Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
49


__ADS_3

Yang suka sama pasangan Mona&Rey.


Bab 49&50 di persembahankan khusus untuk cerita mereka.


Mona yang sedikit gemetar bersembunyi di balik tembok. Tangan kanannya meraba saku celana, mengambil ponsel kemudian mengeluarkannya.


"Yah, kok malah mati sih." Gerutu Mona melihat ponselnya kehabisan batrai.


Mona membuang nafas kasar, dia berusaha menetralkan diri agar tak terlihat sedang tak enak hati.


Mona masuk kembali ke pantry, mengambil air minum dan langsung meneguknya sekaligus.


"Gila. Aku sama sekali engga percaya. Ah, dunia ini memang panggung sandiwara. Aku kira dia baik tapi, ternyata cinta memang bisa membuat orang menjadi buta dan jahat." Ucap Mona mengatur nafas.


Dia ingat akan ponselnya kemudian segera mencargernya. Mona berniat memberitahu setelah batrai ponselnya terisi.


Mona hampir lupa. Dia belum mengambil sampah di ruangan Rey. Mona sebenarnya sangat malas bertemu lelaki satu itu.


Bukan karena Mona membencinya tapi, akhir-akhir ini jantungnya bekerja lebih cepat jika sedang bersama Rey.


"Mau minta tolong gantian sama Susi, dia pasti minta bayaran. Males amet aku, mana tanggal tua kaya gini lagi. Emaaaak, coba anakmu ini harus kaya gimana." Ocehnya sendiri.


Untung saja pantry sedang kosong, hanya ada Mona saja yang sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Udahlah, lebih baik aku ke sana aja. Aku harus propesional." Lanjutnya.


Mona segera pergi menuju lift untuk karyawan. Di dalam lift, semua mata tertuju padanya. Apalagi karyawan perempuan, mereka memandang rendah Mona yang hanya petugas kebersihan.


Mona yang di pandang, bersikap acuh masa bodo. Dia tak peduli semua tanggapan orang tentangnya.


Asalkan mereka tak mengusik terlalu jauh kehidupannya. Mona tak mau ambil pusing. Dia bekerja pun bukan menjual diri, hanya saja dia tak seberuntung mereka yang bisa bekerja kantoran. Duduk manis di depan komputer.


Satu persatu pengguna lift berhamburan keluar. Tinggal Mona yang memang menuju lantai paling atas.


Mona baru sampai di depan ruangan Rey. Dia kembali ragu antara masuk atau kembali ke bawah.


Namun, baru beberapa menit Mona termenung tak jelas di depan ruangan Rey. Rey yang baru saja selesai bertemu klien, memergoki Mona.

__ADS_1


Rey perlahan mendekat ke arah Mona, dia berniat mengagetkan Mona. Tapi omelan Mona membuat Rey mengurungkan niatnya.


"Kata mereka yang kaya jodohnya sama yang kaya lagi. Ah, aku tak percaya. Kalau Lisa bisa, masa aku engga bisa sama pak Rey sih. Tapi, kalau pak Rey cuman main-main sama aku gimana. Tau ah, pusing kepalaku."


Rey tersenyum senang, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Perlahan tapi pasti, Mona bisa menerima kehadiran dirinya.


sekarang hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya meyakinkan hati Mona kalau, Rey tak main-main soal perasaannya pada Mona.


Rey menepuk lembut bahu Mona, bermaksud agar Mona berbalik badan ke arahnya. Tapi reaksi Mona di luar dugaan Rey.


"Aduh, siapa tuh yang nepuk pundak. Om pocong, mba kunti atau dek tuyul, jangan ganggu Mona dong. Mona janji dah, demi upin ipin yang engga tau tahun berapa tumbuh dewasanya. Mona engga akan ganggu kalian juga." Mona ketakutan.


Lantai 15 ini memang sedikit sepi karena, hanya ada dua ruangan saja. Satu ruangan Rendy selaku presedir dan, satu lagi ruangan Rey selaku asisten presedir.


Mona celinguk sana celinguk sini, tak ada orang satu pun. Dia ingin lari tapi, kakinya terasa berat. Menangis pun sepertinya percuma, tak akan ada yang mendengarnya.


"Hust. Pergi dong, jangan ganggu Mona. Nanti Mona traktir somay mang jamal dah, di jamin tuh somay enaknya seantero jagat raya." Mona ngelantur mengusik rasa takutnya.


Rey yang sudah tak kuat melihat kelakuan wanita pujaan hatinya, akhirnya tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit.


Mona yang mengenali pemilik suara ini, segera membalikkan badan. Dia tak percaya jika, yang menepuk pundaknya tadi itu Rey bukan setan.


"Hahahahaha. Ya, ya. Maafkan saya, saya cuman berniat agar kamu berbalik badan ke arah saya tapi, reaksimu jauh dari dugaan saya." Rey masih tertawa.


"Lagian nih, siang bolong kaya gini mana ada hantu. Kamunya aja yang penakut." Lanjut Rey


"Udah ah. Mona ke sini mau ambil sampah di ruangan pak Rey, bukan mau ngobrol." Kesal Mona.


"Cie, ceritanya ngambek nih calon istri saya."


"Apaan sih, pak Rey. Engga usah panggil calon istri segala deh, ngelamar juga belum." Celoteh Mona.


"Jadi, kamu mau saya lamar kapan? Besok atau sekarang?" Goda Rey.


"Tau ah, pak."


"Udah, jangan cerembut terus nanti cantiknya ilang. Ayo, masuk." Rey melewati Mona, memutar knop pintu dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Mona yang mengerti ajakan Reyu segera menyusul masuk ke dalam. Terlihat ruangan Rey yang rapih bercatkan warna putih dan hitam.


Bau farfum yang biasa di pakai Rey, tercium menyeruak di seluruh ruangan. Untuk pertama kalinya, Mona masuk ke dalam ruangan ini.


"Sampahnya mana, pak?" Tanya Mona yang tak melihat tempat sampah di ruangan Rey.


"Sudah di bawa Susi tadi." Ucap Rey enteng sambil mendudukkan pantatnya di sofa.


"Loh, kok pak Rey engga ngomong dari tadi sih. Kan aku engga jadi buang-buang waktu kaya gini."


"Maksud kamu. Kamu membuang waktu karena harus ke ruangan saya?" Rey menatap lekat wanita di hadapannya ini.


"Eh, bukan gitu maksudnya, pak." Bantah Mona.


"Terus, maksud kamu seperti apa?" Rey terus menatap tajam ke Mona.


"Udah ah, pak. Kalau memang sudah di ambil, saya permisi." Mona hendak pergi tapi Rey dengan cepat menarik tangan Mona, hingga Mona terjatuh ke sofa yang di duduki Rey.


"Saya belum menyuruhmu keluar. Kamu tau, saya hampir gila jika tak bertemu denganmu sehari saja. Jadi, dengarkan ucapan saya kali ini. Waktu pulang nanti tunggu saya di parkiran bawah, saya mau ajak kamu kencan." Ucap Rey tegas.


"Kencan! Perasaan kita bukan pasangan kekasih deh, pak. Untuk apa kencan?" Mona melepaskan tangannya yang di tarik Rey.


"Kamu masih belum mengerti juga. Kamu ini bukan kekasih saya tapi, calon istri saya."


Mona beranjak berdiri dari sofa, pandangannya tajam menatap lelaki yang Mona akui sangat tampan.


"Pak, saya sepertinya harus berbicara tegas. Saya tidak akan mengganggap apapun ucapan pak Rey. Calon istri!! Sejak kapan saya jadi calon istri pak Rey. kalau sampai saat ini saja, pak Rey belum datang menemui ibu saya untuk melamar." Ucap Mona dengan sepenuh kekuatannya mengatakan unek-unek di hatinya.


Mona tak peduli reaksi apapun yang akan Rey perlihatkan. Yang terpenting dia sudah mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di hatinya selama ini.


"Minggu depan, tunggu saya datang ke rumahmu." Jawab Rey sambil tersenyum.


...****************...


BERSAMBUNG~~~~


Mohon dukungannya untuk author dengan like, coment&vote😍😍

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA🤗🤗🤗


__ADS_2