Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
114


__ADS_3

Rendy menatap istri yang tengah menyantap makanan. Wajahnya lembut penuh kehangatan.


"Sayang, hari ini kamu mau ke toko?" tanya Rendy.


"Iya, Mas. Biasanya hari minggu selalu rame," balas Lisa. "kasian Ririn kalau sendirian."


"Aku akan ikut denganmu!"


"Ya terserah, Mas saja." Mengambil air di gelas kemudian meminumnya.


Lisa membawa piring kotor ke dapur. Mencucinya lalu menyimpan di tempat piring basah. Sedangkan Rendy pergi ke lantai atas, hendak mengambil kunci mobil.


Setelah semua siap. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Tujuan kali ini adalah toko bunga milik Lisa.


Selama di perjalanan Lisa terus mengoceh.


"Mas, nanti pas selamatan empat bulanan. Aku maunya undang anak-anak panti, ya," pinta Lisa.


"Aku ikut mau kamu aja." Mata Rendy pokus pada jalanan.


"Mas, kita juga belum siapin kado pernikahaan untuk Mona dan Kak Rey. Seminggu lagi, lho!" ingat Lisa.


"Buat Dia mah kasih aja kertas selembar," sahut Rendy ngasal.


"Kok, kertas sih, Mas! Kamu ini, jangan begitulah sama asisten sendiri. Bagi-bagi rezeki, kan engga buat kita kekurangan!"


"Ini kan, bukan sembarangan kertas, Sayang!" bantah Rendy.


"Memang kertas apaan maksud, Mas? kan, kertas mah sama aja. Engga ada bedanya!" seru Lisa.


"Bedalah, kalau kertasnya itu kertas bukti transfer! Udah pasti Dia bakal kegirangan,"


"He he he. Kamu ini ada-ada saja. Aku pikir kamu bakal ngasih Rey kertas kosong,"


"Makanya, kamu engga boleh cepat-cepat ambil kesimpulan. Belum tentu apa yang kamu simpulkan itu benar". Tangan Rendy membelai kepala istrinya.


"Iya, Mas maaf," cicit Lisa.


Selang sepuluh menit, mobil Rendy sudah berada di depan toko bunga milik istrinya. Rendy keluar duluan, lalu membukakan pintu untuk istrinya.


"Terimakasih," kata Lisa.


Seorang gadis remaja menyambut mereka dengan senyuman sambil berkata, " Selamat pagi, Mbak Lisa dan Mas Rendy."

__ADS_1


Lisa mengurai senyum. Menghampiri gadis itu lalu berkata, " Pagi juga, Rin. Bagaimana kabarmu hari ini?"


"Alhamdulilah. Ririn baik-baik saja, Mbak," ucapnya.


"Syukurlah. Apa kamu sudah menata semua bunga-bunga itu ke depan?"


"Sudah, Mbak." Menunjuk pada deretan bunga yang baru selesai ia tata.


"Terimakasih,"


"Sama-sama, Mbak. Ini sudah menjadi tugas saya,"


Mata Ririn melirik sekilas pada suami majikannya. Ketampanan majikan laki-lakinya ini tidak ada bandingannya. Ia serasa tengah bertemu oppa korea.


"Kalau gue yang jadi istrinya pasti bahagia banget," batin Ririn.


Lisa merangkul tangan Rendy sambil berkata, "Mas, mau nunggu di lantai 2?"


"Ya," jawab Rendy. Melingkarkan tangannya di pinggang Lisa. " Aku tunggu di atas."


Rendy melangkah pelan ke dalam, lalu menapaki satu per satu anak tangga. Mata Ririn masih asyik menatap Majikan laki-lakinya. Lisa sedikit melirik pada gadis ini, namun ia tetap berpikir positif.


"Mbak, tadi ada telepon dari salah satu pelanggan. Dia minta dibuatkan buket bunga yang berisi seratus mawar merah," tutur Ririn.


"Sebanyak itu!" jawab Lisa, "kapan dia akan mengambilnya?"


"Syukurlah. Setidaknya kita masih punya waktu." kata Lisa. Menyimpan tas, lalu mengambil gunting. "Ayo, mulai bekerja!"


Ririn mengikuti Lisa. Mereka bersama bahu membahu merangkai buket bunga. Lisa yang sudah mendapat pesan cinta dari sang suami, untuk tidak terlalu kelelahan. Hanya membantu sedikit saja.


Sementara itu Rendy tengah duduk diam di lantai dua. Ia sesekali melihat ponsel untuk sekadar mengecek pesan yang masuk untuknya.


Mata Rendy menangkap satu pesan dari nomer yang tidak ia kenali. Entah siapa orang yang mengirimkan pesan gila ini.


085234xxxxxx


Hai, Ganteng. Aku merindukanmu. Apa kamu sudah melupakanku?.


Seperti itulah isi pesan yang ditangkap mata Rendy. Ia segera menghapus, tak ingin sampai Lisa membacanya. Sudah pasti akan menjadi sumber pertengkaran untuk mereka.


Otaknya berpikir siapakah gerangan orang gila yang mengirimkan pesan mesra padanya. Ia sendiri tidak pernah dekat dengan wanita sebelum mengenal Lisa.


"Ah, bodo amet," pikir Rendy.

__ADS_1


Merasa bosan, Rendy memutuskan turun ke lantai bawah. Ia berniat membantu sang istri mengurusi bunga-bunga cantik. Namun yang pemandangan dilantai bawah membuat matanya membulat.


Seorang manusia yang sudah lama tidak ia lihat sedang berbicara dengan istrinya. Sayup-sayup terdengar Lisa berkata, " Tolong, Pak Dion jangan temui Lisa lagi. Apa Pak Dion tidak melihat perut Lisa yang membesar ini?".


Dion melirik ke arah perut wanita di hadapannya. Memang agak sedikit berbeda. Jangan-jangan Lisa tengah mengandung anak Rendy.


"Apa kamu se__,"


"Iya, Lisa lagi mengandung anak Mas Rendy!" potong Lisa, ia tidak ingin menutupi kenyataan yang sebenanrnya.


"Benarkah?" ucap Dion sedikit tersentak.


"Iya. Jadi sebaiknya Pak Dion tidak usah memikirkan Lisa lagi! Kita tidak ada hubungan apapun." Membalikkan badan hendak masuk ke dalam toko.


"Tunggu!" ucap Dion. Menahan tangan Lisa. " Aku tidak masalah kamu sedang mengandung anak Rendy. Asalkan kamu mau bersamaku, aku akan mengakuinya sebagai anakku."


Lisa geram, ia sudah kehabisan kata-kata untuk laki-laki satu ini. Ia bersyukur Allah tidak menjodohkannya dengan laki-laki seperti Dion. Kalau iya, sudah pasti jiwanya terus terkekang karena sipat Dion yang ambisius dan over protektif.


"Lisa sudah pernah bilang. Cinta tidak bisa dipaksakan. Lisa sudah bahagia bersama suami dan calon anak Lisa. Jadi sebaiknya Pak Dion juga segera menemukan kebahagian sendiri!" tegas Lisa.


"Aku tidak akan bahagia jika bukan bersamamu," kata Dion, "akan aku pastikan, kamu menjadi milikku. Lihatlah! Apa yang akan aku lakukan pada rumah tanggamu."


Rendy yang sejak tadi mendengarkan dari tangga segera menghampiri mereka. Ditariknya tangan Lisa hingga badan Rendy menyembunyikan wanita itu di belakangnya.


"Lakukanlah jika Anda bisa!" seru Rendy, "tapi sebelum itu terjadi. Saya akan memastikan Anda hancur terlebih dahulu."


Mata Rendy mengisyaratkan kemarahan. Ririn yang juga berada di sana ikut merasakan ketegangan. Ia sempat melirik sedikit pada Dion.


"Anda terlalu percaya diri," kata Dion. Menyungingkan sebuah senyuman licik. " Saya sudah maju satu langkah untuk menghancurkan Anda. Tapi sayang Anda tidak menyadari akan hal itu."


Tangan Rendy mengepal. Emosinya memuncak, sekarang ia tidak bisa lagi menahan perasaan muak pada Dion.


Buuk... buuk...!


Dua pukulan melayang memberi stempel di wajah tampan Dion. Napas Rendy tersenggal karena emosi yang memuncak. Lisa segera menahan tangan Rendy sambil berkata, " Sudah, Mas! Kamu tidak boleh membuang energimu untuk laki-laki ini."


Sorot mata Rendy melunak. Ia perlahan mengontrol emosinya. Dion yang menerima pukulan itu hanya tersenyum mengejek.


"Waw, pukulan Anda sangat luar biasa!" puji Dion. Ia bertepuk tangan dua kali. " Saya akan membalas rasa sakit di wajah ini dengan tangisan Anda di lain hari. Camkan itu!"


Dion berlalu meninggalkan ruko. Ririn masih tetap memperhatikan perkelahian itu. Lalu ia berjalan perlahan keluar, untuk melakukan sesuatu.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa dukungannya dengan cara like, coment dan vote sebanyak- banyaknya😍😍


__ADS_2