
Setelah kejadian barusan Lisa masih saja tak mengerti, Dia ingin segera menghubungi Mona untuk menanyakan yang sebenarnya.
Dira yang masih sibuk dengan ponsel nya, baru teringat sesuatu.
"Ya alloh, aku sampai lupa." Dira menepuk kepala nya.
"Ada apa, Dir?" tanya Lisa yang kaget.
"Sebelum berangkat tadi, mamah nyuruh aku buat bilang ke kak Rendy, suruh ajak kak Lisa nginep di rumah mamah, mumpung wekeend kata nya." jelas Dira.
"Ya sudah, nanti dari sini kita langsung ke rumah mamah aja," jawab Rendy.
Mereka menghabiskan makan siang tanpa sisa, setelah membayar mereka bergegas keluar dari cafe.
"Mas, Rey sama Mona kemana ya?" Tanya Lisa begitu sampai di depan mobil.
"Tenang aja, teman mu itu aman sama Rey," jawab Rendy.
"Iya, kak. Sekali pun kak Rey agak eror dikit tapi, dia orang nya baik kok hahahaha," timpal Dira sambil tertawa.
"Ayo, lebih baik kita pulang. Biar nanti Rey naik taksi aj! ajak Rendy menggandeng tangan istri nya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Rey terus menarik tangan Mona menjauh dari cafe, Mona yang merasa genggaman tangan Rey terlalu kencang berusaha melepaskan tangan nya dari Rey.
"Tolong lepaskan tangan saya, pak!" Pinta Mona setelah berada sedikit jauh dari cafe.
Rey yang mendengar permintaan wanita yang dia bawa, segera melepaskan genggaman tangan nya.
"Saya harus balik ke cafe, ini masih jam kerja. saya ucapkan terimakasih karena, sudah mau membela saya. Soal uang, saya janji akan mencicil nya." Ucap Mona.
"Apa kamu tidak punya harga diri sampai kamu diam saja di hina seperti tadi?" Bentak Rey dengan suara tinggi.
Mona terdiam mendengar ucapan lelaki di hadapan nya ini. Mulut nya ingin sekali ikut teriak juga tapi, hati nya berkata lain.
Tak terasa air mata lolos begitu saja membasahi pipi mulus nya. Jika Mona bisa memilih, dia pun tak ingin hidup seperti ini.
Hinaan lelaki muda tadi masih terngiang jelas di telinga nya, hati nya sakit hanya saja dia harus tetap kuat demi keluarga yang di cintai nya.
"Ya, benar. Saya memang sudah tak punya harga diri, pak. Demi sesuap nasi, demi pendidikan adik-adik saya, demi senyuman ibu saya. Saya membuang jauh harga diri saya," ucap Mona.
Mona mengusap air mata nya lalu, melanjutkan ucapan nya.
"Mungkin, pak Rey tidak akan pernah tau rasa nya hidup seperti saya karena, pak Rey sudah terlahir hidup berkecukupan. Tapi, bagi kami yang lahir dari keluarga pas-pas an, harus rela membuang mimpi juga menelan pil pahit setiap hari. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih sudah membela say! helas Mona.
__ADS_1
Rey tak bergeming, untuk pertama kali dalam hidup nya dia menyaksikan sendiri seorang wanita menangis di hadapan nya.
Selama ini, Rey tak pernah melihat tangisan wanita karena, ibu Rey adalah wanita yang pandai menyembunyikan air mata nya dari siapa pun termasuk Rey anak nya.
Rey mendekat pada Mona, tanpa sadar tangan nya mengusap pucuk kepala Mona.
"Maafkan saya karena, membentak kamu barusan. Saya hanya tak suka ada orang yang seenak nya menghina orang lain seperti tadi," tutur Rey.
Suasana hening, tak ada pembicaraan apapun lagi dari mereka. Rey sebenernya ingin sekali memeluk Mona tapi, dia tau posisi nya yang bukan siapa-siapa wanita ini, membuat Rey mengurungkan niat nya.
"Kalau begitu saya pamit kerja kembali, pak. Saya tidak mau bos saya marah karena, terlalu lama meninggalkan cafe," ucap Mona berlalu meninggalkan Rey yang masih terdiam.
Rey menatap punggung Mona, sungguh dia memang wanita tangguh. Dia sekarang paham, mengapa Rendy begitu ngotot menikahi Lisa sekali pun mereka baru bertemu. Ternyata kenyamanan hati itu lebih penting dari pada segala nya.
Gue yakin bisa dapetin dia. Pikir Rey.
Sementara itu Rendy, Lisa dan Dira baru saja sampai di rumah bu Ratna. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, mamah oh mamah Dira bawain mantu kesayangan mamah nih! teriak Dira.
Lisa menggelengkan kepala nya, Dira selalu punya cara membuat suasana lebih hangat dan ceria.
"Waalaikumsalam. Dira, engga baik anak gadis kerjaan nya teriak-teriak mul! tegur bu Ratna keluar dari dapur.
"Mamah, apa kabar?" tanya Lisa sambil mencium tangan mertua nya, di susul suami nya yang juga mencium tangan bu Ratna.
"Alhamdulilah baik, sayang," ucap bu Ratna lembut.
"Oh ya, mah. Papah dimana?" tanya Rendy sambil mengedarkan mata nya mencari sosok yang dia hormati
"Papah ada, biasa paling di belakang ngobrol sama mang Asep sambil berkebun," jawab bu Ratna.
"Ya udah, Rendy ke papah dulu ya, mah," ucap Rendy berlalu ke arah taman belakang, dia tak ingin ikut campur urusan para wanita di dalam.
"Eh, kok Rey engga ada?" tanya bu Ratna yang tak melihat Rey.
"Kak Rey lagi syuting drama korea dulu, mah," ucap Dira asal.
"Syuting drama korea gimana maksud kamu, Dir?" Bu Ratna di buat tak paham dengan ucapan anak bungsu nya ini.
"Ya itu, kak Rey lagi tarik menarik sama gebetan nya," ucap Dira.
"Kamu kalau ngomong yang bener atuh." bu Ratna memukul pelan tangan anak nya ini.
Lisa yang dari tadi menyaksikan perdebatan ibu dan anak ini, akhirnya ikut andil.
__ADS_1
"Gini mah, kak Rey itu lagi ada urusan sama gebetan nya. Ada sedikit insiden kecil tadi pas kita lagi makan siang di cafe!" Jelas Lisa.
"Insiden kecil gimana?" tanya bu Ratna.
Lisa menceritakan kejadian di cafe tadi, bu Ratna yang mendengar nya saja sampai mengelus dada.
"Ya Allah, kok ada orang kaya gitu. Seenaknya saja menghina orang lain. Kalau ada mamah di sana, udah mamah bejek-bejak tuh mulut nya pake ulekan! ucap bu Ratna gemas.
"Sekalian aja mah di kasih sambal yang banyak, mulut nya itu lebih pedes ketimbang sambal buatan mamah hahahaha! timpal Dira sambil tertawa.
"Tapi, temen mu engga apa-apa kan, sayang?" Bu Ratna melirik Lisa kembali.
"Alhamdulilah engga mah, untung kak Rey langsung nyamperin. Jadi, langsung di ganti uang sama kak Rey."
"Ya sudah. oh ya, kita ke dapur aja yuk, mamah lagi bikin kue kesukaan suami mu. Sekalian kamu bisa belajar biar nanti kamu bisa bikinin buat Rendy! ajak bu Ratna.
Lisa menurut saja dengan mertua nya, dia mengikuti bu Ratna ke dapur. Bu Ratna mengajari Lisa cara membuat adonan kue yang benar.
Mereka terlihat akrab, bu Ratna yang memang dasar nya baik hati menerima dengan ikhlas kehadiran menantu nya ini. Bagi nya, kebahagian anak-anak mereka lebih penting di banding kan harta dan status sosial.
"Lis?" Sapa bu Ratna di sela-sela mencetak kue.
"Iya, mah."
"Mamah mau nanya?"
"Soal, apa mah?" ucap Lisa penasaran.
"Kamu, udah ada tanda-tanda hamil belum? Soal nya, mamah udah pengen banget nimbang cucu, Lis. Apalagi Rendy ini anak pertama jadi, anak dari Rendy sangat mamah nanti kan!" ucap bu Ratna lembut takut menyinggung perasaan menantu nya.
Lisa terdiam, dia bingung menjawab apa. Bagaimana Lisa bisa hamil, bersentuhan badan pun baru sekali. Jujur Lisa pun sangat menginginkan seorang anak, apalagi Rendy sudah mengutarakan keinginan nya waktu itu.
"Doa kan yang terbaik aja ya, mah. InsyaAllah kalau Allah izinkan, Lisa pasti segera hamil." Jawab Lisa ramah.
Lisa berharap akan tumbuh janin di rahim nya nanti, hasil buah cinta nya dengan Rendy. Sunggung Lisa pun menantikan momen itu.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Sebelum nya author mau ucapin beribu terimakasih buat kalian yang setia baca karya author.
Jangan Lupa terus kasih author dukungan dengan Like,coment&vote🤗
SELAMAT MEMBACA😊
__ADS_1