pasti so sweet banget,"
"Bukan waktunya bahas itu sekarang. Aku kesini mau pamit sama kamu. Aku berhenti berkerja,"
"Apa?? Kenapa kamu harus berhenti sih, Lis? Aku engga ada temen jadinya." Mona cemberut.
"Ya, maaf. Mas Rendy menyuruhku resign,"
__ADS_1
"Ah, baiklah. Aku engga mau ikut campur kalau sudah masalah babang tampanmu itu,"
Lisa hanya tersenyum, Mona memang sahabat terbaik yang dia miliki.
"Ya, udah. Kita duduk di belakang aja yuk. Kerjaan aku juga udah mau selesai, " ajak Mona.
Lisa menurut pada sahabatnya, mereka pergi ke belakang kantor, lalu duduk di kursi kecil.
Mona bercerita banyak hal, terutama soal Rey dengan dirinya. sedangkan Lisa, dengan setia mendengarkan curhatan sahabatnya.
Ponsel Lisa berdering, dia segera membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan ponselnya.
Dia mengerutkan keningnya panggilan telpon itu dari suaminya.
"Assalamualaikum, Mas," ucap Lisa begitu panggilan tersambung.
"Sayang, segera ke parkiran bawah. Kita ke rumah sakit sekarang." Suara Rendy sedikit berteriak dan terkesan terburu-buru.
Baru saja Lisa akan menjawab tapi, Rendy sudah terburu mematikan panggilannya. Lisa panik dia takut terjadi apa-apa.
Dia segera berlari meninggalkan Mona yang kebingungan.
"Hei, Lis, Lisaaa!" teriak Mona.
Lisa tak menghiraukan teriakan Mona, yang terpenting dia harus cepat sampai ke parkiran bawah, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rendy.
Lisa sampai dengan nafas terengah-engah karena berjalan terlalu cepat, di Lihatnya Rendy juga baru masuk ke dalam mobil bersama Rey.
Lisa segera menghampiri mereka dan masuk ke dalam mobil juga.
"Mas, ada apa sebenarnya?" Lisa memberanikan diri bertanya.
"Mamah, sayang." Rendy menjawab dengan wajah pucat.
"Mamah kenapa, mas?"
"Mamah ... Mamah." Rendy tak bisa lagi menahan air matanya.
"Mamah meninggal, sayang," Lanjut Rendy.
"Innalillahi wainna ilahi roji'un," ucap Lisa.
Bagai tersambar petir, badan Lisa bergetar. Untuk kedua kalinya, dia kehilangan sosok ibu yang baik dan menyayanginya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Tolong ramaikan karya author satu lagi dong, Insyaalloh up juga tiap hari🤗
Mampir ya kak🤗
Jangan lupa dukungannya untuk author dengan Like, coment dan vote😊😊
SELAMAT MEMBACA😍😍
__ADS_1