Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
123


__ADS_3

Setelah puas berbincang di dapur. Dira dan Dika segera bergabung dengan Pak Adrian dan Egi. Pak Adrian berusaha untuk bersikap tidak terjadi apa-apa. Ia terus saja bercanda dengan Egi.


"Egi, kamu mau kuliah seperti Kak Dira?" tawar Pak Adrian.


"Mau, pa! Tapi, Egi harus izin dulu sama Kakak," sahut Egi.


"Tenang saja, Kakakmu pasti mendukung apa pun keinginanmu." Pak Adrian mengelus lembut rambut anak lelaki yang sudah terasa anak kandungnya sendiri.


"Egi mau jadi Dokter hebat seperti Pak Dokter Dika, Pa," ungkap Egi.


Dika yang baru saja tiba di sana tersenyum mendengar kembali cita-cita mantan pasien kecilnya. Dika berjongkok di hadapan Egi, lalu berkata, "Kalau Egi mau seperti Dokter. Egi harus belajar yang benar. Jangan pantang menyerah dan jangan lupa terus berdoa sama Allah."


Anak laki-laki itu mengangguk pelan. Dika mengacak rambut Egi, kemudian beranjak berdiri. Matanya menoleh pada Pak Adrian, lalu berkata, "Om, Dika pamit pulang dulu, ini sudah malam. Terima kasih untuk makan malamnya."


"Sama-sama. Hati-hati di jalan, jangan sungkan untuk datang lagi ke sini," jawab Pak Adrian.


"Iya, Om. Kalau begitu, saya pamit dulu." Dika meraih tangan Pak Adrian, lalu mencium telapak tangannya.


"Pa, Dira anter Kak Dika keluar dulu, ya," sela Dira.


Dika dan Dira berlalu meninggalkan Pak Adrian yang masih memperhatikan mereka. Pak Adrian berharap ada kebahagiaan yang dibawa Dika untuk anaknya.


Pak Adrian hanya ingin melihat kedua anaknya bisa hidup dengan orang yang mereka cintai. Namun, Pak Adrian juga tidak ingin memaksa Dira, jika pada akhirnya anak gadis itu tidak bisa menerima kehadiran Dika.


Biarlah Takdir yang menentukan bagaimana jalan hidup anaknya. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak gadisnya.


Dira mengantar Dika sampai ke dekat mobil. Dika merasa ada bunga mawar merah tengah mekar di ruang hatinya. Ia hanya butuh senyuman Dira, untuk menyirami bunga itu agar tetap hidup.


"Gue pulang dulu, ya, Dek." Dika mengulas senyum.


"Iya, hati-hati jalan," pesan Dira.


Dika melangkah maju ke arah mobil namun, tiba-tiba langkah kakinya berhenti. Ia membalikkan badan kembali, lalu berkata, "Jangan lupa mimpiin gue. Gue dengan senang hati hadir di mimpi Lo, Dek."

__ADS_1


šŸµšŸµšŸµšŸµšŸµ


Dua hari kemudian, Lisa masih setia menunggu suaminya pulang. Kegiatannya masih seperti biasa. Ia pergi ke toko siang hari, lalu pulang ke rumah di sore hari.


Hari ini Dira tidak menemaninya di toko. Lisa hanya berdua dengan Ririn. Entah, mengapa hari ini Lisa merasa sedikit malas. Ia hanya berdiam diri sambil memainkan ponsel saja.


Beruntung Ririn sangat cekatan, jadi dia tidak merasa kewalahan melayani pelanggan sendiri. Lisa masih terus memandang benda pipih itu. Dari pagi ia belum mendapatkan satu pesan pun dari suaminya.


Pikirannya melayang menembus jauh ke atas awan. Mengingat kembali masa-masa di mana pertama kali menikah dengan Rendy.


Dulu ia sangat takut dengan suaminya. Bahkan ia tidak kuasa, untuk sekadar menatap wajah tampan Rendy. Lisa sering mencuri-curi pandang, jika hatinya ingin sekali menikmati paras tampan lelaki yang satu rumah dengannya.


Masih ingat di benaknya dulu. Saat Rendy pertama kali membawa dirinya ke makam Almarhum Kayla. Hatinya porak poranda bagai diterjang tsunami. Saat itu ia tidak kuasa menahan rasa sakit, pedih, dan kesakitan yang bergejolak dalam dadanya.


Kata-kata Rendy yang bagaikan panah, menancap tepat di hatinya. Namun, ia tetap terus berpikir positip, meski hatinya tengah terluka.


Kini semua telah berlalu. Rasa sakit dan pedih itu Allah ganti dengan segala anugrah yang ia rasakan saat ini. Lisa mengelus pelan bagian perut yang tertutupi pakaian.


"Kamu harus tumbuh baik di sana. Ibu berjanji akan menjagamu selamanya," gumam Lisa.


Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Ia merasa tidak enak badan sejak semalam. Lisa beranjak berdiri, ia berniat naik ke lantai atas untuk merebahkan dirinya.


"Rin, Mbak ke atas dulu, ya. Kamu engga apa-apa, kan sendirian?" ujar Lisa sambil menoleh pada Ririn yang sedang merangkai bunga.


"Oh, ya Mbak. Aku bisa sendirian, kok," sahutnya.


Ririn melihat pada Lisa, ia memperhatikan majikannya yang berbeda.


"Mbak, lagi sakit?" lanjut Ririn.


"Iya, Rin. Kepala Mbak pusing banget," jawab Lisa.


Lisa hendak melangkah, namun badannya oleng ke samping hingga membentur sudut kursi. Ririn yang melihat itu sedikit panik, ia segera membantu Lisa berdiri sambil berkata, "Ririn bantu naik ke atas, ya, Mbak."

__ADS_1


Lisa yang sudah merasa tidak konek, hanya mengangguk mengiyakan tawaran Ririn. Perlahan Ririn membantu Lisa naik ke atas, lalu merebahkannya di atas kasur.


"Mbak, aku ke bawah dulu, ya," pamit Ririn.


Tidak ada jawaban apa pun dari Lisa. Rasa pusing di kepalanya membuat wanita itu tidak ingin berkata lagi. Ririn yang mengerti segera berlalu meninggalkan Lisa.


Ririn turun ke lantai bawah, namun tidak berapa lama ia kembali dengan membawa sebuah wadah kecil. Tepat di tangga paling atas Ririn menumpahkan isi dari wadah kecil itu. Tatapannya sinis ke arah Lisa yang masih terbaring lemah.


Selesai dengan kegiatannya, Ririn kembali turun. Ia hendak membereskan pekerjaannya, lalu bergegas pulang karena hari juga sudah mulai agak sore.


Selama dua jam Lisa tertidur di atas kasur. Ia membuka matanya perlahan, mengumpul sedikit demi sedikit tenaganya untuk bangun.


Kepalanya kini sedikit ringan. Rasa pusing yang ia rasakan perlahan membaik. Lisa meraba kasur, mencari benda pipih nan canggih.


Ia berniat mengecek apa ada pesan masuk dari suaminya. Saat melihat layar ponsel, ia sedikit terkejut melihat sepuluh panggilan tidak terjawab dari Rendy.


Lisa segera menelpon kembali ke nomer Rendy, akan tetapi suaminya tidak bisa dihubungi. Ada rasa menyesal, kenapa dia bisa tidur selama itu. Padahal ia sangat menantikan telepon dari suaminya.


"Aku terlalu lama tidur. Apa Ririn sudah pulang? ini sudah jam lima sore lebih," gumam Lisa.


Dengan perlahan Lisa bangkit dari ranjang, lalu berjalan menuju tangga. Ia mencoba memanggil Ririn dari lantai atas namun, gadis itu tidak terdengar menjawab.


Lisa hendak mengecek sendiri ke bawah. Baru satu langkah ia menuruni tangga, tiba-tiba kaki Lisa terpeleset. Tubuhnya oleng tidak bisa ia kendalikan, seketika tanpa halangan badan Lisa berguling ke bawah.


Lisa jatuh tersungkur ke lantai, bersamaan dengan darah segar yang mulai mengalir dari jalan lahirnya. Sekuat tenaga Lisa membuka mulut, ia mencoba berteriak meminta tolong. Berharap ada orang baik yang mendengarnya.


Seketika suasana hening, Lisa pingsan dengan tubuh tengkurep lemas. Kesadarannya perlahan menghilang, ia tidak bisa lagi meminta pertolongan.


...****************...


Bersambung~~~


Jangan lupa like, coment dan vote.

__ADS_1


__ADS_2